Dugaan Klaim Pemalsuan Makam Tokoh Sejarah Jadi Sorotan, Raden Dibyo Laksmono Paparkan Silsilah Keraton dan Data Keluarga

WARTA BATAVIA – Raden Dibyo Laksmono memaparkan silsilah Keraton Yogyakarta serta pandangannya mengenai dugaan klaim pemalsuan makam sejumlah tokoh sejarah dalam podcast Rhoma Irama Official. Simak penjelasan lengkapnya….
Dugaan pemalsuan identitas makam sejumlah tokoh sejarah kembali menjadi pembahasan dalam sebuah podcast di kanal Rhoma Irama Official yang tayang pada 20 Juli 2024. Dalam perbincangan tersebut, Rhoma Irama menghadirkan Raden Dibyo Laksmono (Den Dibyo), yang memperkenalkan diri sebagai keturunan Sri Sultan Hamengkubuwono II.
Selama lebih dari 30 menit, keduanya membahas berbagai hal mulai dari silsilah keluarga Keraton Yogyakarta, keberadaan makam KRT Sumodiningrat, hingga dugaan adanya perubahan identitas sejumlah makam tokoh sejarah yang menurut narasumber telah menjadi perbincangan di media sosial.
Dalam podcast itu, seluruh pernyataan mengenai dugaan pemalsuan makam, klaim silsilah, maupun identitas tokoh disampaikan sebagai pandangan para narasumber yang berbicara dalam acara tersebut.
Rhoma Irama Mengawali Pembahasan Soal Dugaan Pemalsuan Makam
Pada awal podcast, Rhoma Irama menyampaikan bahwa isu mengenai dugaan pemalsuan makam telah menjadi pembahasan yang viral di berbagai media sosial. Ia mengatakan sebelumnya juga pernah membahas persoalan serupa bersama narasumber lain.
Dalam kesempatan itu, Rhoma memperkenalkan Den Dibyo sebagai sosok yang dinilai memahami sejarah KRT Sumodiningrat karena berasal dari garis keturunan keluarga Keraton Yogyakarta.
Raden Dibyo Memperkenalkan Latar Belakang Keluarganya
Raden Dibyo menjelaskan dirinya lebih dikenal dengan nama Den Dibyo. Ia menyebut merupakan cicit Sri Sultan Hamengkubuwono II melalui jalur KGPA Mangkuningrat.
Ia juga memperlihatkan sejumlah dokumen keluarga yang menurut keterangannya berasal dari Keraton Yogyakarta, termasuk data silsilah, akta kelahiran, serta dokumen yang diterbitkan oleh Kawedanan Hageng Punakawan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat untuk keturunannya.
Menurutnya, dokumen tersebut menjadi bagian dari arsip keluarga yang selama ini disimpan turun-temurun.
Awal Mula Ketertarikan Meneliti Persoalan Silsilah
Den Dibyo mengatakan ketertarikannya terhadap persoalan silsilah bermula ketika menghadiri sebuah seminar di UIN Syarif Hidayatullah sekitar setahun sebelum podcast tersebut direkam.
Dalam forum itu, menurut penuturannya, pembahasan berkisar pada nasab, silsilah keluarga, dan DNA. Ia kemudian mempertanyakan adanya penyebutan “bin Yahya” yang dikaitkan dengan KRT Sumodiningrat.
Pertanyaan tersebut, kata dia, berangkat dari informasi mengenai adanya makam yang disebut-sebut sebagai makam KRT Sumodiningrat tetapi menggunakan identitas berbeda.
Menyoroti Klaim terhadap Makam KRT Sumodiningrat
Dalam podcast tersebut, Den Dibyo menjelaskan bahwa KRT Sumodiningrat merupakan menantu Sri Sultan Hamengkubuwono II sekaligus tokoh yang dikenal sebagai panglima perang pada masa Perang Geger Sepehi tahun 1812.
Ia kemudian mengungkapkan keberatannya terhadap klaim yang menurutnya menyebut KRT Sumodiningrat sebagai Habib Hasan bin Thaha bin Yahya.
Menurut Den Dibyo, klaim tersebut tidak sesuai dengan silsilah keluarga yang dimilikinya.
Ia juga menyampaikan telah menemukan jejak digital mengenai pernyataan tersebut dan mengaku sebagai pihak keluarga merasa keberatan atas penyebutan tersebut.
Persoalkan Penggunaan Nama “bin Yahya”
Salah satu poin yang banyak dibahas dalam podcast adalah penggunaan nama “bin Yahya” yang dikaitkan dengan KRT Sumodiningrat.
Den Dibyo berpendapat bahwa apabila seseorang menggunakan nama “bin Yahya”, maka menurut pemahamannya nama ayah tokoh tersebut seharusnya Yahya.
Ia kemudian mengaitkan logika tersebut dengan silsilah keluarga Keraton Yogyakarta yang menurutnya telah terdokumentasi dalam berbagai arsip keluarga sejak lama.
Mengunjungi Makam di Jejeran Bantul
Den Dibyo mengungkapkan bahwa setelah mengikuti seminar tersebut, ia mendatangi makam yang menurutnya merupakan makam asli KRT Sumodiningrat di kawasan Jejeran, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Ia mengatakan kunjungan itu dilakukan bersama keluarga, rekan musisi, serta sejumlah akademisi.
Dalam penjelasannya, kawasan Jejeran disebut sebagai kompleks makam keluarga yang memiliki hubungan dengan Ki Jejer, tokoh yang disebut sebagai guru Sultan Agung.
Ia menjelaskan susunan makam di kawasan tersebut menurut versi yang diketahuinya, termasuk posisi makam anggota keluarga lainnya.
Menjelaskan Sejarah Kompleks Makam Kerajaan
Selain Jejeran, Den Dibyo juga menjelaskan keberadaan beberapa kompleks makam penting di Yogyakarta.
Ia menyebut Kota Gede sebagai lokasi pemakaman sejumlah tokoh Mataram Islam, sementara Imogiri menjadi tempat dimakamkannya Sultan Agung dan beberapa Sultan Yogyakarta berikutnya.
Penjelasan mengenai lokasi makam tersebut disampaikan sebagai bagian dari uraian sejarah keluarga yang menurut narasumber berkaitan dengan pembahasan silsilah Keraton Yogyakarta.
Menilai Bukti Sejarah Perlu Didukung Manuskrip
Dalam podcast, Den Dibyo juga menyampaikan pandangannya mengenai metode pembuktian sejarah.
Menurutnya, kajian sejarah seharusnya tidak hanya bergantung pada kesaksian lisan, tetapi juga didukung oleh manuskrip, prasasti, artefak, bangunan bersejarah, dan berbagai dokumen yang dapat diverifikasi.
Ia mencontohkan berbagai peninggalan budaya seperti keris dan gamelan yang menurutnya dapat dijadikan bagian dari bukti sejarah.
Menyinggung Penelitian KH Imaduddin Utsman
Dalam bagian lain podcast, Rhoma Irama mengaitkan pembahasan tersebut dengan penelitian KH Imaduddin Utsman mengenai silsilah Baalawi.
Den Dibyo kemudian menyampaikan bahwa menurut pandangannya, pembahasan mengenai nasab semestinya mengacu pada manuskrip sejarah dan penelitian akademik.
Pembahasan mengenai penelitian tersebut muncul dalam konteks pentingnya penggunaan sumber tertulis dalam kajian sejarah sebagaimana dibicarakan kedua narasumber.
Pembahasan Berlanjut ke Pangeran Diponegoro
Selain KRT Sumodiningrat, podcast juga membahas Pangeran Diponegoro.
Den Dibyo mengatakan dirinya pernah mendatangi Banyumas untuk menemui pihak keluarga yang menurut keterangannya masih memiliki hubungan dengan garis keturunan Diponegoro.
Ia menyebut telah melihat dokumen dan buku yang menurutnya memuat silsilah keluarga tersebut.
Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan pandangannya mengenai sejumlah klaim yang menurutnya berkembang terhadap tokoh-tokoh sejarah nasional.
Pandangan Mengenai Klaim terhadap Tokoh Sejarah
Rhoma Irama kemudian menanyakan pandangan Den Dibyo mengenai adanya dugaan klaim terhadap sejumlah tokoh sejarah Indonesia.
Menanggapi pertanyaan itu, Den Dibyo menyampaikan penilaiannya mengenai fenomena tersebut.
Ia juga mengatakan alasan dirinya akhirnya membuka identitas keturunan keluarga Keraton Yogyakarta karena merasa perlu menjelaskan versi sejarah yang diketahuinya.
Menyinggung Perubahan Informasi pada Platform Digital
Dalam podcast tersebut, Den Dibyo turut menyampaikan bahwa menurut pengamatannya, perubahan yang dipersoalkan tidak hanya berkaitan dengan fisik makam.
Ia mengaku menemukan perubahan informasi pada platform digital, termasuk peta daring dan media sosial, yang menurutnya berkaitan dengan identitas sejumlah tokoh sejarah.
Pernyataan tersebut disampaikan sebagai hasil pengamatan pribadi narasumber dalam podcast.
Pembahasan Mengenai Kompleks Makam Lain
Podcast kemudian berlanjut dengan pembahasan mengenai kompleks makam lain di wilayah Yogyakarta.
Den Dibyo menjelaskan adanya makam dengan nisan yang menurutnya merupakan nisan baru serta memuat gelar tertentu.
Ia mengaitkan pembahasan tersebut dengan hasil pengamatannya terhadap sejumlah kompleks makam di Yogyakarta.
Rhoma Irama Menceritakan Pengalaman Pribadi
Menjelang akhir podcast, Rhoma Irama menceritakan pengalaman pribadinya yang menurut pengakuannya pernah menerima ajakan melalui sambungan telepon untuk mendaftarkan diri sebagai bagian dari Rabithah Alawiyah. Dia mengaku ditawari gelar “HABIB” gratis tanpa bayar.
Ia mengatakan pengalaman tersebut membuatnya semakin memperhatikan pembahasan mengenai klaim terhadap sejumlah tokoh sejarah yang dibicarakan dalam podcast.
Penutup Podcast
Pada bagian penutup, Rhoma Irama dan Den Dibyo mengajak masyarakat untuk tetap mengedepankan pencarian kebenaran berdasarkan kapasitas masing-masing.
Rhoma juga mengutip ayat Al-Qur’an serta hadis mengenai amar makruf nahi mungkar sebagai penutup diskusi sebelum podcast diakhiri.
FAQ
Siapa Raden Dibyo Laksmono?
Dalam podcast, Raden Dibyo Laksmono memperkenalkan diri sebagai cicit Sri Sultan Hamengkubuwono II melalui jalur KGPA Mangkuningrat.
Apa topik utama podcast Rhoma Irama Official 20 Juli 2024?
Podcast membahas dugaan klaim terhadap sejumlah makam tokoh sejarah, silsilah Keraton Yogyakarta, serta pandangan narasumber mengenai penggunaan dokumen sejarah dan manuskrip dalam pembuktian sejarah.
Apa yang dijadikan dasar penjelasan Den Dibyo?
Menurut penjelasannya, ia merujuk pada dokumen silsilah keluarga, arsip Keraton, pengamatan lapangan, serta manuskrip dan peninggalan sejarah yang menurutnya relevan.
Catatan redaksi: Artikel ini merupakan pemberitaan mengenai isi perbincangan dalam podcast Rhoma Irama Official tanggal 20 Juli 2024. Pernyataan-pernyataan yang dimuat merupakan penyampaian narasumber dalam podcast tersebut.
Sumber berita:







