Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 14

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 14
Page Visited: 14
Read Time:3 Minute, 44 Second

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 14

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ

Wa idzā laqul ladzīna āmanū, qālū, ‘Āmannā.’ Wa idzā khalaw ilā syayāthīnihim, qālū, ‘Innā ma‘akum. Innamā nahnu mustahzi’ūn.’


Artinya, “Kalau berjumpa dengan orang beriman, mereka menjelaskan, ‘Kami beriman.’ Tetapi kalau tengah menyepi dengan setan-setan mereka, mereka menjelaskan, ‘Sungguh, kami berbarengan kau. Kami (begitu) cuma mengolok-olok.’”

Ragam Tafsir

Imam Al-Baidhawi dalam Kitab Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta’wil menjelaskan ayat ini menerangkan interaksi sosial kubu munafik dengan orang beriman dan orang kafir. Cerita ini disebutkan untuk menerangkan mazhab mereka.


Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Ubay munafik dan sahabatnya kehadiran para sahabat nabi. Ia berkata ke kaumnya, “Lihatlah bagaimana saya menghalau orang-orang bodoh (sahabat rasul) dari kau.” Tatkala sahabat tiba, Abdullah bin Ubay memegang tangan Abu Bakar dan menjelaskan, “Marhaban wahai As-Siddiq, pemuka Bani Taim, syekh Islam, sahabat rasul waktu di gua, dan pengerah harta dan jiwa untuk Nabi Saw.” Ia lalu memegang tangan Umar RA, “Marhaban pemuka Bani Adi, al-Faruq yang kuat agamanya, pengerah jiwa dan hartanya untuk rasulullah SAW.” Ia lalu memegang tangan Sayyidina Ali RA, “Marhaban anak paman rasul, menantu rasul, pemuka Bani Hasyim.” Lalu ayat ini turun.

BACA JUGA :   Berkenang dengan Para Pendahulu soal Perbedaan


Al-Baghowi dalam Kitab Ma’alimut Tanzil fit Tafsir wat Ta’wil menjelaskan, mereka yang dimaksud ialah kubu munafik waktu berjumpa dengan kalangan Muhajirin dan Ansor. Mereka menjelaskan, “Kami beriman” seperti Anda semua beriman.


Ibnu Katsir dalam Kitab Tafsirul Qur’anil Azhim menjelaskan, mereka yang dimaksud ialah kubu munafik waktu berjumpa orang beriman. Mereka menjelaskan, “Kami beriman.” Mereka mengumumkan keimanan, persahabatan, dan keakraban selaku bentuk tipuan, kemunafikan, tindakan yang dibuat-buat, taqiyah mereka kepada orang-orang beriman, dan supaya mereka juga dapat menikmati kebaikan serta ghanimah berbarengan orang beriman.


Syetan-setan mereka ialah manusia-manusia yang kedurhakaannya seperti syetan. Mereka mengumumkan kekufuran. Orang-orang munafik sama kufurnya dengan orang-orang kafir. Tafsiran lainnya menjelaskan, setan-setan mereka ialah para pembesar munafikin. Adapun yang menjelaskan ialah orang rendahan dari kalangan munafikin. Syetan secara bahasa ialah jauh, jauh dari kemaslahatan. Penambahan huruf “nun” pada kata syetan mengisyaratkan makna “batil”. Oleh sebab itu, bagian nama syetan ialah al-batil. (Al-Baidhawi)


“Tatkala mereka menyepi,” kembali “dengan setan-setan mereka.” Syetan di sini ialah pembesar dan peramal kalangan munafik. Menurut Ibnu Abbas, Ada 5 kubu munafik Yahudi di zaman Nabi Saw. Mereka ialah Ka’ab bin Asyraf di Madinah, Abu Burdah di Bani Aslam, Abdur Dar di Juhainah, Auf bin Amir di Bani Asad, Abdullah bin Sauda’ di Syam. Tidak ada peramal kecuali didampingi syetan yang senantiasa mengikutinya. Syetan ialah pembangkang durhaka yang melewati batas baik dari kalangan jin, manusia, maupun benda apa saja. Asal kata “syetan” ialah “jauh” seperti kata “sumur syetan”, yaitu sumur yang dalam. Ia disebut syetan sebab keangkuhannya dalam keburukan dan kejauhannya dari kebaikan. (Al-Baghowi)

BACA JUGA :   Pidato Naskah Soal Perlunya Mencari Ilmu - Teka Arab dan Indonesia


“Tatkala mereka menyepi,” maksudnya berpaling, berangkat, dan berkumpul sesama pemuka mereka. Adapun “syetan mereka” ialah pemimpin, pembesar, kepala-kepala mereka dari kalangan pemuka Yahudi, musyrik, dan munafik. Syetan-setan mereka yang dilansir dalam tafsir As-Suddi dari Ibnu Mas’ud RA dan sejumlah sahabat rasul ialah pemuka-pemuka orang kafir. Sementara Ad-Dhahhak dari Ibnu Abbas menafsirkan setan-setan itu dengan sahabat mereka. Adapun Muhammad bin Ishak dari Ibnu Abbas RA menafsirkan setan-setan mereka dengan kubu Yahudi yang meminta mereka mendustakan dan menyalahi Nabi Saw. Bagi Mujahid, setan-setan mereka ialah sahabat mereka sendiri dari kalangan munafik dan musyrik. Sementara Qatadah menafsirkan setan-setan dengan pemimpin dan kepala mereka dalam hal kemusyrikan dan keburukan. (Ibnu Katsir)


“Sungguh, kami berbarengan kau” dalam urusan agama dan aqidah. Kalimat “Kami (begitu) cuma mengolok-olok” menguatkan kalimat sebelumnya. Orang yang mengolok-olok sesuatu ialah orang orang yang meremehkan dan mereka selalu menyalahi sesuatu tersebut. (Al-Baidhawi)


Kalimat “Sungguh, kami berbarengan kau” diucapkan ke sahabat mereka sendiri dari kalangan munafik atau musyrikin. “Kami (begitu) cuma mengolok-olok” Muhammad dan sahabatnya melalui pernyataan keislaman. (Al-Baghowi).

BACA JUGA :   Ansor Kota Tangerang Ingatkan Corona Pengaruhi Ekonomi Penduduk


Kalimat “Sungguh, kami berbarengan kau,” kata Ibnu Abbas RA, ditafsirkan “Kami seperti pada keyakinanmu waktu ini.” “Kami (begitu) cuma mengolok-olok” dan mempermainkan mereka. (Ibnu Katsir). Wallahu a’lam. (Alhafiz Kurniawan)

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 14
Sumber: NU-Online

loading...

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *