TGB Wahabi Salafi Pintu Masuk Terorisme, TGB Dukung Ketum PBNU

Wahabi Salafi Pintu Masuk Terorisme, TGB Dukung Ketum PBNU

Diposting pada

TGB Dukung Pernyataan Kiai Said, Wahabi Salafi Pintu Masuk Terorisme. Ketua Umum Nahdlatul Wathan Tuan Guru Bajang (TGB) H. Zainul Mazdi menanggapi pernyataan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang menyebut ajaran Wahabi Salafi pintu masuk terorisme.

Sebelumnya, ia mengungkapkan rasa syukurnya karena sejauh ini pelaksanaan rangkaian ibadah oleh saudara-saudari non-Muslim telah berjalan dengan baik. Ia berharap hal ini bisa berlangsung selamanya, di setiap kesempatan dan pertemuan selalu ada nilai-nilai kebaikan dan kedamaian untuk semua.

Terkait klaim Kiai Said, TGB meyakini bahwa ini adalah bentuk kecemasan bahwa ada akar pemikiran yang melandasi sikap ekstrim yang pada akhirnya berujung pada terorisme.

Ia setuju dengan pernyataan Kiai Said, karena sepengetahuannya Wahabi Salafi memiliki aspek pemikiran yang agak ekstrim, bahkan menimbulkan banyak perlawanan di hampir semua negara Islam, bahkan ketika itu tersebar luas di Indonesia.

Wahabi Salafi Pintu Masuk Terorisme?

Fakta Wahabi Salafi Pintu Masuk Terorisme

Karenanya, ungkapan Kiai Said, menurut TGB, merupakan cerminan dari kurun waktu yang lama, di mana pemikiran Wahabi Salafi memiliki sisi yang ekstrim sehingga menimbulkan gesekan di masyarakat. Tidak hanya antara Muslim dan non-Muslim, bahkan lebih sulit di antara Muslim sendiri.

“Saya kira ini pengingat, peringatan, juga refleksi dan juga untuk kita sebagai bahan untuk membenahi kedepannya,” terangnya.

Apa yang disampaikan Kiai Said menggambarkannya, walaupun menyederhanakan dan merangkumnya, namun menggambarkan alur pemikiran yang bisa dan sering memang terjadi, bagi seseorang yang meyakini pemikiran Salafi Wahabi jika mengambil bentuk yang ekstrim.

Sehingga melahirkan ekstremisme agama dan kemudian melabeli segala sesuatu yang tidak ada di zaman Nabi Muhammad sebagai sesuatu yang harus ditolak. Ekstrimisme inilah yang menjadikan Wahabi Salafi pintu masuk terorisme.

Jika berbicara dalam tata tertib pemerintah, misalnya semua produk yang dianggap tidak bersumber langsung dari Alquran dan Hadis dianggap bid’ah, dianggap produk hukum yang ingin bersaing dengan hukum Allah, maka harus dilawan.

Hal inilah yang menurut TGB kerap menimbulkan gelombang kekerasan di negara Indonesia. “Kita sudah sepakat, Pancasila, yang sebenarnya intinya sangat sesuai dengan pimpinan agama,” kata TGB.

Ditegaskannya, menyikapi fakta ini tentunya juga menjadi tugas para ulama, kiai muda yang berpandangan Aswaja yang lahir dari rahim ormas yang kuat di Indonesia, seperti NU, Muhammadiyyah. Bergabunglah dengan kelompok milenial untuk mempresentasikan Islam, hadirkan pandangan Islam menurut pandangan mereka.

Ajaran Sekte Wahabi Salafi Pintu Masuk Terorisme

Dalam tayangan tele-talk akun Youtube TGB Lil Wathan, TGB Zainudin kembali menjelaskan apa yang disiarkan oleh Kiai Said. Menurutnya, siaran Kiai Said tidak hanya Wahabi, tapi Wahabi Salafi.

Wahabi Salafi lebih mengacu pada pemikiran, doktrin agama yang memang merupakan salah satu teori terkuat, seperti teori Hakimiyyah, teori ini berarti bahwa otoritas hukum hanya milik Allah.

Dengan teori ini, kelompok Salafi Wahabi menafsirkan bahwa setiap produk hukum yang dibuat oleh manusia tidak boleh diikuti karena berarti bersaing dengan otoritas Allah. Nah, pola penalaran inilah yang ingin ditekankan oleh Kiai Said.

Pemikiran politik yang muncul dari pandangan yang sedemikian ekstrim tersebut seringkali menimbulkan gelombang ekstrim maupun gelombang terorisme. Jadi ketika itu diperkuat dalam konteks saat ini, itu mungkin, dan sering terjadi. Mereka melihat bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki sistem hukum yang dianggap menyaingi otoritas Tuhan karena diciptakan oleh manusia.

“Ini yang Kiai sampaikan, jadi yang ingin kami sampaikan bukan Salafi, tapi para Salafi Wahabi, apalagi kalau mereka berada di ranah pemikiran politik terkait negara bangsa, konstitusi, undang-undang yang sudah kita sepakati. bersama, “katanya menjelaskan.

Untuk menghindari kesalahpahaman apa yang dikomunikasikan oleh Ketua Umum PBNU KH. Aqil Siroj menuturkan, TGB berpesan agar masyarakat mengikuti sepenuhnya pernyataannya. Ke depan, ungkapan keinginannya ini juga harus ditularkan kepada orang-orang karena kita sadar bahwa perbuatannya lahir dari iman dan pikiran. “Selama keyakinan dan pikiran itu salah, perbuatannya juga salah,” ujarnya

“Saya kira jika kita mengikuti sepenuhnya pernyataannya tidak akan salah paham, karena dia tidak mengatakan salafi tapi salafi Wahabi, terutama yang terkait dengan pemikiran politiknya, terkait dengan teori mereka yang bisa menimbulkan tindakan ekstrim di masyarakat,” lanjutnya.

Di bidang fiqh, lanjut TGB, salafi adalah fiqih pada Madzab Imam Ahmad bin Hanbal, santri Imam Syafi’i, yang kerap mempertanyakan persoalan keimanan. Dalam beramal, para Salafi Wahabi memiliki pandangan yang sangat ekstrim, terutama terkait kekuasaan Allah SWT dalam menentukan supremasi hukum.

Apa pun yang muncul dari produk manusia, disengaja atau tidak, sering diartikan sebagai persamaan otoritas Allah. Makanya mereka melawan, mereka melarang demokrasi, kemudian mereka melarang negara bangsa, pemimpin yang dipilih secara demokratis yang sering disebut thoghut dan sebagainya.

Aspek yang harus ditekankan ini bukanlah masalah fikih, karena fiqh salafi bersumber dari empat mazhab pemikiran, jelasnya.

Apakah kafir diperbolehkan?

TGB Zainudin menjelaskan bahwa dalam agama ada kafir, namun itu termasuk dalam parameter yang sangat ketat. Istilah tidak boleh satu persen dari 100 persen masih diragukan, jadi itu mutlak.

Namun jika perbedaan pendapat tentang hal-hal yang tidak bersifat religius, seperti perbedaan detail pada beberapa ritual, tidak dapat dijadikan dasar untuk kemudian mengingat orang lain akan meninggalkan Islam.

Bahkan jika kita melihat bagaimana Islam memandang perbedaan pendapat dan pandangan, bahkan orang yang berbeda dari agama kita pun tidak boleh dijadikan dasar untuk melakukan kekerasan terhadap mereka. Ini parameter yang sangat ketat, yang mana kita tidak boleh percaya siapapun selama kiblatnya selalu sama yaitu Ka’bah.

“Jadi perbedaan dalam memahami masalah sosial, sistem politik dan lain-lain sama sekali tidak bisa menjadi dasar ketidakpercayaan dan untuk menganggap orang lain sebagai bidah,” kata TGB.

Akhirnya, TGB juga mengingatkan masyarakat untuk menyortir dan memilih guru. Guru yang tidak hanya menghafal Alquran dan hadits, tapi juga cerdas dalam memecahkan masalah Islam. Karena agama adalah guru Anda.

“Saya katakan bahwa agama adalah siapa gurumu. Agama kami dan cara kami beragama adalah apa yang guru kami. Jadi, kami menemukan guru yang kompeten, yang memiliki pemahaman lengkap, tidak hanya menghafal Alquran dan hadits, tetapi juga memiliki pemahaman yang lengkap tentang suatu masalah dalam Islam,” pungkasnya. (fqh)

TGB Dukung Pernyataan Kiai Said, Wahabi Salafi Pintu Masuk Terorisme

Sumber: https://dakwahnu.id/tgb-dukung-perresi-kiai-said-wahabi-salafi-pintu-masuk-terorisme/

Wahabi Salafi Pintu Masuk Terorisme, TGB Dukung Ketum PBNU (Warta Batavia)

BACA JUGA :   Satgas NU DKI Peduli Covid-19 Salurkan 4 Miliar Ke 342,766 Jiwa Penerima Manfaat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *