Panduan Praktis Puasa Syawal: Keutamaan, Waktu, dan Niat

1590672401

Panduan Praktis Puasa Syawal: Keutamaan, Waktu, dan Niat

Warta Batavia sudah menyajikan sejumlah artikel Soal puasa Syawal dengan fokus bahasan yang berbeda-beda. walau terpisah-pisah, penjelasan masing-masing cenderung lebih utuh sebab menyertakan kutipan dari kitab mu’tabar dan ragam pandangan ulama.

 

Tulisan-tulisan tersebut umumnya diburu para pembaca, khususnya Menjelang dan waktu musim Lebaran tiba. Redaksi Warta Batavia kali ini akan merangkum dan meringkas sejumlah penjelasan itu untuk kepraktisan.

 

Hukum dan Keutamaannya

Telah cukup masyhur bahwa selepas puasa Ramadhan sebulan full dan merayakan hari Idul Fitri 1 Syawal, ummat Islam dianjurkan untuk berpuasa enam hari di dalam bulan Syawal. Hal ini mengacu pada hadits shahih riwayat Imam Muslim: “Sesiapa saja berpuasa Ramadhan lalu dilanjutkan dengan enam hari dari Syawal, maka seperti pahala berpuasa setahun.

 

Dengan sedemikian, status hukum puasa Syawal ialah sunnah bagi orang yang tidak mempunyai tanggungan puasa wajib, baik qadha puasa Ramadhan atau puasa nazar. Bagi mereka yang punya utang puasa Ramadhan sebab uzur (misalnya sakit, perjalanan jauh, atau lainnya), status hukum berubah jadi makruh. Tetapi, bagi mereka yang tidak berpuasa Ramadhan sebab kesengajaan, tanpa uzur, status hukum jadi haram. Sebaiknya, tunaikanlah dulu puasa wajib, baru lalu puasa sunnah Syawal.

 

Mereka yang berpuasa wajib di bulan Syawal tetap memperoleh keutamaan puasa Syawal meski pahalanya tidak sebesar yang disebutkan hadits di atas. Sebagian ulama berpendapat, bila luput menunaikan puasa sunnah Syawal di bulan Syawal sebab halangan tertentu, seseorang boleh mengqadha puasa enam hari puasa Syawal pada enam hari di bulan lain (Al-Khatib As-Syarbini, Mughnil Muhtaj, I: 654).

BACA JUGA :   Cara Menanamkan Nilai Keagamaan pada Remaja

 

Ketentuan Waktu

Kapan puasa Syawal diawali? Idealnya tentu saja enam hari berturut-turut persis sesudah hari raya Idul Fitri, ialah tanggal 2-7 Syawal. Tetapi orang yang berpuasa di luar tanggal itu, sekalipun tidak berurutan, tetap memperoleh keutamaan puasa Syawal seakan puasa wajib setahun full.

 

Oleh sebab itu, seseorang diperkenankan menentukan puasa Syawal, misalnya tiap hari Senin dan Kamis, melewati tanggal 13, 14, 15, dan seterusnya selama masih Ada di bulan Syawal. Seandainya seseorang berniat puasa Senin-Kamis atau puasa bidh (13,14, 15 saban bulan Hijriah), ia tetap memperoleh keutamaan puasa Syawal karena target dari perintah puasa rawatib itu ialah penyelenggaraan puasanya itu sendiri terlepas apa pun niat puasanya (Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj).

 

Bagaimana Niatnya?

Tidak sebagaimana puasa Ramadhan, niat puasa Syawal—sebagaimana puasa sunnah lainnya—tidak mesti dikerjakan di malam hari atau sebelum terbit fajar. Mereka yang malam harinya tidak berniat, tapi mendadak di pagi atau siang hari ingin mengamalkan puasa Syawal, diizinkan untuknya berniat semenjak ia berkehendak puasa sunnah waktu itu juga. Tentu saja dengan catatan, sejauh yang bersangkutan belum makan, minum, dan hal-hal lain yang membatalkan puasa semenjak subuh.

 

Niat tersebut cukup digetarkan di dalam hati bahwa ia bersengaja akan menunaikan puasa sunnah Syawal. Tanpa mengucapkan niat secara lisan, puasa telah sah. Untuk memantapkan, ulama menganjurkan melafalkannya selaku berikut:

 

Untuk niat malam hari:

 

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلهِ تَعَالَى

 

Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhi ta‘âlâ (Saya berniat puasa sunnah Syawal esok hari sebab Allah ta’ala).

BACA JUGA :   Raja Salman Cabut Aturan Jam Malam di Saudi, Kecuali di Makkah 

 

Untuk niat siang hari:

 

نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلهِ تَعَالَى

 

Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhi ta‘âlâ (Saya berniat puasa sunah Syawal hari ini sebab Allah ta’ala).

 

Mendadak Berbuka sebelum Maghrib

Bolehkah berhenti puasa di tengah jalan sebab ada argumentasi tertentu, misalnya sebab tengah bertamu atau menghormati tamu? Boleh. Rasulullah sendiri pernah menegur sahabatnya waktu bertamu dan disuguhi makanan tapi ia Tidak mau sebab ia tengah berpuasa sunnah. Nabi pun memintanya membatalkan dan mengqadhanya di lain hari (lihat hadits riwayat ad-Daruquthni dan al-Baihaqi).

 

Para ulama akhirnya merumuskan, waktu tuan rumah keberatan atas puasa sunnah tamunya, maka hukum membatalkan puasa sunnah untuknya untuk menyenangkan hati (idkhalus surur) tuan rumah ialah sunnah sebab perintah Rasulullah Sawdalam hadits tersebut. Bahkan dalam keadaan seperti ini dikatakan, pahala membatalkan puasa lebih Inti daripada pahala berpuasa Abu Bakar bin Syatha Ad-Dimyathi, I’anatut Thalibin, III: 36).

 

 

Bila ada indikasi kuat puasa kita tidak mengganggu perasaan orang lain atau tidak menimbulkan kendala-kendala untuk sesuatu yang juga penting, sebaiknya puasa dituntaskan sampai maghrib. Bila yang terjadi sebaliknya, maka boleh dicancel sebab masih ada alternatif hari lain untuk menunaikannya.

 

 

Editor: Mahbib

Panduan Praktis Puasa Syawal: Keutamaan, Waktu, dan Niat
Sumber: NU-Online

Recommended For You

About the Author: Ahmad Fawas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *