89ebb5b6c6ac8dece38c88c36e0aee35 1
89ebb5b6c6ac8dece38c88c36e0aee35 1

Penting Kerja Sama Publik figur Warga dan Publik figur Agama Mengenai hal Perlunya Social Distancing

Diposting pada 29 views

Penting Kerja Sama Publik figur Warga dan Publik figur Agama Mengenai hal Perlunya Social Distancing

Jakarta, Warta Batavia — Wabah virus corona (covid-19) sudah jadi bencana kemanusiaan yang menelan banyak korban. Akan tetapi wabah virus corona bukan cuma tantangan penyakit saja, Indonesia.yang sudah menerapkan kebijakan social distancing ternyata tidak berjalan mulus

Wabah virus corona dan social distancing menimbulkan masalah baru ialah penyakit sosial seperti maraknya hoaks dan ketegangan sosial di warga. Untuk itu diperlukan usaha bersama-sama untuk mengatasi bermacam tantangan sosial dari bencana corona.

Pengamat sosial dari Universitas Indonesia, DR. Devie Rahmawati,S.Sos., M.Hum menjelaskan bahwa Penting kerjasama dari para publik figur warga (aparat negara, publik figur agama, politisi, professional korporat, sampai para pengajar di bermacam jenjang pendidikan), untuk meyakinkan warga mengenai hal perlunya melaksanakan physical distancing sehingga warga dapat terhindar dari serbuan virus Corona.

“Belajar dari event politik terdahulu, dimana banyaknya beredar info yang tidak dapat dipertanggungjawaban, yang lantas berujung pada konflik individual bahkan sosial, maka situasi ini tidak boleh berulang lagi di masa-masa darurat corona. Mengingat, pandemi Covid sudah membikin banyak jatuh korban jiwa. Untuk itu, para publik figur warga seyogyanya dapat jadi kiblat dan kompas bagi penyampaian info yang positif, konstruktif dan empiris berdasar data-data yang benar, “ ucap DR. Devie Rahmawati, di Jakarta Kamis (26/3/2020).

“Secara sosial, warga kita mempunyai karakter patron – klien, dimana warga yang Ada di hirarki sosial tertinggi (sosok individu yang terkenal/kaya raya/ berasal dari nasab bangsawan/ pendidik), mempunyai power untuk didengarkan oleh warga luas. Oleh karenanya, diinginkan para patron (publik figur) di warga tidak menyampaikan info hoax bahkan pernyataan yang menyesatkan. Caranya mudah, para patron ini mesti berpatokan pada 1 info yang akurat yaitu yang berasal dari pemerintah,” seru Devie, penerima Australia Awards 2019.

“Selaku patron, tentu saja, tidak cukup cuma sekedar menyampaikan pernyataan, tetapi dibutuhkan aksi nyata berupa tetap tinggal di rumah, lalu tidak lagi ikut hadir atau bahkan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang mengundang massa dalam hitungan total besar,” tambah Devie Rahmawati, penerima Beasiswa  Training Literasi Digital oleh Google dan Facebook 2019.

“Para patron tersebut juga diinginkan proaktif untuk memoderasi arus lalu lintas info di bermacam saluran seperti WA/Instagram/Facebook/Twitter dan sebagainya. Para publik figur mesti senantiasa siap melaksanakan koreksi saat sebuah info yang diteruskan oleh warga ternyata belum valid atau bahkan tidak ilmiah. Mengingat studi – studi ilmiah mempertunjukkan saat dalam sebuah kubu, ada minimal 1 orang saja yang bernyali mengkoreksi sebuah mis maupun disinformasi, maka hal tersebut cukup membikin member kubu lainnya untuk tidak bernyali mengirimkan info yang tidak benar ke orang lain,” ucap Devie penerima beasiswa DAAD.

“pemerintah dalam hal ini mempunyai tanggung jawab untuk melaksanakan ToT kepada para publik figur, agar mereka sanggup jadi agen kebenaran. Tidak cuma itu sosialisasi bahwa menyampaikan info bohong juga dapat mempunyai dampak pidana (UU ITE), mesti terus menerus dikomunikasikan. Mengingat banyak individu yang menyebarkan hoaks sejatinya bukan sebab mereka secara sistematis ingin menebarkan kebohongan, akan tetapi sebab antusias ingin berbagi dan jadi pahlawan info bagi orang lain,” tambah Devie.

 

Kenapa Sulit Sekali Mendukung Publik Menahan Diri di Rumah?

Kampanye social distancing yang didengung-dengungkan untuk memastikan penyebaran virus corona terhenti, tidak sepenuhnya sukses. Dan hal ini tidak cuma terjadi di Indonesia. “Negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Eropa misalnya, juga merasakan kerepotan yang besar untuk mengendalikan masyarakatnya untuk tidak melaksanakan aktivitas sosial bersama-sama di ruang public,”seru Devie yang menuntaskan program Doktornya di Unpad & Swansea University, UK

“Dalam konteks Indonesia ada 3 faktor yang menyebabkan kampanye ini tidak sepenuhnya diikuti oleh warga yaitu faktor Sosial, Kultural dan Spiritual. Secara sosial, warga Indonesia sungguh warga komunal, yang kepentingan sosial Ada di atas kepentingan individual. Ini yang membikin, secara fisik pun, kedekatan sosial jadi ruh bagi warga kita,” ujarnya. 

Oleh karenanya istilah social distancing, akan membikin warga kita berpeluang jadi “terasing” (sendiri) sebab ini artinya melukai hakikat warga timur yang amat komunal. “Saya menyaksikan physical distancing jadi lebih relevan. Sebab cuma fisiknya yang berjarak, akan tetapi komunikasi sosial dapat terus dilangsungkan melalui bermacam saluran,” seru Devie, yang juga seorang peneliti isu-isu sosial dan digital.

“Waktu individu merasa terasing, maka yang terjadi rasa sepi tersebut dapat menimbulkan frustasi. Hal ini tentu saja, yang memotivasi warga lantas melalaikan anjuran untuk melaksanakan social distancing tadi,” ujarnya.

Aspek ke-2 yaitu kultural, dimana warga Indonesia masuk dalam kategori budaya short term society, yaitu warga jangka pendek, dimana warga kita tidak terbiasa melaksanakan bermacam persiapan untuk berhadapan dengan masa depan.

“Tak sama dengan warga Barat yang amat sistematis, dan terbiasa melaksanakan perencanaan mengenai hal bermacam hal. Warga kita terbiasa dengan hidup di masa sekarang, yang termanifestasi misalnya dari bermacam ungkapan  seperti : “yah gimana nanti aja”,” tambah Devie.

Faktor ketiga yaitu spiritual yang kuat, membikin warga kita mempunyai keyakinan bahwa segala sesuatunya telah diatur oleh power lain. Sehingga warga kita cenderung pasrah kepada segala tantangan kehidupan.

“Ini yang lantas membikin mereka tetap percaya bahwa jikalau mereka tetap Ada di ruang public, selama belum takdirnya untuk menghadap yang Maha Kuasa, maka tidak ada yang Penting dikhawatirkan,” seru Devie, yang sekarang menjabat selaku Direktur Kemahasiswaan UI.

Ketiga faktor tadi lantas berkaitanan dengan faktor ekonomi. Sebab bagi warga kalangan bawah, sulit bagi mereka untuk berdiam diri, mengingat mereka menggantungkan nasib mereka pada pendapatan harian. Bila sehari saja mereka tidak melaksanakan aktivitas, otomatis mereka tidak dapat hidup hari ini.

“Beda lagi dengan kalangan menengah ke atas, yang sebab kepemilikan harta yang cukup, mereka merasa percaya bahwa mereka dapat mempersenjatai dirinya dengan bermacam suplemen the best, sehingga mereka juga terus Ada di luar rumah,” tambah Devie, yang sering didapuk jadi juri bermacam ajang nasional dan internasional.

Oleh karena itu eks Kepala Program Studi Vokasi hubungan dan Humas UI ini menyampaikan bahwa sungguh dibutuhkan pendekatan struktural. Sebab imbauan tidak akan cukup untuk memotivasi public merubah perilaku sosialnya.  

“Artinya sungguh mesti ada usaha serius dari pemerintah untuk ‘memaksa’ masyarakat untuk ada di dalam rumah. Untuk kalangan menengah kebawah gamblang mesti ada insentif ekonomi. Warga kita ialah warga insentif. Pendekatan persuasif dengan mengumumkan bahwa bila seseorang tetap Ada di rumah lalu memperoleh tunjangan harian misalnya, saya optimis dapat membikin warga patuh. Sebaliknya pendekatan represif dengan hukuman, belum tentu efektif juga ditunaikan di Indonesia,” seru Devie, bagian pendiri Yayasan Bakti Iluni dan Abdurrahman Wahid Center (AW Center) UI ini.

“Kita lihat bermacam usaha inisiatif masyarakat untuk memberikan atau mengumpulkan barang yang dibutuhkan untuk menyokong misalnya petugas kesehatan atau warga lainnya itu terus-menerus mengalir. Artinya ini mempertunjukkan sungguh physical distancing pun juga tidak sanggup melarang warga komunal ini untuk terus bergandengan tangan untuk saling membantu, itu poinnya,” ucap pegiat literasi ini.

Dalam Peluang tersebut Devie juga meminta untuk generasi muda agar untuk mau ikut anjuran mengisolasi diri dengan melaksanakan work from home (WFH) untuk melarang penyebaran virus COVID-19 ini. Dirinya menganjurkan agar pemerintah mau merangkul para selebritis-selebritis yang selama ini banyak jadi patron para generasi muda untuk memberikan imbauan dan ajakan bagi para generasi muda yang selama ini masih ogah untuk ikut imbauan pemerintah.

“Sebab dalam konteks anak muda saat bicara info tentunya tak sama dengan orang tua. Jikalau orang tua masih mau ‘mantengin’ informasi-informasi umum. Tetapi jikalau anak muda mereka mencari info yang sesuai dengan minat dan keinginan mereka. Mereka tidak lagi mengkonsumsi informasi-informasi formal. Yang mereka dengar misalnya ialah musik atau film. Mau tidak mau ya para selebritis-selebritis ini. Nah disitulah sebenanrya dapat disusupi,” ucap eks jurnalis ini.

Dengan menggandeng selebritis untuk membikin konten imbauan dapat dengan lagu, film atau hal-hal kreatif lainnya yang intinya memotivasi anak muda untuk mau ‘ngeh‘ bahwa isu COVID-19 ini darurat sekali. Lalu pemerintah dapat kerjasama dengan platform seperti Youtube, Facebok, Instagram, Line Today dan sebagainya agar para selebritis yang punya banyak perhatian dapat dimasukkan iklannya. Sebab jikalau bicara dengan para generasi muda tentu juga mesti dengan cara yang muda juga agar imbauan pemerintah mau didengar anak muda.

“Tugas pemerintah cukup sederhana minta selebritsi buat konten imbauan atau kampanye WFH itu lalu tinggal telepon platform media sosial tersebut untuk minta ruang iklan para selebritis itu. Pemerintah yang biayain, selebritis juga diberi reward. Jadi pemerintah memoderasi itu. Sebab orang pemerintah yang bicara dikalangan anak muda ya tidak cukup menarik perhatian mereka,” pungkas Devie. (Very)

READ
Lirik Sholawat Jawa - Eling-Eling Sira Manungsa

Penting Kerja Sama Publik figur Warga dan Publik figur Agama Mengenai hal Perlunya Social Distancing

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *