ideologi
ideologi

Suluk Kyai Nur Khalik Ridwan: Bertirakat pada Hari Jum’at

Diposting pada 34 views

Suluk Kyai Nur Khalik Ridwan: Bertirakat pada Hari Jum’at

Oleh: Kyai Nur Khalik Ridwan, Pembina Yayasan Bumi Aswaja dan Pengasuh Pesantren Bumi Cendekia Yogyakarta.

“Hari Jum’at itu 2 belas jam. Tidak ada seorang Muslim pun yang memohon sesuatu ke Allah dalam waktu tersebut melainkan akan dikabulkan oleh Allah. Maka peganglah erat-erat (ingatlah bahwa) akhir dari waktu tersebut jatuh sesudah ‘Ashar” (HR. Al-Hakim).

Hadits di atas disebutkan dan dikeluarkan oleh Imam Al-Hakim dalam Al-Mustadrak `alash Shahihaini, No. 1034 (versi Darul Haramain, 1997/1417, I: 406). Al-Hakim Memberi komentar soal isnad hadits ini: “Ini hadits shahih berdasar syarat Muslim”. Hadits yang menyebutkan soal ini disebutkan pula oleh beberapa riwayat hadits oleh perawi lain seperti dalam riwayat An-Nasa’i (No. 1760-1766, I: 279), Bukhari (No. 935); Muslim (No. 852), Ahmad (No. 10302). Cuma saja, pada riwayat Al-Hakim, ada tambahan redaksi: “Akhir dari waktu tersebut jatuh sesudah ‘Ashar (akhirus sa`ah ba’dal ashr).”

Jum`at, Sayyidul Ayyam

Mengetahui keutamaan Jum`at termasuk bagian dari mengerti kepada al-auqat al-muhimmah dan al-mustajabah (waktu-waktu penting dan mustajabah). Bagi para pesuluk di jalan Allah, mengetahui kepada keistimewaan al-auqat amat penting, termasuk keistimewaan hari Jum`at. Pada hari Jum`at, keseluruhannya (malam Jum`atnya dan siang harinya), banyak sekali faedahnya untuk bertirakat.

Dalam beberapa riwayat hadits Nabi Muhammad, Jum`at itu disebut selaku Sayyidul Ayyam. Hal ini mereferensi, misalnya apa yang diriwayatkan oleh al-Hakim dalam Al-Mustadrak seperti ini:

1. “Dari Abu Hurairah berkata: “Rasulullah berabda: “Sayyidul Ayyam ialah hari Jum`at, di dalamnya diciptakan Adam, di dalamnya Adam dimasukkan surga, dan di dalamnya Adam dikeluarkan dari surga, dan qiyamat tidak terjadi kecuali pada hari Jum`at” (HR. Al-Hakim, Al-Mustadrak, No. 1028).

2. Melalui jalan Abu Hurairah Nabi bersabda: “Sebaik-baik hari dimana matahari terbit di waktu itu ialah hari Jum’at. Pada hari ini Adam diciptakan, hari waktu ia dimasukan ke dalam Surga dan hari waktu ia dikeluarkan dari Surga” (HR. Nasa’i, No. 1675; Muslim, No. 854; Tirmidzi, No. 488; dan Ahmad, No. 9207).

Amalan Makruh pada Hari Jum`at

Di antara hal penting mengerting soal hari Jum`at, ialah mengerti ada amal yang dimakruhkan. menurut beberapa riwayat dari Nabi Muhammad, amal yang dimakruhkan ini ialah berpuasa yang menyendiri harinya (puasa spesial hari Jum`at). Para ulama memahami larangan berpuasa hari Jum`at selaku makruh.

Hal ini mereferensi pada riwayat beberapa hadits Nabi Muhammad, di antaranya:

1. “Janganlah bagian di antara Anda semua berpuasa pada hari Jum`at kecuali kalau ia berpuasa pada hari sebelum dan sesudahnya” (HR. Bukhari, No. 1849; dan Muslim, No. 1929).

2. “Janganlah dikhususkan malam Jum`at dengan sholat sunnah tertentu yang tidak dilakukamn pada malam-malam selainnya. Jangan pula mengkhusukan hari Jum`at untuk puasa tertentu yang tidak ditunaikan pada hari-hari lain-nya, kecuali kalau ada puasa yang ditunaikan sebab karena waktu itu” (HR. Muslim, No. 1143).

menurut hadits ke-1 di atas, yang dicegah ialah berpuasa pada hari Jum`at, kalau puasa itu cuma spesial pada hari Jum`at. Adapun berdasar hadits ke-2, disebutkan termasuk sholat malam Jum`at, yang dikhususkan cuma untuk malam Jum`at saja. Dari ke-2 hadits di atas, baik puasa hari Jum`at atau sholat malam Jum`at, dikecualikan bila sudah didahului puasa hari sebelumnya; atau diteruskan pada hari setelahnya; atau sudah didahului karena tertentu, seperti sebab nadzar, dan penyelenggaraan nadzar itu jatuhnya pada hari Jum`at; atau sholat yang ditunaikan sudah biasa ditunaikan di hari-hari yang lain.

READ
Mars ISNU Hymne Lirik Teks

Mengenai hal puasa hari Jum`at ini, Imam an-Nawawi dalam kitab Minhajuth Thalibin, menyebutkan: “Makruh puasa pada hari Jum`at saja, atau hari sabtu saja.” Dalam bagian syarah kitab ini berjudul, Nihayatul Muhtaj ila Syarhi Alfazhil Minhaj yang disusun Ar-Rafi`i disebutkan: “Sesungguhnya tidak dimakruhkan menyendirikannya (puasa hari Jum`at), dengan karena nadzar, dan kaffarat, dan qadha’” (Nihayatul Muhtaj ila Syarhil Minhaj, versi Darul Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, 2003/1424, III: 209).

Anjuran Memperbanyak Sholawat

Nabi Muhammad shollallohu `alaihi wasallam memerintahkan agar ummat Islam memperbanyak sholawat pada hari Jum`at, seperti disebutkan dalam berberapa hadits di bawah ini:

1. Melalui jalan Aus bin Aus Nabi bersabda: “…Maka perbanyaklah sholawat kepadaku di dalam hari Jum`at, sebab sesungguhnya sholawat Anda semua dihadapkan kepadaku.” Para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana sholawat kami dihadapkan atas engkau dan padahal engkaui sudah wafat? Maksudnya mereka berkata: “Engkau menjawabnya.” Rasulullah bersabda: “Susungguhnya Allah mengharamkan tanah untuk memakan jasad para Nabi” (HR. Baihaqi, As-Sunanul Kubra, versi darul Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, 1424/2003, III: 353, No. 5993).

2. Melalui sahabat Anas Nabi bersabda: “Perbanyaklah sholawat kepadaku pada tiap-tiap Jum`at dan malam Jum`at, barangsiapa yang bersholawat kepadaku 1 sholawat, Allah membalasnya 10 sholawat” (HR. Baihaqi, As-Sunanul Kubra, III: 353, No. 5994).

3. Melalui sahabat Abu Umamah, Nabi bersabda: “Perbanyaklah sholawat kepadaku pada hari Jum`at, maka sesungguhnya sholawat umatku dihadapkan kepadaku pada hari Jum`at, dan barangsiapa yang memperbanyak sholawat kepadaku, dia paling dekat tempatnya dariku” (HR. Baihaqi, As-Sunanul Kubra, III: 353, No. 5995).

Anjuran memperbanyak sholawat di hari Jum`at, juga dapat ditemukan dalam beberapa riwayat: Nasa’i (No. 1678), Abu Dawud (No. 1047 dan 1531), Ibnu Majah (No. 1085 dan 1636), Ahmad (No. 16162), Ibnu Hibban (No. 910), dan Al-Hakim (No. 1031).

Amalan Membaca al-Kahfi dan Yasin

Pada hari Jum`at, Nabi Muhammad juga menyebutkan untuk membaca surat al-Kahfi dan surat Yasin, sebagaimana disebutkan beberapa riwayat:

Melalui sahabat Abu Said al-Khudhri, Nabi bersabda: “Barangsiapa yang membaca surat al-Kahfi di hari Jum`at, adho’a lahu minan nur di antara 2 Jum`at” (HR. Baihaqi, As-Sunanul Kubra, III: 353, No. 5996). Dalam riwayat lain, Imam al-Baihaqi menyebut: “Ma bainahu wa bainal Baitil `Atiq.” Disebut juga oleh Imam al-Baihaqi: “Dari Abi Hasyim dengan isnadnya bahwa Nabi bersabda: “Barangsiapa yang membaca surat al-Kahfi sebagaiman diturunkan, kanat lahu nuran yaumal qiyamah.”

Kecuali membaca surat al-Kahfi, malam Jum`at, juga masuk dalam keumuman hadits-hadits yang menyebutkan soal keutamaan membaca surat Yasin, yaitu:

“Barangsiapa yang memudawamahkan membaca surat Yasin tiap-tiap malam, lantas meninggal maka matinya syahid” (dari jalan sahabat Anas, diriwayatkan Imam ath-Thabrani, al-Khathib dan Ibnu Marduyah; dalam Tafsir Durrul Mantsur fit Tafsir bil Matsur, jilid III: 130 dan seterusnya).

Mengenai hal keutamaan Yasin, lihat juga dalam bagian tirakat mempergunakan amalan Yasin Fadilah, dalam tulisan lain.

READ
Penting Melek Literasi Media, Jalan Berhasil Tolak Hoaks

Sholat Jum`at Kaffarat Seminggu

Hari Jum`at ummat Islam diperintahkan untuk sholat Jum`at berjamaah bagi yang sudah memenuhi syarat. Dan sholat Jum`at disebutkan oleh sebagian riwayat Nabi Muhammad selaku kaffarat dari Jum`ah sebelumnya. Maksudnya kaffarah ialah dapat menebus dosa-dosa.

Riwayat yang menyebut ini selaku berikut:

“Tidak ada seorang laki-laki yang bersuci pada hari Jum`at sebagaimana diperintahkan, lantas dia keluar dari rumahnya sampai dia Hadir (sholat) Jum`at, maka dia diam sampai imam melakukan shalatnya, kecuali itu ialah kaffarat dari apa yang sebelumnya dari Jum`at” (Nasai, Kitabus Sunanil Kubra, versi Muassasah ar-Risalah, 2001/1421, No. 1676, 1677, jilid II: 261; dan Shahih Ibnu Huzaimah, No. 1732).

Sebaliknya, mereka yang meninggalkan sholat Jum`at tanp ada udzur atau tanpa dharurat, disebut Nabi Muhammad dengan: “Barangsiapa meninggakan Jum`at 3 kali, dengan tanpa udzur, thoba`allah atas hatinya” (Nasa’i, Kitabus Sunanil Kubra, No. 1669, II: 259)

Adapun mereka yang meninggalkan sholat Jum`at, diharuskan berinfaq, sebagaimana disebutkan dalam riwayat: “Dari Samurah bin Jundub berkata, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa meninggalkan sholat Jum`at dengan tanpa udzur, maka bersedekahlah dengan1 dinar, dan apabila tidak mendapatkannya, maka bersedekahlah setengah dinar” (Nasa’i, Kitabus Sunanil Kubra, No. 1673 dan 1674).

Malaikat Pencatat di Pintu Masjid

Pada hari Jum`at juga ada keistimewaan, dimana berdasar riwayat dari Kanjeng Nabi Muhammad, malaikat di pintu-pintu masjid menulis orang-orang yang awal, lantas setelahnya:

“Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda: “Tatkala hari Jum`at, di tiap-tiap pintu dari pintu-pintu masjid ada mailaikat (yang mereka ditugaskan) menulis yang awal, dan yang awal. Maka apabila imam sudah duduk para malaikat thawau ash-shuhufa, dan mereka Hadir untuk mendengarkan dzikir” (Nasa’i, No. 1701; 1702; 1704; 1706).

Waktu yang Mustajabah

Pada hari Jum`at, Ada waktu yang disebut oleh beberapa riwayat selaku mustajabah, sebagaimana dilansir di awal tulisan ini. Akan tetapi riwayat-riwayat soal waktu mustajabah ini, Ada beberapa variasi, di antaranya Imam Muslim di dalam Shahihnya menyebutkan:

“Dari Abu Burdah bin Abi Musa al-Asy’ari Radhiyallahu anhu bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma berkata kepadanya: “Apakah engkau sudah menguping ayahmu meriwayatkan hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sehubungan dengan waktu ijabah pada hari Jum’at?” Abu Burdah lantas menjelaskan: “Saya menjawab “Ya, saya menguping ayahku menjelaskan bahwa: “Saya menguping Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Yaitu waktu antara duduknya imam sampai shalat Dilakukan” (Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi, VI: 139-140).

Dalam riwayat Imam Muslim, melalui jalan Abu Hurairah disebut begini:
“Sesungguhnya di dalam hari Jum`at, sungguh ada waktu, tidak meminta seorang muslim soal kepda ke Allah kecuali Allah mengabulkannya.” Beliau berkata: “Waktu itu khafifah” (Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi, VI: 139-140).

Imam an-Nawawi Memberi komentar soal waktu ini dalam Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi, begini:

“Al-Qadhi berkata: “Para salaf tak sama pandangan di dalam soal waktu ini; dan di dalam makna qa’imun yusholli”. Sebagian mereka berkata dari sesudah Asar sampai Ghurub (terbenam matahari); dan makna “yushalli” ialah berdoa dan makna “qa’im” menetapi dan melazimkan sebagaimana Allah berfirman “ma damat `alaihi qa’iman”; dan sebagian yang lain berkata, dari waktu imam keluar sampai selesai shalat; dan sebagian berkata dari sampai didirikan sholat sampai selesai, dan shalat menurut mereka ialah dhahirnya sholat; dan sebagian berkata dari mulai imam duduk di atas mimbar sampai selesai sholat; dan dikatakan juga waktunya ialah akhir waktu hari Jum`at. Dan berkata al-Qadhi, dan diriwayatkan dari Nabi, dan di dalam tiap-tiap ini, ada atsar mufassarah bagi pendapat-pendapat ini… dan yang shahih dan showab ialah apa yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Musa (di atas), yaitu antara semenjak duduknya imam (di atas mimbar) sampai dilaksnakannya sholat (Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi, VI: 140-141).

READ
Di Mlangi, Engkau Akan Temukan Mauludan yang Eksotis!

Jika Imam an-Nawawi memperkuat pandangan yangt benar selaku “semenjak imam duduk di atas mimbar sampai dilaksanakannya sholat”, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari, menyebut begini:

“Dan sudah tak sama pandangan ahli ilmu di kalangan Sahabat, Tabi’in dan sesudah mereka soal “waktu itu”, apakah (perkara) waktu tersebut tetap ada (relevan sampai waktu ini) ataukah telah dihapus? Sementara bagi kubu yang mengumumkan bahwa waktu itu tetap ada, mereka berselisih pandangan soal penentuan waktu tersebut, seluruhnya jadi lebih dari 3 puluh pandangan…”

Ibnu Hajar lantas menyebut banyak pandangan berdasarka atsar dan hadits yang menyebutkan indiksi perbedaan penentuan waktu mustajabah itu. seusai itu, Ibnu Hajar menyebutkan bahwa:

1. Yang paling kuat, ialah apa yang diriwayatkan Abu Musa al-Asy`ari (Fathul Bari, versi al-Maktabah as-Salafiyah, VI: 421). Di antara yang berpegang pada ini, ialah Al-Baihaqi, Ibnul Arabi, Jama`ah, dan Imam an-Nawawi.

2. Yang paling kuat ialah apa yang diriwayatkan dari hadits Abdullah bin Salam dari Abu Hurairah. Dan yang berpegang pada ini, di antaranya banyak dari para imam, seperti Imam Ahmad, Ishaq, az-Zamlakani (dari kalangan Syafi`iyah). Menurut riwayat ini, akhir waktu itu ialah sesudah ashar, yang haditsnya diriwayatkan Abu Dawud, Nasa’i, al-Hakim dengan sanad hasan, Malik dan Ashab Sunan, dan Ada riwayat dari Abdullah bin Salam dari Abu Hurairah yang dikeluarkan Ibnu Hibban (Fathul Bari, VI: 420).

Beberapa ulama teladan menyebut hikmah waktu mustajabah yang tidak disebut secara eksplisit itu, seperti ini (Fathul Bari, IV: 417): (1) “Sesungguhnya seseorang (supaya) memulai berdoa di awal hari Jum`at di semuanya sampai waktu yang maklum” (Ibnul Mundzir); (2) “Hendaknya seseorang mudawamah doa pada hari Jum`at agar dia melewati waktu mustajabah bagi doa” (Ibnu Umar); “Seyogyanya seseorang mudawamah doa pada hari Jum`at seluruhnya agar melewati waktu yang mustajabah di dalamnya” (Ka`ab); dan “Disunnahkan membaca doa pada hari Jum`at, dengan mengharap doa memperoleh waktu yang mustajabah itu (Ar-Rafi`i, pengarang al-Mughni da selainnya). Wallohu a’lam.


Suluk Kyai Nur Khalik Ridwan: Bertirakat pada Hari Jum’at

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *