Presiden Kena Prank BHL, Tere Liye Buat Ulasan, Pesannya “Nusuk”

Presiden Kena Prank BHL, Tere Liye Buat Ulasan, Pesannya “Nusuk”

Jakarta, Warta Batavia – Maklumat pemenang lelang kembali dilaksanakan pihak penyelenggara penggalangan biaya, sesudah sebelumnya M Nuh gagal menebus harga lelang yang ditawarnya pada acara lelang yang dihelat 3 lembaga tinggi negara ialah MPR, BNPB dan BPIP pada Minggu (17/5/2020).

Dalam lelang tahap 2 itu, Putra Ketum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo, ialah Warren Tanoesoedibjo, jadi pemenang lelang sepeda motor listrik Gesits bertanda tangan Presiden Jokowi dengan penawaran seharga Rp 2,55 miliar.

Penulis ternama Indonesia Tere Liye pun angkat bicara. Ia kemudian menurunkan sebuah ulasan panjang lebar merespon “fenomena tidak biasa” itu, dimana seorang pekerja harian lepas (BHL), Muhamad Nuh sukses mengelabui intelektualitas para elit negeri berserta tim ahlinya, termasuk BIN dengan menyebut diri selaku pengusa. 

Gagalnya tim ahli lembaga tinggi negara seperti MPR, BNPB, BPIP bahkah BIN memverifikasi data perserta lelang Adalah sebuah pukulan berat bagi negara sebab dianggap tengah mempertontonkan sebuh kebodohan yang hakiki. 

Berikut ialah sentilan Tere Liye yang pesan-pesannya menusuk ulu hati. Menariknya, dia memulai tulisannya dengan judul: “Negeri Para Pelawak”. 

“Saya sedih sekali mecatat catatan ini. Saya tidak terima, kalau pemimpin negeri ini dicaci, dimaki, dihina oleh Anda semua seluruh. 

Apalagi waktu motor kesayangannya, yang dia tanda-tangan begitu indah menawan menyejukkan hati, lantas dilelang, saya bangga sekali, amat bangga waktu menguping harganya, laku 2,5 milyar. Itu sungguh harga yg amat pantas bagi motor milik pejabat. Sama pantasnya waktu anak, menantu, Famili pejabat mau nyalon ikut berkuasa. Berlinang air mata saya melihatnya. Sungguh mulia. 

Tetapi apa yang terjadi? Ternyata yang berbelanja motor itu pekerja lepas. Tentu jangankan mau bayar 2,5 M, buat memenuhi kebutuhan sehari2 saja wajib bekerja. Aduh, saya amat sedih. Sekaligus marah semarah-marahnya ke siapapun yang tertawa atas Perkara ini. Anda semua mempermalukan negeri ini. Sungguh tega Anda semua menyakiti hati pejabat kita yang teduh wajahnya, selalu halus hatinya. 

Bagaimana mungkin lelang seserius ini, diselenggarakan oleh BPIP,  BNPB, MPR, ternyata dijadikan ajang lelucuan saja oleh Anda semua. Mereka telah verifikasi datanya loh. Telah seluruh disiapkan oleh orang2 yg amat berkompeten, amat pandai, putra-putri the best yg siap mengabdikan diri untuk uang, eh, untuk bangsa. Mereka tidak akan salah.

Tetapi tetap Anda semua tertawakan pemimpin kita. Anda semua kritik habis2an. Suka sekali waktu ada kekhilafan ini. Mencari2 titik lemah. Astagfirullah, Anda semua tidak tahu apa adab ke pemimpin? Mereka itu orang hebat. Coba lihat waktu konser itu dilaksanakan, ada foto2nya di berita, ada videonya, lihat, mereka tidak pakai masker, berkerumun lebih dari 5 orang, itu bukti orang hebat. Satria piningit, titisan dari langit, sebab jika orang biasa, dia akan pakai masker di tempat publik. Patuh pada pemimpin yg senantiasa Memperingatkan. Beda dengan orang hebat, virus coronanya yang malah maskeran.

Maka, nasi sudah jadi bubur. Saya sungguh sedih atas respon Anda semua seluruh. Malu semalu-malunya. Unfaedah saja komen2 Anda semua. Ingatlah, negeri ini tidak akan merdeka, kalau tidak ada pemimpin sekarang. Kita seluruh masih dalam alam penjajahan Belanda, kalau partai2 politik sekarang tidak berkuasa. Dan Pancasila, sungguh kalau tidak ada BPIP yang menyelenggarakan konser ini, kita masih mengeja kata ‘gotong royong’ dan ‘solidaritas’, sebab merekalah kita memperoleh pencerahan mengenai hal hakikat kehidupan. 1 pidato dari mereka, seperti gelombang pencerahan semua semesta alam.

Jadi saya menyerukan, kalau Anda semua masih punya iman di dada, berhentilah menertawakan pemimpin kita dalam Perkara lelang motor listrik ini. Apalagi menyalahkan mereka, panitia, dll. Mari fokus ke pelaku yang menipu saja. Sebab seluruh ini sungguh salah rakyat jelata.

Tabik.

*Tere Liye ialah penulis novel “Negeri Para Bedebah”, “Negeri Di Ujung Tanduk”, dan “Selamat Tinggal”

sebelum ini, Seorang lelaki mengklaim Pebisnis bernama M Nuh di Jambi memenangkan lelang motor listrik yang diteken Presiden Joko Widodo.

READ
Sat Resnarkoba Polres Purwakarta Mengamankan 11 Tersangka Penyalahgunaan Narkoba

Motor tersebut dilelang seharga Rp 2,5 miliar dalam acara konser amal penggalangan biaya secara virtual, Minggu (17/5/2020). Akan tetapi, sosok M Nuh malah jadi tanda tanya sebab seakan menghilang begitu saja.

Ditambah lagi, tidak ada masyarakat setempat yang mengenal Pebisnis bernama M Nuh. 1-persatu fakta pun terkuak. Sampai waktu ini keberadaan M Nuh masih jadi tanda tanya.

Perkara ini terungkap dan ramai dibicarakan baik di sosial media maupun di kalangan elit sesudah Warta Batavia menurunkan berita penangkapan M. Nuh oleh aparat dari Polda Jambi.

Rupanya polisi sudah berjumpa M Nuh dan sempat meminta keterangannya. Kapolda Jambi Irjen Firman Santyabudi menjelaskan, kendati seperti ini, M Nuh tidak ditahan dan diperbolehkan pulang.

“Jadi sungguh tidak ada penangkapan dan penahanan untuk yang bersangkutan,” ucap Firman. *(Rikardo)

Presiden Kena Prank BHL, Tere Liye Buat Ulasan, Pesannya “Nusuk”

loading...

Recommended For You

About the Author: Ahmad Zainudin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *