Podcast Rhoma Irama Bahas Polemik Nasab Bersama KH Imaduddin Al-Bantani, Soroti Kajian Sejarah, DNA, dan Dakwah Pencerahan

WARTA BATAVIA – Rhoma Irama kembali membahas polemik nasab dalam podcast Rhoma Irama Official bersama KH Imaduddin Utsman Al-Bantani. Simak rangkuman pembahasan mengenai sejarah, kajian nasab, DNA, serta pandangan keduanya.
Podcast Rhoma Irama Bahas Polemik Nasab Bersama KH Imaduddin Al-Bantani, Soroti Kajian Sejarah, DNA, dan Dakwah Pencerahan
Rhoma Irama kembali menghadirkan KH Imaduddin Utsman Al-Bantani sebagai narasumber dalam podcast di kanal Rhoma Irama Official yang tayang pada 16 Januari 2026. Pada episode tersebut, keduanya kembali membahas polemik nasab yang menurut Rhoma telah menjadi perhatian publik sejak kajian yang dilakukan KH Imaduddin mulai ramai diperbincangkan pada 2022.
Sejak awal perbincangan, Rhoma Irama menjelaskan bahwa beberapa episode sebelumnya ia tidak lagi mengangkat tema polemik nasab. Namun, kali ini ia sengaja mengundang kembali KH Imaduddin untuk melakukan semacam kilas balik atau evaluasi terhadap perkembangan isu tersebut.
Menurut Rhoma, selama beberapa tahun terakhir ia mengaku menerima banyak tanggapan dari berbagai kalangan yang mengikuti perkembangan pembahasan tersebut.
“Banyak ulama, pengusaha, pejabat, dan masyarakat yang menurut saya mulai mengikuti perkembangan kajian ini,” ujar Rhoma Irama dalam pembukaan podcast.
Rhoma Irama Mengulas Perjalanan Kajian Nasab Sejak 2022
Dalam dialog tersebut, Rhoma meminta KH Imaduddin menjelaskan kembali latar belakang penelitian yang pernah ia lakukan.
Rhoma menyinggung bahwa KH Imaduddin sebelumnya dikenal dekat dengan kalangan yang selama ini menjadi bagian dari pembahasan polemik tersebut, sebelum akhirnya melakukan penelitian akademik mengenai sejarah nasab.
Menanggapi pertanyaan itu, KH Imaduddin mengawali jawabannya dengan mengutip salah satu ayat Al-Qur’an yang menurutnya berkaitan dengan sikap seseorang dalam mencari kebenaran.
Ia menjelaskan bahwa proses penelitiannya tidak terjadi secara instan, melainkan melalui perjalanan yang cukup panjang hingga akhirnya memutuskan melakukan kajian terhadap berbagai sumber sejarah.
Menurut penuturannya, salah satu titik awal munculnya ketertarikannya adalah setelah menyaksikan sejumlah video yang membahas klaim garis keturunan Nabi Muhammad SAW. Dari sana, ia mengaku mulai menelusuri berbagai literatur sejarah, ilmu nasab, filologi, hingga perkembangan kajian genetika.
Pembahasan Beralih pada Kajian DNA dan Sejarah
Salah satu bagian utama podcast membahas hubungan antara penelitian sejarah dengan perkembangan teknologi tes DNA.
Dalam pemaparannya, KH Imaduddin menyampaikan pandangannya mengenai penggunaan data genetika dalam penelitian silsilah keluarga. Ia menjelaskan bahwa sejumlah keluarga di kawasan Timur Tengah yang dikenal memiliki tradisi pencatatan nasab telah melakukan pengujian DNA secara mandiri.
Menurutnya, data tersebut menjadi salah satu bahan kajian yang ia pelajari bersama referensi sejarah dan literatur klasik.
Selama pemaparan berlangsung, Rhoma Irama beberapa kali mengajukan pertanyaan untuk memperjelas penjelasan narasumber, termasuk mengenai jenis-jenis pemeriksaan DNA dan bagaimana hasil penelitian tersebut dipahami dalam konteks kajian sejarah keluarga.
KH Imaduddin juga menjelaskan bahwa terdapat berbagai jenis tes DNA yang memiliki tujuan berbeda, mulai dari penelusuran garis paternal hingga analisis asal-usul populasi (ancestry).
Ia menekankan bahwa pembahasannya dalam podcast merupakan bagian dari hasil penelitian yang menurutnya menggabungkan pendekatan sejarah, filologi, dan genetika.
Diskusi Menyentuh Perdebatan Sejarah Nasab
Selain aspek genetika, pembahasan juga banyak menyinggung metode penelitian sejarah.
KH Imaduddin mengatakan bahwa dirinya menggunakan pendekatan kritik historiografi dalam membaca berbagai manuskrip yang berkaitan dengan silsilah keluarga tertentu.
Ia menjelaskan bahwa dalam penelitian sejarah diperlukan pembandingan antara berbagai sumber, termasuk dokumen yang berasal dari masa yang berdekatan dengan peristiwa yang sedang diteliti.
Menurutnya, metode tersebut bertujuan untuk melihat konsistensi informasi antarsumber sejarah.
Dalam kesempatan itu, ia juga menjelaskan sejumlah istilah yang menurutnya digunakan dalam kajian historiografi, termasuk pentingnya membedakan antara tradisi lisan, manuskrip, dan dokumen yang sezaman dengan suatu peristiwa.
Rhoma Irama Menanyakan Perkembangan Polemik
Memasuki pertengahan podcast, Rhoma Irama kemudian menanyakan perkembangan polemik nasab setelah beberapa tahun berlalu.
Menurut Rhoma, ia melihat adanya perubahan cara penyampaian dakwah dari sejumlah pihak yang sebelumnya ikut terlibat dalam polemik tersebut.
Ia menyampaikan pengamatannya bahwa terdapat perubahan istilah maupun pendekatan komunikasi yang menurutnya berbeda dibanding beberapa tahun sebelumnya.
Pernyataan tersebut kemudian ditanggapi KH Imaduddin dengan mengatakan bahwa dirinya lebih memilih memandang proses tersebut sebagai bagian dari dinamika dakwah dan penyampaian pandangan di ruang publik.
Ia mengatakan bahwa tujuan yang ia lakukan bukan memaksa semua orang menerima pandangannya, melainkan menyampaikan hasil kajian yang menurutnya telah ia teliti.
KH Imaduddin mengutip prinsip dalam Al-Qur’an mengenai tidak adanya paksaan dalam agama sebagai landasan sikapnya dalam berdakwah.
Membahas Peran Dakwah dan Penyampaian Informasi
Dalam podcast tersebut, KH Imaduddin juga menjelaskan pandangannya mengenai dakwah.
Ia mengatakan bahwa dakwah merupakan proses yang berlangsung terus-menerus dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Menurutnya, setiap orang memiliki peran masing-masing sehingga tidak semua hasil harus dicapai dalam satu masa.
Ia juga menyampaikan bahwa perbedaan pendapat merupakan bagian dari perjalanan sejarah umat manusia.
Karena itu, menurutnya, seseorang dapat memilih untuk menyampaikan pandangannya melalui argumentasi ilmiah tanpa harus memaksakan penerimaan kepada pihak lain.
Organisasi PWILS Ikut Dibahas
Percakapan kemudian bergeser pada pembahasan mengenai Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah (PWILS).
Rhoma Irama menyebut organisasi tersebut beberapa kali dalam dialog dan menanyakan perkembangan aktivitasnya.
Menanggapi hal itu, KH Imaduddin menjelaskan bahwa menurutnya peran organisasi tersebut adalah mendukung kegiatan dakwah yang mereka jalankan.
Ia mengatakan bahwa penyampaian pandangan kepada masyarakat dilakukan melalui forum diskusi, kajian, dan kegiatan organisasi.
Menurut penjelasannya, apabila terdapat kebijakan atau regulasi yang berkaitan dengan isu tersebut, hal itu menjadi kewenangan pemerintah dan lembaga negara.
Diskusi Mengenai Hadramaut dan Sejarah Regional
Pada bagian lain podcast, pembahasan melebar ke kondisi kawasan Hadramaut di Yaman.
Rhoma Irama meminta tanggapan KH Imaduddin mengenai perkembangan politik dan keamanan di wilayah tersebut.
KH Imaduddin kemudian menjelaskan sejumlah informasi sejarah mengenai beberapa kelompok dan dinamika politik di kawasan tersebut berdasarkan literatur yang pernah ia pelajari.
Pembahasan tersebut berlangsung dalam suasana santai dan sesekali diselingi candaan antara kedua pembicara.
Kajian Historiografi Kembali Menjadi Sorotan
Menjelang akhir dialog, KH Imaduddin kembali menjelaskan pendekatan historiografi yang menurutnya digunakan dalam penelitiannya.
Ia menerangkan pentingnya dokumen primer, manuskrip, dan bukti sezaman dalam penelitian sejarah.
Menurutnya, setiap klaim sejarah perlu dibandingkan dengan sumber-sumber yang dapat diverifikasi.
Ia juga menjelaskan bahwa perkembangan penelitian sejarah memungkinkan munculnya temuan-temuan baru seiring ditemukannya manuskrip atau dokumen yang sebelumnya belum diketahui.
Rhoma Irama kemudian menanggapi penjelasan tersebut dengan mengatakan bahwa menurutnya kajian sejarah perlu terus dikembangkan melalui penelitian akademik.
Penutup Podcast
Menjelang penutupan acara, Rhoma Irama mengapresiasi kehadiran KH Imaduddin dalam podcast tersebut.
Ia berharap diskusi mengenai sejarah, nasab, dan kajian ilmiah dapat terus dilakukan melalui forum-forum akademik maupun dialog terbuka.
Sementara itu, KH Imaduddin menutup pembicaraan dengan mengutip ayat Al-Qur’an yang mengajak umat untuk tidak saling berselisih serta tetap bersabar dalam menjalankan perjuangan.
Podcast kemudian ditutup dengan ucapan terima kasih kepada para penonton serta harapan agar dialog tersebut dapat menjadi bagian dari diskusi yang lebih luas mengenai sejarah dan kajian keilmuan.
FAQ
Kapan podcast ini ditayangkan?
Podcast tersebut tayang di kanal Rhoma Irama Official pada 16 Januari 2026.
Siapa narasumber dalam podcast tersebut?
Narasumber utama adalah KH Imaduddin Utsman Al-Bantani, sedangkan Rhoma Irama bertindak sebagai pewawancara.
Apa tema utama pembahasan?
Tema utamanya adalah perkembangan polemik nasab, kajian sejarah, filologi, penggunaan DNA dalam penelitian silsilah, serta pandangan mengenai dakwah.
Apakah podcast membahas penelitian DNA?
Ya. KH Imaduddin menjelaskan pandangannya mengenai penggunaan data genetika sebagai salah satu bahan kajian dalam penelitian sejarah dan nasab. Penjelasan tersebut disampaikan sebagai bagian dari pemaparannya dalam podcast.
Apakah artikel ini menyatakan bahwa seluruh klaim dalam podcast telah terbukti?
Tidak. Artikel ini merangkum isi percakapan podcast dan mengatribusikan pernyataan kepada narasumber. Klaim-klaim yang disampaikan dalam podcast merupakan bagian dari pandangan narasumber dalam diskusi tersebut dan tidak disajikan sebagai fakta yang telah dipastikan.
Sumber berita:





