invisible hit counter
Internasional

Iran Diduga Lacak Pasukan AS Lewat Sinyal Ponsel, Laporan Financial Times Ungkap Dugaan Operasi Intelijen Digital

Warta Batavia – Laporan terbaru dari Financial Times mengungkap dugaan bahwa Iran memanfaatkan data lokasi telepon seluler untuk melacak pergerakan personel militer Amerika Serikat selama konflik di Timur Tengah. Dugaan tersebut menyebut operasi pelacakan telah berlangsung sebelum hingga setelah pecahnya perang pada 28 Februari 2026.

Menurut laporan tersebut, sasaran pelacakan bukan hanya personel militer aktif, tetapi juga kontraktor pertahanan Amerika Serikat yang berada di berbagai negara kawasan Teluk. Informasi lokasi yang diperoleh diduga menjadi salah satu sumber intelijen untuk membantu menentukan target serangan.

Laporan itu menyebutkan bahwa perkembangan teknologi komunikasi telah mengubah pola peperangan modern. Jika sebelumnya serangan bergantung pada pengintaian langsung atau mata-mata di lapangan, kini sinyal telepon seluler dan jejak lokasi digital disebut dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari proses identifikasi target.

Dua Metode Pelacakan yang Diduga Digunakan Iran

Financial Times menyebut terdapat dua metode utama yang diduga digunakan dalam operasi tersebut.

Metode pertama adalah memanfaatkan layanan roaming jaringan telepon seluler. Dalam skenario ini, Iran atau pihak yang bersekutu dengannya diduga memperoleh akses terhadap informasi lokasi perangkat yang menggunakan jaringan operator telekomunikasi di kawasan Teluk.

Melalui mekanisme roaming, posisi perangkat disebut dapat dipantau secara berkelanjutan ketika pengguna berpindah antarnegara di kawasan tersebut.

Peneliti keamanan siber dari Citizen Lab, Gary Miller, sebagaimana dikutip Financial Times, menyatakan bahwa Iran diduga memiliki kemampuan memperoleh informasi lokasi secara langsung melalui data jaringan seluler.

Metode kedua memanfaatkan data lokasi yang dikumpulkan melalui ekosistem periklanan digital pada telepon pintar.

Data tersebut pada umumnya digunakan perusahaan teknologi untuk menampilkan iklan berdasarkan lokasi pengguna. Namun menurut laporan itu, informasi yang sama diduga dapat diolah menjadi peta pergerakan pengguna tanpa harus meretas perangkat secara langsung.

Dengan demikian, aktivitas digital sehari-hari yang tampak biasa dapat menghasilkan pola mobilitas yang berguna dalam kegiatan intelijen.

Hotel dan Lokasi Penginapan Diduga Menjadi Sasaran

Setelah informasi lokasi berhasil dipetakan, sejumlah lokasi yang digunakan personel Amerika Serikat dilaporkan menjadi sasaran serangan rudal maupun drone.

Laporan Financial Times menyebut hotel-hotel di Uni Emirat Arab, Bahrain, Irak, dan beberapa wilayah Teluk termasuk dalam lokasi yang terdampak selama konflik berlangsung.

Beberapa hotel diketahui digunakan sebagai tempat menginap personel militer maupun kontraktor Departemen Pertahanan Amerika Serikat.

Lokasi-lokasi yang sebelumnya dianggap relatif aman karena berada di luar pangkalan militer justru disebut menjadi lebih rentan ketika keberadaan personel dapat dipetakan melalui jejak digital perangkat komunikasi mereka.

Meski demikian, para peneliti menegaskan belum terdapat bukti bahwa seluruh serangan tersebut semata-mata berasal dari pelacakan telepon seluler.

Berbagai Sumber Intelijen Diduga Digabungkan

Menurut analisis para peneliti yang dikutip Financial Times, pelacakan lokasi ponsel kemungkinan hanya menjadi salah satu komponen dalam operasi intelijen Iran.

Sumber informasi lain yang diduga turut digunakan meliputi:

  • Pengintaian langsung di lapangan.
  • Informasi terbuka mengenai lokasi hotel.
  • Unggahan media sosial.
  • Aktivitas digital personel militer.
  • Data komersial mengenai lokasi pengguna.

Kombinasi berbagai sumber tersebut dinilai dapat meningkatkan akurasi dalam menentukan sasaran operasi.

Para analis menyebut metode seperti ini merupakan bagian dari perkembangan open source intelligence (OSINT) yang dikombinasikan dengan data komersial dan pengintaian konvensional.

CENTCOM Akui Ancaman Penyalahgunaan Data Lokasi

Kekhawatiran mengenai penggunaan data lokasi komersial telah mendapat perhatian resmi dari pemerintah Amerika Serikat.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) pada April 2026 dilaporkan menyampaikan kepada Kongres bahwa mereka menerima sejumlah laporan mengenai potensi penyalahgunaan data lokasi komersial untuk melacak personel militer Amerika Serikat di kawasan operasi.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa ancaman terhadap keamanan personel tidak lagi hanya berasal dari pengintaian tradisional, tetapi juga dari data digital yang dihasilkan perangkat elektronik sehari-hari.

Senator Partai Demokrat Ron Wyden juga menyampaikan bahwa apabila dugaan tersebut terbukti, maka hal itu akan menjadi salah satu contoh pertama penggunaan data lokasi komersial sebagai bagian dari operasi militer yang dilakukan oleh pihak lawan.

Strategi Penempatan Personel di Hotel Sipil Dinilai Berisiko

Laporan tersebut juga menyoroti strategi Amerika Serikat yang menempatkan sebagian personelnya di hotel-hotel sipil.

Kebijakan tersebut sebelumnya dilakukan untuk mengurangi risiko apabila pangkalan militer menjadi sasaran serangan.

Namun dalam perkembangan terbaru, pola tersebut justru disebut berpotensi memudahkan proses identifikasi target apabila data lokasi perangkat komunikasi berhasil diperoleh.

Financial Times mencontohkan sebuah hotel di Bahrain yang memiliki kontrak penyedia akomodasi bagi Departemen Pertahanan Amerika Serikat turut terdampak serangan selama konflik berlangsung.

Keberadaan personel di lokasi tersebut diduga dapat dikenali melalui jejak digital perangkat yang mereka gunakan.

Dugaan Penggunaan Satelit untuk Memperkuat Pengintaian

Selain memanfaatkan data telepon seluler, Financial Times juga melaporkan dugaan penggunaan satelit pengintai sebagai lapisan tambahan dalam operasi intelijen Iran.

Laporan tersebut menyebut Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) diduga mengoperasikan sebuah satelit pengintai buatan China yang diperoleh pada akhir 2024.

Satelit yang disebut bernama TEE01B itu dikabarkan digunakan untuk memantau sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah.

Menurut dokumen yang dikutip Financial Times, satelit tersebut diarahkan untuk mengambil citra beberapa fasilitas militer, termasuk:

  • Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi.
  • Pangkalan Muwaffaq Salti di Yordania.
  • Markas Armada Kelima Amerika Serikat di Bahrain.
  • Area sekitar Bandara Erbil di Irak.

Pengambilan citra disebut dilakukan pada pertengahan Maret 2026, berdekatan dengan meningkatnya intensitas serangan rudal dan drone di kawasan tersebut.

Serangan Terjadi Berdekatan dengan Pengambilan Citra Satelit

Financial Times menyebut waktu pengambilan gambar satelit memiliki kedekatan dengan sejumlah serangan yang terjadi terhadap fasilitas militer Amerika Serikat.

Donald Trump mengakui bahwa pesawat militer di Pangkalan Udara Prince Sultan mengalami serangan pada 14 Maret 2026

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya juga mengakui bahwa pesawat militer di Pangkalan Udara Prince Sultan mengalami serangan pada 14 Maret 2026.

Meski demikian, laporan tersebut tidak menyatakan secara pasti bahwa citra satelit menjadi penyebab langsung keberhasilan serangan.

Para analis hanya menyebut adanya dugaan bahwa data dari satelit dapat dipadukan dengan informasi lain untuk meningkatkan akurasi penentuan sasaran.

Laporan Mengenai Dukungan Citra Satelit dari Rusia

Sebelum informasi mengenai satelit TEE01B muncul, beredar pula laporan bahwa Rusia diduga memberikan citra satelit intelijen kepada Iran setelah konflik meningkat pada akhir Februari 2026.

Jika informasi dari citra satelit dipadukan dengan data lokasi telepon seluler dan berbagai sumber intelijen lainnya, maka proses identifikasi target disebut menjadi lebih presisi.

Dalam kondisi tersebut, rudal maupun drone yang diluncurkan tidak hanya mengandalkan perkiraan lokasi, tetapi juga koordinat yang diperoleh dari berbagai sumber informasi.

Perang Modern Semakin Bergantung pada Data Digital

Laporan Financial Times menggambarkan perubahan karakter peperangan modern, di mana data digital memiliki peran yang semakin penting dalam mendukung operasi militer.

Selain kemampuan persenjataan, informasi mengenai lokasi perangkat komunikasi, data komersial, citra satelit, hingga aktivitas digital pengguna kini dinilai dapat menjadi bagian dari proses pengumpulan intelijen.

Meski sejumlah dugaan dalam laporan tersebut belum memperoleh konfirmasi resmi dari seluruh pihak yang disebutkan, temuan tersebut menunjukkan bagaimana perkembangan teknologi informasi telah menciptakan tantangan baru dalam aspek keamanan militer.

Penggunaan perangkat komunikasi yang terhubung dengan jaringan seluler serta layanan berbasis lokasi kini menjadi salah satu aspek yang mendapat perhatian dalam perlindungan personel di wilayah konflik. (qa)

Referensi berita:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button