Nubuwwah mengenai hal Kenabian Muhammad SAW ke Bani Israil

Nubuwwah mengenai hal Kenabian Muhammad SAW ke Bani Israil

Nubuwwah mengenai hal Kenabian Muhammad SAW ke Bani Israil

Dilansir dari Hasyiyah Al-‘Allamah Ashawi, jilid.4 hal.201, Muhammad ‘Ali As-Shabuni, Shafwatut At-Tafasir, jilid.3 hal.311 dan Imam Al-Jalil Al-Hafidh Imaduddin Abilfida Ismail, Ibn Katsir, juz.3 hak.299-300 mengenai hal berita kenabian Muhammad SAW. 


Wahb Ibnu Munabbih menjelaskan bahwa Allah SWT, menurunkan wahyu ke salah seorang nabi dari nasab Ya’kub as (Bani Israil) yang dikenal dengan nama Sya’ya as yang hidup pada tahun 1858 – 1742 SM (sebelum Masehi), “Berdirilah kau di kalangan Bani Israil, sebab sesungguhnya Saya akan membikin lisanmu menyampaikan wahyu-Ku”. 


Maka nabi itu berdiri dan berkata, “Hai langit, dengarlah. Hai bumi dengarlah, sebab sesungguhnya Allah hendak mengambil keputusan suatu perkara dan mengatur suatu urusan penting, Dialah yang akan melaksanakannya. Dia bermaksud memindahkan kampung ke daerah yang tidak berpenghuni, dan kota ke daerah pedalaman, dan sungai-sungai ke padang Sahara, dan nikmat (Nya) sampai ke orang-orang fakir, dan kerajaan di tangan para penggembala. 


Dia bermaksud mengutus seorang nabi yang ummi dari kalangan orang-orang ummi. Nabi tersebut tidak kasar, tidak keras, tidak pula bersuara keras di pasar-pasar. Seandainya dia melewati lentera, tentulah lentera itu tidak padam sebab ketenangannya. Dan seandainya dia berjalan di atas ranting-ranting yang kering, tidak terdengar suara dari bawah ke-2 telapak kakinya. 


(Allah berfirman), Saya mengutusnya selaku pembawa berita gembira dan pemberi warning, dia tidak pernah berkata dusta. Melalui dia, Saya buka mata yang buta, telinga yang tuli dan hati yang terkunci. Dan Saya bimbing dia ke saban perbuatan yang baik. Saya anugerah kan kepadanya seluruh akhlak yang mulia, dan Saya jadikan sakinah (Kedamaian) selaku pakaiannya, kebaikan selaku perlambangnya, taqwa selaku isi hatinya, hikmah selaku lisannya, kejujuran dan kesetiaan selaku wataknya, suka memberi maaf dan berbuat kebajikan ialah akhlaknya. Kebenaran ialah syariatnya, keadilan ialah sepak terjangnya, hidayah ialah imamnya, Islam ialah agamanya. 

BACA JUGA :   Alhamdulillah! PBNU: 1 Ramadhan 1442 H Jatuh Pada Selasa 13 April


Namanya ialah Ahmad; Saya memberi petunjuk (manusia) dari kesesatan melalui dia, dan Saya memberikan pengajaran (ke manusia) melalui dia (sehingga mereka terbebas dari) kejahilan (kebodohan), dan Saya angkat (harkat manusia) sesudah tenggelam di dalam kerendahan, dan Saya menjadikan (mereka) terkenal melaluinya sesudah tidak dikenal. Dan Saya jadikan (mereka) berkecukupan melaluinya sesudah hidup dalam serba kekurangan. Dan Saya jadikan (mereka) bersatu melaluinya sesudah berpecah belah. Dan Saya jadikan hidup rukun diantara ummat yang berbeda-beda, hati yang bertentangan dan kecenderungan yang beraneka ragam (melaluinya). Dan Saya selamatkan melaluinya beberapa golongan besar manusia dari kebinasaan. Dan Saya jadikan umatnya selaku ummat yang the best yang dikeluarkan untuk ummat manusia, memerintahkan ke kebaikan dan melarang kemungkaran, mengesakan Tuhan, beriman, ikhlas, dan percaya dengan apa yang disampaikan oleh rasul-rasul”.

اَلَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ الرَّسُوْلَ النَّبِيَّ الْاُمِّيَّ الَّذِيْ يَجِدُوْنَهُ مَكْتُوْبًا عِنْدَهُمْ فِى التَّوْرٰىةِ وَالْاِنْجِيْلِ. (الأعراف : ١٥٧)


“(Yaitu) orang-orang yang ikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka”. (QS. Al-A’raf : 157), sampai akhir ayat.


Sahabat-sahabat Nabi Saw mereka pernah menanyakan, “Wahai Rasulullah ceritakanlah ke kami mengenai hal dirimu.” Nabi Saw menjawab:

دَعْوَةُ أَبِيْ إِبْرَاهِيْمَ وَبُشْرَى عِيْسَى وَرَأَتْ أُمِّيْ حِيْنَ  حَمَلَتْ بِيْ كَأَنَّهُ خَرَجَ مِنْهَا نُوْرٌ أَضَاءَتْ لَهُ قُصُوْرُ بَصْرَى مِنْ أَرْضِ الشَّامِ.


“Saya ialah doa ayahku Ibrahim, dan berita gembira yang disampaikan Isa. Ibuku waktu mengandungku menyaksikan seakan-akan dari tubuhnya keluar nur (cahaya) yang dapat menerangi seluruh gedung kota Basrah yang ada di negeri Syam”.

 

KH Imam Syamsudin, Mustasyar PCNU Kabupaten Sukabumi 

 

BACA JUGA :   Ini Sikap PMII Jateng Terkait Kejadian Pamekasan

Nubuwwah mengenai hal Kenabian Muhammad SAW ke Bani Israil
Sumber: NU-Online

Recommended For You

About the Author: Ahmad Fawas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *