Ulama 4 Mazhab soal Hukum Masuk Tempat Ibadah Non-Muslim

Breaking News 5

Ulama 4 Mazhab soal Hukum Masuk Tempat Ibadah Non-Muslim

Waktu ini, film “The Santri” tengah ramai dibicarakan oleh khalayak umum. Banyak pihak mengapresiasi adanya film tersebut, tapi tidak sedikit pihak yang cenderung Tidak mau film dimaksud. Pihak yang Tidak mau film tersebut, umumnya merasa keberatan atas adegan “2 wanita berjalan membawa setampah nasi tumpeng untuk diberikan ke pemuka gereja”. Mereka berasumsi bahwa hukum masuk gereja bagi seorang Muslim ialah haram.

Akan tetapi, kalau kita menelaah literatur kitab-kitab fiqih klasik maka akan mendapati bahwa para ulama tak sama pandangan mengenai hal hukum seorang Muslim masuk tempat-tempat ibadah non-Muslim, seperti gereja, wihara, dan sinagog.

Ke-1, ulama mazhab Hanafi mengumumkan, hukum masuk tempat ibadah non-Muslim ialah makruh. Syekh Ibnu Abidin dalam kitab Raddul Muhtar Alad Durril Mukhtar menyebutkan:

يُكْرَهُ لِلْمُسْلِمِ الدُّخُولُ فِي الْبِيعَةِ وَالْكَنِيسَةِ.

“Bagi seorang Muslim, masuk sinagog dan gereja hukumnya makruh.” (Lihat: Muhammad Amin Ibnu Abidin, Raddul Muhtar Alad Durril Mukhtar, juz 1, h. 380).

Senada dengan Ibnu Abidin, Syekh Ibnu Nujaim Al-Mishry dalam kitabnya Al-Bahrur Ra’iq Syarh Kanzud Daqaiq mengatakan dengan tegas: 

يُكْرَهُ لِلْمُسْلِمِ الدُّخُولُ فِي الْبِيعَةِ وَالْكَنِيسَةِ. وَالظَّاهِرُ أَنَّهَا تَحْرِيمِيَّةٌ.

“Bagi seorang Muslim, masuk sinagog dan gereja hukumnya makruh. Dan tampaknya, hal itu ialah makruh tahrim (mendekati haram)” (Ibnu Nujaim Al-Mishry, Al-Bahrur Ra’iq Syarh Kanzud Daqaiq, juz 8, h. 374). 

Ke-2, kebanyakan ulama, meliputi ulama mazhab Maliki, Hanbali, dan sebagian ulama mazhab Syafi’i mengumumkan, seorang Muslim boleh masuk tempat ibadah non-Muslim. Ulama bermazhab Maliki bernama Syekh Abdus Sami’ Al-Abi Al-Azhari menceritakan:

أَيْ مَعْبَدُهَا كَنِيْسَةً أَوْ بِيْعَةً، وَلِزَوْجِهَا الْمُسْلِمِ دُخُوْلُهُ مَعَهَا

“Yaitu tempat ibadah istrinya, baik berupa gereja atau sinagog. Dan suaminya yang Muslim boleh memasukinya (tempat ibadah istri) bersama-sama istrinya.” (Lihat: Abdus Sami’ Al-Abi Al-Azhari, Jawahirul Iklil, juz 1, h. 383).

Ulama bermazhab Maliki yang lain bernama Ibnu Rusyd Al-Qurtubhi juga menuliskan dalam kitabnya Al-Bayan Wat Tahshil:

 وَرَوَى ابْنُ الْقَاسِمِ أَنَّ مَالِكًا سُئِلَ عَنْ أَعْيَادِ الْكَنَائِسِ فَيَجْتَمِعُ الْمُسْلِمُونَ يَحْمِلُونَ إلَيْهَا الثِّيَابَ وَالْأَمْتِعَةَ وَغَيْرَ ذَلِكَ يَبِيعُونَ يَبْتَغُونَ الْفَضْلَ فِيهَا. قَالَ: لَا بَأْسَ بِذَلِكَ.

“Ibnu Qasim bercerita, imam Malik ditanya mengenai hal perayaan di gereja, di mana ummat Islam berkumpul lalu membawa baju, perhiasan, dan barang-barang lain ke gereja untuk menjualnya di sana. Beliau berkata: Hal itu tidak apa-apa.” (Lihat: Ibnu Rusyd Al-Qurtubhi, Al-Bayan Wat Tahshil, juz 4, h. 168-169).

Seirama dengan ke-2 ulama mazhab Maliki di atas, seorang ulama bermazhab Hanbali, Syekh Ibnu Qudamah juga mengumumkan kebolehan masuk tempat ibadah agama lain. Bahkan, beliau membolehkan seorang Muslim melakukan shalat di gereja yang bersih.

وَلَا بَأْسَ بِالصَّلَاةِ فِي الْكَنِيسَةِ النَّظِيفَةِ، رَخَّصَ فِيهَا الْحَسَنُ وَعُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَالشَّعْبِيُّ وَالْأَوْزَاعِيُّ وَسَعِيدُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَرُوِيَ أَيْضًا عَنْ عُمَرَ وَأَبِي مُوسَى، وَكَرِهَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَمَالِكٌ الْكَنَائِسَ؛ مِنْ أَجْلِ الصُّوَرِ.

وَلَناَ: “أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى فِي الْكَعْبَةِ وَفِيهَا صُوَرٌ،” ثُمَّ هِيَ دَاخِلَةٌ فِي قَوْلِهِ عَلَيْهِ السَّلَامُ: “فَأَيْنَمَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلَاةُ فَصَلِّ، فَإِنَّهُ مَسْجِدٌ.”

Ibn Qudamah menerangkan al-Hasan, Umar bin Abdul Azis, Sya’bi, Awza’i dan Sa’id bin Abdul Azis, serta riwayat dari Umar bin Khattab dan Abu Musa, menjelaskan tidak mengapa shalat di dalam gereja yang bersih. Tapi Ibn Abbas dan Malik memakruhkannya sebab ada gambar di dalam gereja. Tapi bagi kami (Ibn Qudamah dan ulama yang sepaham dengannya) Nabi Saw pernah shalat di dalam Ka’bah dan di dalamnya ada gambar. Ini juga termasuk dalam sabda Nabi: “kalau waktu shalat sudah tiba, kerjakan shalat di manapun, sebab di mana pun bumi Allah ialah masjid. (Lihat: Ibnu Qudamah, Al-Mughni, juz 2, h. 478).

Syekh Ibnu Muflih juga menceritakan:

وَلَهُ دُخُولُ بِيعَةٍ وَكَنِيسَةٍ وَنَحْوِهِمَا وَالصَّلَاةُ فِي ذَلِكَ. وَقَالَ ابْنُ تَمِيمٍ لَا بَأْسَ بِدُخُولِ الْبِيَعِ وَالْكَنَائِسِ الَّتِي لَا صُوَرَ فِيهَا وَالصَّلَاةِ فِيهَا.

“Dan seorang Muslim diizinkan masuk sinagog, gereja, dan sebagainya, serta diizinkan melakukan shalat di dalamnya. Ibnu Tamim berkata: “Tidak apa-apa masuk sinagog dan gereja yang di dalamnya tidak Ada gambar, serta diizinkan shalat di dalamnya.” (Lihat: Ibnu Muflih, Al-Adab Al-Syariyyah, juz 4, h. 122).

Ketiga, sebagian ulama mazhab Syafi’i berpendapat, seorang Muslim tidak boleh masuk tempat ibadah non-Muslim kecuali kalau ada izin dari mereka. Artinya, kalau mereka mengizinkan maka ia boleh masuk tempat ibadah tersebut. Syekh Muhammad bin Khatib As Syarbini menyebutkan:

لَا يَجُوْزُ لِلْمُسْلِمِ دُخُوْلُ كَنَائِسِ أَهْلِ الذِّمَّةِ إِلَّا بِإِذْنِهِمْ. وَمُقْتَضَى ذَلِكَ الْجَوَازُ بِالْإِذْنِ وَهُوَ مَحْمُوْلٌ عَلَى مَا إِذَا لَمْ تَكُنْ فِيْهَا صُوْرَةٌ.

“Seorang Muslim tidak diperkenankan masuk gereja-gereja Ahli Dzimmah kecuali atas izin mereka. Artinya, hal itu diizinkan mana kala ada izin. Tapi kebolehan melaksanakan hal itu, cuma kalau di dalam gereja tersebut tidak Ada gambar.” (Lihat: Muhammad bin Khatib As Syarbini, Mughnil Muhtaj, juz 4, h. 337).

Syekh Al-Qalyubi juga menuliskan:

لَا يَجُوزُ لَنَا دُخُولُهَا إلَّا بِإِذْنِهِمْ وَإِنْ كَانَ فِيهَا تَصْوِيرٌ حَرُمَ مُطْلَقًا، وَكَذَا كُلُّ بَيْتٍ فِيهِ صُورَةٌ.

“Kita tidak diizinkan masuk gereja kecuali atas izin mereka, sedangkan kalau di dalam gereja tersebut ada gambar maka hukum memasukinya haram secara mutlak. Begitu pula, haram masuk saban rumah yang ada gambarnya.” (Lihat: Al-Qalyubi, Hasyiyatal Qalyubi wa Umairah, juz 4, halaman 492).

Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa para ulama tak sama pandangan mengenai hal hukum seorang Muslim masuk tempat ibadah non-Muslim. Menurut mazhab Hanafi hukumnya makruh, menurut mazhab Maliki, Hanbali, dan sebagian ulama mazhab Syafi’i hukumnya boleh, sedangkan menurut sebagian ulama lain dari mazhab Syafi’i hukumnya tidak boleh, kecuali ada izin dari mereka.

Adanya perbedaan pandangan para ulama terkait hukum masuk tempat ibadah non-Muslim bagi seorang Muslim Adalah bukti bahwa Islam menghargai keragaman. Kepada keragaman ini, Islam mengajarkan umatnya untuk mengedepankan toleransi dan saling menghargai. Wallahu a’lam.

Ustadz Husnul Haq, Pengasuh Pesantren Maha siswa Mamba’ul Ma’arif Tulungagung dan Guru besar IAIN Tulungagung.

Ulama 4 Mazhab soal Hukum Masuk Tempat Ibadah Non-Muslim

Ulama 4 Mazhab soal Hukum Memasuki Tempat Ibadah Non-Muslim

You might like

About the Author: Ahmad Fawas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *