Zonasi Sekolah: Bacalah 5 Dasar Teoritisnya! (03)

Zonasi Sekolah: Bacalah 5 Dasar Teoritisnya! (03)

Jikalau dalam kajian sebelumnya saya menerangkan kerepotan menemukan teori penyokong bagi penolak sistem zonasi, maka sebaliknya, itu tidak terjadi waktu saya mencari landasan teoritis yang menyokong sistem zonasi dalam PPDB itu.

Beberapa teori pendidikan dan teori psikologi seperti teori Pendidikan Multikultural, Pendidikan Kewarganegaraan, Pendidikan Inklusi, Pendidikan Karakter, Teori Psikologi Multiple Intelegence dll mempunyai korelasi dan Andil yang kuat untuk jadi dasar bagi pengembangan dan penerapan sistem zonasi.

Beberapa gambaran teori itu di antaranya selaku berikut;

1) Teori Pendidikan Karakter

Prinsip Pendidikan Karakter ialah berusaha mengembangkan kesanggupan intelektual, sosial, emosional, dan etis pada peserta didik serta untuk menaikkan tekad bulat berbarengan agar peserta didik sanggup jadi orang yang bertanggungjawab, peduli dan jadi masyarakat negara yang baik dan berguna bagi yang lain (Althof dan Berkowitz, 2006).

Dalam hal ini, prinsip pendidikan karakter gamblang jadi landasan dasar bagi sistem zonasi yang menerapkan pemerataan pendidikan bagi para siswa dengan bermacam back-ground sosial ekonomi dan kesanggupan yang tak sama.

2) Teori Pendidikan Multikultural

Prinsip dasar Pendidikan Multikuktural ialah mendukung agar mereka tidak cuma memahami mata pelajaran yang diajarkan padanya tapi juga sanggup mempraktekkan pemahaman mereka soal bermacam keragaman budaya seperti agama, ras, suku, klas sosial ekonomi sampai keragaman kesanggupan dll. Pemahaman soal keragaman itu kemduian dijadikan alat untuk mempermudah mereka dalam memahami mata pelajaran yang mereka pelajari. Begitu pula sebaliknya (James J Banks, 1986)

READ
Belajar Tawadlu’ dari Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf

Konsep pendidikan ini amat erat dengan apa yang ingin dicapai oleh sistem zonasi yaitu siswa dapat jadi maju berbarengan meski back-ground budaya dan kesanggupan mereka tak sama.

3) Teori Pendidikan Moral

Teori pendidikan ini ialah bagian model pendidikan karakter yang cukup tua. Filosof klasik seperti Konfusius dan Aristoteles ialah penggerak pendidikan moral yang percaya bahwa dengan mengajarkan nilai-nilai moral, maka masa depan ummat manusia akan jadi lebih baik (Althof dan Berkowitz, 2006: 495).

Dalam hal ini, Pendidikan Moral gamblang jadi dasar yang kuat bagi sistem zonasi yang berusaha meminimkan eksklusifisme dan diskriminasi.

4) Teori Citizenship Education

Ialah pemanfaatan bermacam-macam taktik dalam pendidikan untuk mengajarkan ide-ide soal kewarganegaraan ke para siswa selaku generasi masa depan (John C Cogan, 1999). Bermacam-macam taktik di sini ialah cara-cara yang bersifat demokratis dan adil.

Dari konteks ini, sistem zonasi ialah bagian dari taktik langsung dalam menerapkan keadilan bagi seluruh masyarakat negara untuk memperoleh pendidikan yang baik dan berkualitas.

5) Teori Psikologi Multiple Intelejen atau Emotional Intelejen

Howard Gardner, bagian ahli psikologi Kemajuan legendaris dari universitas Harvard menerangkan perlunya teori Multipel Intelejen yang dia temukan untuk membangun karakter anak dalam pendidikan.

Menurut Gardner dalam teorinya Multiple Intelejen (1992) menerangkan bahwa tiap-tiap anak mempunyai kelebihannya masing-masing, ada yang mempunyai kecerdasan verbal linguistik atau bahasa, logikal matematis, spatial-visual, bodi-kinestetik, musikal, interpesonal, naturalis dan kecerdasan, dan existensial.

READ
Dampak Covid-19, Penjual Daging Sapi di Klaten Tiarap

Dalam menyaksikan kesanggupan anak, sebaiknya seorang pendidik tidak cuma menyaksikan dari 1 sisi kecerdasan anak seperti yang umumnya terjadi selama ini yaitu kecerdasan logikal-matematis, tapi menyaksikan kecerdasan lainnya sehingga anak dapat saling memahami, mengisi dan membantu 1 sama lain.

Nah, dalam hubungan menyaksikan siswa dari bermacam-macam keserdasan mereka masing-masing ini lah, keterkaitan antara teori multiple intelegence dengan sistem zonasi sangatlah erat.

Demikianlah, banyak teori terkait yang jadi dasar keilmuan dari sistem zonasi ini. Tapi seperti ini, sebab keterbatasan tempat dan waktu, tidak seluruh dari teori-teori itu dapat kita bahas dalam dialog kali ini.

Jadi, sebab argumentasi teoritisnya gamblang dan kuat, pemerintah semestinya tidak ragu untuk tegas dalam menerapkan sistem zonasi dalam PPDB ini.

Sebaliknya, para pengkritik dan penolak sistem zonasi tidak punya landasan teori yang kuat, tapi mereka lebih banyak mendasarkan pendapatnya pada opini dan asumsi.

Penulis: Dr KH Ainul Yaqin, Ketua Lakpesdam PWNU DIY dan Guru besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.


Zonasi Sekolah: Bacalah 5 Dasar Teoritisnya! (03)

loading...

READ
Sikap Legal PWNU Jawa Timur Terkait Muslim Uighur Xinjiang Tiongkok

Recommended For You

About the Author: Asep Komarudin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *