invisible hit counter
Nasional

KH. Raden Mas Muhammad Salim Al-Qosimi dan Manuskrip Walisongo (Bagian Satu)

Pesan Sunan Ampel untuk Nusantara Diungkap Kyai Raden Muhammad Salim, Umat Diminta Berpegang Teguh pada Ajaran Wali Songo

Warta BataviaJEMBER – Kyai Raden Muhammad Salim mengungkapkan sebuah pesan yang menurutnya berasal dari Sunan Ampel dan diwariskan secara turun-temurun melalui manuskrip keluarga. Dalam penjelasannya, ia menyebut pesan tersebut berisi nasihat kepada keturunan dan masyarakat agar tetap berpegang teguh pada ajaran para Wali Songo ketika menghadapi berbagai perubahan zaman.

Pernyataan itu disampaikan saat menjelaskan isi sejumlah manuskrip kuno yang disebut masih tersimpan oleh ahli waris keluarga. Menurutnya, pesan tersebut menjadi salah satu bagian penting dari warisan intelektual yang hingga kini masih dijaga dan sedang dipersiapkan untuk dikaji lebih lanjut secara ilmiah oleh para akademisi.

Pesan Sunan Ampel kepada Anak Cucu

Dalam pemaparannya, Kyai Raden Muhammad Salim menceritakan bahwa Sunan Ampel pernah mengumpulkan anak, cucu, buyut, hingga keturunannya untuk menyampaikan sebuah pesan penting mengenai kehidupan di masa mendatang.

Pesan tersebut disampaikan menggunakan bahasa Jawa kuno yang menurutnya berbunyi:

“Anak putu buyut canggah waringku kabeh… nek kowe kabeh kepengin slamet, cekelan waton sing kenceng.”

Menurut Kyai Raden Muhammad Salim, pesan tersebut mengandung makna bahwa pada suatu masa masyarakat akan menghadapi berbagai guncangan yang dapat memengaruhi keyakinan dan kehidupan beragama.

Ia menjelaskan bahwa istilah “sewengi ono lindu” menggambarkan datangnya masa yang penuh gejolak, sedangkan “lindu” dimaknai sebagai guncangan yang muncul akibat banyaknya aliran atau pemikiran yang berkembang di tengah masyarakat.

“Ketika suatu zaman nanti banyak aliran yang masuk dan menggoncang keyakinan manusia sehingga orang menjadi bingung menentukan mana yang benar dan mana yang salah, maka jika ingin selamat harus memegang waton dengan kuat,” jelasnya.

Makna “Cekelono Waton”

Kyai Raden Muhammad Salim kemudian menjelaskan makna kata waton yang disebut dalam pesan tersebut.

Menurutnya, kata waton bukan berarti batu atau benda tertentu, melainkan merupakan singkatan dari Wali Tanah Jawi atau ajaran para wali yang berdakwah di Pulau Jawa.

Ia menafsirkan bahwa pesan tersebut mengajak masyarakat agar tetap berpegang kepada ajaran Wali Songo ketika menghadapi berbagai perubahan zaman.

“Cekelono waton berarti peganglah ajaran Wali Tanah Jawa, yaitu piwulang atau ajaran para wali,” ujarnya.

Ia mengatakan bahwa ajaran tersebut menjadi pedoman agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh berbagai pemikiran yang dapat mengaburkan keyakinan agama.

Berpegang pada Ilmu Pengetahuan

Selain mengajak kembali kepada ajaran Wali Songo, Kyai Raden Muhammad Salim menegaskan bahwa inti ajaran para wali adalah mengutamakan ilmu pengetahuan.

Menurutnya, para Wali Songo membangun dakwah melalui pendidikan, akhlak, dan penguasaan ilmu, bukan melalui ajaran yang tidak memiliki dasar keilmuan.

Ia menyebutkan bahwa masyarakat hendaknya tidak mudah mengikuti berbagai ajaran yang tidak jelas sumber maupun landasan ilmiahnya.

“Yang diajarkan para wali adalah keilmuan, bukan khurafat ataupun ajaran yang tidak jelas,” katanya.

Kyai Raden Muhammad Salim juga menjelaskan karakter keilmuan Sunan Ampel

Sunan Ampel Dikenal sebagai Ahli Fikih

Dalam kesempatan yang sama, Kyai Raden Muhammad Salim juga menjelaskan karakter keilmuan Sunan Ampel.

Menurutnya, Sunan Ampel lebih dikenal sebagai seorang ulama yang memiliki keahlian di bidang fikih dan syariat Islam.

Ia mengatakan bahwa dalam berbagai manuskrip maupun tradisi keluarga, Sunan Ampel lebih banyak mengajarkan ilmu fikih, adab, dan akhlak dibandingkan kisah-kisah yang bersifat karamah.

“Beliau adalah ahli fikih dan ahli syariat. Yang banyak diajarkan adalah ilmu, adab, dan akhlak,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa penekanan terhadap pendidikan tersebut menjadi salah satu ciri utama dakwah Sunan Ampel dalam menyebarkan Islam di Nusantara.

Manuskrip Menjadi Sumber Sejarah

Selain membahas pesan Sunan Ampel, Kyai Raden Muhammad Salim menjelaskan bahwa berbagai informasi tersebut berasal dari manuskrip kuno yang diwariskan secara turun-temurun dalam keluarganya.

Ia mengaku memperoleh penjelasan mengenai isi manuskrip sejak masih muda melalui ayah dan kakeknya yang mampu membaca aksara kuno.

Menurutnya, tidak seluruh isi manuskrip langsung dipahami, namun sejumlah bagian telah diceritakan secara lisan dari generasi ke generasi.

Belakangan, ketika sebagian manuskrip mulai dibaca kembali oleh pihak yang memahami aksara kuno, isi naskah tersebut disebut memiliki kesesuaian dengan cerita yang pernah diterimanya dari keluarga.

Hal itu, menurutnya, semakin mendorong pentingnya penelitian lebih lanjut terhadap manuskrip-manuskrip tersebut.

Penentuan Usia Manuskrip Harus Dilakukan Ahlinya

Kyai Raden Muhammad Salim juga menyoroti pentingnya melibatkan ahli dalam menentukan usia sebuah manuskrip.

Ia mengatakan bahwa model aksara, gaya bahasa, serta karakter tulisan hanya dapat dianalisis oleh orang yang memiliki kompetensi di bidang filologi dan paleografi.

Menurutnya, seseorang yang tidak mampu membaca aksara kuno tidak dapat menentukan secara tepat kapan sebuah manuskrip ditulis.

“Yang mengetahui ini abad berapa adalah para ahlinya, karena mereka memahami model aksara dan gaya bahasa pada setiap zaman,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa banyak manuskrip mengalami penyalinan atau perubahan bentuk tulisan sehingga diperlukan penelitian ilmiah yang mendalam sebelum menarik kesimpulan mengenai asal-usul maupun usia naskah.

Penelitian Masih Berlangsung

Kyai Raden Muhammad Salim menegaskan bahwa seluruh manuskrip yang dimiliki ahli waris saat ini masih berada dalam tahap penelitian.

Ia menyatakan bahwa berbagai dokumen tersebut akan dikaji bersama tim yang terdiri atas akademisi, ahli sejarah, ahli bahasa, dan pakar aksara kuno agar hasilnya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Menurutnya, proses penelitian dilakukan secara terbuka sehingga berbagai pihak yang memiliki kompetensi dapat memberikan pembanding terhadap hasil kajian yang sedang berlangsung.

Bersambung ke Bagian 2: Kyai Raden Muhammad Salim Jelaskan Manuskrip Tahun 1021 Hijriah dan Pembahasan Kitab Sulamut Taufiq.

Referensi berita:

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button