KH. Raden Mas Muhammad Salim Al-Qosimi dan Manuskrip Walisongo (Bagian Empat – Penutup)

Kyai Raden Muhammad Salim Ajak Penelitian Manuskrip Nusantara Dilakukan Secara Ilmiah, Tekankan Pentingnya Kompetensi dan Verifikasi Data
Warta Batavia – JEMBER – Kyai Raden Muhammad Salim menegaskan bahwa penelitian terhadap manuskrip kuno Nusantara harus dilakukan secara ilmiah dengan melibatkan para ahli yang memiliki kompetensi sesuai bidangnya. Menurutnya, proses pengungkapan sejarah tidak cukup hanya berdasarkan dugaan ataupun narasi yang belum melalui proses verifikasi akademik.
Pernyataan tersebut disampaikan sebagai penutup penjelasannya mengenai manuskrip-manuskrip kuno yang saat ini masih berada dalam proses kajian oleh tim akademisi lintas disiplin. Ia mengatakan bahwa keterlibatan ahli filologi, paleografi, sejarah, bahasa, dan akademisi merupakan bagian penting agar hasil penelitian dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Kemampuan Membaca Aksara Menjadi Dasar Penelitian
Dalam keterangannya, Kyai Raden Muhammad Salim kembali menyoroti pentingnya kemampuan membaca aksara kuno sebelum seseorang memberikan penilaian terhadap sebuah manuskrip.
Menurutnya, bentuk tulisan yang digunakan dalam manuskrip Nusantara mengalami perkembangan dari masa ke masa sehingga diperlukan pemahaman khusus mengenai karakter aksara, gaya bahasa, dan sistem penulisannya.
Ia menjelaskan bahwa seseorang tidak dapat menentukan usia maupun asal-usul manuskrip apabila belum mampu membaca aksara yang digunakan dalam naskah tersebut.
“Kalau membacanya saja tidak bisa, bagaimana bisa menentukan ini berasal dari abad berapa atau memahami gaya bahasanya,” ujarnya.
Perbedaan Aksara Menjadi Petunjuk Zaman
Kyai Raden Muhammad Salim menjelaskan bahwa setiap periode sejarah memiliki karakter penulisan yang berbeda.
Menurutnya, perkembangan aksara Jawa, mulai dari bentuk-bentuk awal hingga penggunaan Hanacaraka pada periode berikutnya, menjadi salah satu petunjuk yang dipakai para ahli dalam memperkirakan masa penulisan manuskrip.
Ia menambahkan bahwa perubahan tersebut tidak hanya terlihat pada bentuk huruf, tetapi juga pada gaya bahasa, struktur kalimat, dan istilah yang digunakan.
Karena itu, menurutnya, penelitian manuskrip membutuhkan pemahaman yang menyeluruh terhadap perkembangan bahasa dan aksara Nusantara.
Ahli Tetap Membutuhkan Verifikasi
Menurut Kyai Raden Muhammad Salim, sekalipun seseorang memiliki keahlian dalam bidang sejarah atau manuskrip, proses penelitian tetap memerlukan verifikasi dari ahli lainnya.
Ia mengatakan bahwa penelitian ilmiah pada dasarnya dilakukan melalui pembandingan data, diskusi akademik, dan pengujian terhadap berbagai sumber yang tersedia.
Karena itu, tim yang disiapkan untuk meneliti manuskrip tidak hanya terdiri atas satu bidang ilmu, tetapi melibatkan berbagai disiplin agar hasil akhirnya lebih objektif.
Ia menilai pendekatan kolaboratif merupakan cara terbaik untuk memperoleh kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
Manuskrip Akan Dikaji Bersama Para Akademisi
Kyai Raden Muhammad Salim mengatakan bahwa manuskrip yang saat ini berada di tangan ahli waris akan dipelajari bersama para profesor, doktor, sejarawan, ahli bahasa, filolog, dan pakar aksara kuno.
Menurutnya, proses tersebut bertujuan untuk membuka berbagai informasi sejarah yang selama ini belum banyak diketahui masyarakat.
Ia juga menyatakan bahwa pihak keluarga membuka kesempatan bagi para peneliti yang memiliki kompetensi untuk ikut melakukan kajian terhadap manuskrip tersebut sesuai mekanisme yang telah disiapkan oleh tim.
Bukti Primer Dinilai Memiliki Nilai Historis Tinggi
Dalam penjelasannya, Kyai Raden Muhammad Salim menyebut manuskrip kuno sebagai salah satu bentuk bukti primer yang memiliki nilai penting dalam penelitian sejarah.
Ia menjelaskan bahwa manuskrip menyimpan informasi yang lebih luas dibandingkan sumber sejarah lain seperti prasasti karena memuat uraian panjang mengenai berbagai aspek kehidupan dan keilmuan pada zamannya.
Menurutnya, keberadaan manuskrip dapat membantu para peneliti memahami perkembangan pemikiran, pendidikan, tradisi keagamaan, serta hubungan antarulama di Nusantara.
Oleh karena itu, ia berharap dokumen-dokumen tersebut dapat diteliti secara sistematis sehingga memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan historiografi Indonesia.
Mengingatkan Pentingnya Tanggung Jawab Akademik
Kyai Raden Muhammad Salim juga mengingatkan bahwa setiap orang yang membahas sejarah memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan informasi berdasarkan data yang dapat diverifikasi.
Menurutnya, penyampaian informasi yang tidak didukung bukti maupun keahlian dapat menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Ia mengajak masyarakat untuk membedakan antara pendapat pribadi dengan hasil penelitian ilmiah yang telah melalui proses kajian akademik.
Dalam pandangannya, penelitian sejarah membutuhkan ketelitian, keterbukaan terhadap kritik, dan kesediaan menerima hasil penelitian berdasarkan fakta yang ditemukan.
Mengutamakan Pencarian Fakta
Menjelang akhir wawancara, Kyai Raden Muhammad Salim menegaskan bahwa tujuan utama penelitian terhadap manuskrip bukan untuk memenangkan perdebatan, melainkan untuk memperoleh pemahaman sejarah berdasarkan data primer.
Ia menyampaikan bahwa proses pencarian kebenaran memerlukan sikap terbuka, kerja sama antardisiplin ilmu, serta penghormatan terhadap metodologi penelitian yang berlaku.
Menurutnya, apabila seluruh proses dilakukan secara objektif, hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan kajian sejarah Islam di Nusantara sekaligus memperkaya khazanah ilmu pengetahuan Indonesia.
Penelitian Diharapkan Menghasilkan Rujukan Sejarah
Sebagai penutup, Kyai Raden Muhammad Salim menyampaikan harapannya agar penelitian terhadap manuskrip-manuskrip kuno dapat menghasilkan referensi sejarah yang bermanfaat bagi kalangan akademisi maupun masyarakat luas.
Ia berharap proses kajian yang sedang berlangsung mampu menghadirkan informasi yang didasarkan pada bukti primer, analisis ilmiah, serta kerja sama berbagai pakar sehingga dapat menjadi salah satu rujukan dalam penelitian sejarah Nusantara pada masa mendatang.
Referensi berita:



