Perintah Pencoretan Kalimat Tauhid | The Truly Islam

a55b56fb-708b-4fc5-9c5e-0d4aed4a3cd0-696x392.jpeg
a55b56fb 708b 4fc5 9c5e 0d4aed4a3cd0 Perintah Pencoretan Kalimat Tauhid | The Truly Islam
Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar (Dhika / detikcom)


Salah satu peristiwa kontroversial yang terjadi dan dilakukan oleh Nabi Muhammad sendiri adalah pembatalan hukuman tauhid. Kalimat tauhid awalnya muncul dalam rancangan Perjanjian Hudaibiyah, kesepakatan gencatan senjata antara kaum Quraisy kafir yang dipimpin oleh Suhail dan umat Islam yang dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad. Kejadian ini diabadikan dalam hadits Sahih Bukhari (lihat buku Sahih al-Bukhari, Bab al-Syuruth fi al-Jihad wa al-mashlahah ma’a Ahl al-Harb, volume 1 halaman, 255).

Peristiwa itu terjadi ketika umat Islam dan kafir Quraisy ingin menyepakati perjanjian damai yang kemudian disebut Piagam atau Perjanjian Hudaibiyah. Kesepakatan ini bertujuan untuk mencegah konflik dan perang terbuka antara kedua belah pihak. Nabi Muhammad (SAW) saat itu bertindak sebagai pemimpin umat Islam, meminta untuk memulai teks perjanjian dengan kata Bismillahirrahmanirrahim, tetapi Suhail menolak karena kalimat itu asing baginya, jadi dia mengusulkan kalimat bismikallahumma, frasa populer dalam masyarakat Arab pada saat itu. Tokoh Muslim jelas menolak penghapusan frasa yang mereka anggap sakral dan sakral. Namun Nabi berkata sebaliknya. Dia menerima proposal Suhail dengan penerbit yang diusulkannya.

Sebagai penutup, Nabi SAW mengajukan kata-kata: Hadza ma qadha ‘alaihi Muhammad Rasulullah (perjanjian ini dibuat oleh Muhammad Rasulullah). Suhail kembali menolak kalimat ini dan menyarankan kata-kata: Hadza ma qadha ‘alaihi Muhammad ibn’ Abdullah (perjanjian ini dibuat oleh Muhammad anak Abdullah). Penghilangan basmalah dan kata “Rasulullah” menyinggung para kamerad dan menolak kesepakatan tersebut, karena jelas itu adalah kalimat tauhid dan sakral bagi umat Islam. Namun, Rasulullah memiliki pendapat lain dan meminta rekan-rekannya menerima teks perjanjian yang diajukan Suhail. Ibn Hajar al-‘Asqallani menjelaskan kejadian ini, Nabi Muhammad SAW menghapus kalimat tauhid karena kamerad tidak berani melakukannya.

BACA JUGA :
Ladang Harta Karun dan Senjata Milik Abu Nawas

Adapun substansi Perjanjian Hudaibiyah juga ada materi yang dianggap tidak adil, karena jika seorang kafir Quraisy melintasi perbatasan di wilayah Muslim, Madinah, akan segera dibebaskan dan segera dikembalikan ke Mekah. Sementara itu, siapa pun yang melanggar batas komunitas Muslim ditangkap di Mekah. Materi perjanjian seperti ini juga disetujui Nabi.

Andai saja Nabi adalah seorang pemimpin Arab biasa, bukan seorang nabi, maka dia pasti tidak akan mendapat dukungan dari kelompoknya. Namun, para sahabatnya tahu bahwa Nabi bukan hanya seorang yang cerdas tetapi juga seorang Nabi. Barangkali hal ini pula yang menginspirasi para pendiri bangsa Indonesia, memilih untuk menghapus frase tertentu dari Piagam Jakarta demi menjaga keutuhan bangsa dan keutuhan bangsa yang justru membawa manfaat lebih dari pada mempertahankannya.

Belakangan, apa yang telah ditetapkan Nabi adalah benar. Jika penyeberangan perbatasan kaum kafir Quraisy ditahan di Madinah, maka jelas hal itu akan menambah beban ekonomi bagi masyarakat Madinah yang sudah dibanjiri pengungsi dari Mekah. Di sisi lain, jika pelintas batas Madinah ditahan di Mekah, itu karena mereka yakin mereka adalah kader dan bisa melakukan perpecahan politik antar suku dalam masyarakat Quraisy. Pada saat yang sama, Rasulullah terus mendapatkan pengaruh dari suku-suku yang terpinggirkan dan berkat pengalamannya, Nabi berhasil menciptakan sejumlah suku kecil dan bersatu di bawah kekuasaan Nabi. Piagam Hudaibiyah belakangan ini mendapat pujian dan bahkan ada yang menilai Piagam Hudaibiyah tidak hanya untuk mencegah perang terbuka, tetapi kelangkaan strategis umat Islam untuk meraih kemenangan politik yang luar biasa saat itu. Kasus Piagam atau Perjanjian Hudaibiyah menjadi pelajaran yang baik bagi umat Islam untuk dipelajari, bahwa tidak perlu menghilangkan atau menghapus kalimat tauhid yang selalu negatif. Setidaknya Nabi menganggap lebih baik meletakkan substansi daripada simbol.

BACA JUGA :
Innalillah! Mau Bikin Rusuh di Demo Hari Buruh, 22 Penyusup Diamankan Polisi

Prof. Nasaruddin Umar

Sumber: https://news.detik.com/berita/d-5542101/perintah-pencoretan-kalimat-tauhid?tag_from=wp_nhl_20

(Warta Batavia)


Perintah Pencoretan Kalimat Tauhid | The Truly Islam

Recommended For You

About the Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *