Sudan Memanas, Pengunjuk rasa Menyebut pasukan Keamanan Bantai 35 Orang

Sudan Memanas, Pengunjuk rasa Menyebut pasukan Keamanan Bantai 35 Orang

loading…

KHARTOUM – Situasi di Ibu Kota Sadan, Khartoum, kian memanas. Pengunjuk rasa menuding Tentara keamanan negara itu melaksanakan pembunuhan masal berdarah dengan korban meninggal telah mencapai 35 orang.

Pada hari Senin Tentara keamanan menyerbu kamp demonstran di Khartoum, yang tercatat selaku aksi anarkis terburuk semenjak penggulingan Presiden Omar al-Bashir. Aksi anarkis ini memicu kecaman global.

Asosiasi Profesional Sudan (SPA), yang memelopori protes nasional semenjak Desember lalu, menjelaskan tindakan keras pada hari Senin Adalah “pembunuhan masal berdarah”.

“Kami menganggap Dewan Angkatan bersenjata Transisi (TMC) bertanggung jawab atas apa yang terjadi pagi ini (Senin),” kata SPA, mereferensi pada dewan angkatan bersenjata yang waktu ini mengendalikan negara.

Para pemimpin pro-demokrasi sudah meminta orang-orang untuk ambil bagian dalam pawai malam dan memblokir jalan-jalan Inti selaku bagian dari “pembangkangan sipil total” untuk “melumpuhkan kehidupan publik” di semua negeri.

Sebuah komite dokter yang terkait dengan para Demonstran menjelaskan dalam sebuah posting Facebook pada hari Senin bahwa hitungan total korban jiwa, termasuk seorang anak, sudah meningkat jadi setidaknya 35 orang. Komite itu mengklaim kerepotan menghitung hitungan total korban di tempat protes duduk di luar kompleks angkatan bersenjata di Khartoum.

Baca Artikel Lainnya:  India dan Filipina Minta Iran Bebaskan Warganya

Menurut komite tersebut, ratusan orang sudah cedera, yang sebagian besar akibat tembakan. Para saksi mata menjelaskan para demonstran ditembak mati dan mayatnya dibuang di Sungai Nil dekat tempat aksi protes berlangsung.

PBB mengkritik keras pemanfaatan power keterlaluan oleh Tentara keamanan kepada para pemrotes dan menyerukan penyelidikan independen atas tindakan mematikan tersebut.

Sekretaris Jend. PBB Antonio Guterres menjelaskan dalam sebuah pernyataan bahwa ia terkejut oleh laporan bahwa Tentara keamanan melepaskan tembakan ke dalam sebuah RS di Khartoum.

“Yang terang bagi kami ialah bahwa ada pemanfaatan power keterlaluan oleh Tentara keamanan kepada masyarakat sipil. Orang-orang sudah meninggal. Orang-orang cedera,” kata Jubir PBB Stephane Dujarric, seperti dilansir Al Jazeera, Selasa (4/6/2019).

Guterres mendesak pihak berwenang Sudan untuk memfasilitasi penyelidikan independen atas kematian dan memastikan bahwa mereka yang bertanggung jawab dimintai pertanggungjawaban. Dia juga memperbarui seruannya untuk Perundingan untuk meneruskan transfer kekuasaan secara damai ke otoritas yang dipimpin sipil.

Komite dokter menjelaskan Tentara sudah melepaskan tembakan di dalam Hospital East Nile dan mengejar Demonstran damai. RS lain di dekat tempat aksi protes duduk sudah dikepung dan para sukarelawan dicegah untuk menjangkaunya.

Baca Artikel Lainnya:  Meninggal di Mesir, Mahasiswi Indonesia Disalatkan di Masjid Al Azhar

Duta Besar Inggris untuk Sudan, Irfan Siddiq, melalui Twitter menjelaskan serbuan kepada RS dan klinik ialah tindakan “menentang kepercayaan”.

“Mereka yang cedera dalam serbuan menakutkan hari ini memerlukan akses tanpa hambatan ke perawatan medis,” katanya. “Pusat medis wajib jadi tempat yang aman.”

Angkatan bersenjata Bantah

TMC membantah serbuan kepada RS. Juru bicaranya, Letnan Jend. Shams El Din Kabbashi menjelaskan Tentara keamanan mengejar kelompok-kelompok yang tidak dapat diatur, yang sudah menyelamatkan diri ke tempat protes dan menyebabkan kekacauan.

“Dewan Angkatan bersenjata Transisi menyesali situasi seperti ini berkembang, mengatakan dengan tegas kembali tekad bulat penuhnya untuk keamanan masyarakat dan memperbarui seruannya untuk Perundingan sesegera mungkin,” kata TMC dalam sebuah pernyataan.

Selama masa transisi 2 tahun sampai Pemilihan Umum presiden, Dewan Angkatan bersenjata Transisi akan memegang kendali negara tersebut.

Uni Afrika sudah meminta TMC dan para pemimpin protes untuk kembali ke Perundingan. Himbauan serupa disampaikan Qatar dan Jerman. Amerika Serikat menyebut serbuan pada hari Senin “salah” dan wajib dihentikan.

Baca Artikel Lainnya:  Seniman Argentina Ramal Kebakaran Notre Dame Puluhan Tahun Lalu

(mas)

Source by Agus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *