Kategori
Islami

Toleransi Bukan Kesesatan | The Truly Islam


Memperhatikan ceramah Gus Miftah yang berlatar belakang Salib, tentunya di suatu tempat (gereja) bagi sebagian kalangan NU bukanlah hal yang aneh, ia juga tidak heran. Seperti isu toleransi umat PBB yang sudah lama menjadi contoh, berinteraksi dengan apapun agamanya, bahkan di masa lalu, almarhum Mbah Wali Gus Dur kerap mengisi acara-acara yang diadakan oleh non muslim, baik di tempat ibadah maupun di luar., Bukan. hanya untuk Katolik tetapi di semua agama.

Pasalnya, belakangan ini toleransi umat UN yang sudah lumrah sejak lama telah dihujat oleh umat Islam atas dasar lingkaran LDK, atau Rohis di sekolah. Mereka baru saja hapal beberapa dalil dan bukti bahwa mereka salah, menuduh mereka terlalu toleran terhadap tokoh-tokoh PBB yang diajak bicara oleh non-Muslim, meski di luar ritus. Karena mata mereka selalu terlihat jelek, mereka mengutuk mereka sebagai bidah, bahkan dituduh tidak setia oleh orang-orang yang baru saja menghafal beberapa hadits dan ayat Alquran.

Memang kita disuguhkan dengan pandangan sempit tentang ajaran agama (Islam) di antara mereka yang baru saja hijrah, masuk karbitan atau dai yang merasa benar sendiri. Mereka seolah mengusung Islam dengan perlakuan yang kaku, tekstual, normatif dan kasar. Mereka disiarkan seolah-olah mereka yang paling benar, dan bagi kami komunitas PBB dianggap sesat hanya karena kami tidak terbiasa memakai jubah dan janggut, dahi hitam, celana pendek.

Lantas siapa yang merepresentasikan Islam sebagai agama rahmatan lil alamin? Merekalah yang menampilkan Islam dengan wajah yang galak, memaksa, kasar dan sok di tempat yang paling suci. Apa arti pemahaman ini jika bukan bayangan, kasih sayang dan pengekangan.

Apakah makna rahmatan berubah? Atau kita menampilkan Islam sebagai ajaran agama yang memberi pencerahan, bayangan, kasih sayang, hikmah, dengan diutamakan adab. Kami konsisten bahwa Islam harus disajikan sebagai menenangkan, mendamaikan, menenangkan. Jadi ini bukan rahmatan? Berkat itu ternyata disepakati sebagai “taburan” kasih sayang.

Kembali ke masalah, karena Gus Miftah dianggap terlalu jauh meskipun ia adalah seorang tokoh masyarakat, pejabat PBB, guru, dan perawat sebuah perguruan tinggi Islam. Kalaupun dia berbicara atas dasar undangan resmi untuk mewakili lembaganya sebagai pejabat publik lainnya, mengapa ini menjadi konfrontasi dengan tokoh-tokoh PBB lainnya? Bukan di NU perannya masing-masing, ada kiai yang bilang, ada kiai penyemprot, kiai tandur dan pengurus kiai. Tidak semua orang di NU memiliki peran yang sama dengan Gus Miftah, dan Gus Miftah adalah seorang kiai (penutur) kata.

Jadi tidak perlu khawatir, tidak perlu heran, tidak perlu terpancing oleh provokasi Wahabi salafi, Wahabi tarbiyah yang dengan militansinya melontarkan opini melalui corong apapun untuk membunuh NU dan membunuh ulama, tidak lain adalah. , karena NU merupakan benteng pertahanan Ahli Sunnah Wal Jama’ah, juga benteng pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mereka diganggu oleh NU, jadi musnahkan NU juga.

Dalam hal ini NU adalah gudang. Jadi kenapa mereka berdiskusi dengan orang-orang yang sudah mengerti topiknya. Mereka (Kadrun) bukan Rido dan ikhlasnya NU menjadi Jam’iyyah yang istiqomsh mengajarkan dan mengamalkan Islam secara langsung dan benar. Butuh waktu lama sampai orang bodoh mengira mereka benar.

Nyala isi perut kita (gambar NU) tidak pernah padam, karena cara kita beragama yang sejati adalah dengan perilaku welas asih, dengan kelembutan, dengan pengabdian kepada ibadah, dengan pencerahan dan sikap yang bijaksana.

Karena kita memiliki agama yang tidak untuk ditakuti, tidak untuk memaksa orang, atau untuk menunjukkan orang yang paling saleh. Tapi agama kita ibarat menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi segala larangan, menyeimbangkan kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat.

Indonesia adalah tanah air kita dan tanah darah kita, negara yang kita cintai, negara tempat kita dilahirkan, hidup dan mati. Jadi, perkuatlah cinta kita untuk negeri ini, karena cinta adalah simpanan abadi Tuhan.

Penulis:
Kiai Hamdan Suhaemi
Wakil Presiden PW GP Ansor Banten
Presiden PW Rijalul Ansor Banten

Sumber: https://dakwahnu.id/toleransi-bukan-kesesatan/

(Warta Batavia)


Toleransi Bukan Kesesatan | The Truly Islam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *