Penjelasan Komprehensif Puasa Ramadhan dalam QS Al-Baqarah

1587956482

Penjelasan Komprehensif Puasa Ramadhan dalam QS Al-Baqarah

Puasa ialah kewajiban yang sudah ditetapkan kepada umat-umat yang lalu. Begitulah bagian penegasan dari Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 183. Arti surat Al-Baqarah ayat 183 ialah, “Hai orang-orang yang beriman, diharuskan atas engkau berpuasa sebagaimana diharuskan atas orang-orang sebelum engkau agar engkau bertakwa.”

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Muhammad Quraish Shihab menerangkan tafsir atas ayat tersebut bahwa ayat di atas menyebut kewajiban berpuasa tanpa menyebut siapa yang mewajibkannya. Hal ini untuk mengisyaratkan bahwa seandainya bukan Allah SWT yang mewajibkannya, manusia sendiri akan melaksanakannya sesudah tahu besar manfaatnya.

Puasa yang diajarkan Al-Qur’an dapat membuahkan kesucian jiwa, keikhlasan, dan ketulusan. Puasa juga dapat selaku kontrol diri dan ketakwaan untuk Allah SWT.

Kecuali QS Al-Baqarah ayat 183, uraian soal puasa Ramadhan ditemukan dalam ayat 184, 185, dan 187 pada surat yang sama. Ini artinya bahwa puasa Ramadhan baru diharuskan sesudah Nabi Saw tiba di Madinah, sebab ulama Al-Qur’an setuju bahwa surat Al-Baqarah turun di Madinah. Para Sejarawan mengumumkan bahwa kewajiban melakukan puasa Ramadhan ditetapkan Allah pada 10 Sya’ban tahun ke-2 Hijrah.

Apakah kewajiban itu langsung ditetapkan oleh Al-Qur’an selama sebulan full, ataukah berangsur? Jikalau menyaksikan sikap Al-Qur’an yang seringkali melaksanakan penahapan dalam perintah-perintahnya, maka agaknya kewajiban berpuasa pun dapat dikatakan seperti ini.

Ayat 184 yang mengumumkan ayyaman ma’dudat (beberapa hari tertentu) dipahami oleh sementara ulama selaku 3 hari dalam sebutan yang Adalah tahap awal dari kewajiban berpuasa.

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ ۚ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ ۚ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“(Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara engkau ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah untuknya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggal itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (kalau mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik untuknya. Dan berpuasa lebih baik bagimu kalau engkau mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 185)

Hari-hari tersebut lantas diperpanjang dengan turunnya Al-Baqarah ayat 185:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“(Beberapa hari yang ditetapkan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran selaku petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan Soal petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Sebab itu, barangsiapa di antara engkau datang (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah untuknya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah engkau mencukupkan bilangannya dan hendaklah engkau mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya engkau bersyukur.” (QS Al-Baqarah: 185)

BACA JUGA :   Innalillah! Felix Siauw Gagal Terap Sirah Nabawiyah

Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Masalah Ummat (Mizan, 2000) menerangkan, pemahaman semacam ini menjadikan ayat-ayat puasa Ramadhan terputus-putus tidak jadi 1 kesatuan.

Berpatokan untuk ketiga ayat puasa Ramadhan selaku 1 kesatuan, Quraish Shihab (2000) menyokong pandangan ulama yang mengumumkan bahwa Al-Qur’an mewajibkannya tanpa penahapan.

Sungguh, tidak mustahil bahwa Nabi dan sahabatnya sudah melaksanakan puasa sunnah sebelumnya. Tapi itu bukan kewajiban dari Al-Qur’an, apalagi tidak ditemukan 1 ayat pun yang berbicara soal puasa sunnah tertentu.

Uraian Al-Qur’an soal kewajiban puasa di bulan Ramadhan diawali dengan 1 pendahuluan yang memotivasi ummat Islam untuk melaksanakannya dengan baik, tanpa sedikit kekesalan pun.

Perhatikan surat Al-Baqarah ayat 185. Ia diawali dengan panggilan mesra, “Wahai orang-orang yang beriman, diharuskan untuk engkau berpuasa.” Di sini tidak dijelaskan siapa yang mewajibkan, belum juga dijelaskan berapa kewajiban puasa itu, tetapi terlebih dahulu dikemukakan bahwa, “sebagaimana diharuskan kepada umat-umat sebelum engkau.”

 

Kalau  seperti ini, maka wajar pula kalau ummat Islam  melaksanakannya, apalagi target puasa tersebut ialah untuk kepentingan yang berpuasa sendiri ialah “agar engkau bertakwa (terhindar dari siksa).”

Lalu Al-Qur’an dalam surat Al-Baqarah ayat 186 menerangkan bahwa kewajiban itu  bukannya sejauh tahun, tetapi cuma “beberapa hari tertentu,” itu pun cuma diharuskan bagi yang Ada di kampung halaman tempat tinggalnya, dan dalam kondisi sehat, sehingga “barang siapa sakit atau dalam  perjalanan,” maka dia (boleh) tidak berpuasa dan menghitung berapa hari ia tidak berpuasa untuk digantikannya pada hari-hari yang lain.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku menanyakan kepadamu soal Saya, maka (jawablah), bahwasanya Saya ialah dekat. Saya mengabulkan permintaan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka senantiasa Ada dalam kebenaran.” (QS Al-Baqarah: 186)

BACA JUGA :   Memutus Mata Rantai Radikalisme-Terorisme Sejak Dini di Lingkungan Keluarga

“Tengah yang merasa amat berat berpuasa, maka (selaku gantinya) dia wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin.” Penjelasan di atas ditutup dengan pernyataan bahwa “berpuasa ialah baik.”

sesudah itu disusul dengan penjelasan soal keistimewaan bulan Ramadhan, dan dari sini Hadir perintah-Nya untuk berpuasa pada bulan tersebut, tetapi kembali diingatkan bahwa orang yang sakit dan dalam perjalanan (boleh) tidak berpuasa dengan memberikan penegasan Soal peraturan berpuasa sebagaimana disebut sebelumnya.

 
Ayat soal kewajiban puasa Ramadhan ditutup dengan “Allah menghendaki kemudahan untuk engkau bukan kerepotan,” lalu dihentikan dengan perintah bertakbir dan bersyukur. Ayat 186 tidak berbicara soal puasa, tetapi soal doa. Penempatan uraian soal doa atau penyisipannya dalam uraian Al-Qur’an soal puasa tentu mempunyai rahasia tersendiri.

Agaknya ia mengisyaratkan bahwa berdoa di bulan Ramadhan Adalah ibadah yang amat dianjurkan, dan sebab itu ayat tersebut mengatakan dengan tegas bahwa, “Allah dekat untuk hamba-hamba-Nya dan menerima doa siapa yang berdoa.”

Seterusnya ayat 187 di antaranya menyangkut izin melaksanakan hubungan seks di malam Ramadhan, di samping penjelasan soal lamanya puasa yang wajib dikerjakan, ialah dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari.

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ ۗ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۖ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

“Dihalalkan bagi engkau pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri engkau; mereka ialah pakaian bagimu, dan kamupun ialah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya engkau tidak dapat menahan nafsumu, sebab itu Allah mengampuni engkau dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang sudah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah sampai jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Lalu sempurnakanlah puasa itu sampai (Hadir) malam, (tetapi) janganlah engkau campuri mereka itu, tengah engkau beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah engkau mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya untuk manusia, supaya mereka bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 187)

Banyak info dan tuntunan yang dapat ditarik  dari ayat-ayat di atas berhubungan dengan hukum maupun target puasa.

Penulis: Fathoni Ahmad

Editor: Muchlishon

Penjelasan Komprehensif Puasa Ramadhan dalam QS Al-Baqarah
Sumber: NU-Online

Recommended For You

About the Author: Ahmad Fawas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *