Walau Sudah Tiada, Kyai Hamid Pasuruan Menolong Santrinya yang Butuh Uang

breaking

Walau Sudah Tiada, Kyai Hamid Pasuruan Menolong Santrinya yang Butuh Uang

Berita Islam – Kyai Hamid Pasuruan, ialah sosok waliyullah. Menurut KH Musthofa Bisri (Gus Mus), Kyai Hamid bukanlah ‘Wali Tiban’. “Beliau dinilai wali secara ‘muttafaq ‘alaih’,” kata Gus Mus suatu waktu. Cerita berikut dapat jadi secuil bukti karomah yang dipunyai Kyai Hamid (yang lahir di Lasem dengan nama Abdul Mu’thi, lalu naik haji waktu remaja berganti nama Abdul Hamid dan belakangan beliau merasa cukup dipanggil Hamid).

Ialah Su’udi, bagian santri Kyai Hamid yang dulu dikenal bebal dan nakal. Suatu saat dirinya merasa pusing sebab ke-4 anaknya butuh seragam sekolah baru. Tidak tanggung-tanggung, butuh delapan stel pakaian! Tiap malam Su’udi merapalkan sholawat al-Hamid (Sholawat Syaikh Hamid Afandi Al-Imadi Mufti Syam) sebanyak 313 kali.

Terus ia baca tiap malam sampai akhirnya di suatu dini hari, antara tidur dan terjaga, Su’udi merasa menguping Kyai Hamid berkata, “Di, berangkat ke Kota Pasuruan, sebelah barat Masjid Jami’ ada uang berceceran!”

Baca Artikel Lainnya:  KPU Menyebut Rekapitulasi Suara Nasional Tidak Ada Hambatan

Sebelah barat Masjid Jami’ Pasuruan, batin Su’udi, ialah makam Kyai Hamid. “Apa mungkin di sana ada uang tercecer?” Su’udi diliputi tanda tanya besar. “Akan tetapi baiklah untuk anak-anakku yang butuh seragam baru, akan ku kayuh sepedaku,” tekadnya.

Benar saja, setelah Subuh, ia langsung genjot ontelnya. Jarak rumahnya sampai Masjid Jami’ sekira 30 km. Sampainya di sana langsung njujug makam Kyai Hamid. Ia periksa di atas tanah makam, di antara tumpukan kembang, hasilnya: nihil! Langkah gontai mengiringi Su’udi. walaupun kecewa, tapi sebab telah sampai makam sang guru tercinta, ia sempatkan untuk baca Yasin dan tahlil sebentar.

sesudah rampung waktu hendak ke sepeda yang terparkir, tetiba ada segerombolan peziarah masuk ke makam. Pimpinan iring-iringan menyeret Su’udi. “Pak tolong kami dipimpin tahlil sebentar saja, ini kami mau langsung lanjut ke makam Bung Karno di Blitar,” Su’udi menyanggupi.

Bakda tahlil, pimpinan iring-iringan tadi memberinya 5 ribu. jema’ah yang lain ada yang memberinya 2 ribu, banyak juga yang seribu. Dari luar, jemaah wanita (sebab tidak boleh masuk kompleks makam) melemparinya 2 ribu dalam lembaran yang cukup banyak. sesudah iring-iringan berangkat, Su’udi mulai menghitung hitungan total uang yang didapat pagi itu. Semuanya ada 170 ribu! Hitungan total yang amat lumayan waktu itu. Dengan berurai air mata, ia terisak “Maturnuwun Kyai Hamid, ini uang berceceran yang jenengan ngendika tadi…”

Baca Artikel Lainnya:  pasukan TNI bareng Masyarakat Berjibaku Bersihkan Masjid di Papua

Su’udi pun dengan full linang air mata keharuan pulang ke rumah. sebelum ini mampir pasar berbelanja delapan stel seragam untuk anak-anaknya. Masih ada sisa, yang ia belikan beras dan lauk-pauk. Inilah secuil karomah Kyai Hamid, kendati sudat wafat akan tetapi sanggup menolong santrinya….alfatihah…

(Diadaptasi dari Buku Percik-Percik Keteladanan Kyai Hamid Pasuruan yang ditulis oleh Hamid Ahmad)

Walau Sudah Tiada, Kyai Hamid Pasuruan Menolong Santrinya yang Butuh Uang

Walau Telah Tiada, Kiai Hamid Pasuruan Menolong Santrinya yang Butuh Uang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *