Pasar Gelap Ustadz Gadungan dan Kenapa Kita Suka Belajar dari Mereka

Pasar Gelap Ustadz Gadungan dan Kenapa Kita Suka Belajar dari Mereka

Pasar Gelap Ustadz Gadungan dan Kenapa Kita Suka Belajar dari Mereka

Saya beberapa kali menyampaikan, hati-hati mencari ustaz. Jangan sembarangan mengundang orang untuk mengisi kajian agama, memanggil dia ustaz, apalagi menyebutnya selaku ulama.

Saya Penting makin serius Memperingatkan hal ini. Sebab makin banyak orang-orang yang cuma bermodal dapat pidato, berbaju gamis, mengumpat sana-sini diundang kemana-mana, dipanggil ustaz. Hafal 1 2 ayat al-Quran dan hadis cukup jadi modal.

Pasar gelap ustaz ini biasanya dihuni 2 kubu besar. Ke-1, para muallaf. Beberapa muallaf, walaupun tidak punya ilmu keislaman yang cukup, Mendadak dia jadi ustaz sebab modal dapat pidato. Yang paling banyak diceramahkan biasanya menjelek-jelekkan keyakinan lamanya. Dia ingin mempertunjukkan sekarang telah memperoleh “hidayah”. Tidak lupa, biasanya juga menebar ketakutan, bahwa agama lamanya itu jadi ancaman kepada Islam. Jikalau menyaksikan orang seperti ini, saya sering jengkel sendiri, membayangkan jikalau ada orang keluar dari Islam lantas menjelek-jelekkan Islam dalam perkumpulan agamanya yang baru. Orang-orang seperti ini yang biasanya menaikkan ketegangan muslim dan non muslim.

Ke-2, orang-orang yang dulu jauh dari Islam, suka maksiat dan sebagainya, lantas berubah jadi lebih religius, merubah penampilan dan sebagainya. Orang-orang seperti ini biasanya menyebut diri selaku orang yang telah “hijrah”. Modal kegelapan masa lalu dieksploitasi, seakan sekarang telah sungguh-sungguh hidup dalam jelas. Dengan modal dapat pidato, punya tim media sosial untuk menaikkan popularitasnya, mereka Mendadak dipanggil ustaz dan dijadikan rujukan dalam beragama.

2 kubu ini, intinya sama. Mereka tidak punya otoritas keagamaan, tapi dimanjakan oleh situasi. Mareka menggunakan media sosial untuk marketing. Yang saya heran, orang-orang seperti ini banyak yang tidak tahu diri soal kemampuan keislamannya.

Pasar gelak ustaz ini dapat terjadi sebab 2 hal. Ke-1, Islam sungguh longgar dan tidak ada lembaga yang melaksanakan “stadarisasi” keulamaan seseorang. Pasar ustaz dalam Islam amat terbuka. Seluruh amat tergantung pada “pasar”. Kalau Anda populer, ceramahnya dilike orang, maka Anda dapat masuk dalam pasar keulamaan.

Ke-2, sekarang banyak fasilitas yang dapat dipakai untuk branding. Kalau dulu, untuk jadi ustaz atau ulama memerlukan waktu untuk diakui masarakat, sekarang legitimasi itu dapat dikerjakan dengan instan. Yang penting populer di medsos, telah cukup.

Siapa yang jadi korban dari pasar gelap ini? ya masarakat Islam sendiri. Orang-orang ini bicara atas nama Islam, padahal dia sama sekali tidak punya otoritas ilmu dan moral. Saya tidak Penting menyebut nama selaku contoh. Sekarang ini, masarakat Islam suka marah-marah, sebagian Adalah hasil dari pasar gelap itu. Benar kata ahli yang menjelaskan, di era disrupsi info maka akan lahir era matinya keahlian (death of expertise). Yang jadi rujukan masarakat bukan orang-orang yang punya otoritas, tapi orang yang terkenal, khususnya di media sosial. Lihat saja survey-survey mengenai hal tokoh-tokoh agama yang mereka ikuti, sebagian ialah orang-orang yang lain di pasar gelap ustaz itu.

Masarakat wajib dididik supaya mempunyai literasi keualamaan. Jikalau mau menuntut ilmu keislaman, belajarlah pada orang-orang yang gurunya terang, sanad ilmunya juga terang. Jangan terpesona dengan performance luar. Saya suka, sekarang masarakat telah mulai kritis dan punya nyali mempersoalkan ustaz yang menebarkan kebencian dimana-mana. Cuma masarakat seperti ini yang dapat menghentikan pasar gelap itu.

Dishare dari Rumadi Ahmad via islami.co

Pasar Gelap Ustadz Gadungan dan Kenapa Kita Suka Belajar dari Mereka

Pasar Gelap Ustadz Gadungan dan Kenapa Kita Suka Belajar dari Mereka by A. Zain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *