KRT KH Nur Ihyak Hadinegoro Minta Klaim Makam Aryo Penangsang di Kudus Dikaji Ulang Secara Ilmiah

Warta Batavia – KUDUS – KRT KH Nur Ihyak Hadinegoro mengajak seluruh pihak untuk mengedepankan kajian ilmiah dalam menyikapi klaim penemuan makam Aryo Penangsang di wilayah Jipang, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Menurutnya, setiap kesimpulan mengenai situs sejarah perlu didasarkan pada penelitian yang komprehensif dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
Pernyataan tersebut disampaikan sebagai tanggapan atas penyampaian dari perwakilan Naqobah Ansab Aulia yang sebelumnya mengumumkan hasil penelitian selama sekitar satu tahun mengenai lokasi yang diyakini sebagai makam Aryo Penangsang atau Raden Mukmin.
Dalam keterangannya, KH Nur Ihyak menegaskan bahwa dirinya tidak bermaksud menyalahkan ataupun menyudutkan pihak yang melakukan penelitian tersebut. Ia justru mengajak seluruh pihak untuk bermusyawarah dan mendiskusikan temuan-temuan sejarah secara terbuka.
“Kita tidak menyalahkan dan tidak menyudutkan pendapat mereka. Namun sebaiknya kita bermusyawarah bersama untuk menentukan kebenarannya sesuai teori dan analisis yang dimiliki bersama,” ujarnya.
Mengajak Klarifikasi Data Penelitian
KH Nur Ihyak meminta agar data hasil penelitian yang menjadi dasar penetapan lokasi makam tersebut dapat dibuka kepada publik sehingga dapat dikaji oleh para peneliti sejarah, filolog, arkeolog maupun pemerhati sejarah Islam Nusantara.
Menurutnya, persoalan makam tokoh sejarah tidak cukup hanya didasarkan pada keyakinan, pengalaman spiritual, maupun metode non-akademik, tetapi membutuhkan bukti-bukti pendukung yang kuat.
Ia mengatakan penelitian sejarah perlu melibatkan manuskrip, peninggalan arkeologis, kondisi geografis, hingga kronologi sejarah yang saling berkaitan.
Menyoroti Lokasi Penemuan Makam
Dalam penjelasannya, KH Nur Ihyak menyampaikan bahwa lokasi yang diklaim sebagai makam Aryo Penangsang dinilai belum memiliki indikator pendukung yang cukup kuat.
Ia mengungkapkan berdasarkan pengamatannya, lokasi tersebut merupakan tanah milik pribadi dan belum ditemukan bukti-bukti sejarah di sekitarnya yang dapat memperkuat dugaan bahwa tempat tersebut merupakan makam Aryo Penangsang.
Karena itu, ia meminta agar penelitian terhadap lokasi tersebut dilanjutkan dengan metode yang lebih komprehensif.
Menyebut Ada Lima Versi Lokasi Makam Aryo Penangsang
KH Nur Ihyak menjelaskan bahwa hingga saat ini terdapat beberapa versi mengenai lokasi makam Aryo Penangsang.
Menurutnya, beberapa lokasi yang selama ini disebut antara lain berada di:
- Gedong Ageng, Blora;
- Kompleks Masjid Agung Demak;
- Kawasan Kadilangu, Demak;
- Wilayah Ogan Komering di Sumatera Selatan;
- Jipang, Kecamatan Jati, Kudus.
Adanya berbagai versi tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa persoalan lokasi makam Aryo Penangsang masih menjadi bahan kajian sejarah dan belum memiliki kesepakatan tunggal.
Kronologi Sejarah Menurut KH Nur Ihyak
Dalam pemaparannya, KH Nur Ihyak menguraikan kronologi sejarah Aryo Penangsang berdasarkan data yang ia miliki.
Ia menjelaskan bahwa Aryo Penangsang dikenal dengan nama Raden Mukmin dan merupakan putra Raden Kikin atau Raden Surowiyoto.
Menurutnya, Aryo Penangsang memiliki hubungan keluarga dengan Kesultanan Demak serta memiliki kaitan dengan keturunan Wali Songo melalui jalur keluarga.
Ia juga menyampaikan bahwa Aryo Penangsang merupakan murid Sunan Kudus dan dikenal sebagai tokoh dari kalangan santri.
Menilai Lokasi Kudus Terlalu Jauh
KH Nur Ihyak menjelaskan bahwa berdasarkan catatan sejarah yang ia pelajari, Aryo Penangsang meninggal dunia dalam pertempuran di kawasan Bengawan Sore, yakni cabang dari Bengawan Solo.
Menurutnya, apabila lokasi wafat berada di wilayah tersebut, maka secara logika sejarah pemindahan jenazah menuju Kudus dinilai cukup jauh.
Ia menyebut perjalanan pada masa itu membutuhkan waktu berhari-hari sehingga menurutnya masih perlu pembuktian yang lebih kuat apabila dikaitkan dengan makam di Kudus.
Mengajak Penelitian Bersama
KH Nur Ihyak menegaskan bahwa perbedaan pendapat mengenai situs sejarah sebaiknya diselesaikan melalui penelitian bersama.
Ia mengaku terbuka apabila dilakukan penelitian lanjutan secara kolektif yang melibatkan berbagai disiplin ilmu.
Menurutnya, semakin banyak data yang diuji bersama, maka peluang memperoleh kesimpulan yang mendekati fakta sejarah akan semakin besar.
Menyoroti Pentingnya Bukti Arkeologi
Dalam keterangannya, KH Nur Ihyak juga menyinggung pentingnya bukti fisik seperti batu nisan, struktur bangunan, hingga artefak lain yang memiliki keterkaitan dengan periode Kesultanan Demak.
Ia menilai apabila ditemukan material yang memiliki karakteristik khas era Demak, maka temuan tersebut dapat menjadi bahan penelitian lebih lanjut.
Namun demikian, ia mengingatkan agar seluruh bukti tetap diverifikasi oleh lembaga yang memiliki kompetensi di bidang arkeologi dan sejarah.
Mengingatkan Agar Tidak Tergesa-gesa Mengumumkan Kesimpulan
KH Nur Ihyak mengimbau agar setiap hasil penelitian tidak diumumkan sebagai sebuah kepastian apabila proses kajian masih berlangsung.
Ia menyebut penelitian selama satu tahun merupakan langkah awal yang perlu dilanjutkan dengan verifikasi yang lebih luas.
Menurutnya, penyampaian kepada publik sebaiknya dilakukan setelah seluruh bukti telah melalui proses pengujian secara ilmiah.
Sejarah Perlu Dijaga Bersama
Selain membahas lokasi makam Aryo Penangsang, KH Nur Ihyak juga menekankan pentingnya menjaga sejarah bangsa melalui penelitian yang objektif.
Ia menyampaikan bahwa sejarah Nusantara memiliki banyak versi akibat minimnya dokumentasi tertulis pada masa lalu serta adanya perubahan narasi dari berbagai periode pemerintahan.
Karena itu, menurutnya, kajian sejarah memerlukan keterbukaan, diskusi, dan penelitian lintas disiplin agar tidak menimbulkan kesimpulan yang prematur.
Mengajak Mengedepankan Dialog
Menutup keterangannya, KH Nur Ihyak kembali menegaskan bahwa tujuan penyampaiannya bukan untuk memperdebatkan pihak tertentu, melainkan mengajak seluruh peneliti dan pemerhati sejarah duduk bersama.
Ia berharap setiap temuan sejarah dapat diuji secara ilmiah sehingga masyarakat memperoleh informasi yang berdasarkan data, manuskrip, bukti arkeologis, serta kajian sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Menurutnya, pendekatan dialog dan penelitian bersama menjadi langkah yang lebih baik dibandingkan mengambil kesimpulan sebelum seluruh bukti berhasil diverifikasi.
Referensi berita:





One Comment