Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views :
Home / BERITA INDONESIA / Taliban, Oh Taliban. Engkau Ngapain Sih di Komisi Pemberantasan Korupsi?

Taliban, Oh Taliban. Engkau Ngapain Sih di Komisi Pemberantasan Korupsi?

/
/
/
20 Views

Taliban, Oh Taliban. Engkau Ngapain Sih di Komisi Pemberantasan Korupsi?

Komisi Pemberantasan Korupsi. (Foto: istimewa)

Oleh Anita Wahid

Islam Nusantara – Beberapa minggu terakhir saya perhatikan ada tulisan-tulisan yang seliweran di bermacam WAG, bicara soal fenomena yang tengah terjadi di Komisi Pemberantasan Korupsi. Intinya, tulisan-tulisan ini mau bilang begini:

1. Komisi Pemberantasan Korupsi telah masuk angin, kena radikalisasi
2. Akibatnya, sekarang ada pertentangan yang keras antara pihak polisi Taliban dengan pihak polisi India. Maksudnya tentu polisi Taliban itu yang udah kena asupan radikalisme.
3. Kubu polisi Taliban ini selama bertahun-tahun telah “memelihara” LSM-LSM yang sekarang tengah dikeluarkan untuk meributkan pansel dan capim Komisi Pemberantasan Korupsi.

Dari poin-poin ini, garis besarnya ialah untuk nggak usah bantuin dan belain Komisi Pemberantasan Korupsi sebab Komisi Pemberantasan Korupsi telah tercemar, nggak lagi murni, dan telah main politik. Tulisan-tulisan ini juga seakan-akan mengindikasikan bahwa pansel tengah berjuang untuk memilih capim yang dapat “bersih-bersih” di Komisi Pemberantasan Korupsi nantinya.

Membaca tulisan-tulisan ini membikin saya langsung teringat beberapa tahun yang lalu, waktu saya mulai menyaksikan ada Pergantian di Komisi Pemberantasan Korupsi. Karyawan-karyawannya mulai banyak yang berpakaian ala hijrah-hijrahan. Jenggot, celana ngatung, jilbab lebar. Pokoknya gaya-gaya tipikal anak hijrah lah. Saya mengernyitkan dahi menyaksikan pemandangan ini. Belum lagi, mulai terdengar kasak-kusuk jika di dalam telah ada perseteruan yang melibatkan kubu ideologi. Puncaknya ialah waktu masjid karyawan mengundang Ustad Al-Asy-embuh-lah yang amat terkenal dengan twit-twit ofensifnya untuk berceramah di sana. Aktivis gerakan anti korupsi langsung bereaksi keras. Saya sendiri termasuk yang cerewet banget protes ke Pak Juru Bicara.

Ternyata kejadian itu membikin Komisi Pemberantasan Korupsi bangun. Mereka mulai men-screening siapa-siapa saja yang boleh diundang untuk ceramah di sana. Wajib ustad moderat, nggak boleh ustad nganu-nganu. Mereka juga mulai memperhatikan concern yang selama ini dilayangkan masarakat, khususnya soal pakaian. Waktu kerja, ada standard profesionalisme yang berlaku. Mereka juga mulai mengobservasi dan Mengawasi perilaku dan daya-kerja karyawannya.

Namun rupanya itu tidak cukup untuk menekan gosip-gosip melenceng soal radikalisme di Komisi Pemberantasan Korupsi. 2 minggu lalu, saya dan rekan-rekan sejawat dari Wanita Indonesia Antikorupsi berkesempatan audiensi langsung dengan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi dan jajarannya, dijumpai langsung oleh Ibu Basaria Panjaitan dan Bapak Alex Marwata. Selaku pemerhati percakapan masarakat, saya nanya langsung dong ke pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi soal isu radikalisme ini. Pak Budi dari barisan staff Komisi Pemberantasan Korupsi menerangkan bahwa mereka juga amat concern dengan isu yang mendera khalayak ramai ini. Beliau lalu menerangkan bahwa Komisi Pemberantasan Korupsi telah Hadir ke BNPT. Mereka menanyakan seluruh hal Soal radikalisme, bagaimana cara mengidentifikasinya, apa tanda-tandanya, dan lain sebagainya. BNPT menerangkan panjang lebar. Mereka menjabarkan spektrum radikalisme dari yang soft sampe yang hard, dan apa saja tanda-tandanya. Berbekal pengetahuan dari BNPT itu, Komisi Pemberantasan Korupsi membawa pulang PR untuk mengidentifikasi apakah ada radikalisme di sana. Jikalau ada, telah di spektrum yang mana? Dan lalu, bagaimana cara mengatasinya?

sesudah melaksanakan observasi panjang dan menelaah perilaku serta daya-kerja seluruh karyawan Komisi Pemberantasan Korupsi, mereka berkesimpulan bahwa radikalisme tidak terjadi di Komisi Pemberantasan Korupsi. Bahkan dalam spektrum Terbawah, yaitu soft radicalism pun. Yang ada cuma fenomena hijrah-hijrahan saja, yang sama sekali bukan artinya radikal. Woh… ternyata sungguh banyak dari kita yang belum dapat membedakan antara kostum hijrah dengan radikalisme. Mungkin dipikirnya seluruh yang ngatung berjenggot atau berjilbab lebar itu radikal. Duh, saya jadi teringat beberapa Sahabat saya yang cosplay-nya begitu. Kasihan sekali mereka ya, dapat stigma radikal yang cuma dapat hilang waktu orang mau bersusah payah mengenal mereka secara pribadi. Padahal teman-teman saya ini cinta mati sama Indonesia, sampe bela-belain sering begadang untuk membikin karya-karya yang membanggakan untuk Indonesia. Mereka tidak setuju dengan khilafah, dan amat tidak suka dengan radikalisme. Mereka orang-orang yang amat inklusif. Apalagi eks mbaknya bocah kecil yang pakai cadar tiap kali keluar rumah ya… Walaupun waktu pemilihan presiden kemarin dia ngotot sengotot-ngototnya Joko Widodo wajib menang (dan sering berantem dengan driver saya yang ngotot Prabowo wajib menang), seberapa sering dia kena stigma radikal tiap berpapasan dengan orang yang nggak dia kenal ya?

Yang gamblang saya senantiasa meng-update keadaan di sana lewat orang-orang NU yang bekerja di sana. Iya, di Komisi Pemberantasan Korupsi juga ada anak NU lho. Nggak usah kaget, ah. Pikiran bahwa orang NU itu ndeso udah gak jaman. Anyway, orang-orang NU yang ada di sana tentu ialah yang menyaksikan sendiri sehari-hari seperti apa sesama karyawan di sana. sesudah beberapa kali menanyakan ke mereka, update terakhir yang saya dapatkan kisaran 2-3 hari lalu dari bagian mereka ialah, “Nggak ada, Mbak. Ada sungguh beberapa gelintir orang yang nganan, tapi ya jauuuhh banget dari radikal. Jauh panggang dari api lah.”

Lalu, soal pengelompokan pertentangan polisi-polisi itu. Apa benar ada polisi Taliban dan polisi India yang tengah bersitegang? Ya nggak tau. Yang saya tau, beberapa tahun lalu ada polisi-polisi yang bertugas di Komisi Pemberantasan Korupsi yang habis masa kerjanya, dan cepat akan ditarik kembali ke kepolisian. Mereka-mereka ini polisi-polisi idealis yang berusaha tetap bertahan di Komisi Pemberantasan Korupsi sebab merasa bahwa mereka dapat berbuat lebih banyak di Komisi Pemberantasan Korupsi yang cenderung bersih dari perpolitikan institusi daripada jika mereka balik lagi ke institusi mereka. Mereka-mereka ini yang waktu menyidik Perkara yang berhubungan dengan kepolisian bersikap profesional dan mengedepankan independensi mereka. Nah, mereka ini masuk kubu yang mana? Ya mbuh, mesti tanya sama yang buat pengelompokan Taliban-India tadi. Namun coba aja buka-buka lagi berita-berita tahun-tahun lampau, khususnya nggak lama sesudah rame Perkara alat simulator SIM. Biar agak jelas sedikit lah, siapa-siapa aja yang dimasukkan dalam kubu ini.

Jadi, tidak ada radikalisme di internal Komisi Pemberantasan Korupsi? Ya nggak tau. Dapat ada, dapat nggak ada. Saya sih nggak berusaha untuk bilang nggak ada radikalisme di Komisi Pemberantasan Korupsi. Namun seandainya kita asumsikan ada radikalisme di Komisi Pemberantasan Korupsi, apakah lalu jawabannya ialah memilih capim-capim dengan Track Record negatif? Itu andaikan tubuh tengah sakit, lalu dikasih minum baygon. Sakitnya hilang. Beserta semua tubuhnya. Baygon-nya menghancur-leburkan seluruh organ-organ di tubuhnya. Lalu mati. Menuntaskan problem radikalisme? Mungkin iya. Namun meninggalkan permasalahan yang luar biasa besar untuk pemberantasan korupsi. Jikalau kita curiga ada radikalisme di Komisi Pemberantasan Korupsi, malah kita wajib kudu wajib memaksa pansel memilih capim-capim yang kuat, berintegritas tinggi, dan independen. Orang-orang ini yang dapat kita andalkan untuk bersih-bersih. Orang-orang berintegritas tinggi ini yang malah dapat kita dorong untuk melaksanakan bermacam hal yang Penting untuk menumpas radikalisme (seperti misalnya bekerja sama dengan BNPT untuk melaksanakan assessment radikalisme di Komisi Pemberantasan Korupsi). Lha jika yang ditelorkan ialah capim dengan Track Record negatif, menabrak kode etik, nggak berintegritas, nggak independen, lalu mau menginginkan apa sama mereka?

Nah, yang menarik ialah tudingan bahwa kubu Taliban ini memlihara LSM-LSM antikorupsi yang sekarang dilepas dari kandangnya untuk menyerbu dan memojokkan pansel. Saya agak sedikit GR menganggap saya ada di kubu yang dituding ini, walaupun saya bukan orang LSM. Mereka (dan saya juga kayanya) dituding selaku pembela kubu polisi Taliban. Yang kenal saya cukup baik pasti akan pusing bacanya kan? Sama, saya juga. Saya, dengan rambut skinhead sebelah, kok ya bisa-bisanya dimasukkan dalam kategori pembela radikalisme? Namun anggaplah saya tidak termasuk golongan yang dinilai pembela Taliban dan radikalisme ini. For the purpose of this discussion, let’s take me out of this equation. Jadi siapa orang-orang yang katanya membela polisi Taliban itu? Ternyata mereka ialah orang-orang yang dari jaman purba dahulu kala telah berjuang buat pemberantasan korupsi. Mereka yang aktif menjaga Komisi Pemberantasan Korupsi dari bermacam serbuan. Ingat Cicak-Buaya 1 dan 2? Mereka-mereka ini yang menginisiasi dan tidak lelah berjuang sampai ada Pergantian. Mereka orang-orang yang sama yang berteriak lantang melawan radikalisme. Mereka orang-orang yang ribut di sosmed apabila ada tindakan intoleransi yang merugikan kaum minoritas. Mereka orang-orang yang marah atas tindakan-tindakan rasisme dan sektarian. Mereka orang-orang yang sama yang senantiasa memastikan demokrasi dan HAM dijunjung tinggi di negara ini. Lalu mereka dituduh selaku orang-orang yang tidak memahami radikalisme? Dinilai orang-orang bodoh yang dapat ditipu dan digunakan oleh kelompok-kelompok tertentu (yang radikal pula)? Saya jadi makin bingung dengan kriteria yang dipakai untuk menuding orang-orang ini selaku pembela kubu radikal. Dan jika pengelompokan aktornya saja telah melenceng begini, lalu apa yang dapat dipegang dari narasi ketakutan akan Taliban itu?

Apalagi jika lihat individu-individu yang juga menyuarakan intimidasi ke pansel untuk tidak meloloskan capim dengan Track Record negatif. Ada ibundaku Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid dan Buya Syafi’i Maarif. Mereka lantang sekali bicara soal capim dengan Track Record negatif. Mereka bersuara keras sekali meminta pansel cuma meloloskan orang-orang yang terbukti integritasnya. Lha kurang apa Track Record mereka dalam melawan intoleransi dan radikalisme? Apa iya dengan pengalaman berbangsa mereka berpuluh-puluh tahun mereka akan mudah dibohongi dan digunakan oleh kubu radikal? Mereka tidak senaif seperti yang dituduhkan bagian tulisan itu. Bahkan mereka dapat menyaksikan bahwa kalaupun ada radikalisme, solusinya bukan dengan mempergunakan cara-cara yang akan melemahkan Komisi Pemberantasan Korupsi nantinya, seperti memilih calon pimpinan yang rekam jejaknya negatif. Apalagi jika sampai revisi UU Komisi Pemberantasan Korupsi yang pasal-pasalnya amat melumpuhkan Komisi Pemberantasan Korupsi. Ah, itu sih bukan lagi meminumkan baygon, tapi telah racun tikus kualitas super.

Jadi gimana dong? Mesti percaya siapa? Ya terserah, bebas aja. Mau percaya yang nulis soal taliban-talibanan itu ya monggo. Mau nggak percaya sama mereka, ya monggo juga. Jikalau masih ragu, dateng aja ke Komisi Pemberantasan Korupsi. Ngobrol sama orang-orang di sana, biar dapat dengar langsung. Lalu timbang-timbang seluruh info yang engkau punya berdasar nilai yang engkau pegang. Anjuran saya sih buatlah keputusan yang well-informed, bukan sebab omongan orang yang entah apa target dan agendanya. Tabayyun aja dulu. Biar engkau nggak nyesel jika nanti buat keputusan yang ternyata berdampak amat besar buat bangsa.

Jikalau saya sih sebab nggak mau jadi anak durhaka, saya ikut ibu saya aja. Udah gamblang track recordnya, senantiasa memikirkan bangsa, nggak pernah ikut-ikutan carut-marut perebutan posisi, jabatan, dan kekuasaan, cuma punya 1 agenda dalam hidupnya yaitu memastikan masarakat memperoleh yang the best, dan senantiasa memperjuangkan nilai-nilai yang telah dicontohkan Gus Dur. Ah, saya jadi makin kangen Gus Dur dengan kesederhanaan berpikirnya yang dengan jernih memetakan permasalahan. Nggak keruh dan butek dengan segala macam narasi ketakutan. [Islam Nusantara/gg]

Source: FB Anita Ashvini Wahid

Taliban, Oh Taliban. Engkau Ngapain Sih di Komisi Pemberantasan Korupsi?

Taliban, Oh Taliban. Kamu Ngapain Sih di KPK?

  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Linkedin
  • Pinterest

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This div height required for enabling the sticky sidebar