Konflik Iran vs AS Memasuki Pekan ke-20, Bloomberg Ungkap 6 Kesalahan Strategis Washington

WARTA BATAVIA – Konflik antara Iran dan Amerika Serikat masih berlanjut hingga memasuki pekan ke-20. Sejumlah laporan media internasional menyebut belum adanya penyelesaian yang jelas dipengaruhi oleh berbagai kesalahan perhitungan strategis sejak awal operasi militer berlangsung.
Laporan Bloomberg News menguraikan enam kesalahan utama yang disebut menjadi penyebab kebuntuan strategi Amerika Serikat. Sementara itu, laporan The New York Times menyoroti perubahan kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang terjadi hanya dalam waktu 24 jam terkait rencana pengenaan biaya bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Di sisi lain, berbagai laporan juga menyebut Iran masih mampu mempertahankan sistem komando, logistik, dan pertahanan militernya selama konflik berlangsung.
Bloomberg Sebut Enam Kesalahan Strategis Amerika Serikat
Bloomberg News menyebut kesalahan pertama adalah asumsi bahwa perang dapat diselesaikan dalam waktu singkat.
Sejak awal operasi, pembuat kebijakan di Washington memperkirakan serangan udara berskala besar akan melumpuhkan kemampuan militer Iran hanya dalam hitungan minggu.
Namun situasi di lapangan berkembang berbeda. Iran disebut mampu memulihkan jaringan komando dan mempertahankan koordinasi operasional sehingga konflik berubah menjadi perang berkepanjangan dengan biaya yang semakin besar.
Kesalahan kedua berkaitan dengan asumsi mengenai struktur kepemimpinan Iran.
Washington disebut meyakini bahwa serangan terhadap sejumlah komandan senior akan melemahkan sistem pertahanan Iran. Akan tetapi, menurut laporan tersebut, langkah itu justru memperkuat solidaritas domestik dan meningkatkan motivasi perlawanan.
Bloomberg menjelaskan bahwa proses pengambilan keputusan di Teheran berjalan melalui jaringan institusi, bukan bergantung pada satu figur tertentu.
Skenario Terburuk Dinilai Kurang Diantisipasi
Kesalahan ketiga adalah kurangnya antisipasi terhadap berbagai kemungkinan terburuk.
Washington disebut lebih banyak berfokus pada skenario terbaik sehingga dampak terhadap perdagangan internasional, distribusi energi, dan stabilitas ekonomi global tidak diperhitungkan secara memadai.
Gangguan terhadap jalur pelayaran internasional kemudian menjadi salah satu perhatian utama selama konflik berlangsung.
Target Ambisius Tidak Didukung Kapasitas Militer
Bloomberg juga menilai terdapat kesenjangan antara tujuan strategis dan kemampuan operasional Amerika Serikat.
Washington disebut memiliki target mendorong perubahan geopolitik terhadap Iran, tetapi pada saat yang sama tidak menunjukkan kesiapan mengerahkan pasukan darat dalam skala besar.
Pengalaman operasi militer di Irak dan Afghanistan disebut menjadi salah satu faktor yang membatasi pilihan kebijakan militer Amerika Serikat.
Proses Pengambilan Kebijakan Menjadi Sorotan
Kesalahan kelima berkaitan dengan proses penyusunan kebijakan.
Menurut Bloomberg, sejumlah keputusan penting dibuat dalam lingkaran penasihat yang terbatas sehingga berbagai asumsi tidak diuji secara menyeluruh.
Selain itu, masukan dari kalangan profesional dinilai belum dimanfaatkan secara maksimal dalam penyusunan strategi.
Kesalahan keenam adalah kecenderungan mengandalkan kekuatan militer sebagai pengganti strategi politik.
Akibatnya, berbagai keberhasilan taktis di lapangan disebut belum mampu menghasilkan keuntungan politik yang berkelanjutan.
Selat Hormuz Kembali Menjadi Perhatian Dunia
Perkembangan konflik juga berdampak terhadap jalur pelayaran energi internasional di Selat Hormuz.
The New York Times melaporkan bahwa pada Senin, 13 Juli 2026, Presiden Donald Trump mengumumkan rencana pengenaan biaya sebesar 20 persen terhadap setiap kapal kargo internasional yang melintasi Selat Hormuz.
Kebijakan tersebut disebut sebagai bentuk kompensasi atas perlindungan keamanan yang diberikan Angkatan Laut Amerika Serikat.
Namun rencana tersebut langsung mendapat penolakan dari berbagai pihak karena dinilai bertentangan dengan prinsip hukum laut internasional.
Kebijakan Berubah Dalam Waktu 24 Jam
Pada Selasa, 14 Juli 2026, Presiden Trump membatalkan kebijakan tersebut.
Pembatalan dilakukan setelah muncul protes dari sejumlah pemimpin negara-negara Arab di kawasan Teluk yang menyatakan keberatan terhadap rencana tersebut.
Trump kemudian mengatakan pembatalan dilakukan setelah negara-negara Teluk menjanjikan investasi dalam jumlah besar. Hingga saat itu belum ada dokumen resmi yang dipublikasikan mengenai rincian investasi tersebut.
Perubahan kebijakan dalam waktu singkat menjadi salah satu perkembangan yang banyak mendapat perhatian dalam dinamika konflik.
John Hannah Soroti Asumsi Awal Pemerintah AS
Mantan penasihat keamanan nasional Amerika Serikat, John Hannah, menyatakan bahwa operasi militer terhadap Iran sejak awal dibangun berdasarkan asumsi yang dinilai keliru.
Ia menyebut Washington memperkirakan pemerintahan Iran akan melemah hanya melalui tekanan militer dan serangan udara.
Namun menurut Hannah, tidak adanya mekanisme yang kuat untuk mengoreksi asumsi tersebut membuat kebijakan terus bergerak menjauh dari kondisi di lapangan.
Jalur Diplomasi Mengalami Kebuntuan
Selain operasi militer, proses diplomasi juga belum menunjukkan perkembangan berarti.
Gencatan senjata selama 60 hari yang berlangsung pada Juni 2026 dilaporkan berakhir setelah kembali terjadi serangan di berbagai wilayah.
Kebuntuan tersebut dikaitkan dengan belum tercapainya kesepakatan mengenai masa depan program nuklir Iran.
Direktur Studi Iran di Stanford University, Abbas Milani, menilai tim negosiasi Amerika Serikat belum sepenuhnya memahami kompleksitas sejarah dan dinamika politik kawasan Timur Tengah.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat pendekatan diplomasi Washington mengalami perubahan dalam waktu yang relatif singkat.
Iran Disebut Masih Mampu Menjaga Sistem Komando
Sementara itu, Mehr News Agency melaporkan bahwa sistem pertahanan Iran tetap berjalan selama 40 hari terakhir konflik.
Laporan tersebut menyebut jaringan komando nasional, logistik militer, dan sistem pertahanan masih mampu beroperasi secara efektif.
Kemampuan adaptasi yang cepat disebut menjadi salah satu faktor yang membuat struktur pertahanan Iran tetap berfungsi.
Iran juga dilaporkan masih mampu mengendalikan sejumlah wilayah perairan strategis sehingga membatasi efektivitas blokade laut yang dilakukan Amerika Serikat.
Situasi tersebut disebut membuat target utama Washington untuk mengubah strategi Iran belum tercapai.
Hingga pertengahan Juli 2026, konflik Iran dan Amerika Serikat masih berlangsung tanpa adanya penyelesaian permanen. Perkembangan militer maupun diplomatik diperkirakan akan terus menjadi perhatian komunitas internasional dalam beberapa waktu mendatang.
FAQ
Mengapa konflik Iran dan AS disebut mengalami kebuntuan?
Laporan Bloomberg menyebut terdapat enam kesalahan strategis dalam pengambilan keputusan yang dinilai memengaruhi jalannya operasi militer Amerika Serikat.
Apa isi kebijakan Donald Trump terkait Selat Hormuz?
Trump sempat mengumumkan rencana pengenaan biaya 20 persen bagi kapal kargo internasional yang melintasi Selat Hormuz, namun kebijakan tersebut dibatalkan sehari kemudian.
Apa dampak konflik terhadap kawasan?
Konflik disebut berdampak pada stabilitas jalur perdagangan energi internasional, proses diplomasi, serta dinamika keamanan di kawasan Timur Tengah.
Referensi berita:
