Kontribusi Kiai Asep Saifuddin Chalim bagi Pendidikan Santri NU

KH Ubaidillah Tamam Munji Soroti Peran Kiai Asep Saifuddin Chalim dalam Menyiapkan Santri NU Menguasai Ilmu dan Teknologi
WARTA BATAVIA – KH Ubaidillah Tamam Munji menyoroti peran KH Asep Saifuddin Chalim dalam pendidikan santri yang menguasai ilmu keislaman, sains, teknologi informasi, dan pembentukan karakter menjelang abad kedua NU.
KH Ubaidillah Tamam Munji Soroti Kontribusi Kiai Asep Saifuddin Chalim bagi Pendidikan Santri NU
KH Ubaidillah Tamam Munji menyoroti peran ulama Nahdlatul Ulama (NU), khususnya KH Asep Saifuddin Chalim, dalam mengembangkan pendidikan pesantren yang memadukan penguasaan ilmu keislaman, ilmu pengetahuan, dan teknologi.
Dalam penjelasannya yang disampaikan melalui kanal YouTube UBAIDILLAH TAMAM MUNJI pada 21 September 2026, KH Ubaidillah menyebut KH Asep Saifuddin Chalim sebagai ulama Nahdliyin yang memiliki kontribusi dalam mengangkat citra Nahdlatul Ulama pada abad kedua.
Menurut KH Ubaidillah, kontribusi tersebut telah terlihat bahkan sebelum NU memasuki abad keduanya. Ia menyoroti pendidikan santri yang tidak hanya diarahkan untuk menguasai kajian kitab-kitab turats, tetapi juga dibekali kemampuan memahami perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi.
KH Ubaidillah juga menjelaskan bahwa lembaga pendidikan yang dikelola KH Asep Saifuddin Chalim berupaya membentuk santri yang memiliki pengetahuan keislaman, kemampuan intelektual, serta kedisiplinan dalam menjalankan ibadah.
Penjelasan tersebut menempatkan pendidikan pesantren sebagai salah satu aspek yang dibahas dalam melihat perjalanan Nahdlatul Ulama memasuki abad kedua.
Pendidikan Pesantren yang Memadukan Ilmu Keislaman dan Teknologi
KH Ubaidillah Tamam Munji menyampaikan bahwa salah satu hal yang menjadi perhatian dalam pendidikan yang dikelola KH Asep Saifuddin Chalim adalah pembentukan santri yang mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan.
Ia menggambarkan para santri tersebut sebagai generasi yang melek teknologi dan melek saintifik, tanpa meninggalkan penguasaan ilmu-ilmu keislaman.
Dalam penjelasannya, KH Ubaidillah mengatakan:
“Meny santri yang melek teknologi, melek saentifik, tidak hanya kuat dalam kajian turats, tapi juga kuat dalam kajian ilmu pengetahuan.”
Pernyataan tersebut menggambarkan pendekatan pendidikan yang menggabungkan pembelajaran keagamaan dengan pengetahuan umum dan keterampilan teknologi.
Menurut KH Ubaidillah, pendidikan yang demikian menjadi salah satu bagian penting dari upaya mempersiapkan santri agar mampu menghadapi perubahan zaman.
Santri Tidak Hanya Dibekali Kajian Kitab Turats
Kajian kitab turats merupakan salah satu unsur penting dalam tradisi pendidikan pesantren. Dalam penjelasannya, KH Ubaidillah menegaskan bahwa penguasaan bidang tersebut tetap menjadi bagian dari pendidikan santri.
Namun, ia juga menyoroti pentingnya pengembangan kemampuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi informasi.
Dengan demikian, santri diharapkan tidak hanya memiliki bekal keilmuan agama, tetapi juga memahami perkembangan pengetahuan yang dibutuhkan dalam kehidupan masyarakat modern.
KH Ubaidillah menyebut konsentrasi pendidikan tersebut sebagai upaya untuk mengembangkan potensi santri dalam beberapa bidang sekaligus.
Ia menjelaskan bahwa santri dididik agar mampu menguasai teknologi informasi, ilmu pengetahuan, dan ilmu keislaman.
Lembaga Pendidikan dan Pembentukan Generasi Intelektual
KH Ubaidillah juga menyampaikan bahwa lembaga pendidikan yang dikelola KH Asep Saifuddin Chalim telah melahirkan kalangan ilmuwan, intelektual, dan tenaga yang memiliki kemampuan teknologi.
Dalam rekaman tersebut, ia menyebut:
“Telah melahirkan para ilmuwan, intelektual, teknolog-teknolog.”
Pernyataan itu disampaikan ketika membahas orientasi pendidikan yang tidak hanya berfokus pada pengajaran ilmu agama, tetapi juga memberikan perhatian terhadap penguasaan bidang-bidang pengetahuan lainnya.
KH Ubaidillah menilai pembentukan generasi santri dengan kemampuan tersebut berkaitan dengan upaya menyiapkan sumber daya manusia yang dapat berperan dalam berbagai bidang kehidupan.
Meski demikian, penjelasan yang disampaikan dalam rekaman tersebut tidak disertai data jumlah lulusan, daftar profesi alumni, maupun rincian capaian akademik lembaga pendidikan yang dimaksud.
Karena itu, keterangan mengenai lahirnya ilmuwan, intelektual, dan tenaga teknologi dalam artikel ini ditempatkan sebagai pernyataan KH Ubaidillah, bukan sebagai hasil verifikasi statistik independen.
Pembentukan Karakter Santri: Berilmu dan Taat Beribadah
Selain membahas penguasaan ilmu pengetahuan, KH Ubaidillah Tamam Munji menyoroti pembentukan karakter santri dalam pendidikan yang dikelola KH Asep Saifuddin Chalim.
Ia menjelaskan bahwa santri tidak hanya dididik agar memiliki kemampuan intelektual, tetapi juga diarahkan untuk menjadi pribadi yang berilmu dan memiliki ketakwaan kepada Allah SWT.
Dalam penjelasannya, KH Ubaidillah menggunakan ungkapan “bil ilmi wat tuqoh” serta menyebut pentingnya membentuk santri yang menjadi ahli ibadah.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa dalam gambaran pendidikan yang disampaikannya, penguasaan ilmu dan pembentukan spiritual merupakan dua unsur yang berjalan bersama.
Pembiasaan Bangun Malam
KH Ubaidillah turut menceritakan kebiasaan KH Asep Saifuddin Chalim yang, menurut penuturannya, memiliki kedisiplinan dalam menjalankan aktivitas sejak dini hari.
Ia menyebut bahwa para santri juga dikondisikan untuk bangun malam.
KH Ubaidillah mengatakan bahwa dirinya menerima sejumlah informasi mengenai kebiasaan tersebut. Ia juga menyebut putrinya sebagai salah satu alumni Pesantren Amanatul Ummah di Mojokerto.
Dalam keterangannya, ia menggambarkan KH Asep Saifuddin Chalim sudah berkeliling pada waktu dini hari.
Ia menuturkan bahwa orang-orang yang mendampingi sang kiai, baik ketika berada di dalam negeri maupun luar negeri, turut mengikuti kebiasaan bangun malam tersebut.
Kisah ini disampaikan KH Ubaidillah sebagai bagian dari penjelasannya mengenai pembentukan kedisiplinan dan kehidupan ibadah dalam lingkungan pendidikan pesantren.
KH Ubaidillah: NU Masih Memiliki Banyak Ulama Berilmu Mendalam
Dalam bagian lain penjelasannya, KH Ubaidillah Tamam Munji menyampaikan bahwa Nahdlatul Ulama masih memiliki banyak ulama yang mendalam ilmunya.
Ia menggunakan istilah ar-rasikhuna fil ilmi untuk menggambarkan ulama yang memiliki keteguhan dan kedalaman ilmu.
Menurut KH Ubaidillah, para ulama tersebut tetap menjalankan peran dalam mendampingi santri, baik melalui jalur struktural maupun kultural.
Ia juga menyoroti keberadaan sejumlah ulama senior NU yang disebutnya masih memiliki peran dalam kehidupan keagamaan dan pendidikan.
Di antara nama yang disebut dalam rekaman tersebut adalah KH Said Aqil Siradj, KH Asep Saifuddin Chalim, Buya Mukhtadi, dan KH Mustofa Bisri.
Penyebutan nama-nama tersebut muncul ketika KH Ubaidillah membicarakan keberadaan ulama NU yang menurutnya masih banyak dan tidak terbatas pada jumlah tertentu.
Perhatian terhadap Ulama NU Kultural
KH Ubaidillah kemudian menyinggung perbedaan perhatian terhadap ulama yang berada di lingkungan struktural dan kultural NU.
Ia menyampaikan bahwa ulama NU masih banyak yang memiliki kedalaman ilmu dan kesungguhan dalam mendampingi santri. Namun, menurut penilaiannya, kalangan kultural cenderung kurang memberikan perhatian terhadap sosok-sosok kiai tertentu.
Dalam rekaman tersebut, ia mengatakan:
“Cuman yang kultural ini agak mengabaikan.”
Pernyataan itu merupakan pandangan KH Ubaidillah mengenai perhatian terhadap ulama di lingkungan NU kultural.
Ia tidak merinci bentuk pengabaian yang dimaksud, pihak-pihak tertentu yang menjadi sasaran kritik, maupun data yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat perhatian tersebut.
Karena itu, keterangannya dapat dipahami sebagai sorotan narasumber terhadap dinamika hubungan antara ulama, lingkungan struktural, dan lingkungan kultural NU.
Memasuki Abad Kedua NU, Pendidikan Menjadi Salah Satu Tantangan
KH Ubaidillah Tamam Munji juga menghubungkan pembahasan mengenai pendidikan pesantren dan keberadaan ulama dengan perjalanan Nahdlatul Ulama memasuki abad kedua.
Menurutnya, awal perjalanan suatu organisasi atau lembaga merupakan masa ketika berbagai hal perlu dipersiapkan dan dipahami.
Ia menyampaikan bahwa terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi NU pada fase awal abad kedua.
Dalam penjelasannya, KH Ubaidillah mengatakan bahwa apabila NU mampu melewati era yang disebutnya berkaitan dengan Miftahul Ulum, perkembangan NU ke depan berpotensi melaju lebih jauh.
Namun, rekaman tersebut tidak memberikan penjelasan terperinci mengenai maksud istilah atau era yang disebutkan itu. Oleh sebab itu, penyebutan tersebut tidak dapat diperluas menjadi kesimpulan mengenai perubahan kepemimpinan, struktur organisasi, ataupun arah kebijakan NU tanpa informasi tambahan.
Persiapan Sumber Daya Manusia
Dari keseluruhan penjelasannya, KH Ubaidillah menempatkan pendidikan santri sebagai salah satu unsur yang dibicarakan dalam konteks persiapan menghadapi abad kedua NU.
Ia menyoroti perlunya santri memiliki penguasaan ilmu keislaman sekaligus kemampuan memahami ilmu pengetahuan dan teknologi informasi.
Pendidikan juga dikaitkan dengan pembentukan karakter, kedisiplinan, dan pengamalan ibadah.
Dalam konteks tersebut, lembaga pendidikan pesantren yang dikelola KH Asep Saifuddin Chalim menjadi contoh yang dibicarakan KH Ubaidillah mengenai pengembangan kemampuan santri.
Meski demikian, penjelasan tersebut tidak disertai uraian mengenai program resmi NU yang secara khusus menetapkan model pendidikan tersebut sebagai kebijakan organisasi.
Setiap Zaman Memiliki Tantangannya Sendiri
Menjelang akhir penjelasannya, KH Ubaidillah Tamam Munji menyampaikan bahwa setiap zaman memiliki kondisi dan tantangannya masing-masing.
Ia menutup keterangannya dengan ungkapan:
“Ala kuli halal masing-masing ada zamannya sendiri-sendiri.”
Ungkapan tersebut disampaikan setelah ia membahas keberadaan ulama NU, pendidikan pesantren, serta berbagai hal yang perlu dipersiapkan dalam memasuki abad kedua.
KH Ubaidillah kemudian mengakhiri penjelasannya dengan ucapan terima kasih dan harapan agar keterangannya dapat memberikan manfaat bagi pendengar.
Kesimpulan
Penjelasan KH Ubaidillah Tamam Munji di kanal UBAIDILLAH TAMAM MUNJI pada 21 September 2026 membahas sejumlah aspek pendidikan pesantren dan kehidupan keulamaan di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Ia menyoroti KH Asep Saifuddin Chalim dalam kaitannya dengan pendidikan santri yang memadukan kajian kitab turats, ilmu pengetahuan, teknologi informasi, dan pembentukan karakter keagamaan.
KH Ubaidillah juga menyampaikan pandangannya mengenai keberadaan ulama NU yang memiliki kedalaman ilmu, perhatian terhadap ulama kultural, serta tantangan yang perlu dipahami dalam perjalanan NU memasuki abad kedua.
Keterangan tersebut merupakan pandangan dan penuturan KH Ubaidillah sebagaimana disampaikan dalam rekaman. Rincian mengenai capaian lembaga pendidikan, jumlah alumni, maupun kebijakan resmi organisasi tidak dijabarkan secara statistik dalam materi tersebut.
FAQ
1. Siapa KH Ubaidillah Tamam Munji?
KH Ubaidillah Tamam Munji adalah narasumber dalam rekaman kanal YouTube UBAIDILLAH TAMAM MUNJI yang menjadi dasar artikel ini. Dalam penjelasannya, ia membahas pendidikan pesantren, ulama NU, dan perjalanan NU memasuki abad kedua.
2. Apa yang disampaikan KH Ubaidillah tentang KH Asep Saifuddin Chalim?
KH Ubaidillah menyoroti kontribusi KH Asep Saifuddin Chalim dalam pendidikan santri yang menggabungkan ilmu keislaman, ilmu pengetahuan, dan teknologi informasi, serta pembentukan karakter dan kedisiplinan ibadah.
3. Mengapa santri perlu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi?
Menurut penjelasan KH Ubaidillah, santri tidak hanya perlu kuat dalam kajian kitab turats, tetapi juga perlu memiliki kemampuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi informasi untuk menghadapi perkembangan zaman.
4. Apa yang dimaksud dengan santri melek teknologi dalam penjelasan tersebut?
Istilah tersebut merujuk pada santri yang memiliki pemahaman dan kemampuan di bidang teknologi, termasuk teknologi informasi, selain menguasai ilmu keislaman.
5. Apa yang disampaikan KH Ubaidillah mengenai ulama NU kultural?
Ia menyatakan bahwa NU masih memiliki banyak ulama yang mendalam ilmunya, tetapi menurut pandangannya, kalangan kultural terkadang kurang memberikan perhatian terhadap sejumlah sosok kiai.
6. Apa tantangan NU dalam memasuki abad kedua menurut KH Ubaidillah?
KH Ubaidillah menyampaikan bahwa fase awal abad kedua merupakan masa yang membutuhkan persiapan dan pemahaman terhadap berbagai tantangan. Ia juga menyoroti pentingnya pendidikan santri dan pendampingan ulama.
7. Kapan penjelasan KH Ubaidillah tersebut disampaikan?
Penjelasan yang menjadi dasar artikel ini diunggah melalui kanal YouTube UBAIDILLAH TAMAM MUNJI pada 21 September 2026.
Sumber: Kanal YouTube UBAIDILLAH TAMAM MUNJI, penjelasan KH Ubaidillah Tamam Munji, 21 September 2026.



