KH Ubaidillah Tamam Munji Soroti Kiai Miftahul Ahyar dan Dinamika NU

WARTA BATAVIA – JAKARTA — KH Ubaidillah Tamam Munji membahas sosok KH Miftahul Ahyar serta dinamika kepemimpinan dan kehidupan organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Penjelasan tersebut disampaikan melalui kanal YouTube UBAIDILLAH TAMAM MUNJI pada 11 September 2026.
Dalam penjelasannya, KH Ubaidillah Tamam Munji mengangkat sebuah pandangan mengenai kemungkinan terjadinya upaya untuk membuat NU menjadi lemah melalui pemilihan figur tertentu sebagai pemimpin.
Ia menyampaikan pandangan tersebut sembari menceritakan percakapannya dengan seorang tamu dari desa. Menurutnya, meskipun tamu tersebut bekerja sehari-hari sebagai petani dan peternak serta belum pernah menempuh pendidikan pesantren, ia memiliki kemampuan membaca kitab dan cara berpikir yang dinilai cerdas.
Pembahasan tersebut kemudian mengarah pada karakter KH Miftahul Ahyar yang disebut sebagai sosok saleh, polos, tulus, tawadhu, dan tidak neko-neko.
KH Ubaidillah Munji Bahas Karakter KH Miftahul Ahyar
KH Ubaidillah Tamam Munji mengatakan KH Miftahul Ahyar merupakan sosok yang sangat baik dan memiliki karakter yang sederhana.
Menurut dia, karakter tersebut membuat KH Miftahul Ahyar tidak selalu mempertimbangkan aspek politik dalam melihat berbagai fenomena yang terjadi.
Ia menggunakan istilah hikmatul hukama dan siasatul mulk ketika menjelaskan relasi antara ulama, ilmu, dan kekuasaan.
Dalam penjelasannya, KH Ubaidillah menyebut KH Miftahul Ahyar sebagai sosok yang lebih mengedepankan kebaikan dan sikap husnuzan terhadap berbagai keadaan.
“Dalam kondisi apapun Kiai Miftah itu orang baik.”
Pernyataan tersebut menjadi salah satu pesan utama yang disampaikan dalam pembahasan KH Ubaidillah Tamam Munji.
Ia menekankan bahwa karakter baik KH Miftahul Ahyar tetap harus dihormati dan didoakan dalam berbagai kondisi.
Konsep Hikmatul Hukama dan Siasatul Mulk
Dalam penjelasannya, KH Ubaidillah Tamam Munji mengaitkan kepemimpinan ulama dengan kemampuan membaca realitas.
Ia menyebut seorang ulama tidak hanya berhadapan dengan persoalan keilmuan, tetapi juga perlu memahami konteks ketika berhubungan dengan kekuasaan.
Menurut uraian tersebut, hikmatul hukama berkaitan dengan kebijaksanaan yang perlu dipertimbangkan oleh seorang ulama dalam menghadapi berbagai kondisi.
Sementara itu, istilah siasatul mulk digunakan dalam pembahasan mengenai politik dan tata kelola kekuasaan.
KH Ubaidillah mengatakan, karakter KH Miftahul Ahyar yang sangat mengedepankan kebaikan dan husnuzan membuat aspek-aspek tersebut menjadi bagian yang turut diperbincangkan.
Ia menyampaikan bahwa seorang pemimpin atau ulama perlu melakukan kontekstualisasi terhadap ilmu yang dimilikinya agar dapat diterapkan dalam realitas kehidupan.
Disebut Ada Kekhawatiran NU Mudah Dikendalikan
Dalam bagian lain penjelasannya, KH Ubaidillah Tamam Munji menyebut adanya pandangan bahwa figur yang sangat baik, saleh, polos, dan tidak neko-neko dapat menjadi lebih mudah dikendalikan oleh pihak tertentu.
Dalam transkrip tersebut, pihak yang disebut “Mr. X” digambarkan menyukai model kepemimpinan seperti itu.
KH Ubaidillah mengatakan, berdasarkan pandangan tersebut, karakter baik KH Miftahul Ahyar berpotensi membuat pihak tertentu menyukai sosoknya.
Namun, ia juga menyampaikan bahwa warga NU tidak seluruhnya memiliki karakter yang sama.
Menurutnya, terdapat banyak kader dan warga NU yang memiliki sikap kritis, perspektif transformatif, serta pengalaman dalam berbagai bidang.
Banyak Kader NU Disebut Memiliki Perspektif Transformatif
KH Ubaidillah Tamam Munji menyebut keberadaan kader-kader NU yang aktif dalam berbagai bidang.
Ia menyebut sebagian warga NU menjadi aktivis demokrasi, aktivis hak asasi manusia (HAM), serta ilmuwan.
Selain itu, ia menyebut adanya kader-kader yang mendapatkan pencerahan dari pemikiran dan gerakan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
Menurut KH Ubaidillah, keberadaan kader-kader tersebut membuat dinamika NU tidak hanya ditentukan oleh figur yang berada pada posisi pimpinan tertinggi.
Ia menyebut NU memiliki banyak stok aktivis yang mempunyai pemikiran transformatif dan kritis.
Pengaruh Pemikiran Gus Dur
Nama KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur juga disebut dalam penjelasan tersebut.
KH Ubaidillah mengatakan terdapat kader NU yang mendapatkan pengaruh dari gerakan Gus Dur, baik yang berada di dalam struktur NU maupun di luar struktur organisasi.
Menurut penjelasan tersebut, nilai-nilai yang berkaitan dengan demokrasi, kemanusiaan, keadilan, dan kesetaraan menjadi bagian dari pembahasan mengenai peran kader muda NU.
Kisah Tamu dari Desa yang Bisa Membaca Kitab
Di tengah pembahasannya, KH Ubaidillah Tamam Munji menceritakan seorang tamu dari desa yang datang menemuinya.
Ia menggambarkan tamu tersebut sebagai orang desa yang bekerja dengan merawat kambing dan sapi serta mencangkul di sawah.
Tamu tersebut disebut tidak bersekolah dan belum pernah mondok. Meski demikian, menurut KH Ubaidillah, tamu tersebut memiliki kemampuan membaca kitab yang baik.
Selain kemampuan membaca kitab, KH Ubaidillah juga menyebut tamunya mempunyai cara berpikir yang cerdas dan kemampuan memahami persoalan.
Percakapan dengan tamu tersebut kemudian menghasilkan pesan mengenai KH Miftahul Ahyar.
Menurut KH Ubaidillah, tamunya menyampaikan bahwa KH Miftahul Ahyar merupakan orang baik yang tetap harus didoakan dalam kondisi apa pun.
Pesan untuk Tetap Mendoakan KH Miftahul Ahyar
Pesan yang disampaikan tamu tersebut menjadi bagian yang cukup ditekankan oleh KH Ubaidillah.
Ia menyampaikan bahwa karakter KH Miftahul Ahyar sebagai orang baik perlu dilihat secara proporsional.
Sikap husnuzan yang melekat pada sosok KH Miftahul Ahyar juga disebut sebagai bagian dari karakter pribadinya.
KH Ubaidillah kemudian menyampaikan harapannya agar KH Miftahul Ahyar senantiasa mendapatkan anugerah dan perlindungan dari Allah SWT.
Ia juga mendoakan agar KH Miftahul Ahyar tetap diberikan kesehatan dan dapat menjalankan kepemimpinan NU.
Kader Muda NU Diminta Menghidupkan Pencerahan Gus Dur
Pada bagian akhir penjelasannya, KH Ubaidillah Tamam Munji berbicara mengenai peran kader muda NU.
Ia menyebut kader-kader muda NU yang energik perlu memiliki perspektif transformatif dan menghidupkan kembali pencerahan yang dikaitkan dengan pemikiran KH Abdurrahman Wahid.
Menurut penjelasan tersebut, aktivitas masyarakat sipil atau civil society, demokrasi, kemanusiaan, keadilan, dan kesetaraan merupakan sejumlah hal yang perlu terus berjalan.
Ia juga menyebut adanya kekhawatiran terhadap kondisi kemanusiaan, keadilan, dan kesetaraan di Indonesia.
Namun, dalam penjelasannya, ia menyebut keberadaan kader-kader yang tercerahkan serta berbagai organisasi masyarakat dapat menjadi bagian dari dinamika masyarakat sipil.
Muhammadiyah Juga Disebut dalam Pembahasan
Selain NU, KH Ubaidillah Tamam Munji juga menyebut Muhammadiyah dalam penjelasannya.
Ia mengatakan terdapat organisasi-organisasi masyarakat yang memiliki kader dan kelompok yang tercerahkan.
Pernyataan tersebut disampaikan ketika membahas pentingnya keberadaan masyarakat sipil, demokrasi, kemanusiaan, keadilan, dan kesetaraan.
Pembahasan tersebut menjadi bagian penutup dari penjelasan KH Ubaidillah Tamam Munji mengenai KH Miftahul Ahyar dan dinamika kaderisasi di lingkungan NU.
Doa untuk KH Miftahul Ahyar
Menutup penjelasannya, KH Ubaidillah Tamam Munji menyampaikan doa untuk KH Miftahul Ahyar.
Ia berharap KH Miftahul Ahyar selalu berada dalam anugerah dan perlindungan Allah SWT.
Ia juga berharap KH Miftahul Ahyar diberikan kesehatan serta dapat terus menjalankan kepemimpinan NU.
Pembahasan tersebut disampaikan dalam video yang diunggah melalui kanal YouTube UBAIDILLAH TAMAM MUNJI pada 11 September 2026.
Poin-Poin Utama Pernyataan KH Ubaidillah Tamam Munji
Beberapa poin utama yang disampaikan dalam penjelasan tersebut meliputi:
- KH Miftahul Ahyar disebut sebagai sosok yang saleh, polos, tulus, tawadhu, dan tidak neko-neko.
- Karakter KH Miftahul Ahyar dikaitkan dengan sikap husnuzan terhadap berbagai fenomena.
- KH Ubaidillah membahas pentingnya memahami hikmatul hukama dan siasatul mulk dalam konteks hubungan ulama dengan kekuasaan.
- Dalam penjelasan tersebut muncul istilah “Mr. X” yang disebut menyukai model kepemimpinan tertentu.
- KH Ubaidillah menyebut banyak warga NU memiliki sikap kritis dan perspektif transformatif.
- Aktivis demokrasi, aktivis HAM, dan ilmuwan dari kalangan warga NU turut disebut.
- Pemikiran dan gerakan Gus Dur disebut memiliki pengaruh terhadap sebagian kader NU.
- Kader muda NU disebut memiliki peran dalam menghidupkan kembali pencerahan Gus Dur.
- Civil society, demokrasi, kemanusiaan, keadilan, dan kesetaraan disebut dalam pembahasan.
- KH Ubaidillah menutup penjelasan dengan doa untuk kesehatan dan perlindungan KH Miftahul Ahyar.
FAQ
Siapa KH Ubaidillah Tamam Munji?
KH Ubaidillah Tamam Munji merupakan tokoh yang dalam video di kanal YouTube UBAIDILLAH TAMAM MUNJI menyampaikan pembahasan mengenai KH Miftahul Ahyar, dinamika NU, kader muda, dan pentingnya perspektif transformatif.
Apa yang dibahas KH Ubaidillah Tamam Munji pada 11 September 2026?
Pembahasan tersebut antara lain mengenai karakter KH Miftahul Ahyar, hubungan antara ulama dan kekuasaan, konsep hikmatul hukama dan siasatul mulk, serta keberadaan kader NU yang kritis dan transformatif.
Bagaimana KH Ubaidillah menggambarkan KH Miftahul Ahyar?
Dalam penjelasannya, KH Ubaidillah menggambarkan KH Miftahul Ahyar sebagai sosok yang sangat baik, saleh, polos, tulus, tawadhu, dan tidak neko-neko.
Apa yang dimaksud dengan hikmatul hukama dalam pembahasan tersebut?
Dalam konteks penjelasan KH Ubaidillah, hikmatul hukama dibicarakan sebagai aspek kebijaksanaan yang perlu dipertimbangkan seorang ulama ketika menghadapi dan melakukan transformasi dalam relasinya dengan penguasa.
Apa yang dimaksud siasatul mulk dalam pembahasan tersebut?
Siasatul mulk disebut KH Ubaidillah ketika membahas aspek politik dan relasi antara kepemimpinan, ulama, serta kekuasaan.
Apa pesan tamu dari desa kepada KH Ubaidillah?
Menurut cerita KH Ubaidillah, tamu tersebut menyampaikan bahwa dalam kondisi apa pun KH Miftahul Ahyar merupakan orang baik dan tetap perlu didoakan.
Mengapa kader muda NU disebut dalam penjelasan?
Kader muda NU disebut karena KH Ubaidillah membahas pentingnya kader yang memiliki perspektif transformatif, kritis, serta memahami nilai demokrasi, kemanusiaan, keadilan, dan kesetaraan.
Apa kaitan Gus Dur dengan pembahasan tersebut?
KH Ubaidillah menyebut adanya kader NU yang mendapatkan pencerahan dari gerakan dan pemikiran KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, baik di dalam maupun di luar struktur NU.
Apa harapan KH Ubaidillah untuk KH Miftahul Ahyar?
KH Ubaidillah menyampaikan doa agar KH Miftahul Ahyar selalu mendapatkan anugerah dan perlindungan Allah SWT, diberikan kesehatan, serta tetap dapat memimpin NU.
Sumber: MR X DI BALIK KEZUHUDAN KH MIFTACHUL AKHYAR, REALITAS AKTIVITAS NU, DAN WARGA NAHDLIYIN





