Betapa Maha Pengertiannya Allah Ke Keterbatasan Kita
Betapa Maha Pengertiannya Allah Ke Keterbatasan Kita

Syariat Bukan Kepentingan Allah SWT, Namun Kita

Diposting pada 6 views

Oleh Edi AH Iyubenu, wakil ketua LTN PWNU DIY. 

Sekilas, syariat kelihatan terpecah antara yang terkait dengan urusan keakhiratan dan yang berkait dengan urusan keduniawian. Shalat, misal, ibadah keakhiratan; menghindarkan fintah ialah syariat keduniawian.

Itu tidak salah. Tetapi, hakikatnya, syariat tidak dapat sungguh-sungguh dipisah secara ekstrem begitu rupa, karena pada pelbagai ibadah yang kelihatan ukhrawi pun, juga mengandung dampak-dampak keduniawiaan, dan sebaliknya.

Shalat, misal, terang ibadah mahdhah-ukhrawi, tetapi ia juga jadi parameter bagi kualitas akhlak antarsesama. Makin bagus kualitas shalat seseorang, kian terjauhkan ia dari perbuatan keji dan mungkar. Misal, menipu atau korupsi. Begitupun menghindarkan diri dari pusaran fitnah atau bersilang pandangan yang full kerumitan; ia berdampak nyata pada kualitas kehidupan duniawinya sekaligus mencerminkan kualitas imannya untuk Allah Swt. Jadi, dengan perspektif ini, syariat dapat dinyatakan selaku kesatuan holistik duniawi-ukhrawi.

Peletak syariat terang ialah Allah Swt. Dan obyeknya ialah manusia, kita. Tetapi, manusia juga sekaligus subyeknya. Subyek pelaksananya.

Sebab manusia ialah subyek dan sekaligus obyek syariat, telah pasti manusialah yang berkepentingan dengan penegakan syariat itu. Bukan Allah Swt. Ya, sekali lagi, bukan Allah Swt. Apa pengaruhnya tegak/tidak syariat Allah Swt di muka bumi ini bagiNya? Sama sekali tidak ada.

Wahai HambaKu, umpama semua jin dan manusia semenjak awal penciptaan sampai akhir penciptaan jadi paling bertakwa kepadaKu, sungguh itu takkan menambah kekuasaanKu sedikit pun; Wahai HambaKu, umpama semua jin dan manusia semenjak awal penciptaan sampai akhir penciptaan bermaksiat kepadaKu, sungguh itu takkan mengurangi sedikit pun kekuasaanKu,” begitu kata sebuah hadis Qudsi dalam riwayat Muslim. Di al-Qur’an, Anda juga dapat menemukan hal setema dalam surat al-Isra’ ayat 7 dan Luqman ayat 12.  Juga surat Hud ayat 118.

Dalam kitab Riyadhus Shalihinsusunan Imam Nawawi, dalam riwayat Abu Hurairah juga dituturkan oleh Rasulullah Saw bahwa umpama dosa manusia seluas langit dan bumi, asal ia tidak menyekutukanNya dan bertaubat padaNya, maka ia akan diterima oleh Allah Swt.

Cukup, ya. Dalil-dalil ini kita cukupkan sampai di sini selaku bukti valid bagi “tidak butuhnya” Allah Swt untuk patuh/tidaknya manusia untuk syariat yang diperintahkan Allah Swt. Simaklah lagi surat al-Kahfi ayat 29.

Maka Saat ini pertanyaannya ialah mengapa Allah Swt menatapkan syariatNya untuk manusia? Untuk apa?

Jawabannya ialah “untuk menguji manusia” (siapa yang paling patuh kepadaNya) dan sekaligus “untuk kebaikan manusia sendiri”.

Pada ayat soal had(hukuman), misal qishas, dikatakanNya bahwa di dalam penegakan had itu ada kehidupan. Maka ditegaskanNya supaya tidak ada “belas kasih” untuk penegakan had yang sudah terbukti validitasnya. Tujuannya tiada lain untuk merawat kehidupan itu sendiri.

Dengan sedemikian, sesungguhnya dapat kita paham bahwa kualitas peradaban kehidupan manusia di dunia ini otomatis akan berjalan seiring dengan kualitas penegakan syariat itu sendiri. Makin tegak, kian maslahat, dan sebaliknya. Kita dapat melihat dengan nyata praktik ideal tersebut melalui Piagam Madinah yang ditegakkan oleh Rasulullah Saw di Madinah. Seluruh orang, tanpa peduli SARA, diberi status hukum yang terang dan adil. Semuanya bersengkuyung menguatkan 1 sama lain. Sama di depan hukum. Itulah era madaniyah, keberadaban, yang sungguh menakjubkan.

Tetapi sungguh praktik hal begini seringlah jadi tidak sederhana di antara kita; di antara makin majemuknya realitas hidup kita.

Apa yang kita pahami dan menyebut selaku “penegakan syariat” acap betul terlimpas jungkal pada sekadar ambisi-ambisi yang tidak lagi sejalan ruhnya dengan kemaslahatan syariat itu sendiri. Kita dapat menukil ayat dan hadis apa saja pada suatu konteks hukum dan mengatakannya selaku “inilah syariat Allah Swt”, tetapi pas di detik yang sama kita tergulung dalam gelora ambisi kita dan kubu kita sendiri sampai berseterudengan liyan dan kubu lainnya. Ini sungguh anomali. Bagaimana mungkin ayat dan hadis selaku landasan syariat malah memicu kita untuk saling bersitegang, bermusuhan, berpecah-belah, dan terjauhkan dari ruh kemaslahatan syariat itu sendiri, dengan mengatasnamakan syariat itu pula?

ARTIKEL LAINNYA :
Habib Ali Kwitang “Marahi” KH Idham Kholid Terkait Lambang NU

Kita bagai terjatuh bertubi-tubi di perkara ini.

Ini sungguh soal serius di antara kita seluruh. Selayaknya kita mesti terus memikirkan dan merenungkannya untuk mengembalikan otentisitas syariat selaku jalan kemaslahatan hidup tanpa batas SARA antarkita seluruh.

Secara sederhana, nampaknya, sumber Inti bagi kemelut atas nama syariat itu ialah makin cenderungnya kita mengumumkan diri benar sembari menindih pihak lain salah. Kita jadi makin kehilangan spirit adil bukan cuma untuk liyan, tapi bahkan untuk diri sendiri. Bayangkanlah!

Kita memahami bahwa ayat-ayat al-Qur’an dan hadis banyak betul yang bersifat multitafsir. Karakter sedemikian bahkan dominan jumlahnya. Kita pun sudah mengetahui bahwa keadaan sedemikian Adalah bagian dari ejawantah kemukjizatan agar Islam terus dapat relevan sejauh zaman. Rahmatan lil ‘alamin. Begitu grand-orientation-nya. Sungguh tidak kebayang bila ayat-ayat dan hadis-hadis lalu mengalami kadaluarsa di depan laju zaman dikarenakan dalil-dalilnya bersifat mutlak-teknis.

Tetapi pas di atas keadaan riil demikianlah kita rawan terjatuh pada pengakuan. Ya, pengakuan. Superlative-claim: ialah mengakui apa yang kita pahami, anut, dan amalkan ialah yang benar (truth claim) dan selamat (salvation claim), sedangkan yang selainnya ialah salah dan celaka.

Apa benar sedemikian?

Tentu saja itu cuma pengakuan. Kebenarannya amat relatif. Bagaimana dapat sesuatu yang benar relatif kita rayakan dengan mengharu biru selaku benar mutlak? Ini soalnya. Letak serius soal ini ialah gagapnya kita untuk adil dalam memahami dan mendudukkan dalil-dalil di 1 sisi selaku benar-mutlak dengan pemahaman-pemahaman kita di sisi lain selaku benar-relatif.

Ayat al-Qur’an soal ta’awanu ‘alal birri wat taqwa, misal, terang benar-mutlak; tetapi pemahaman kita terhadapnya tidak dapat disejajarkan benar-mutlak layaknya ayat tersebut. Kebenaran Allah Swt janganlah dipadan-setarakan dengan pemikiran kita yang nisbi-relatif kebenarannya.

Begitu prinsip sederhananya.

Maka, langkah strategisnya secara paradigmatis ialah marijembarkan hati saban kita untuk menerima kemajemukan tafsir, takwil, dan pemahaman kepada ayat-ayat dan dalil-dalil itu. Dan, telah pasti, ini mesti berfondasi pada 2 pilar: kejernihan rohani dan kedalaman ilmu.

Kita memahami betapa kian jernih dan cemerlang rohani seseorang, tanda kian takut hatinya untuk Allah Swt, kian patuh untuk syariatNya, kian sadarnya ia bahwa dirinya hanyalah kenisbian dan kefanaan semata, sementara Allah Swt lah semata Yang Maha Benar dan Hakiki, ia akan kian rendah hati, jembar hari, tawadhu’, dan terjauhkan dari arogansi diri. Termasuk melihat dan mendudukkan pandangan, paham, dan mazhab anutannya di antara pandangan, paham, dan mazhab anutan liyan.

Dan, maaf kata, sebaliknya.

Kita pun memahami betapa kian luas dan dalam ilmu seseorang, kian komprehensif fondasi perspektifnya atas suatu hal, secara dalil naqli maupun aqli, niscaya kian banyak pertimbangannya, kehati-hatiannya, dan kebijaksanaannya.

Saya nukilkan 1 kaidah ini: al-halalu bayyinun wal harami bayyinun, yang halal itu terang dan yang haram itu terang. Di al-Qur’an juga ada ayat 256 dari al-Baqarah: qad tabayyanar rusydu minal ghayyi, sungguh sudah terang antara jalan yang benardenganjalan yang sesat.

Itu benar, sungguh benar adanya. Contoh nyatanya: riba.

Begitu terang ayat soal keharaman riba. Seluruh kita setuju. Itu cermin bahwa al-halalu bayyinun wal haramu bayyinun.

Tetapi, apakah bank itu haram dengan argumen riba itu?

ARTIKEL LAINNYA :
Ini Tips Para Ulama Agar Mudah dalam Menghafal

Nah, pas pada pertanyaan ini saja, kita akan melihat bermacam pandangan. Sejumlah ulama menjelaskan dengan tegas haram, sejumlah lainnya tidak. Yang menjelaskan haram sebab menggolongkan praktik perbankan selaku praktik riba, yang menghalalkan menjelaskan bahwa perbankan bukan bagian dari praktk riba.

Mereka menjelaskan bahwa yang dapat dimasukkan ke dalam kubu praktik riba ialah renten. Orang Jawa menyebutnya bank plecit. Tetapi perbankan, termasuk yang konvensional, tak sama regulasi dan praktiknya dengan praktik bank plecit tadi.

“Pintu masuk” inilah yang lalu menisbatkan perbedaan fatwa hukumnya. Keadaan sebenarnya ini sejalan dengan prinsip dasar Ushul Fiqh bahwa suatu ‘illatul hukmi (konteks hukum) akan melahirkan bentuk hukumnya; saat konteksnya berubah, bergeser, tidak sama, misal atas dasar “pintu masuk” tadi, maka logislah ia lalu jadi tidak sama lagi. Dan seterusnya.

Fenomena jual beli online pun begitu situasinya. Jugaihwal perawatan kecantikan, kafe, wedding organizer, dan segala hal lainnya yang berskala kekinian.

Lihatlah, misal, hadis “larangan mengenakan wewangian bagi kaum wanita waktu bepergian”. Kalau hadis tersebut cuma ditilik secara bunyi teksnya, jelaslah semua bentuk parfum jadi tidak boleh dipakai kaum wanita. Namun, apa benar sesederhana itu urusannya? Apa benar kaum Hawa tidak boleh berwangi-wangi, merawat tubuh, atau, ekstremnya, berbau badan saja? Apa benar‘illatul hukmi-nya cuma soal melarang diri dari kerawanan jadi karena bagi terpicunya gelora seksualitas orang lain non mahram di ruang publik?

Tentu saja tidak lagi relevan Saat ini untuk melulu mempergunakan kacamata hitam-putih begitu dalam mengkaji hadis tersebut. Konsekuensinya, teks hadis tersebut memerlukan pengkajian yang lebih holistik lagi, menyeluruh, dinamis, sesuai dengan realitas hidup yang melingkupi kehidupan ummat Islam sendiri Saat ini. Buah hukumnya niscaya nanti akan tak sama lagi.

Pas pada hasil pengkajian yang berlandaskan keluasaan dan kedalaman ilmu inilah kita akan merasakan kemaslahatan teks syariat yang dinamis; seterusnya, kerahmatan Islam yang terus terkibarkan.

Perhatikan pula contoh khilafah Islamiyah. Apa gerangan yang akan kita lesakkan untuk pembacaan sejarah Khulafaur Rasyidin di hari ini, misal? Apakah kita akan menumpukan pada mekanisme ahlul halli wal aqdi ala kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq; ataukah penunjukan ala kekhalifahan Umar bin Khattab; maupun sistem baiat ala Ali bin Abi Thalib; ataukah sistem monarki macam kekhalifahan Muawiyah bin Abi Sufyan untuk Yazid bin Muawiyah, dan terus ke bawahnya, dan terus sampai kekhalifahan Utsmani Turki?

Sungguh, sekali lagi, keluasaan  dan kedalaman ilmu akan amat mempengaruhi perspektif kita untuk suatu hal, landasan naqli dan aqlinya, lantas penyimpulan hukumnya, dan dampak maslahatnya bagi bangunan syariat itu sendiri dalam kehidupan riil kita. Pergantian pemikiran akan membuahkan Pergantian perilaku; Pergantian perilaku akan membuahkan Pergantian pemikiran. Begitu, kan?

Mari ingat senantiasa 1 hal yang amat mendasar bahwa Islam ini diturunkan oleh Allah Swt untuk manusia untuk jadi rahmat bagi alam semesta. Rasul Saw diutus untuk menebar kasih sayang antarmanusia; untuk menyempurnakan akhlak karimah manusia. Itu seluruh tiada lain ialah semata wajah-wajah kemaslahatan. Itulah esensi syariat Islam buat kita. Ya, buat kita, bukan buat Allah Swt Yang Maha Kuasa.

Wallahu a’lam bish shawab.

Kalasan Kafe, Jogja, 19 Januari 2010

Syariat Bukan Kepentingan Allah SWT, Tapi Kita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *