Solidaritas Al-Quds, Pandemi, dan Munculnya keinginan Baru

Solidaritas Al-Quds, Pandemi, dan Munculnya keinginan Baru

Warta Batavia –Pandemi Covid-19 yang mendera semua warga bumi membikin suasana Al-Quds tahun sekarang jadi amat tak sama. Pergelaran Al-Quds yang biasanya dikerjakan dengan cara menggelar unjuk rasa diubah dengan pergelaran even-even online, seperti seminar dan perlombaan bertemakan solidaritas Al-Quds. Pergantian model warning ini menciptakan suasana baru yang menyeruakkan harapan tak sama. Solidaritas Al-Quds jadi lebih terasa masif dan kreatif. Waktu aspirasi solidaritas digelorakan lewat media internet, jejak-jejak digitalnya jadi abadi serta menembus sekat-sekat ruang dan waktu. Pandemi tahun sekarang malah berkemungkinan besar membikin suara-suara Al-Quds jadi kian mendekati tujuannya.

Solidaritas Al-Quds ialah even di mana nasib bangsa Palestina kembali dibicarakan. Al-Quds akan terus dihelat sampai terbebasnya Palestina dari cengkeraman Israel. Sampai hari ini, penjajahan Zionis Israel Israel atas Palestina telah berlangsung 72 tahun. Selama puluhan tahun sekarang, warga bumi dapat dikatakan gagal mempertunjukkan respon the best waktu melihat pembunuhan masal, penghalauan, dan kebiadaban lainnya yang dipraktekkan secara terang-terangan oleh Israel dan sekutu-sekutu pendukungnya.

Palestina ialah bangsa yang terjajah. Sebagian dari mereka terusir dari tanah air. Mereka yang masih tinggal di negeri mereka pun hidup dalam kondisi amat mengenaskan. Kemiskinan, kelaparan, dan teror Adalah kejadian sehari-hari yang mesti dihadapi oleh bangsa ini. Dan Al-Quds, tempat suci kaum Muslimin Palestina, diduduki secara semena-mena oleh Israel. Ini ialah fakta yang tidak dapat ditutup-tutupi oleh siapapun.

READ
Sat Brimob Banten Melaksanakan Penyemprotan Disinfektan di Wilayah Pusat Pemprov

Negara-negara Arab Muslim yang dari sudut pandang politik internasional mempunyai legal standing paling kuat untuk membela Palestina, kelihatan lemah dan kehilangan martabat waktu dihadapkan ke isu Palestina. Padahal, secara geopolitik, negara-negara itu paling terdampak dengan krisis Palestina. Jutaan penduduk Palestina mengungsi ke wilayah mereka, dan menciptakan banyak problem sosial-ekonomi.

Negara-negara Arab di Timur Tengah juga sejatinya mempunyai posisi paling kuat untuk membela Palestina sebab mereka berasal dari Suku yang sama, serta berbahasa yang sama. Ditambah lagi dengan fakta bahwa kebanyakan dari mereka mempunyai agama yang sama, yaitu Islam; agama yang seharusnya mempersatukan seluruh pengikutnya jadi 1 saudara.

Cuma saja, telah semenjak lama, harapan bangsa Palestina kepada negara-negara Arab Muslim itu agaknya berlebihan keterlaluan. Mereka sejatinya tidak dapat diinginkan lagi untuk jadi pembela Palestina. Negara-negara Arab tersebut semenjak lama mengumumkan diri selaku sekutu dekat AS. Sementara itu, para pemimpin AS senantiasa saja berikrar untuk membela kepentingan Israel. Para pemimpin AS secara terang-terangan senantiasa mengumumkan bahwa kepentingan nasional Israel identik dengan kepentingan nasional AS.

Penting cepat ditambahkan bahwa yang dimaksud dengan “negara-negara Arab” dalam hal ini ialah para pemimpinnya. Kita tahu bahwa ada kesenjangan yang amat besar antara sikap para pemimpin dengan aspirasi rakyatnya. Ini dapat terjadi sebab bentuk negara dari kebanyakan negara-negara Arab Muslim ialah monarki, di mana para pemimpinnya tidak peduli dengan aspirasi rakyat yang sejatinya amat mendambakan kehormatan dan harga diri selaku Muslim.

READ
Utamakan Solidaritas, Respons Synthesis Development Terkait Pandemi Covid-19

Selama ini, pergelaran solidaritas Al-Quds yang Dilakukan secara tradisional berupa pergelaran pawai unjuk rasa pasti berhadapan dengan represi aparat negara. Saat ini, tatkala warning Al-Quds dikerjakan secara online, kita mendapati bahwa ide-ide solidaritas itu sanggup menyelusup ke ruang-ruang privat semua penduduk Muslim dunia yang terhubung ke internet, tanpa dapat dihalangi oleh aparat keamanan.

warning Al-Quds di tengah pandemi tahun sekarang betul-betul menciptakan suasana baru yang memberikan harapan. Hitung mundur pembebasan Al-Quds pun kian berdetak kencang. (os/editorial/liputanislam)


Solidaritas Al-Quds, Pandemi, dan Munculnya keinginan Baru

loading...

Recommended For You

About the Author: Asep Komarudin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *