Saat Nabi Musa Menanyakan ‘Di Mana Saya Mencari-Mu, Allah?’

Saat Nabi Musa Menanyakan ‘Di Mana Saya Mencari-Mu, Allah?’

Saat Nabi Musa Menanyakan ‘Di Mana Saya Mencari-Mu, Allah?’

Dalam kitab al-Zuhd, Imam Ahmad bin Hanbal menulis riwayat soal Nabi Musa yang menanyakan untuk Allah. Berikut riwayatnya:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ، حَدَّثَنِي أبِي، حَدَّثَنَا سَيَّارٌ، حَدَّثَنَا جَعْفَرٌ، عَنْ عِمْرَانَ الْقَصِيرِ قَالَ: قَالَ مُوسَى بْنُ عِمْرَانَ: أَيْ رَبِّ، أَيْنَ أَبْغِيكَ؟ قَالَ: ابْغِنِي عِنْدَ الْمُنْكَسِرَةِ قُلُوبُهُمْ؛ إِنِّي أَدْنُو مِنْهُمْ كُلَّ يَوْمٍ بَاعًا، وَلَوْلَا ذَلِكَ لَانْهَدَمُوا

Abdullah bercerita, ayahku bercerita kepadaku, Sayyar bercerita, Ja’far bercerita, dari ‘Imran al-Qashiri, ia berkata:

Musa bin ‘Imran berkata: “Wahai Tuhan, di mana saya mencari-Mu?”

Allah menjawab: “Carilah Saya di sisi orang-orang yang hancur hatinya. Sesungguhnya Saya dekat dengan mereka saban hari (sejarak) 1 bâ’ (kisaran 2 lengan). Jikalau tidak demkian, mereka pasti roboh (binasa).” (Imam Ahmad bin Hanbal, al-Zuhd, Kairo: Dar al-Rayyan li al-Turats, 1992, h. 95)

****

Kita ialah manusia yang dapat mencita-citakan kebahagiaan; dapat merencanakan kehidupan, dan dapat Memperkirakan tindakan. Akan tetapi, kita seringkali berlebihan tenggelam. Lupa akan kisaran dan sesama. Cara pandang kita jadi searah. Penglihatan kita jadi sejurus. Kalau sukses, kita lupa menyelipkan pandang untuk sesama. Kalau gagal, kita malas menyalahkan diri sendiri, dan mencari kambing hitam. Siapa lagi jikalau bukan orang lain, bahkan dalam tingkatan paling kritis, tidak sedikit yang menyalahkan Tuhan.

Syekh Hamzah Yusuf Hanson pernah berkata: “Everyone’s a believer when things are going fine. The real faith is when one becomes patient with tribulations—Seluruh orang ialah mukmin tatkala semuanya berjalan baik. Iman sejati ialah, tatkala seseorang sanggup bersabar dengan musibah (yang menimpanya).”

Akan tetapi, manusia mempunyai kadar bersabar yang berbeda-beda. Tidak seluruh orang dapat seperti Nabi Ayyub yang tidak pernah mengeluh walaupun menderita penyakit yang luar biasa negatif. Sebab itu, Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya yang lain untuk membantu. Ini memperlihatkan bahwa dalam Islam, faktor eksternal tidak kalah perlunya dengan faktor internal. Sebab keduanya saling melengkapi dan berkesinambungan sejauh zaman. Kalau salah satunya hilang, dapat jadi dunia akan kehilangan fungsinya.

Baca Artikel Lainnya:  Moeldoko: HR Berangkat Sendiri, Kok Ribut Minta Dipulangin

Faktor internal yang dimaksud ialah bersabar, bahwa manusia dituntut untuk mendidik dirinya sendiri waktu berhadapan dengan musibah. Akan tetapi, tidak seluruh orang mempunyai kesanggupan yang sama dalam memahami kesabaran, sampai berpengaruh pada pengamalannya. Sebab pemahaman soal “sabar” berhubungan erat dengan banyak hal, salah satunya ilmu pengetahuan, atau pendidikan yang didapatnya semenjak dini. Sebab itu, Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk saling membantu, khususnya membantu orang-orang yang tengah kesusahan. Inilah yang dimaksud faktor eksternal.

Dalam riwayat di atas, Nabi Musa ‘alaihissalam menanyakan: “Wahai Tuhan, di mana saya mencari-Mu?” Allah menjawab: “Carilah Saya di sisi orang-orang yang hancur hatinya. Sesungguhnya Saya dekat dengan mereka saban hari (sejarak) 1 bâ’ (kisaran 2 lengan). Jikalau tidak demkian, mereka pasti binasa.” Artinya, Islam memotivasi umatnya untuk menyaksikan ke sekitarnya, dan memperhatikan orang-orang yang memerlukan. Tidak cuma itu, Islam menyuruh pemeluknya untuk mencari orang-orang yang memerlukan dan membantu mereka, sampai Allah menekankan bahwa diri-Nya amat dekat dengan orang-orang yang hancur hatinya (kesusahan).

Dengan sedemikian, siapapun yang berkehendak menemukan Allah, ia wajib membantu orang-orang yang kesusahan. Sebab di sanalah rida dan rahmatNya Ada. Saking perlunya, Allah Menegaskan perintah tersebut dengan kiasan yang paling tinggi, dengan mempergunakan Nama-Nya. Dalam sebuah hadits diceritakan (HR. Imam Muslim):

عن أبي هريرة، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: يَا ابْنَ آدَمَ مَرِضْتُ فَلَمْ تَعُدْنِي، قَالَ: يَا رَبِّ، كَيْفَ أَعُودُكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعِزَّةِ؟ فَيَقُولُ: أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ عَبْدِي فُلانًا مَرِضَ فَلَمْ تَعُدْهُ، وَلَوْ عُدْتَهُ لَوَجَدْتَنِي عِنْدَهُ، وَيَقُولُ: يَا ابْنَ آدَمَ اسْتَطْعَمْتُكَ فَلَمْ تُطْعِمْنِي، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ كَيْفَ أُطْعِمُكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعِزَّةِ؟ فَيَقُولُ: أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ عَبْدِي فُلانًا جَاءَكَ يَسْتَطْعِمُكَ فَلَمْ تُطْعِمْهُ، أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ أَطْعَمْتَهُ لَوَجَدْتَ ذَلِكَ عِنْدِي، فَيَقُولُ: يَا ابْنَ آدَمَ اسْتَسْقَيْتُكَ فَلَمْ تَسْقِنِي، فَيَقُولُ: أَيْ رَبِّ كَيْفَ أَسْقِيكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعِزَّةِ؟ فَيَقُولُ: أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ عَبْدِي فُلانًا اسْتَسْقَاكَ فَلَمْ تَسْقِهِ، وَلَوْ سَقَيْتَهُ لَوَجَدْتَ ذَلِكَ عِنْدِي

Baca Artikel Lainnya:  3 Kali Mangkir, Polisi akan Jemput Paksa Bachtiar Nasir Sesampainya di Indonesia

Dari Abu Hurairah: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman di hari kiamat: “Hai anak Adam, Saya sudah sakit, tapi engkau tidak menjenguk-Ku. Orang itu menanyakan: Wahai Tuhan, bagaimana caraku menjenguk-Mu, sedangkan Kamu Tuhan yang Maha Kuasa? Allah menjawab: Apakah engkau tidak mengetahui bahwa seorang hamba-Ku bernama Fulan sakit tapi engkau tidak mau menjenguknya. Sekiranya engkau menjenguknya, pasti engkau dapati Saya di sisinya.

Wahai anak Adam, Saya minta makan kepadamu, tapi engkau tidak mau memberikan makan kepada-Ku. Orang itu menanyakan: Wahai Tuhan, bagaimana caraku memberi makan kepada-Mu, tengah Kamu Tuhan yang Maha Kuasa? Allah berfirman: Apakah engkau tidak tahu adanya seorang hamba-Ku, si Fulan, sudah Hadir meminta makan kepadamu, tapi engkau tidak memberinya makan. Sekiranya engkau memberinya makan, pasti engkau akan menemukan balasannya di sisi-Ku.

Wahai anak Adam, Saya minta minum kepadamu, tapi engkau tidak mau memberi-Ku minum. Orang itu menanyakan: Wahai Tuhan, bagaimana caraku memberi-Mu minum, padahal Kamu Tuhan yang Maha Kuasa? Allah berfirman: Apakah engkau tidak tahu bahwa hamba-Ku, si Fulan, minta minum kepadamu tapi engkau tidak mau memberinya minum. Sekiranya engkau memberinya minum, pasti engkau akan menjumpai balasannya di sisi-Ku.” (Imam Abu al-Hasan Muslim bin al-Hajjaj al-Naisaburi, Shahîh Muslim, Riyadl: Dar al-Salam li al-Nasyr wa al-Tauzi’, 2000, h. 1126).

Baca Artikel Lainnya:  Hukum Memotong Qurban, Wajib atau Sunnah?

Dalam hadits tersebut, Allah Memperingatkan orang yang tidak menjenguk-Nya, serta tidak memberiNya makan dan minum. Hamba-hambanya menanyakan, bagaimana cara kami menjenguk-Mu, serta memberi-Mu makan dan minum, padahal Kamu ialah Tuhan yang Maha Kuasa. Respon Allah memperlihatkan perlunya berbagi dengan sesama, dan perlunya membantu orang yang memerlukan. Sehingga siapa pun yang melaksanakan itu, ia seperti menjenguk Allah, dan Allah akan membalasnya dengan pahala yang besar.

Maka dari itu, bagian cara paling mudah mencari Tuhan ialah dengan cara mencari orang-orang yang kesusahan dan membantunya. Allah sendiri menjelaskan Dia amat dekat dengan mereka. Kalau tidak, telah barang tentu mereka akan terjatuh dan roboh. Sebab itu Allah berfirman (QS. Al-Baqarah: 153):

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah bareng orang-orang yang sabar.”

Allah sudah menaruh kesabaran di hati saban orang, dan memerintahkan mereka menggunakannya (faktor internal), atau menjadikan sabar dan shalat selaku penolong, sebab sesungguhnya Allah bareng orang-orang yang sabar. Selaku penyeimbang, Allah juga memerintahkan manusia untuk menolong orang-orang yang kesusahan (faktor eksternal), agar kesabaran mereka dikuatkan dari luar, dan mereka makin mengenali diri mereka sendiri, sampai pelahan-lahan mereka memahami, bahwa di saban hati manusia ada kesabaran. Tergantung bagaimana mereka membangkitkannya. Wallahu a’lam bish shawwab.

Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Sumber; NU Online

Saat Nabi Musa Menanyakan ‘Di Mana Saya Mencari-Mu, Allah?’

Saat Nabi Musa Menanyakan ‘Di Mana Saya Mencari-Mu, Allah?’ by A. Zain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *