KH Imaduddin Utsman Soroti Sejarah Berdirinya NU hingga Kajian Nasab dalam Ceramah di Kanal Ummatina

WARTA BATAVIA – Ceramah KH Imaduddin Utsman Al-Bantani menyinggung sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama (NU), polemik materi LKS, hingga kajian nasab yang menurutnya perlu dikaji berdasarkan manuskrip sejarah dan perkembangan ilmu pengetahuan.
KH Imaduddin Bahas Sejarah Berdirinya Nahdlatul Ulama
Dalam ceramah yang diunggah Kanal Ummatina pada 28 Juli 2026, KH Imaduddin Utsman Al-Bantani membahas berbagai isu yang berkaitan dengan sejarah Nahdlatul Ulama (NU), perkembangan kajian nasab, serta pandangannya mengenai pentingnya penelitian berbasis literatur sejarah.
Pada awal ceramah, KH Imaduddin menyoroti narasi yang menurutnya berkembang mengenai siapa saja tokoh yang berperan dalam pendirian Nahdlatul Ulama.
Ia menyampaikan bahwa berdasarkan pemahaman sejarah yang ia pelajari, pendirian NU berawal dari keinginan KH Hasyim Asy’ari untuk menyatukan para ulama dan pesantren di Nusantara setelah memperoleh petunjuk dari gurunya, KH Muhammad Khalil Bangkalan.
Menurut penjelasannya, petunjuk tersebut disampaikan melalui simbol berupa tongkat dan tasbih yang dikirimkan kepada KH Hasyim Asy’ari melalui perantaraan KH As’ad Syamsul Arifin.
KH Imaduddin mengatakan bahwa kisah tersebut telah lama dikenal di lingkungan pesantren dan, menurutnya, juga diceritakan langsung oleh KH As’ad Syamsul Arifin semasa hidupnya.
Soroti Materi LKS yang Menyebut Tokoh Pendiri NU
Dalam ceramah tersebut, KH Imaduddin juga menyinggung materi Lembar Kerja Siswa (LKS) yang menurutnya beredar di wilayah DKI Jakarta.
Ia mengatakan terdapat materi yang mencantumkan salah satu tokoh habib sebagai pendiri Nahdlatul Ulama.
Menurut KH Imaduddin, informasi tersebut berbeda dengan pemahaman sejarah yang ia yakini berdasarkan berbagai referensi yang telah dipelajarinya.
Ia menyampaikan bahwa perbedaan informasi semacam itu mendorongnya untuk menelusuri kembali berbagai dokumen sejarah agar memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai proses lahirnya organisasi tersebut.
Menilai Banyak Warga NU Belum Mengetahui Perdebatan yang Berkembang
KH Imaduddin mengatakan bahwa tidak semua kalangan pesantren mengikuti perkembangan perdebatan yang ramai dibahas melalui media sosial maupun platform video daring.
Menurutnya, banyak ulama senior lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengajar santri, membaca Al-Qur’an, mengkaji kitab, dan berdakwah di lingkungan pesantren dibanding mengikuti diskusi yang berkembang di internet.
Ia menyampaikan bahwa kondisi tersebut menyebabkan sebagian masyarakat, khususnya warga Nahdlatul Ulama, belum mengetahui berbagai polemik yang menurutnya muncul dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam ceramahnya, KH Imaduddin menyebut bahwa sebagian materi yang beredar melalui media digital mendorong dirinya untuk melakukan penelusuran lebih jauh terhadap berbagai sumber sejarah.
Menyinggung Pernyataan yang Dinilai Merendahkan Kiai
Pada bagian berikutnya, KH Imaduddin mengungkapkan bahwa ia pernah menemukan sejumlah tayangan ceramah di media sosial yang menurutnya memuat pernyataan-pernyataan yang dianggap merendahkan kalangan kiai pesantren.
Ia mengatakan tayangan-tayangan tersebut menjadi salah satu alasan dirinya terdorong untuk mengkaji lebih dalam berbagai persoalan yang berkaitan dengan sejarah, nasab, maupun literatur klasik.
Menurut KH Imaduddin, masyarakat memiliki kesempatan untuk melihat langsung berbagai materi yang beredar melalui platform digital sehingga dapat menilai sendiri isi ceramah yang beredar.
Kajian Nasab Menurut KH Imaduddin Harus Berdasarkan Sumber yang Dapat Diverifikasi
Memasuki pokok bahasan utama, KH Imaduddin menjelaskan pandangannya mengenai penelitian nasab.
Ia mengatakan bahwa sebuah silsilah, menurut kaidah yang dipelajarinya, tidak cukup hanya didasarkan pada sebuah klaim, tetapi perlu diuji menggunakan sumber-sumber yang dapat ditelusuri.
Dalam ceramah tersebut, ia menjelaskan konsep khabar atau berita sebagaimana dikenal dalam tradisi keilmuan Islam.
Menurut penjelasannya, sebuah berita dapat dikategorikan menjadi tiga bentuk.
Pertama, berita yang sesuai dengan fakta sehingga dapat diterima.
Kedua, berita yang bertentangan dengan fakta sehingga harus ditolak.
Ketiga, berita yang belum dapat dipastikan benar atau salah sehingga memerlukan penelitian lebih lanjut.
KH Imaduddin mengatakan bahwa pendekatan tersebut kemudian ia gunakan ketika meneliti berbagai silsilah yang menjadi objek kajiannya.
Sebut Kajian Dilakukan Melalui Manuskrip dari Berbagai Abad
Dalam ceramahnya, KH Imaduddin menyampaikan bahwa penelitian yang ia lakukan tidak hanya mengandalkan satu kitab.
Ia mengaku mengumpulkan berbagai manuskrip, kitab nasab, dan kitab sejarah dari beberapa abad Hijriah untuk membandingkan data yang terdapat di dalamnya.
Menurut penjelasannya, metode tersebut dilakukan agar setiap informasi dapat diverifikasi melalui berbagai sumber yang saling berkaitan.
Ia juga menyebut bahwa penelitian sejarah harus diawali dengan mengumpulkan seluruh referensi yang tersedia sebelum menarik suatu kesimpulan.
Pembahasan mengenai metode penelitian inilah yang kemudian menjadi pengantar bagi penjelasan KH Imaduddin mengenai kitab-kitab nasab, sumber sejarah klasik, serta kajian DNA yang dipaparkannya pada bagian selanjutnya.
KH Imaduddin Utsman Soroti Klaim Nasab, Sebut Kajian Manuskrip hingga DNA Jadi Dasar Penelitiannya
KH Imaduddin Menjelaskan Metode Penelitian yang Digunakannya
Dalam ceramahnya, KH Imaduddin Utsman Al-Bantani menjelaskan bahwa kesimpulan yang ia sampaikan mengenai persoalan nasab tidak muncul secara tiba-tiba. Ia mengatakan telah melakukan penelitian melalui metode sejarah dengan mengumpulkan berbagai sumber primer maupun sekunder yang berasal dari berbagai periode.
Menurutnya, langkah pertama yang dilakukan adalah mengumpulkan sebanyak mungkin referensi yang berkaitan dengan tokoh-tokoh yang menjadi objek penelitian. Ia menyebut metode tersebut sebagai heuristik, yakni tahapan awal dalam penelitian sejarah untuk memperoleh sumber-sumber yang relevan.
KH Imaduddin mengatakan bahwa ia menelusuri kitab-kitab nasab mulai dari abad ketiga hingga abad kesembilan Hijriah. Menurut penjelasannya, rentang waktu tersebut dipilih karena dianggap paling dekat dengan periode kehidupan tokoh-tokoh yang disebut dalam silsilah.
Sejumlah Kitab Nasab Disebut Menjadi Rujukan
Dalam ceramahnya, KH Imaduddin menyebut sejumlah kitab yang menurutnya dijadikan bahan penelitian.
Di antaranya adalah:
- Silsilatul Alawiyah
- Tahdzibul Ansab
- Al-Majdi
- Muntaqilatut Thalibiyah
- Asy-Syajarah Al-Mubarakah
- Al-Ashili
- karya-karya Ibnu Inabah
- An-Nafhah Al-Anbariyah
Selain kitab-kitab nasab, ia juga menyatakan mempelajari berbagai kitab sejarah, termasuk karya-karya yang membahas sejarah Yaman dan tokoh-tokoh pada masa tersebut.
Menurut KH Imaduddin, seluruh referensi itu dibandingkan satu sama lain untuk mengetahui apakah terdapat kesesuaian data mengenai tokoh-tokoh yang disebut dalam silsilah.
Menilai Tokoh yang Disebut dalam Silsilah Tidak Ditemukan pada Sumber Sejarah
Dalam penjelasannya, KH Imaduddin menyoroti sosok yang disebut sebagai Ubaid atau Ubed dalam rangkaian silsilah yang diperdebatkan.
Ia menyatakan telah mencari keberadaan tokoh tersebut dalam berbagai kitab sejarah maupun kitab tabaqat ulama yang membahas perkembangan keilmuan di Yaman.
Menurutnya, pencarian tersebut tidak menemukan keterangan mengenai sosok yang dimaksud sebagaimana disebutkan dalam silsilah yang ia kritik.
Ia juga mengatakan bahwa apabila seseorang benar-benar merupakan ulama besar atau mujtahid pada zamannya, maka seharusnya terdapat catatan mengenai tokoh tersebut dalam kitab-kitab biografi ulama maupun sejarah wilayah tempat ia hidup.
Membandingkan Narasi Nasab dengan Catatan Sejarah
KH Imaduddin menjelaskan bahwa penelitian sejarah tidak cukup hanya mengandalkan satu sumber.
Ia mengatakan setiap informasi perlu dibandingkan dengan berbagai dokumen lain yang berasal dari masa yang sama agar dapat diketahui tingkat kesesuaiannya.
Dalam ceramah tersebut, ia memberi contoh mengenai tokoh-tokoh yang menurutnya memiliki peran besar dalam suatu wilayah. Menurutnya, apabila seseorang benar-benar menjadi tokoh penting, maka biasanya namanya muncul pada lebih dari satu karya sejarah.
Atas dasar itu, ia mengatakan melakukan pencocokan terhadap berbagai manuskrip yang tersedia.
Menyinggung Contoh Narasi Sejarah Kemerdekaan Indonesia
Pada bagian lain ceramahnya, KH Imaduddin juga menyinggung contoh lain mengenai pentingnya verifikasi sejarah.
Ia menyebut adanya narasi yang berkembang bahwa Presiden Soekarno disebut mendatangi seorang habib sebelum membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Menurut KH Imaduddin, berdasarkan catatan sejarah yang ia pelajari, peristiwa tersebut tidak ditemukan.
Ia mengatakan kronologi menjelang pembacaan Proklamasi telah banyak ditulis dalam berbagai sumber sejarah sehingga menurutnya setiap klaim baru tetap perlu dibandingkan dengan dokumen-dokumen yang telah ada.
Menilai Informasi Harus Diuji Sebelum Dipercaya
KH Imaduddin mengatakan bahwa suatu informasi tidak otomatis dapat diterima hanya karena disampaikan oleh tokoh yang dikenal masyarakat.
Ia mengutip kaidah dalam ilmu hadis dan ilmu khabar mengenai pentingnya menguji kesesuaian suatu berita dengan fakta maupun sumber-sumber yang dapat diverifikasi.
Dalam penjelasannya, ia membagi berita menjadi beberapa kategori, yaitu berita yang sesuai dengan fakta, berita yang bertentangan dengan fakta, serta berita yang belum dapat dipastikan kebenarannya sehingga memerlukan penelitian lebih lanjut.
Menurutnya, pendekatan tersebut juga diterapkan dalam penelitian sejarah maupun penelitian nasab.
Pembahasan Berlanjut pada Kajian DNA
Setelah menguraikan metode penelitian berbasis manuskrip dan literatur sejarah, KH Imaduddin kemudian beralih membahas perkembangan penelitian genetika atau DNA.
Ia menyatakan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan modern menurutnya menjadi salah satu instrumen tambahan yang dapat digunakan dalam penelitian asal-usul keturunan.
Dalam ceramah tersebut, ia menjelaskan secara panjang mengenai konsep haplogroup, garis keturunan paternal, serta sejumlah hasil penelitian DNA yang menurutnya telah dipublikasikan oleh berbagai pihak.
Pembahasan mengenai DNA inilah yang kemudian menjadi salah satu bagian terpanjang dalam ceramah tersebut sebelum KH Imaduddin menutup penyampaiannya dengan ajakan agar masyarakat tetap menghormati perbedaan pandangan sekaligus mengedepankan kajian ilmiah dalam memahami persoalan sejarah maupun nasab.
KH Imaduddin Jelaskan Pandangannya tentang DNA sebagai Pendukung Kajian Nasab
Memasuki bagian akhir ceramahnya, KH Imaduddin Utsman Al-Bantani mengalihkan pembahasan dari kajian manuskrip menuju perkembangan ilmu genetika. Menurutnya, kemajuan teknologi memungkinkan penelitian mengenai garis keturunan dilakukan melalui pendekatan ilmiah selain penelusuran dokumen sejarah dan kitab-kitab nasab.
Ia menjelaskan bahwa tes DNA merupakan salah satu perkembangan ilmu pengetahuan modern yang, menurut pandangannya, dapat digunakan untuk membantu penelitian mengenai asal-usul garis keturunan seseorang.
Dalam ceramah tersebut, KH Imaduddin mengibaratkan pemeriksaan DNA sebagaimana pemeriksaan medis lain yang dilakukan menggunakan sampel biologis, seperti darah, rambut, atau air liur. Ia mengatakan bahwa hasil pemeriksaan tersebut diperoleh melalui analisis laboratorium.
Menurut penjelasannya, perkembangan teknologi genetika memungkinkan identifikasi hubungan biologis antargaris keturunan berdasarkan data DNA.
Penjelasan Mengenai Haplogroup
KH Imaduddin kemudian menjelaskan konsep haplogroup yang menurutnya digunakan dalam penelitian genetika untuk menelusuri garis keturunan laki-laki.
Ia menyampaikan bahwa setiap kelompok keturunan memiliki penanda genetik tertentu yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam penjelasannya, ia mengaitkan konsep tersebut dengan garis keturunan para nabi sebagaimana dipahaminya berdasarkan hasil penelitian yang ia rujuk.
Menurut KH Imaduddin, dalam ceramah tersebut ia menyebut bahwa keturunan Nabi Ibrahim melalui garis laki-laki memiliki penanda genetik tertentu yang menurutnya dapat ditelusuri melalui penelitian DNA.
Ia juga menyampaikan bahwa berbagai keluarga yang diakui sebagai keturunan Nabi di kawasan Timur Tengah telah menjalani pengujian DNA sebagaimana informasi yang ia sebutkan dalam ceramah tersebut.
Mengutip Hasil Penelitian yang Disebut Telah Dipublikasikan
KH Imaduddin mengatakan bahwa dirinya tidak berbicara sebagai ahli genetika. Ia menyatakan hanya menyampaikan informasi yang menurutnya berasal dari penelitian para pakar di bidang tersebut.
Dalam ceramahnya, ia menyebut adanya hasil penelitian DNA yang menurutnya menunjukkan perbedaan antara kelompok-kelompok tertentu dengan garis keturunan yang menjadi objek pembahasannya.
Ia juga menyinggung adanya pernyataan yang menurutnya berasal dari kalangan peneliti genetika mengenai hasil pengujian tersebut.
Meski demikian, uraian tersebut disampaikan sebagai bagian dari pandangan dan rujukan yang dipaparkan oleh KH Imaduddin dalam ceramahnya.
Menyinggung Perkembangan Kajian DNA di Tingkat Internasional
Selain membahas persoalan yang menjadi fokus ceramahnya, KH Imaduddin juga menyinggung sejumlah contoh penelitian DNA di tingkat internasional.
Ia mengangkat pembahasan mengenai penelitian terhadap komunitas Yahudi Khazar yang menurutnya pernah menjadi perhatian dalam diskusi sejarah dan genetika.
Menurut penjelasannya, perkembangan teknologi DNA telah memunculkan berbagai kajian baru mengenai asal-usul populasi di sejumlah kawasan dunia.
Contoh tersebut ia gunakan untuk menggambarkan bagaimana perkembangan ilmu pengetahuan, menurut pandangannya, dapat memengaruhi cara masyarakat memahami sejarah maupun silsilah keturunan.
KH Imaduddin Ajak Masyarakat Menghadapi Perbedaan Pendapat dengan Sikap Tenang
Menjelang akhir ceramah, KH Imaduddin menyampaikan bahwa perbedaan pandangan merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari.
Ia mengatakan tidak semua orang akan memiliki kesimpulan yang sama terhadap hasil penelitian maupun kajian yang dipaparkannya.
Dalam penyampaiannya, ia mengutip prinsip “lakum dinukum wa liya din” sebagai ajakan agar setiap pihak tetap menghormati keyakinan dan pendapat masing-masing.
Menurut KH Imaduddin, masyarakat dipersilakan mempelajari sendiri berbagai referensi yang disebutkannya sebelum mengambil kesimpulan.
Ia juga menyampaikan bahwa kitab-kitab yang menjadi rujukannya saat ini lebih mudah diperoleh dibandingkan masa lalu karena telah tersedia dalam bentuk cetakan maupun melalui perdagangan daring.
Ceramah Menutup dengan Ajakan Mengedepankan Kajian Ilmiah
Pada bagian penutup, KH Imaduddin kembali menegaskan bahwa materi yang disampaikannya merupakan hasil kajian yang menurutnya dilakukan melalui penelusuran manuskrip, kitab sejarah, kitab nasab, serta perkembangan penelitian DNA.
Ia menyampaikan bahwa masyarakat bebas menerima maupun tidak menerima hasil kajian tersebut, seraya mengajak agar setiap pembahasan dilakukan berdasarkan data yang dapat dipelajari.
Ceramah kemudian ditutup dengan penegasan bahwa perbedaan pandangan tidak seharusnya menjadi alasan untuk memutus hubungan antarsesama umat Islam, meskipun terdapat perbedaan dalam memahami sejarah maupun persoalan nasab.
FAQ
Apa pokok bahasan ceramah KH Imaduddin Utsman Al-Bantani?
Ceramah membahas pandangan KH Imaduddin mengenai sejarah Nahdlatul Ulama (NU), kajian nasab, penggunaan manuskrip sejarah, kitab-kitab nasab, serta perkembangan penelitian DNA yang menurutnya berkaitan dengan pembahasan tersebut.
Apa saja sumber yang disebut KH Imaduddin dalam ceramahnya?
Dalam ceramah tersebut, KH Imaduddin menyebut berbagai kitab nasab dan kitab sejarah dari beberapa abad Hijriah sebagai bahan kajiannya. Ia juga mengutip perkembangan penelitian DNA yang menurutnya relevan dengan tema yang dibahas.
Bagaimana KH Imaduddin menjelaskan penggunaan tes DNA?
Menurut penjelasannya, tes DNA merupakan salah satu pendekatan ilmiah modern yang dapat digunakan sebagai pendukung penelitian mengenai garis keturunan, selain penelusuran dokumen sejarah dan manuskrip.
Apa pesan penutup yang disampaikan KH Imaduddin?
KH Imaduddin mengajak masyarakat untuk mempelajari berbagai sumber secara langsung, menghormati adanya perbedaan pandangan, serta mengedepankan kajian ilmiah ketika membahas persoalan sejarah maupun nasab Nabi Muhammad Saw.
Catatan redaksional: Bagian artikel yang membahas klaim mengenai nasab, hasil tes DNA, maupun penilaian terhadap kelompok tertentu merupakan rangkuman atas pernyataan narasumber dalam ceramah yang diunggah Kanal Ummatina. Klaim-klaim tersebut adalah pernyataan narasumber.
Sumber berita:






