Zuhud Berangkat Dengan Lupa yang Digandrungi oleh Allah

Breaking News 67

Zuhud Berangkat Dengan Lupa yang Digandrungi oleh Allah

Sikap zuhud. Foto: istimewa

Oleh: Yudhie Haryono

Islam Nusantara – Yang tersisa Saat ini ritualnya. Yang terhempas Saat ini sosialnya. Yang terbuang Saat ini intelektualnya. Yang terkubur Saat ini spiritnya. Tergambarlah kesalihan ritual. Padahal, salih ritual tanpa salih sosial itu menajamkan gerak ke dasar samudra berupa pudarnya jihad dan purbanya zuhud.

Selaku sebuah metode sekaligus maksud, zuhud jadi penting untuk direproduksi dan dikembangbiakkan untuk berhadapan dengan kejahiliyahan yang bertubi-tubi. Kurikulum ini wajib dikreasi kembali untuk kemartabatan ummat dan bangsa.

Secara etimologi, zuhud artinya “raghaba ‘ansyai’in wa tarakahu” (tidak tertarik kepada sesuatu dan meninggalkannya sebab bukan Inti). Zahada fi al-dunya, artinya meninggalkan (struktur) dunia untuk mencapai derajat yang lebih mulia. Ia ultima dari 4 keadaan: lahir, jihad, zuhud dan syahid.

Baca: Argumentasi Tegas Gus Dur dan Gus Yaqut Berhadapan dengan Kubu Islam Radikal

Kenapa Saat ini kurikulum itu hilang? Ada banyak respon. Minimal ada 3.

Ke-1, Islam mengalami kebosanan kemenangan. Selaku sebuh konsep, ia Hadir, bertanding dan menang (veni, vidi, vici). Selaku sebuah bangunan, ia sudah menyempurnakan diri (kaffah/paripurna). Maka gerak kebosanan pasti Hadir selaku hukum alam. Berganti dengan kaum baru dengan nilai-nilai baru.

Islam selaku perkumpulan dihancurkan oleh kesempurnaan dalam dirinya. Ini mirip logika terkutuknya negara-negara yang kaya akan SDA. sebagian besar negara kaya SDA itu terjajah dan paria. Indonesia ialah contoh the best dari keadaan ini. Catat yah. Indonesia ialah bangsa Muslim yang amat kaya SDA-nya.

Ke-2, konsep, nilai dan metode zuhud ini menakutkan buat bangsa-bangsa lain. Akibatnya, mereka berlomba-lomba menghancur-leburkan dan menggantinya. Dalam logika perang peradaban, menghancur-leburkan nilai-nilai dan metode peradaban musuh ialah hal lumrah. Tentu via proxy dan agensi. Dibantu oleh pengkhianatan dalam dan begundal lokal yang lelah plus tergoda (limbah).

Ketiga, ini konsekuensi dari globalisasi yang meniscayakan lahirnya hibridasi warga antara produsen (penjajah), konsumen (terjajah) dan komersial (persetubuhan penjajah dan terjajah). Dalam arsitektur bangsa komersial, yang jadi nilai, metode dan maksud ialah “uang.” Sampai-sampai pemilihan ketua ormas keagamaan saja yang terpilih ialah yang bayar pakai uang. Bukan terpilih sebab ilmu dan kezuhudannya.

Tentu saja, para alim yang menyembah uang itu tidak akan ada harganya di depan penguasa dan sponsornya. Sungguh ada harganya ketua NU, Muhamadiyah, Persis, HMI dan ICMI di depan pemerintah dan konglomerat asing-aseng? Pasti tidak ada sama sekali. Mereka Saat ini cuma buih yang nista.

Zuhud in Islam

Tetapi, saudara-saudara jangan kaget. Karena keadaan itu pernah dinujum Nabi Muhammad dengan menjelaskan, “Akan Hadir tahun-tahun full dengan kedustaan yang menimpa manusia. Para pendusta dipercaya; orang jujur didustakan; orang smart dinistakan; amanat diberikan ke pengkhianat; orang zuhud dikhianati; para jihadis ditinggal; orang bodoh mengurusi soal-soal publik dan kepemimpinan” (HR Muslim).

Lalu, kita mesti bagaimana? Tidak ada jalan lain kecuali mereproduksi kembali ide tersebut di mana saja. Dengan ingatan yang jernih dan hati yang bersih, daya baca mesti meraksasa. Bahwa dunia berubah ke arah baik sebab pemimpin yang zuhud. Pemimpin crank. Manusia yang menyempal dari keumuman. Karena, ia mencintai yang tidak lazim. Di hati, pikiran, jiwa, raga dan tindakannya cuma cinta pada intelektualisme, spiritualisme dan kapital-sosial. Ia anti libidinal (menyembah lawan kategori), anti status quo (feodalisme dan fasisme), anti kapitalisme (ekonometrika).

Baca: Menduniakan “Bhineka Tunggal Ika

Ia ialah pribadi agung yang mewariskan nama baik. Ia hidup abadi. Ia menginsiprasi. Ia melegenda dengan moral dan mentalnya. Itulah si zuhud. Ultima dari perjalanan pendek: lahir, jihad dan syahid. Kaliankah itu yang tengah siyam? Semoga saja. [dutaislam/ka]

Zuhud Berangkat Dengan Lupa yang Digandrungi oleh Allah

Zuhud Pergi Dengan Lupa yang Dicintai oleh Allah

You might like

About the Author: Ahmad Zainudin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *