Zonasi Sekolah: Mengkaji Ulang Makna Sekolah Favorit dan Berkualitas (05)

Zonasi Sekolah: Mengkaji Ulang Makna Sekolah Favorit dan Berkualitas (05)

Bagian yang jadi perbincangan dalam dialog soal Zonasi Sekolah ialah masih tidak relanya sebagian warga atau wali murid kehilangan Peluang untuk menyekolahkan putra-putrinya di sekolah berlabel favorit.

Pemahaman soal makna dari frase “sekolah negeri favorit” itu Penting diluruskan. Kenapa, sebab pemahaman yang salah dapat membawa orang tua siswa pada perilaku egois, cuma mementingkan anaknya untuk masuk pada sekolah berlabel favorit itu, tanpa peduli pada orang lain yang selama ini cuma sanggup menikmati sekolah non-favorit.

Argumentasi lainnya, walaupun ada sebagian kecil sekolah berlabel favorit di Indonesia, ternyata kualitas pendidikan Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara lain seperti Thailand, Singapura, Taiwan, Korea, Jepang dll. Kemudian, kenapa sedemikian, bukankah kita punya sekolah-sekolah negeri berlabel favorit, kenapa kualitas pendidikan kita masih di bawah negara lain?

Mari kita lihat jawabannya dengan mengkaji makna dari frase “sekolah negeri favorit” dan “berkualitas”.

Adakah Sekolah Negeri Favorit?

Ada beberapa respon untuk menjawab pertanyaan ini. Ke-1, dalam kajian-kajian ilmiah ilmu pendidikan, pemanfaatan frase “sekolah negeri favorit” jarang dipakai, sebab dalam pemahaman ilmu pendidikan, di negara manapun, kualitas sekolah negeri yang dibiayai negara, wajib merata, tidak boleh timpang antara 1 dan yang lain. Artinya tidak boleh ada yang favorit atau tidak favorit.

Ke-2, kata favorit dalam dialog pendidikan biasanya disematkan ke dalam objek yang lain, bukan pada institusi pendidikan, misalkan “mata pelajaran favorit” atau “kelas matematika favorit”. Frase “mata pelajaran favorit” terbebas dari unsur sebab-akibat dari sebuah sistem yang tidak baik atau tidak adil, melainkan lebih pada emosi dan pilihan individu untuk menyukai atau tidak sebuah mata pelajaran.

Ketiga, dalam dialog kependidikan, untuk memperlihatkan apresiasi publik pada institusi pendidikan yang dianggap berprestasi, para pengamat biasanya mempergunakan frase “sekolah bereputasi” atau “universitas bereputasi baik”. Itu pun umumnya dipakai untuk menyebut sekolah-sekolah swasta bukan sekolah negeri.

READ
Puasa yang Diharamkan dan Puasa di Hari Keraguan (Syak)

Kenapa lebih memilih pemakaian frase “sekolah bereputasi”, sebab kata reputasi memperlihatkan adanya sebuah usaha untuk memaksimalkan semua proses pendidikan, sehingga mutu pendidikan dan lulusan dari institusi itu jadi baik.

Selama ini, di Indonesia, sekolah negeri yang dilabeli frase “sekolah negeri favorit” ialah sekolah negeri yang memperoleh input peserta didik dengan nilai tertinggi yang dikumpulkan di 1 sekolah, lalu lulus dengan nilai yang tinggi juga. Ini lah lalu yang saya menyebut tidak ada “sekolah negeri favorit” sebab tidak ada perbedaan antara input dan output.

Sekali lagi, “sekolah bereputasi” menurut saya ialah sekolah yang inputnya biasa-biasa saja, lalu sesudah mengalami proses edukasi dapat menghasilkan output yang luar biasa, atau setidaknya ada Pergantian positif yang signifikan dari para siswa sesudah menjalani proses pendidikan.

“Kualitas Sekolah Negeri”

Umumnya, warga percaya ada sekolah negeri “berkualitas” baik yang dilabeli “favorit” di Indonesia. Tetapi, saya tidak percaya, sebab belum ada sekolah negeri “berkualitas” di Indonesia. Kenapa? Ini jawabannya.

Dalam mengkaji kualitas sekolah negeri, umumnya, pengamat pendidikan tidak menggunakan topik kajian secara spesifik dengan menggunakan istilah “kualitas sekolah negeri”, melainkan menggunakan tema “kualitas pendidikan” secara umum.

Kenapa sedemikian, sebab sekolah negeri itu banyak. Maka dari itu, untuk menilai kualitas sekolah negeri, pengamat pendidikan akan melaksanakan penilaian secara menyeluruh dengan cara mengambil sampel yang representatif, tidak menilai secara parsial, 1 atau 2 sekolah saja.

Pertanyaannya, kenapa sedemikian? kembali saya katakan lagi, sebab prinsip dalam ilmu pendidikan, sekolah negeri seharunya mempunyai kualitas yang merata antara 1 dan yang lainnya.

Nah, selama ini, kita, di Indonesia, termasuk sebagian besar praktisi dan ahli pendidikannya, atau mungkin kalangan terdidik non-ahli pendidikan, tidak memyadari ini. Mereka percaya bahwa sekolah negeri “berkualitas” yang lalu dilabeli “favorit” itu, nyata ada. Padahal, tidak ada.

Mereka percaya bahwa SMPN 1,2,3, 4 dan 5 itu ialah sekolah negeri “berkualitas”. Mereka juga percaya bahwa SMUN 1,2,3 sampai 8 itu ialah sekolah negeri favorit. Padahal itu ialah sekolah yang cuma sebatas diisi oleh kumpulan bocah kecil didik dengan nilai tertinggi dari jenjang pendidikan sebelumnya.

READ
Menemui Ganjar Pranowo, Erick Thohir Membahas Bangkitkan UMKM di Era New Normal

Akibatnya, saat beberapa institusi internasional yang kredibel melaksanakan riset soal kualitas pendidikan di bermacam negara, termasuk di Indonesia, posisi rangking kualitas pendidikan Indonesia jeblog dan terjun bebas.

OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) melaksanakan riset dan survei 5 tahunan untuk mengukur kualitas pendidikan dasar di lebih dari 60 negara. Dalam surveinya, OECD mempergunakan alat ukur PISA atau (Program for International Student Assesment) yang mengukur kesanggupan siswa dalam mata pelajaran Sains, Matematika dan Literasi Membaca.

Hasilnya, pada tahun 2009, Indonesia Ada pada rangking 57 dari 65 negara atau urutan ke 8 dari bawah. Adapun Thailand Ada di posisi 8 tingkat di atas Indonesia, tepatnya Ada pada urutan ke 49.

Seterusnya, 6 tahun lalu, tepatnya tahun 2015, posisi Indonesia meluncur turun 5 tingkat, tetap di urutan ke 8 dari bawah utawa 62, tapi kali ini, negara peserta yang disurvei betambah 5, jadi 70 negara. Sementara posisi rangking Thailand, walaupun sama-sama turun, negara Gajah Putih itu, tetap Ada 8 tingkat di atas Indonesia.

Sementara itu, negara-negara maju Asia seperti Singapura, Jepang, Taiwan, Korea, Hong Kong senantiasa Ada di urutan 5-10 besar teratas dalam survei PISA itu. Taiwan, Korea, dan Finlandia masing-masing menduduki urutan 1,2 dan 3 pada survei tahun 2009. Adapun untuk tahun 2015, Korea, Jepang dan Estonia menduduki urutan rangking 1,2 dan 3 tertinggi.

Lalu, dalam riset yang dikerjakan lembaga PBB untuk pembangunan UNDP tahun 2013, index Pendidikan Indonesia Ada di urutan ke 108 dari 187 negara di dunia. Indonesia Ada 1 tingkat di bawah Palestina yang senantiasa dalam keadaan perang semenjak tahun 1950an. Sembilan dan Sepuluh tingkat di bawah Ekuador dan Kolombia selaku 2 negara yang full dengan perang geng mafia obat bius.

READ
Cegah Sebaran Covid-19, PMI Depok Semprotkan Disinfektan ke Sarana Publik

Dari situasi ini, apa kita masih percaya bahwa ada sekolah dengan label favorit di Indonesa?

Zonasi Selaku Taktik Pemerataan Kualitas

Sungguh, masing-masing ngara mempunyai indikator, kriteria dan size-nya sendiri dalam menyaksikan kualitas pendidikan. Tetapi, kita tidak boleh menafikkan kekhilafan kita sendiri dalam membikin indikator, kriteria dan ukuran dalam menilai kualitas pendidikan kita.

Jadi, Zonasi Sekolah dalam PPDB yang diterapkan pemerintah ialah langkah yang pas dari munculnya kesadaran itu, bahwa keputusan strategi pendidikan dan cara kita mengukur kualitas sekolah, selama ini salah. Maka, itu mesti diperbaiki.

Zonasi sekolah ialah bagian alat dan taktik penting untuk meratakan kualitas sekolah negeri dan kualitas pendidikan di Indonesia.

Jangan dibalik cara berfikirnya, menuntut pemerataan kualitas sekolah atau pendidikan terlebih dahulu, lalu menerapkan sistem zonasi. Jikalau seperti itu cara befikirnya, maka pemerataan kualitas tidak akan pernah tercapai.

Kenapa sedemikian, sebab dengan Zonasi Sekolah selaku taktik pemerataan, maka kekurangan-kekurangan dari sekolah di 1 wilayah dapat dipetakan, rolling guru, penambahan guru, training untuk guru, pemetaan kualitas sekolah, penambahan kelas, perbaikan dan pengadakan fasilitas dan prasarana sekolah jadi lebih muah dipetakan.

Andaikan lelucon, Zonasi Sekolah ini seperti Obat Batuk Conidin. Jadi, jangan menyuruh atau memaksa seseorang minum Conidin dulu baru batuk-batuk. Tetapi sebaliknya, minum Conidin agar batuknya reda dan sembuh.

Penulis: Dr KH Ainul Yaqin, Ketua Lakpesdam PWNU DIY dan Guru besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.


Zonasi Sekolah: Mengkaji Ulang Makna Sekolah Favorit dan Berkualitas (05)

loading...

Recommended For You

About the Author: Asep Komarudin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *