Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views :
Home / BERITA INDONESIA / UAS Mirip Al-Walid As-Syamiy yang Suka Berangan-angan

UAS Mirip Al-Walid As-Syamiy yang Suka Berangan-angan

/
/
/
26 Views

UAS Mirip Al-Walid As-Syamiy yang Suka Berangan-angan

Ustadz Abdul Somad. Foto: Istimewa.

Oleh KH. Imam Jazuli, Lc., M.A

Islam Nusantara – Amat disayangkan, wacana agama tampil seram. Ustad Abdul Somad (UAS) terjebak dalam arus tersebut. seusai ucapan bernuansa SARA, ialah patung Salib dihuni jin kafir, kali ini UAS menilai penggemar K-Pop dan Drama Korea bagian dari kafir.

Cuma bermodal 1 kosa kata ‘kafir’, alumni Universitas al-Azhar itu memerankan diri seperti pendakwah multitalenta. Seni dan kesenian, seperti musik, tari dan film, dikategorisasi jadi Islami dan kafir. Like and dislike jadi metode penilaiannya. Bentuk-bentuk kesenian yang dilike disebut Islami dan yang tidak disukainya dituduh kafir. Sehingga penggemar kesenian kafir pun jadi bagian dari kafir.

Pandangan UAS dapat dirunut pada sebuah hadits yang berstatus kontroversial. Rasulullah saw bersabda:

“Saya diutus mempergunakan pedang, sampai Allah disembah tanpa sekutu, rejekiku Ada di bawah bayang-bayang tombak, kehinaan dan kerendahan teruntuk orang-orang yang menyalahi perintahku. Sesiapa saja menyerupai suatu kaum, dia bagian dari mereka,” (HR. Ahmad, Musnad, 5114; Abu Daud, Sunan, 4031; Baihaqi, Syu’b al-Iman, 1199; Thabrani, Musnad al-Syamiyyin, 216, etc).

Sanad hadits di atas kontroversial. Al-Iraqi menyebutnya shahih (Takhrij li al-Ihya’, 851), jayyid menurut Ibnu Taimiyah (al-Iqtidha’, 269), sholih menurut al-Dzahabi (al-Sair, 15/509), hasan menurut Ibnu Hajar (Fath al-Bari, 10/271), dha’if menurut al-Thahawi (al-maqashid al-hasanah, 1101), bahkan laisa bi syai, hadits yang tidak berguna, menurut Abu Hatim ar-Razi (al-‘ilal, 1/319).

Di dalam  sanad hadits “man tasyabbaha bi qaumin fa huwa minum” Ada seorang perawi bernama Az-Zabidi, ialah Muhammad bin al-Walid as-Syamiy. Dia suka berdusta (annahu yakdzibu). Hadits kontroversial ini, menurut ulama, bagian dari angan-angannya, fa la’alla hadzal haditsa min awhamihi (al-hukm al-jadirah bil idza’ah, 50-56).

UAS mirip dengan al-Walid as-Syamiy yang suka berangan-angan. Bagaimana mungkin penggemar K-Pop dan Drama Korea disebut bagian dari kafir, sedangkan UAS cuma bermodal memelintir konteks hadits, dari hadits  jihad jadi komentar soal kesenian. Dunia musik, tari-tarian, dan perfilman dituduh mengandung muatan nilai-nilai keimanan dan kekufuran.

Pandangan UAS tidak Disokong oleh sumber bacaan yang luas. Dalam sejarah kesenian, art for art’s sake (l’art pour l’art) jadi slogan yang popular telah semenjak abad ke-19. Nama-nama seniman seperti Harry Carlson, John Atwood, Bertha Delisi, Alice Zimmermann, Patrick Duchamp, Max Rey, Jing Wu, Otto Wagner, Ursula Larsen, Sofia Rossi, dan Sofia Delano jadi pioner pengusung gerakan seni bebas nilai (Antoon van den Braembussche, Thinking Art, 2009: 88). Mustahil senian modern dicampur aduk dengan keimanan dan kekufuran seseorang.

UAS tampak suka dan tidak pernah kapok mengajarkan keimanan Islam yang rentan dan riskan. Setidaknya ada 2 argumentasi mengapa penggemar musik K-Pop dan drama Korea tetap muslim dan bukan bagian dari kafir. Ke-1, apresiasi tidak kemudian merubah identitas. Saya kagum dan mengapresiasi pemikiran UAS tidak kemudian saya jadi bagian dari UAS. Ke-2, seni dan kesenian lahir dari estetika, bukan dari teologi.

Kekaguman pada musik, performan tari, dan film drama Korea ialah kekaguman estetis, bukan kekaguman teologis. Bahkan, apresiasi tersebut cuma 1 dari sepersekian lokus yang Ada di dalam otak dan kesadaran manusia, bukan satu-satunya. Kalau 1 lokus tersebut merubah keseluruhan maka apabila UAS mempergunakan teknologi android ciptaan orang kafir, pada waktu itu pula, dia sudah jadi bagian dari orang kafir. Tersebarnya ceramah-ceramaah keagamaan UAS melalui media sosial dapat dikatakan jasa orang-orang kafir yang menciptakan teknologi.

Kesenian dan teknologi tidak punya agama. Karenanya, da’i-da’i selebritis wajib lebih seksama berfatwa, apalagi menggunakan ayat al-Quran dan Hadits Nabi tanpa Disokong rujukan yang kokoh, baik dari sumber klasik dan modern. Fatwa macam itu akan merugikan Islam, mereduksi pemikiran keislaman, dan pucaknya mencemarkan nama baik ummat Islam.

Rasulullah saw sudah Memperingatkan: “man fassaral qur’ana bi ra’yihi fal yatabawwa’ maq’adahu minan nar (barang siapa menafsiri al-Quran dengan akal pikirannya, maka ambillah tempat duduk di neraka),” (HR. Tirmidzi). Pikiran yang dimaksud dalam hadits ialah nafsu syahwat, tanpa ilmu pengetahuan, tanpa hidayah Tuhan.

UAS tampak terburu-buru. Kesannya, ia ingin menghakimi layaknya seorang mujtahid. Dengan amat mudahnya dia menjelaskan penggemar drama Korea selaku bagian dari kafir. Padahal, landasan al-Quran dan Haditsnya tidak kuat. Dalil-dalilnya masih kontroversial di kalangan para ulama hadits sendiri. Ditambah lagi, orang-orang abad modern memaknai seni dan kesenian jauh melampaui pikiran UAS. Seni tidak punya agama. Seni lahir dari estetika, soal keindahan dan keburukan, bukan soal iman dan kafir.

Fenomena pendangkalan akidah, hukum fiqih, dan pemahaman keagamaan seperti ini secara umum akan terus berulang, beberapa kali. Ulama-ulama besar dan pondok-pondok pesantren wajib cepat ‘turun gunung’ secara lebih massif lagi. Fenomena ini cuma akan berakhir saat Islam disebarluaskan oleh orang-orang berilmu luas, guru-guru agama yang mumpuni, bukan da’i-da’i selebritis yang mengejar popularitas dengan menebar kontroversi. [Islam Nusantara/pin]

Kyai H. Iman Jazuli, Alumni Universitas al-Azhar, Mesir, Pengasuh Pondok Pesantren Bina Manusia Mulia, Wakil Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia), Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.

Penjelasan: Disadur sepenuhnya dari Tribunnews.com dengan judul asli ‘Catatan KH Imam Jazuli Mengenai hal Kontroversi Ceramah UAS’, tayang 10 September 2019.

UAS Mirip Al-Walid As-Syamiy yang Suka Berangan-angan

UAS Mirip Al-Walid As-Syamiy yang Suka Berangan-angan

  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Linkedin
  • Pinterest

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This div height required for enabling the sticky sidebar