Riyadloh: Satu-satunya Ajaran Radikal dalam NU

NU dan Pancasila Riyadloh: Satu-satunya Ajaran Radikal dalam NU


Fitur tersembunyi dari gubuk miring an-nahdliyah, terutama di masa lalu dan di pinggiran kota, adalah resume Riyadloh-nya. Jika ada yang pantas disebut radikal dalam kurikulum tarbiyah NU, maka kubu riyadloh inilah yang pantas mendapatkannya.

Riyadloh artinya melatih jiwa, melatih jiwa. Tujuannya adalah membiarkan diri Anda mendominasi nafsu. Tradisi radikal riyadloh di zaman modern ini sudah jarang ditemui, terutama di perkotaan. Biasanya riyadloh masuk dalam tahapan tasawuf atau thoriqoh (tarekat), tapi bisa juga lebih awal. Misal, seorang santri yang diyakini telah lulus Alquran dan siap menjadi dai, yaitu setidaknya telah mempelajari Ilahi Bayan, Nabawi Bayan dan Aqli Bayan, maka ia akan diperintahkan oleh Kyainya untuk melakukan yang ekstrim. puasa.

Kyai Muhammad Imdad Zuhri, muridnya Gus Muwafiq (Kyai Ahmad Muwafiq) mengatakan bahwa Gus Muwafiq menyuruhnya berpuasa selama 8 tahun. Gus Muwafiq sendiri kerap mengisahkan riyadloh santri di masa lalu yang disuruh berpuasa sambil menahan diri mengendarai kendaraan, kemudian disuruh jalan-jalan keliling pulau Jawa. Selama perjalanan itu, banyak insiden yang melemahkan mental para wali, dari diperlakukan seperti germo hingga dipukuli oleh orang-orang. Maka ketika para wali akhirnya memperoleh gelar Kyai, yang berarti mereka berhak berdakwah, mereka tidak hanya kebal secara fisik terhadap latihan kanuragan, tetapi juga kebal terhadap jiwa. Kekebalan internal dan eksternal. Bukti apapun hanya diejek. Kebal dari keinginan untuk dimuliakan, nafsu akan kekuasaan; kebal dari penghinaan, terzholimi, boron-kriminalisasi.

Kyai Muhamad Thoif, Sekretaris PWNU Papua, pernah bercerita tentang Riyadloh al pesantren di desanya di Indramayu. Ada siswa yang disuruh berpuasa bicara; alias diam selama lebih dari 5 tahun.
Bayangkan, orang-orang telah melafalkan akting selama puluhan tahun, pengetahuan mereka buruk, hafalan mereka buruk, mereka siap untuk berdakwah, mereka disuruh berlatih diam.

Sebaliknya, di kalangan tertentu di luar UN, orang yang masih awam, bahkan muqollid alias o’on, disebut ustadz karena baru menempuh studi 4 tahun, itupun mereka lulus demi akreditasi kampus, diajar. dimana mana; juga untuk memasang tarif pulak.

Maka wajar jika di kalangan masyarakat Nahdliyyin tidak sembarangan mengutip hadits “Ballighuw ‘anniy sekalipun dia seorang bapak”, “sampaikan kepada saya sekalipun itu sebuah ayat”.

Mbah Mus (KH. Ahmad Mustofa Bisri) sering dawuh, orang-orang yang ngotot dakwah dengan dalil-dalil tersebut tidak terlalu paham arti kata “sekalipun” di mata hadits.

Gus Nadir (Nadirsyah Hosen, Ph.D – pemegang 2 gelar doktor hukum dan hukum Islam) menjelaskan makna hadits ini. Berikut detail lengkapnya:

BACA JUGA :   Merajut Kembali Spirit Cinta kepada Allah dari Jebakan Rutinitas Ramadan

Dari Abu ‘Ashim ad-Dlahhak bin Makhlad memberitahu kami Al Awza’iy memberitahu kami Hassan bin’ Athiyyah dari Abi Kabsyah dari ‘Abdullah bin’ Amru bahwa Nabi SAW bersabda: “Kirimkan ayat dariku dan katakan (penyampaian). oleh Bani Isra’il dan tidak apa-apa. Dan siapapun yang berbohong kepadaku dengan sengaja akan bersiap untuk mengambil tempatnya di neraka. “(Shohih Bukhari, Abu Dawud, at-Tirmidzi)
Tanpa perawi, hadits tersebut berbunyi seperti ini:

“Ballighuw ‘anniy meskipun ayatan wa hadditsu’ an baniy israaiila walaa haroja, waman kadzaba ‘alayya muta’ammidan fal yatabawwa’ maq’adahuu min naar.”

Dari Gus Nadir, menurut Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari, konteks penyampaian hadits ini adalah bahwa Nabi Muhammad SAW setiap kali mendapat wahyu belum tentu didampingi oleh semua sahabat, dan setiap dakwah belum tentu hadir. oleh banyak orang.

Dalam narasi lain Nabi SAW bersabda: “Biarlah mereka yang hadir menularkan kepada mereka yang tidak hadir” (Shohih Bukhari dan Muslim). Jadi “transmisikan dariku sekalipun sebuah ayat” khusus ditujukan untuk sahabat, sehingga ditularkan dari Rasulullah SAW kepada mereka yang tidak hadir atau tidak mendengarkan secara langsung, sekalipun mereka hanya mendengar ayat Rasulullah SAW.

Hal ini tidak dimaksudkan untuk siswa sekolah menengah yang sudah memakai jubah dan tidur di masjid merasa layak untuk berdakwah.

Gus Baha ‘(Kyai Baha’uddin Nursalim, dijuluki “Buku Berjalan” oleh Adi Hidayat) menyimpulkan kajian hadits Ballighuw’ anniy.

Pertama, hadits yang diterbitkan oleh Imam Bukhori bukan di bab Dakwah, tapi di bab tentang ucapan Bani Israil alias Yahudi. Oleh karena itu tidak bisa dijadikan sebagai dasar kasus dakwah.

Kedua, jika Anda sangat ingin menyampaikan setiap ayat yang baru saja Anda dengar, maka Anda mengirimkan ayat tersebut yaitu Muhrial, bukan Mutasyabihah.

Inilah ilmu interpretasi. Muhsatria artinya merdeka, tidak ada hubungannya dengan makna ayat sebelum atau sesudahnya. Artinya ini bukanlah ayat yang menjadi bagian dari rangkaian ayat lainnya. Muh Court juga berarti didefinisikan, tidak samar-samar, dalam arti dapat dipahami dengan jelas melalui bunyi ayat, tanpa perlu mengkaji asbabun nuzul alias konteks ayat tersebut.

Mutasyabihah adalah kebalikan dari kata-katanya.

Fatwa Gus Baha ‘sekilas sederhana, namun kenyataannya untuk menilai ayat seperti Muhsatria atau Mutasyabihah, wajib menguasai prinsip-prinsip lain dalam ilmu tafsir.

Dari Kyai Said Aqil Siradj, di antara aturan tafsir yang penting adalah antara ‘Aamah (umum) atau Khoshoh (khusus), Muthlaqoh (mutlak) atau Muqoyyadah (kontekstual) dan lain-lain.

BACA JUGA :   Antisipasi Sengketa Tanah Wakaf, NU di Banyuwangi Kebut Sertifikasi

Untuk memahami sebuah hadits yang sederhana, banyak sekali ilmu yang harus dikuasai. Meski begitu, setelah mempelajari hal tersebut, seorang siswa tetap harus menjalani riyadloh untuk menjadi tawadlu ‘, menghilangkan kesombongan karena merasa ahli.

Hasil Riyadloh bukan hanya tawadlu ‘. Ada juga tradisi ekstrim riyadloh dalam pelatihan Tauhid. Misalnya seperti yang disampaikan oleh Gus Muwafiq, ada tradisi siswa diminta memanjat pohon kelapa setinggi minimal 3 meter sambil meneriakkan LAA ILAAHA ILLALLAH, lalu melompat ke tanah dengan kepala terlebih dahulu.

Jika sudah waktunya untuk mati, maka matilah. Jika tidak, maka tidak.

Dengan tauhid riyadloh tersebut, jelas Nahdliyyin sama sekali tidak heran dengan ulah kelompok yang takut mati bernama hizbut tahrir yang berjubah bertuliskan kalimat tauhid sembari berteriak memohon bentuk pembentukan kembali negara, yang ketika mereka menemukan gas air mata langsung di atasnya. menunggang kuda, meninggalkan benderanya di limbah dengan kandungan bangkai tikus 87%.

Dia bahkan tidak takut pada satu hal pun ketika dia dituduh menghina putusan tauhid. Karena sangat mudah untuk menangkal tuduhan: ajak saja si penuduh melompat bersama dari atas monumen sambil meneriakkan Tahlil, berani atau tidak.

Jadi wajar saja kalau NU Kyai jarang menganggap serius perbuatan anak zhohir yang tidak berdasar. Karena yang mereka jual hanyalah kebodohan yang dibalut dengan karakter Munafiq. Di sini dipukuli sambil mengangguk sambil cengengesan. Lalu saya lari dari sana, saya pergi ke sana, dan saya berkeliling lagi. Dengan putaran yang sama yang terputus di sini.

Fasies berulang kronis.

NU radikal di riyadloh, di moderasi. Inilah sebabnya mengapa model seperti saya diusulkan untuk menangani gerombolan fase Bughot di era darurat orientasi ini; Mahasiswa yang riyadlohnya berantakan, sehingga masih bisa berparade su’ul adab dengan siapapun.

Dan ini benar.

Karena jika santri yang sudah berlatih puasa sunyi misalnya disuruh menghadapi Bughot dalam pertarungan gegabah, maka pertarungan tersebut sangat zholim, yaitu tidak adil. Karena salah satu faktor puasa sunyi adalah ma’unah yang membingungkan lawan bicara dengan lambaian tangan yang sederhana.

Sentuhan umum.
Wallahul muwafiq ilaa aqwamith thoriq,

Wassalamu’alaikum wr. wb.

F. Haryadi, S.Pd
Sekretaris Lajnah Ta’lif wan-Nasyr PWNU Papua

(Warta Batavia)


Riyadloh: Satu-satunya Ajaran Radikal dalam NU

Recommended For You

About the Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *