Seleksi Rektor Asing Akan Berlangsung Super Ketat

alexametrics

Seleksi Rektor Asing Akan Berlangsung Super Ketat

loading…

JAKARTA – Planning pemerintah untuk merekrut rektor asing tampaknya akan tetap dilaksanakan. Akan tetapi, untuk dapat jadi rektor di Indonesia, maka para akademisi asing itu mesti melalui tahap seleksi yang super ketat. Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohammad Nasir menjelaskan, ingin mencari rektor asing yang berpengalaman dan juga mempunyai jaringan yang luas.

Karena, pemerintah ingin ada perguruan tinggi Indonesia yang dapat tembus 200 besar dunia. Menurut Nasir, wacana mendatangkan rektor asing ialah untuk menaikkan sumber daya manusia (SDM) dan perguruan tinggi supaya dapat berkelas dunia. Sebab itu, agar target itu tercapai maka Nasir menjelaskan, calon rektor asing itu akan dipilih yang mempunyai networking (jaringan) luas dan Track Record yang baik.

“Ke-1 yang mesti kita lihat ialah dia punya networking. Ke-2 experience (pengalaman) dia dalam mengelola perguruan tinggi seperti apa. Mampukah dia menaikkan ranking 1 perguruan tinggi jadi lebih baik,” tandas Nasir setelah konferensi pers Perizinan Perguruan Tinggi di Kantor Kemenristekdikti, Jakarta, kemarin.

Eks rektor Undip ini juga ingin calon rektor asing itu dapat menaikkan hasil riset jadi terobosan yang dapat dihilirisasi. Karena, dari hasil riset itu maka dapat menghasilkan pendapatan di perguruan tinggi untuk mendanai kembali riset yang berjalan di perguruan tinggi tersebut.

Menristekdikti meyakini bahwa mendatangkan rektor asing ialah bagian jalan keluar untuk menaikkan kualitas pendidikan. Dia menginginkan, dengan dipimpin rektor asing, maka akan ada perguruan tinggi yang dapat naik peringkat jadi 200 besar dunia. Soal berapa kampus yang akan diisi rektor asing, dia cuma menargetkan ada 2-5 kampus.

menurutnya, kampus-kampus yang akan diisi rektor asing di negara lain itu bukan suatu barang asing. Dia mencontohkan, di Arab Saudi di kampus King Fahd University of Petroleum and Minerals sebelum tahun 2005 rankingnya di atas 800 besar dunia. Akan tetapi, waktu ini peringkatnya dapat masuk 500 besar dunia. Ternyata, ungkapnya, naiknya peringkat kampus tersebut sebab guru besar dan pejabat di kampusnya nyaris 40% berasal dari orang asing.

Soal kapan wacana ini terwujud, dia menjelaskan, ditargetkan terlaksana pada tahun 2020. Pihaknya juga akan melaksanakan pemetaan terlebih dulu mana kampus yang pas. Kecuali itu juga mesti melaksanakan harmonisasi peraturan perundang-undangan mengenai hal pengelolaan perguruan tinggi yang …. dengan keuangan. “’Berilah Peluang pemerintah untuk mengerjakan ini,” ingin Nasir.

Guru Besar UI Hikmahanto Juwana meminta presiden untuk mempertimbangkan 2 hal kalau tetap ingin mengundang rektor luar negeri. Ke-1, kalau kebutuhan waktu ini ialah rektor yang punya jejaring luas ke dalam maupun luar negeri, ada baiknya mencari rektor dari dalam negeri yang mempunyai 3 kriteria Inti.

Yaitu yang mempunyai percaya diri yang tinggi, telah mempunyai nama besar ditingkat nasional maupun internasional, dan menguasai bahasa Inggris yang amat lancar layaknya penutur asli. “Figur seperti itu ada banyak di Indonesia. Akan tetapi mereka biasanya ogah berpolitik untuk meraih jabatan rektor. Ini yang jadi penghambat mengingat politik baik yang berasal dari dalam maupun luar kampus amat kental untuk memperoleh jabatan rektor,” ungkapnya.

Ke-2, maksud mendatangkan rektor asing itu apakah untuk masuk dalam ranking atau proses di mana ranking hanyalah konsekuensi. Karena, kalau ranking saja yang dipentingkan, maka dia kuatir kampus akan mencari jalan pintas. Mengelola PTN, ujarnya, sama seperti menanam tanaman keras yang proses berbuahnya lama.

menurutnya, meski ada rektor asing akan tetapi tidak mungkin dalam sekejap dapat merubah pola pikir guru besar yang merasa tugasnya cuma mengajar dan jadi guru besar pengajar serta peneliti di mana hasil penelitiannya dimasukkan dalam jurnal internasional bereputasi. Kecuali itu, katanya, bila menyaksikan universitas yang masuk dalam ranking 10 dunia, maka universitas tersebut telah menawarkan program studi untuk maha siswa asal Luar negeri.

Adapun universitas yang ada di Indonesia masih berkutat dengan maha siswa asal Indonesia saja. Belum lagi universitas di Indonesia belum sanggup menawarkan remunerasi yang amat memadai bagi para pengajar Luar negeri untuk mau Hadir dan juga infrastruktur kampus yang memadai agar mereka dapat terus memeriksa.

(don)

SindoNews by Abrori

You might like

About the Author: Abrori Ahmad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *