Rambut Wanita Kelihatan Sedikit waktu Shalat, Batalkah?

Rambut Wanita Kelihatan Sedikit waktu Shalat, Batalkah?

Rambut Wanita Kelihatan Sedikit waktu Shalat, Batalkah?

Bagian syarat yang wajib dipenuhi dalam shalat ialah menutup aurat. Maka wajib bagi orang yang hendak shalat untuk menutup semua auratnya mulai awal melakukan shalat sampai selesai. Aurat laki-laki meliputi pusar sampai lutut. Adapun aurat wanita ialah semua tubuh kecuali muka dan telapak tangan.

Perbedaan dalam penilaian menutup aurat antara laki-laki dan wanita waktu shalat ialah: kalau orang yang melakukan shalat ialah laki-laki maka aurat wajib tertutup dari 4 penjuru, yaitu  tidak kelihatan dari arah samping, arah depan, arah belakang dan arah atas. Adapun bagi wanita, aurat wajib tertutup  dari semua arah tersebut serta dari arah bawah. Sehingga kalau paha laki-laki kelihatan pada waktu sujud, maka hal seperti ini tidak sampai membatalkan shalat, karena paha ialah bagian yang kelihatan dari arah bawah. Tak sama halnya kalau hal seperti ini terjadi pada wanita, maka shalatnya jadi batal.

Hal yang sering terjadi bagi kaum wanita waktu shalat ialah seringnya sedikit bagian dari rambut mereka kelihatan pada waktu shalat tengah berlangsung. Padahal seperti kita pahami berbarengan bahwa rambut wanita Adalah bagian aurat yang wajib ditutup pada waktu melakukan shalat. Lalu waktu rambut wanita sedikit kelihatan pada waktu shalat berlangsung, apakah hal tersebut dapat membatalkan shalatnya?

Menurut mazhab Syafi’i, bagian aurat yang kelihatan pada waktu shalat, baik yang kelihatan ialah sedikit ataupun banyak—termasuk sedikit rambut wanita—ialah hal yang membatalkan shalat. Sehingga ia wajib untuk mengulang kembali shalatnya, karena shalat yang ia lakukan pada waktu terbuka auratnya dinilai shalat yang tidak sah. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam kitab Hawasyi as-Syarwani:

قول المتن: (ما سوى الوجه والكفين) أي حتى شعر رأسها وباطن قدميها ويكفي ستره بالأرض في حال الوقوف فإن ظهر منه شئ عند سجودها أو ظهر عقبها عند ركوعها أو سجودها بطلت صلاتها

“Wajib menutup semua tubuh waktu shalat bagi wanita kecuali muka dan 2 telapak tangan. Maksudnya, juga meliputi rambut dari wanita dan bagian dalam telapak kaki wanita. Menutup telapak kaki dengan tanah dinilai cukup dalam kondisi berdiri. Kalau tampak sedikit dari telapak kaki wanita waktu sujud, atau tumitnya kelihatan waktu ruku’ atau sujud, maka shalatnya jadi batal.” (Syekh Abdul Hamid as-Syarwani, Hawasyi as-Syarwani, juz 2, hal. 112)

Tak sama halnya menurut mazhab selain Syafi’i, seperti halnya dalam mazhab Hanbali (mazhab Ahmad ibnu Hanbal) atau mazhab Hanafi, yang membedakan antara aurat yang kelihatan sedikit atau banyak. Kalau aurat yang kelihatan cuma sedikit, maka shalatnya tidak batal. Akan tetapi kalau aurat yang kelihatan cukup banyak, maka shalatnya jadi batal. Seperti yang  dijelaskan oleh Ibnu Qudamah:

ـ (فصل) فان انكشف من العورة يسير لم تبطل صلاته نص عليه أحمد وبه قال أبو حنيفة وقال الشافعي تبطل لانه حكم تعلق بالعورة فاستوى قليله وكثيره كالنظرة

“Pasal. Kalau sedikit aurat terbuka waktu shalat, maka shalatnya tidak batal. Hukum ini dijelaskan oleh Imam Ahmad, dan Imam Abu Hanifah juga berpendapat seperti ini. Adapun Imam Syafi’i berpandangan bahwa shalatnya jadi batal, karena permasalahan ini berhubungan dengan aurat, maka sedikit atau banyak menduduki hukum yang sama, seperti halnya dalam permasalahan melihat aurat.” (Syekh Ibnu Qudamah, Al-Mughni, juz 2, hal. 280)

Aurat yang sedikit pada rujukan di atas berlaku secara umum, sehingga juga berlaku pada bagian rambut bagi wanita, maka waktu kelihatan sedikit dari bagian rambut mereka, shalatnya tetap sah atau tidak wajib diulang dalam pandangan mazhab Hanbali dan Hanafi. Seperti yang ditegaskan oleh bagian ulama terkemuka mazhab Hanbali, Syekh Taqiyuddin bin Taimiyah:

مسألة : سئل عن المرأة إذا ظهر شيء من شعرها في الصلاة هل تبطل صلاتها أم لا ؟

 أجاب : إذا انكشف شيء يسير من شعرها وبدنها لم يكن عليها الإعادة عند أكثر العلماء وهو مذهب أبي حنيفة وأحمد . وإن انكشف شيء كثير أعادت الصلاة في الوقت عند عامة العلماء الأئمة الأربعة وغيرهم والله أعلم

“Masalah: Syekh Taqiyuddin ditanyai mengenai hal wanita yang tampak sedikit dari rambutnya waktu shalat, apakah batal atau tidak?”

Beliau menjawab: “Kalau sedikit dari rambut wanita atau bagian tubuhnya terbuka waktu shalat maka tidak Penting untuknya untuk mengulang kembali shalatnya menurut kebanyakan ulama yang meliputi mazhab Abu Hanifah dan Ahmad. Akan tetapi kalau yang terbuka ialah bagian yang cukup banyak maka wajib mengulang shalat pada waktu shalat tersebut masih ada, menurut para ulama secara umum yaitu mazhab 4 dan mazhab yang lain. Waalahu a’lam.” (Syekh Taqiyuddin bin Taimiyah, al-Fatawa al-Kubra, Juz 2, Hal. 56)

Dengan seperti ini dapat disimpulkan bahwa dalam menyikapi masalah status shalat wanita yang kelihatan rambutnya, terjadi perbedaan antar-mazhab. Yaitu mazhab Syafi’i yang berpendapat batal dan mazhab ahmad serta mazhab Hanafi yang berpendapat tetap sah waktu rambut kelihatan cuma sedikit.

Perbedaan tersebut sama-sama mu’tabar dan diakui secara fiqih. Akan tetapi dalam ranah pengamalan, sebaiknya kita ikut mazhab Syafi’i seperti yang biasa dianut oleh kebanyakan masarakat Muslim Indonesia. Karena kalau kita dalam permasalahan ini ikut pandangan mazhab Ahmad misalnya, yang berpandangan tidak batal, maka dalam masalah shalat secara utuh kita juga wajib melaksanakannya berdasar pandangan  mazhab Ahmad, supaya terhindar dari talfiq (pencampuran beberapa mazhab dalam 1 qadiyyah) yang dicegah  oleh syara’.

Segala penjelasan di atas ialah dalam Perkara terlihatnya rambut wanita dari awal shalat dan dinilai oleh yang bersangkutan selaku bukan hal yang bermasalah, seperti yang sering terjadi pada umumnya perempuan awam.

Tak sama halnya waktu wanita yang melakukan shalat telah menutup auratnya secara keseluruhan, tapi ternyata di pertengahan shalatnya Mendadak auratnya terbuka (dalam hal ini sebagian rambutnya kelihatan) sebab faktor tertiup angin. Dalam kondisi seperti ini wajib untuknya tiba-tiba itu juga menutup aurat yang kelihatan tersebut supaya shalatnya tidak dihukumi batal. Kalau aurat yang kelihatan tidak cepat ia tutup, sekiranya melebihi waktu minimal thuma’ninah dalam shalat (dengan kadar waktu mengucapkan lafadz subhanallah) maka shalatnya jadi batal.

Kalau penyebab terbukanya aurat bukan sebab faktor tertiup angin, seperti sebab terkena gesekan gerakan tubuhnya sendiri atau penyebab terbukanya aurat tersebut tanpa diketahui oleh dirinya atau sebab-sebab yang lain, maka dalam kondisi seperti ini terjadi perbedaan pandangan di antara ulama: sebagian berpendapat shalatnya langsung dihukumi batal, sedangkan ulama yang lain berpandangan bahwa hukumnya sama dengan permasalahan terbukanya aurat sebab tertiup angin, sehingga wajib cepat ditutup auratnya dan shalatnya tetap sah. Akan tetapi pandangan yang kuat (mu’tamad) ialah pandangan yang menjelaskan bahwa shalatnya perempuan yang terbuka auratnya bukan sebab faktor tertiup angin ialah langsung dihukumi batal, sehingga wajib untuknya untuk mengulang kembali shalatnya (Syekh Sulaiman al-Bujairami, Hasyiyah al-Bujairami ala al-Khatib, juz 4, hal. 446). Wallahu a’lam.

(Ustadz Ali Zainal Abidin/NU Online)

Rambut Wanita Kelihatan Sedikit waktu Shalat, Batalkah?

Rambut Wanita Kelihatan Sedikit waktu Shalat, Batalkah? by A. Zain

You might like

About the Author: Ahmad Zainudin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *