invisible hit counter
INSPIRASI

Ulasan Lirik Lagu “Majelis Ilmu Kiyai”: Ketika Panggung Dakwah Tak Cukup Tanpa Ilmu

WARTA BATAVIA – Lagu “Majelis Ilmu Kiyai” hadir dengan lirik yang sederhana, tetapi membawa pesan yang cukup dalam tentang pentingnya ilmu dalam kehidupan beragama. Lagu ini menggambarkan kegelisahan terhadap kondisi ketika kemeriahan sebuah majelis, popularitas seorang pendakwah, atau ramainya panggung dakwah tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman ilmu agama yang diterima jamaah.

Melalui bait-baitnya, lagu tersebut mengajak pendengar untuk kembali menempatkan ilmu sebagai inti dalam mencari bimbingan keagamaan. Pesannya tidak semata-mata tentang siapa yang berada di atas panggung, melainkan tentang apa yang diperoleh seseorang setelah menghadiri majelis: apakah semakin memahami agama, semakin mengenal akhlak, atau justru hanya terbawa suasana.

Salah satu bagian lirik yang paling kuat berbunyi:

“Seribu habib tiada guna
Bila ilmu tak didapat olehmu”

Kalimat tersebut menjadi pusat pesan lagu. Namun, jika dibaca secara utuh, lirik “Majelis Ilmu Kiyai” sebenarnya tidak hanya berbicara tentang habaib. Lagu ini menyampaikan kritik terhadap dakwah yang kehilangan substansi ilmu, siapa pun tokoh yang menyampaikannya.

Di tengah masyarakat yang semakin mudah mengakses ceramah melalui YouTube, TikTok, Facebook, Instagram, dan berbagai platform digital, pesan tentang pentingnya memilih majelis ilmu menjadi semakin relevan.

Makna Lagu “Majelis Ilmu Kiyai”

Secara umum, lagu “Majelis Ilmu Kiyai” berbicara mengenai perjalanan seseorang dalam mencari ilmu agama.

Bait pembuka mengajak pendengar meninggalkan sebuah majelis yang dalam perspektif lirik dianggap lebih menonjolkan suara daripada ilmu:

“Ayo teman mari dengarlah
Tinggalkanlah majelis ini (majelis Habib)
Tiada ilmu hanya suara
Ke Kiyai Ulama kita pergi”

Lirik tersebut menggambarkan perbedaan antara kemeriahan dakwah dan kedalaman ilmu.

“Suara” dalam konteks lagu dapat dimaknai sebagai simbol dari sesuatu yang menarik perhatian secara lahiriah: gaya berbicara, popularitas, penampilan, kemampuan menguasai panggung, atau jumlah jamaah.

Sementara itu, “ilmu” ditempatkan sebagai sesuatu yang lebih mendasar.

Dengan demikian, pesan utama lagu bukan sekadar mengajak berpindah dari satu majelis ke majelis lainnya. Lebih jauh, lagu ini mengingatkan bahwa seorang pencari ilmu perlu bertanya kepada dirinya sendiri: apa yang sebenarnya saya cari ketika datang ke majelis agama?

Apakah sekadar hiburan?

Apakah ingin mendengar suara yang merdu?

Apakah ingin mengikuti tokoh yang sedang populer?

Ataukah benar-benar ingin mendapatkan ilmu yang dapat mengubah kehidupan?

Kritik terhadap Dakwah yang Lebih Menguasai Panggung daripada Ilmu

Salah satu tema yang terasa kuat dalam lagu ini adalah kritik terhadap fenomena ketika kemampuan menguasai panggung dakwah tidak selalu diikuti dengan kedalaman ilmu agama.

Lagu tersebut menggambarkan sosok pendakwah yang mampu menarik perhatian jamaah, tetapi menurut narasi lirik tidak memberikan ilmu sebagaimana yang diharapkan.

Hal ini menjadi penting karena dunia dakwah modern telah mengalami perubahan besar.

Dahulu, seseorang yang ingin belajar agama biasanya mendatangi pesantren, madrasah, masjid, atau majelis tertentu secara langsung. Kini, seseorang dapat mendengar ceramah dari berbagai tokoh hanya dengan membuka telepon genggam.

Algoritma media sosial kemudian dapat membuat seorang penceramah menjadi sangat terkenal dalam waktu singkat.

Video berdurasi beberapa menit dapat memperoleh jutaan penonton.

Potongan ceramah dapat menjadi viral.

Gaya bicara tertentu dapat ditiru.

Bahkan seorang pendakwah dapat dikenal bukan semata karena kitab yang dipelajarinya, tetapi karena kemampuan tampil di depan kamera.

Di sinilah pesan lagu “Majelis Ilmu Kiyai” menjadi refleksi.

Popularitas bukan ukuran tunggal kedalaman ilmu.

Seseorang dapat sangat terkenal, tetapi ketenaran tersebut tidak otomatis menunjukkan keluasan penguasaan ilmu agama.

Sebaliknya, seseorang yang mengajarkan ilmu dengan sederhana belum tentu memiliki popularitas besar.

“Seribu Habib Tiada Guna Bila Ilmu Tak Didapat”

“Seribu Habib Tiada Guna Bila Ilmu Tak Didapat”

Bait:

“Seribu habib tiada guna
Bila ilmu tak didapat olehmu”

merupakan bagian paling provokatif sekaligus paling mudah diingat dari lagu ini.

Jika dibaca secara harfiah, kalimat tersebut dapat terdengar sebagai perbandingan antara habaib dan kiai. Namun, pesan yang lebih penting adalah ilmu harus menjadi tujuan utama dalam menghadiri majelis.

Istilah habib sendiri merujuk pada sebutan kehormatan yang digunakan di sejumlah komunitas Muslim, khususnya untuk orang yang dianggap memiliki hubungan nasab tertentu dengan Nabi Muhammad.

Akan tetapi, status sosial, gelar, atau nasab bukanlah pengganti ilmu.

Demikian pula, seseorang yang disebut kiai juga tidak semestinya dipandang hanya berdasarkan gelarnya.

Dalam tradisi keilmuan Islam, kualitas seorang guru berkaitan dengan ilmu, sanad keilmuan, akhlak, kemampuan memahami sumber agama, serta tanggung jawab dalam menyampaikan pengetahuan.

Karena itu, pesan lirik tersebut dapat dibaca lebih luas: jangan menjadikan gelar sebagai satu-satunya alasan untuk mengikuti seseorang.

Yang harus dicari adalah ilmu dan kebenaran.

Antara Habib, Kiai, dan Ukuran Keilmuan

Lagu ini secara eksplisit menyebut “habib” dan “kiai”. Karena itu, penting untuk memahami bahwa keduanya merupakan istilah yang tidak selalu menunjukkan hal yang sama.

“Habib” berkaitan dengan sebutan atau penghormatan tertentu yang dalam konteks masyarakat Muslim sering dikaitkan dengan keturunan Nabi Muhammad.

Sementara “kiai” dalam konteks Indonesia umumnya merujuk kepada tokoh agama yang memiliki pengaruh keilmuan dan sosial di tengah masyarakat, terutama dalam lingkungan pesantren.

Keduanya tidak seharusnya ditempatkan dalam pertentangan yang sederhana.

Seorang habib bisa saja seorang ulama yang sangat berilmu.

Seorang kiai juga bisa memiliki keilmuan yang luas.

Demikian pula, seseorang yang menyandang gelar tertentu tetap perlu dilihat kapasitas keilmuannya.

Karena itu, kritik lagu ini lebih tepat dipahami sebagai kritik terhadap kecenderungan mengutamakan identitas dan popularitas dibandingkan substansi ilmu.

Pesan tersebut menjadi semakin penting ketika masyarakat menghadapi begitu banyak figur keagamaan di ruang publik.

“Satu Kiyai Berilmu” sebagai Simbol Pentingnya Guru

“Satu Kiyai Berilmu” sebagai Simbol Pentingnya Guru

Lirik berikutnya menyatakan:

“Satu Kiyai berilmu kau datangi
Lebih utama daripada seribu (Habib)”

Bait ini kembali menekankan kualitas dibandingkan kuantitas.

Seseorang tidak membutuhkan banyak tokoh untuk belajar jika satu guru yang benar-benar memiliki ilmu dapat membimbingnya dengan baik.

Dalam proses menuntut ilmu, hubungan antara guru dan murid juga tidak hanya berkaitan dengan banyaknya informasi.

Ilmu membutuhkan proses.

Ada penjelasan.

Ada pertanyaan.

Ada koreksi.

Ada pembiasaan.

Ada keteladanan.

Bahkan ada proses panjang untuk memahami satu persoalan secara utuh.

Karena itu, majelis ilmu yang baik tidak selalu ditentukan oleh seberapa banyak orang yang hadir.

Majelis yang kecil pun dapat memiliki nilai yang besar apabila di dalamnya seseorang mendapatkan pengetahuan yang benar dan dapat diamalkan.

Jangan Tertipu oleh Ramainya Majelis

Salah satu fenomena yang secara tidak langsung disentuh lagu ini adalah kecenderungan menilai sebuah majelis dari jumlah jamaah.

Majelis yang dipenuhi ribuan orang dianggap lebih hebat.

Pendakwah yang videonya memperoleh jutaan tayangan dianggap lebih terpercaya.

Tokoh yang sering muncul di media dianggap lebih alim.

Padahal, jumlah jamaah dan jumlah penonton tidak otomatis menunjukkan kedalaman ilmu.

Popularitas merupakan ukuran penerimaan publik terhadap seseorang, tetapi popularitas bukanlah sertifikat keilmuan.

Demikian pula, jumlah pengikut di media sosial bukan ukuran kemampuan seseorang dalam memahami Al-Qur’an, hadis, fikih, akidah, usul fikih, sejarah Islam, atau disiplin ilmu lainnya.

Lagu “Majelis Ilmu Kiyai” mengajak pendengar untuk melihat kembali tujuan awal menghadiri majelis.

Bukan sekadar ramai.

Bukan sekadar meriah.

Bukan sekadar mendapatkan hiburan.

Tetapi mendapatkan ilmu.

Dakwah Bukan Sekadar Kemampuan Berbicara

Seorang pendakwah memang membutuhkan kemampuan komunikasi.

Ceramah yang baik membutuhkan bahasa yang mudah dipahami, intonasi yang tepat, dan kemampuan menyampaikan pesan kepada masyarakat.

Namun, kemampuan berbicara saja tidak cukup.

Dakwah memiliki tanggung jawab yang besar karena materi yang disampaikan dapat memengaruhi cara seseorang memahami agama dan menjalani kehidupan.

Karena itu, seorang pendakwah idealnya memiliki dasar keilmuan yang memadai.

Ia perlu memahami persoalan yang disampaikan.

Ia perlu mengetahui sumber rujukan.

Ia perlu berhati-hati dalam menyampaikan hukum agama.

Dan yang tidak kalah penting, ia perlu memiliki kesadaran bahwa setiap perkataan yang disampaikan kepada jamaah dapat dipercaya dan diamalkan oleh orang lain.

Inilah yang membuat pesan lagu tersebut terasa menyentuh.

Panggung dapat membuat seseorang terlihat besar, tetapi ilmu yang membuat sebuah nasihat memiliki bobot.

Ketika Jamaah Lebih Mengingat Gaya daripada Isi

Dalam era digital, ceramah agama sering dikonsumsi dalam bentuk potongan pendek.

Seseorang dapat menonton video selama 30 detik, satu menit, atau beberapa menit.

Format seperti ini memang memudahkan penyebaran dakwah.

Namun, terdapat risiko ketika potongan ceramah dipahami tanpa konteks.

Jamaah mungkin lebih mengingat kalimat yang lucu daripada penjelasan substansinya.

Lebih mengingat gaya bicara daripada dalilnya.

Lebih mengingat kontroversi daripada ilmunya.

Bahkan lebih mengenal kehidupan pribadi pendakwah daripada kitab yang dipelajarinya.

Di titik inilah lagu “Majelis Ilmu Kiyai” mengajak pendengar berhenti sejenak.

Apa yang sebenarnya kita bawa pulang setelah menghadiri majelis?

Jika hanya membawa kesenangan sesaat, mungkin masih ada yang perlu dicari.

Tetapi jika seseorang pulang membawa pemahaman baru, memperbaiki ibadah, memperbaiki akhlak, dan semakin rendah hati, maka majelis tersebut telah memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga.

“Menuntut Ilmu Sangat Penting”

“Menuntut Ilmu Sangat Penting”

Bait:

“Menuntut ilmu sangat penting
Jangan terus terbenam
Mari cari hikmah sejati
Ayo kita mulakan melangkah pergi”

menjadi ajakan untuk melakukan perubahan.

Kata “melangkah pergi” tidak harus dimaknai sebagai meninggalkan seseorang secara fisik.

Ia dapat dipahami sebagai ajakan meninggalkan kebiasaan lama dalam mencari ilmu.

Meninggalkan kebiasaan memilih guru hanya karena popularitas.

Meninggalkan kebiasaan mengukur kebenaran berdasarkan jumlah jamaah.

Meninggalkan kebiasaan mengikuti ceramah hanya karena tokohnya terkenal.

Dan mulai membangun kebiasaan belajar secara lebih serius.

Ilmu tidak selalu datang dalam bentuk ceramah yang menggelegar.

Terkadang ilmu hadir dalam penjelasan yang sederhana.

Terkadang dalam membaca kitab.

Terkadang dalam diskusi.

Terkadang dalam nasihat seorang guru yang tidak dikenal banyak orang.

Dan terkadang ilmu hadir melalui proses panjang yang tidak menghasilkan popularitas apa pun.

Jiwa yang Haus Ilmu

Bagian yang paling lembut dalam lagu ini berbunyi:

“Jiwa yang haus ilmu
Akan tenang kan bebanmu”

Pesan tersebut menyentuh sisi batin manusia.

Kehidupan seseorang tidak hanya membutuhkan materi.

Tidak hanya membutuhkan hiburan.

Tidak hanya membutuhkan popularitas.

Manusia juga membutuhkan pemahaman.

Ada banyak persoalan hidup yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan kemeriahan.

Ketika seseorang menghadapi kematian, kehilangan, kegagalan, penyakit, persoalan keluarga, atau berbagai ujian kehidupan, yang dibutuhkan bukan sekadar suara yang keras.

Yang dibutuhkan adalah pemahaman agama yang dapat memberikan arah.

Ilmu membantu seseorang memahami bagaimana harus bersikap.

Bagaimana menerima takdir.

Bagaimana memperbaiki kesalahan.

Bagaimana memperlakukan orang lain.

Dan bagaimana menjalani kehidupan dengan kesadaran kepada Allah.

Karena itu, metafora “jiwa yang haus ilmu” menjadi sangat kuat.

Jiwa yang haus tidak membutuhkan panggung.

Ia membutuhkan air.

Begitu pula jiwa yang haus ilmu tidak membutuhkan banyak simbol.

Ia membutuhkan pengetahuan yang benar.

Pesan Moral Lagu “Majelis Ilmu Kiyai”

Pesan Moral Lagu “Majelis Ilmu Kiyai”

Jika dirangkum, terdapat sejumlah pesan moral yang dapat ditemukan dalam lagu ini.

1. Jangan Mengukur Ulama dari Popularitas

Popularitas dapat berubah.

Jumlah penonton dapat naik dan turun.

Tetapi ilmu merupakan sesuatu yang harus dibangun melalui proses panjang.

2. Jangan Menjadikan Gelar sebagai Ukuran Tunggal

Baik gelar “habib”, “kiai”, “ustaz”, maupun sebutan lainnya tidak semestinya menjadi satu-satunya dasar dalam menentukan kualitas seseorang.

Yang perlu diperhatikan adalah ilmu, akhlak, amanah, dan isi ajarannya.

3. Jadikan Ilmu sebagai Tujuan

Ketika datang ke majelis, pertanyaan utama bukanlah siapa yang paling terkenal, melainkan apa yang akan saya pelajari?

4. Jangan Mudah Terpesona oleh Panggung

Kemampuan seseorang menguasai panggung merupakan kemampuan komunikasi.

Namun kemampuan komunikasi tidak selalu identik dengan kedalaman ilmu agama.

5. Belajar kepada Guru yang Kompeten

Menuntut ilmu membutuhkan guru dan proses belajar yang serius.

Seseorang perlu membangun kebiasaan membaca, bertanya, mengkaji, dan menguji pemahamannya.

Lagu Ini Tidak Semestinya Dibaca sebagai Permusuhan

Walaupun lirik “Majelis Ilmu Kiyai” menggunakan perbandingan yang tajam antara “habib” dan “kiai”, pesan lagu akan menjadi lebih konstruktif apabila dipahami sebagai ajakan untuk mengutamakan ilmu daripada simbol.

Sebab, persoalan keilmuan tidak mengenal label secara sederhana.

Tidak semua habib tidak berilmu.

Tidak semua kiai otomatis memiliki kedalaman yang sama.

Tidak semua pendakwah populer kekurangan ilmu.

Dan tidak semua pendakwah yang sederhana pasti memiliki kualitas yang lebih tinggi.

Karena itu, substansi lirik justru dapat menjadi bahan introspeksi bagi semua kalangan.

Bagi pendakwah, lagu ini dapat menjadi pengingat agar panggung tidak mengalahkan ilmu.

Bagi jamaah, lagu ini menjadi pengingat agar popularitas tidak menggantikan sikap kritis.

Bagi masyarakat, lagu ini dapat menjadi ajakan untuk kembali menghargai tradisi belajar.

Di Balik Panggung, Ada Amanah Ilmu

Panggung dakwah dapat menjadi sarana kebaikan.

Mikrofon dapat menjadi alat menyampaikan nasihat.

Media sosial dapat menjadi jalan menyebarkan ilmu kepada jutaan orang.

Tetapi semuanya bergantung pada apa yang disampaikan.

Jika panggung digunakan untuk menyampaikan ilmu, maka teknologi menjadi sarana dakwah yang sangat luas.

Namun jika panggung hanya digunakan untuk mengejar popularitas, maka substansi dakwah dapat kehilangan tempat.

Karena itu, pertanyaan yang seharusnya muncul bukan:

“Siapa pendakwah yang paling ramai?”

Melainkan:

“Siapa yang dapat membimbing saya memahami agama dengan lebih baik?”

Pertanyaan sederhana itu dapat mengubah cara seseorang memilih majelis ilmu.

Refleksi untuk Jamaah di Era Media Sosial

Jamaah saat ini memiliki keuntungan yang tidak dimiliki generasi sebelumnya.

Ilmu agama dapat diakses dari berbagai sumber.

Kitab dapat dicari secara digital.

Ceramah ulama dari berbagai daerah dapat didengarkan.

Diskusi keagamaan dapat disaksikan kapan saja.

Namun, kemudahan tersebut juga membawa tantangan.

Terlalu banyak informasi dapat membuat seseorang sulit membedakan antara ilmu dan opini.

Potongan video dapat membuat persoalan kompleks terlihat sederhana.

Judul yang provokatif dapat membuat seseorang tertarik sebelum mengetahui isi sebenarnya.

Karena itu, masyarakat perlu mengembangkan literasi keagamaan.

Jangan langsung percaya hanya karena seseorang berbicara dengan sangat meyakinkan.

Jangan langsung menolak hanya karena seseorang tidak terkenal.

Dengarkan.

Pelajari.

Bandingkan dengan sumber yang terpercaya.

Dan jika perlu, tanyakan kepada guru yang memiliki kompetensi dalam bidang tersebut.

“Majelis Ilmu Kiyai” sebagai Ajakan untuk Kembali Belajar

Pada akhirnya, lagu ini bukan hanya tentang “habib” dan “kiai”.

Lagu ini berbicara tentang sebuah pertanyaan yang lebih mendasar:

Apakah kita benar-benar sedang mencari ilmu?

Pertanyaan tersebut penting karena seseorang dapat bertahun-tahun menghadiri majelis, tetapi belum tentu mengalami perubahan dalam dirinya.

Ia bisa hafal nama banyak tokoh, tetapi tidak memahami ajaran agama.

Ia bisa mengikuti banyak kajian, tetapi tidak mengetahui dasar dari apa yang diyakininya.

Ia bisa menjadi penggemar seorang pendakwah, tetapi belum tentu menjadi pribadi yang lebih baik.

Ilmu seharusnya melahirkan perubahan.

Ilmu seharusnya membuat seseorang semakin rendah hati.

Semakin berhati-hati dalam berbicara.

Semakin menghormati orang lain.

Semakin takut melakukan kesalahan.

Dan semakin sadar bahwa dirinya masih harus terus belajar.

Kesimpulan

Lagu “Majelis Ilmu Kiyai” membawa pesan tentang pentingnya menempatkan ilmu sebagai tujuan utama dalam mencari bimbingan agama.

Melalui lirik yang membandingkan “seribu habib” dengan “satu kiai berilmu”, lagu ini menyampaikan kritik terhadap kecenderungan mengutamakan jumlah, popularitas, gelar, dan kemeriahan panggung dibandingkan substansi keilmuan.

Namun, pesan tersebut sebaiknya tidak dipahami sebagai generalisasi terhadap seluruh habib ataupun seluruh kiai.

Yang menjadi inti adalah sebuah prinsip sederhana: siapa pun yang berbicara tentang agama harus dilihat pula dari ilmu dan amanahnya dalam menyampaikan ajaran.

Seorang pendakwah boleh memiliki panggung besar.

Boleh memiliki jamaah yang banyak.

Boleh terkenal di media sosial.

Tetapi semua itu tidak boleh membuat ilmu menjadi nomor dua.

Sebab pada akhirnya, jamaah bukan hanya membutuhkan suara yang didengar.

Mereka membutuhkan ilmu yang dipahami.

Mereka bukan hanya membutuhkan tokoh yang dikagumi.

Mereka membutuhkan guru yang dapat membimbing.

Dan mereka bukan hanya membutuhkan majelis yang ramai.

Mereka membutuhkan majelis yang membuat hati semakin dekat kepada Allah dan kehidupan semakin terang oleh ilmu.

Pesan terakhir lagu ini sederhana, tetapi dalam:

“Jangan ragu teman-teman
Ikuti jalan ilmu yang terang”

Barangkali inilah inti seluruh lagu tersebut.

Di tengah banyaknya suara, carilah ilmu.

Di tengah banyaknya panggung, carilah hikmah.

Di tengah banyaknya tokoh, carilah guru yang benar-benar dapat membimbing.

Sebab ketika tepuk tangan berhenti dan panggung akhirnya kosong, yang tetap tinggal dalam diri seseorang bukanlah seberapa meriah sebuah majelis, melainkan seberapa banyak ilmu yang ia bawa pulang dan seberapa jauh ilmu itu mengubah kehidupannya.

FAQ

Apa makna lagu “Majelis Ilmu Kiyai”?

Lagu “Majelis Ilmu Kiyai” mengajak pendengar untuk mengutamakan ilmu dalam memilih majelis dan guru agama. Liriknya mengkritik kecenderungan mengutamakan popularitas, gelar, dan kemeriahan dakwah dibandingkan substansi ilmu.

Apakah lagu “Majelis Ilmu Kiyai” menyatakan semua habib tidak berilmu?

Tidak. Lirik lagu menggunakan perbandingan yang tajam antara habib dan kiai sebagai bagian dari pesan artistiknya. Lagu tersebut tidak dapat dijadikan dasar untuk menggeneralisasi seluruh habib. Pesan utamanya adalah pentingnya menilai seorang pendakwah berdasarkan ilmu dan isi ajarannya.

Apa pesan utama lagu “Majelis Ilmu Kiyai”?

Pesan utamanya adalah agar masyarakat tidak menjadikan popularitas, jumlah jamaah, gelar, atau kemampuan menguasai panggung sebagai satu-satunya ukuran dalam memilih guru atau majelis ilmu.

Mengapa ilmu penting dalam dakwah?

Dakwah berkaitan dengan penyampaian ajaran agama kepada masyarakat. Karena itu, ilmu diperlukan agar materi yang disampaikan memiliki dasar dan dapat dipertanggungjawabkan.

Apakah pendakwah populer pasti kurang ilmu?

Tidak. Popularitas tidak otomatis menunjukkan seseorang kurang ilmu, sebagaimana tidak populernya seseorang juga tidak otomatis menunjukkan bahwa ia lebih berilmu. Kualitas keilmuan perlu dilihat dari kapasitas, rujukan, pemahaman, dan isi ajarannya.

Apa hubungan lagu ini dengan dakwah di media sosial?

Lagu ini relevan dengan perkembangan dakwah digital karena masyarakat kini dapat memilih berbagai ceramah berdasarkan popularitas dan jumlah penonton. Lagu tersebut mengingatkan agar kemudahan akses informasi tidak membuat masyarakat mengabaikan kualitas ilmu.

Apa pelajaran yang dapat diambil dari lagu ini?

Pelajaran utamanya adalah pentingnya menjadi pencari ilmu, bukan sekadar pencari tokoh. Jamaah diajak untuk memilih majelis yang memberikan pemahaman agama, hikmah, dan dorongan untuk memperbaiki akhlak.

Sumber tulisan:

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button