Pria Sejati itu yang Tidak Takut Tidak Punya Uang

Breaking Ews Red 3

Pria Sejati itu yang Tidak Takut Tidak Punya Uang

Seorang kawan alumni memberi berita pada saya bahwa dia akan sowan ke kediaman Gus Baha — sosok yang namanya telah saya dengar cukup lama, tapi belum sekalipun saya menjumpainya — di kediamannya, di Rembang.

Saya sempat menanyakan, terkait apa yang akan dia lakukan waktu sowan ke Rembang. Dia menjawab, ada ngaji Tafsir Jalalain yang diampu langsung Gus Baha. Dia mengikutinya. Sekaligus ingin mengajak saya, jika mau. Saya pun mengiyakan.

Kami berangkat bareng ke Desa Narukan, Kecamatan Kragan, Rembang— kediaman sekaligus tempat Gus Baha menggelar kajian tafsir yang akan kami ikuti. Di perjalanan, pikiran saya terlempar ke bermacam-macam hal mengenai hal Gus Baha.

Nama Gus Baha sering saya dengar beberapa tahun lalu. Khususnya waktu Gus Baha, waktu itu punya rutinan ngaji di beberapa tempat di Bojonegoro. meskipun, tentu saja, tidak mudah bagi saya untuk berjumpa.

Seperti penuturan sejumlah kawan, Gus Baha ialah sosok yang tidak mudah dijumpai. Sang Gus tidak pernah mau ada pengumuman atau poster apapun kalau ada kajian agama yang menghadirkan dirinya.

Gus Baha ialah 1 diantara beberapa sosok kyai yang menjauhi popularitas. Bahkan, kerap mengkritik orang-orang yang mencari popularitas dan uang dari berjualan agama. Amat sulit mencari sosok seperti Gus Baha di era seperti waktu ini.

Selaku mufassir dengan kesanggupan di atas rata-rata orang seusianya, amat mudah bagi Gus Baha untuk jadi orang terkenal. Tetapi bahkan, Gus Baha amat menjauhi itu — dan kerap mengkritik mereka yang mencari hidup dari jualan agama.

Nama Gus Baha kian deras terdengar saat sejumlah publik figur populis sering menyebut-nyebut namanya. Ustad Adi Hidayat dan Puthut EA sering sekali menyebut namanya. Bahkan, mereka berdua, konon, mendaulat Gus Baha selaku sosok guru.

Pada sebuah Peluang lain, bahkan Prof. Quraisy Syihab pernah berkata, “Sulit ditemukan orang yang amat memahami dan hafal detail-detail Al-Qur’an sampai detail-detail fiqh yang tersirat dalam ayat-ayat Al-Qur’an seperti Pak Baha.”

Sejumlah penyebutan dan legitimasi itu kian membikin nama Gus Baha jadi perbincangan. Baik di medsos maupun di dunia nyata. Khususnya di bagian lingkaran pertemanan saya yang cukup kental membicarakan geliat publik figur keagamaan.

Seorang kawan, bahkan menjelaskan pada saya bahwa Gus Baha ialah sosok Wali. Uniknya, itu dikatakan seorang kawan yang bukan sosok tradisionalis, melainkan teramat ultra modernis.

Menjelang duhur yang sejuk, kami sampai di Narukan, Kragan, Rembang. Turun dari kendaraan, saya sempat ke belakang dan mengisap sebatang kretek. Seraya mengamati bermacam pemandangan di kisaran.

Sejumlah orang bersarung dan berpeci hitam tampak mondar-mandir di lingkungan tersebut. Mereka Hadir dari bermacam kota. Tuban dan Bojonegoro ialah 2 diantaranya. sebagian besar, Gus pondok sampai pengasuh pesantren.

Seraya membawa kitab tebal Tafsir Jalalain, mereka masuk surau dengan full gesa. Dari belakang, saya pun mengikutinya. Masuk sebuah ruang di mana banyak orang telah duduk seraya menanti kehadiran sang guru.

Cukup lama orang-orang di dalam ruangan tersebut bercengkrama seraya menunggu. Suasana Mendadak hening saat sosok berbaju putih duduk di depan meja yang telah disiapkan. Perangainya tenang dan fokus.

Beliaulah KH. Bahauddin Nursalim. Belum tampak tua. Bahkan tampak amat muda.

Saya yang kebetulan mengambil tempat duduk di sebelah kiri meja — cuma 2 baris dari meja Gus Baha — mempunyai view yang cukup gamblang untuk menyaksikan sosoknya dari arah samping. Beberapa santri menaruh ponsel di depan Gus Baha untuk merecord apa yang beliau jelaskan hari itu.

Saya baru sadar, argumentasi kenapa video Gus Baha amat sulit ditemukan di kanal YouTube. Kalaupun ada, pasti cuma berbentuk suara dan sebuah foto yang diam. Kebanyakan santri yang Hadir memilih merecord suara daripada video.

Sesaat sesudah duduk, tanpa banyak basa-basi, Gus Baha langsung membuka kitab dan memulai penjelasan, tanpa menatap ke kisaran. Semacam Kekhasan Gus Baha waktu mengaji.

Kecuali membicarakan apa yang tersurat dalam kitab, Gus Baha amat sering menyampaikan pesan-pesan tersirat pada para santri. Baik yang berhubungan langsung pada bab di kitab atau bahkan yang tidak berhubungan secara langsung.

“Lanang tenan iku gak wedi gak ndue duwit,” kalimat itu Mendadak membombardir dinding musala, lalu disusul gelak tawa.

Seorang pria, kata Gus Baha, wajib jadi petarung. Bukan petarung dalam hal fisik. Melainkan dalam hal keberanian. Hidup wajib bernyali. Mesti ada unsur berjuang. Setidaknya berjuang melawan rasa takut tidak punya uang. Toh saban manusia telah ditanggung rezekinya oleh tuhan.

Saya tidak tahu apakah kalimat yang keluar dari Gus Baha itu ada pada pembicaraan kitab atau tidak. Tetapi, banyak yang meyakini, pesan-pesan itu sering beliau munculkan begitu saja. Di tengah sesi pembacaan kitab.

Peserta ngaji sungguh semuanya laki-laki. Dan kepemilikan uang, kerap jadi problem bagi seorang pria. Terlebih kalau telah berumah tangga. Mungkin Gus Baha tahu. Sebab itu, ia menyampaikannya secara tegas.

Seluruh santri yang Hadir, tentu punya problem perihal uang. Dan uang, semenjak dulu sampai sekarang, senantiasa jadi momok yang mencemaskan bagi saban orang. Dan itu wajib dilawan dengan keberanian. Tentu saja, keberanian untuk hidup.

“Pria wajib punya mental petarung,” imbuhnya, yang sekaligus seperti menampar-nampar hati.

Pria wajib punya mental petarung ialah kalimat yang sungguh-sungguh menghentak dalam dada saya. Semacam menusuk dan ingin terpatri dalam hati. Laki-laki ialah pejuang. Bukan penakut. Petarung: setidaknya bertarung melawan ketakutan.

Karena hidup, telah ada garis takdir. Sehingga sesungguhnya, yang dibutuhkan cuma bernyali berjuang dan memperjuangkan saja. Apapun hasilnya, bukan lagi urusan manusia.

Unsur kata berjuang dan bernyali itu, tentu penafsirannya amat luas. Bernyali berjuang untuk pendidikan, bernyali berjuang untuk Famili, sampai bernyali berjuang untuk cinta, ialah beberapa di antaranya. Iya, Pria wajib bernyali berjuang. (Wahyu Rizkiawan/suluk.id)

Pria Sejati itu yang Tidak Takut Tidak Punya Uang

Lelaki Sejati itu yang Tidak Takut Tidak Punya Uang

You might like

About the Author: Ahmad Fawas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *