
Warta Batavia – KH Syaikhu Rijal menjelaskan pentingnya menjaga lisan, meniru akhlak Nabi Muhammad, tidak mudah menghakimi, serta memilih pemimpin berdasarkan keadilan dan amanah.
KH Syaikhu Rijal: Jangan Menghakimi Seseorang dari Penampilan, Utamakan Akhlak dan Ketakwaan
KH Syaikhu Rijal menyampaikan sejumlah pesan keagamaan mengenai pentingnya menjaga lisan, memperbaiki akhlak, tidak mudah menghakimi orang lain, serta menilai seseorang berdasarkan perilaku dan tanggung jawabnya. Penjelasan tersebut disampaikan dalam sebuah kajian yang ditayangkan melalui kanal KRT Warta Batavia pada 19 Oktober 2026.
Dalam penjelasannya, KH Syaikhu Rijal juga menyinggung persoalan pemalsuan atau penyelewengan sejarah, perilaku masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, pemaknaan Maulid Nabi, hingga kriteria yang perlu diperhatikan ketika memilih seorang pemimpin.
Ia menekankan bahwa seseorang tidak semestinya hanya dinilai berdasarkan penampilan, gelar, keturunan, atau simbol keagamaan. Menurut penjelasan yang disampaikannya, ilmu, akhlak, keadilan, amanah, dan tanggung jawab merupakan hal yang penting diperhatikan.
KH Syaikhu Rijal Soroti Pemalsuan dan Penyelewengan Sejarah
Pada bagian awal penjelasannya, KH Syaikhu Rijal berbicara mengenai pentingnya menghindari sesuatu yang dinilai memiliki banyak mudarat bagi masyarakat. Ia kemudian memberikan contoh mengenai pemalsuan dan penyelewengan sejarah, termasuk persoalan makam dan situs sejarah.
Ia menceritakan pengalaman ketika menangani persoalan sebuah situs di wilayah Mojokerto yang disebut memiliki dua makam. Dalam penjelasannya, kondisi makam tersebut kemudian mengalami perubahan jumlah hingga menjadi banyak makam.
KH Syaikhu Rijal mengatakan bahwa dirinya kemudian meminta pihak-pihak terkait untuk menelusuri asal-usul persoalan tersebut. Ia menyebut proses penelusuran dilakukan dengan bertanya kepada tokoh masyarakat dan warga setempat.
Menurut penjelasannya, terdapat cerita mengenai asal-usul makam yang berkaitan dengan pengalaman spiritual seseorang. Namun, setelah dilakukan pembongkaran untuk melihat kondisi makam, ia mengatakan tidak menemukan sesuatu sebagaimana tuduhan yang berkembang.
Ia juga membantah tuduhan bahwa dirinya melakukan pembongkaran makam. Menurut KH Syaikhu Rijal, yang dibongkar bukan makam sebagaimana yang dituduhkan, sehingga ia meminta agar persoalan tersebut tidak diputarbalikkan di media sosial.
Penjelasan Mengenai Kasus Winongan
KH Syaikhu Rijal kemudian menyinggung persoalan di Winongan. Ia mengatakan bahwa dirinya ikut terlibat dalam proses tersebut dan menandatangani dokumen yang berkaitan dengan persoalan itu.
Menurut penjelasannya, lokasi yang dimaksud merupakan situs tua dan terdapat masjid tua serta makam sejumlah leluhur dan ulama. Seiring perkembangan kawasan, sebagian makam disebut tertindih atau tertutup oleh bangunan dan akses jalan.
Ia menjelaskan bahwa ahli waris kemudian mempertanyakan kondisi makam keluarga mereka. Dari persoalan tersebut muncul keinginan untuk melakukan normalisasi agar kondisi kawasan dikembalikan sehingga makam-makam lama dapat terlihat kembali.
KH Syaikhu Rijal mengatakan dirinya meminta agar seluruh ahli waris memberikan tanda tangan sebelum surat dikirimkan. Ia menyebut langkah tersebut dilakukan agar terdapat kejelasan bahwa pihak keluarga memang menginginkan adanya audiensi dan klarifikasi mengenai rencana normalisasi.
Ia juga membantah jika dirinya disebut memerintahkan perusakan. Menurut keterangannya, terdapat pihak lain yang kemudian membawa persoalan tersebut ke arah berbeda.
Jangan Takut Meluruskan Sesuatu yang Dinilai Tidak Benar
Dalam kajiannya, KH Syaikhu Rijal menyampaikan pesan agar masyarakat tidak takut meluruskan sesuatu yang dianggap tidak benar.
Ia mengatakan bahwa sesuatu yang benar perlu dijaga, sedangkan sesuatu yang dinilai tidak benar perlu diluruskan. Namun, ia juga menekankan pentingnya memahami keberagaman masyarakat.
Menurutnya, kehidupan masyarakat terdiri dari berbagai agama dan budaya sehingga setiap orang perlu memahami perbedaan tersebut.
Ia memberikan contoh pengalaman ketika dirinya datang untuk mengaji dan berinteraksi dengan kelompok masyarakat yang memiliki kegemaran terhadap bantengan. Setelah pengajian, kelompok tersebut disebut datang ke masjid, bersalaman dan meminta doa.
Pengalaman tersebut digunakan sebagai contoh bahwa masyarakat memiliki latar belakang dan kebiasaan yang beragam. Karena itu, menurut penjelasan KH Syaikhu Rijal, masyarakat tidak perlu saling menjauh hanya karena memiliki perbedaan dalam kebiasaan budaya.
Makna Maulid Menurut KH Syaikhu Rijal: Meniru Akhlak Nabi
Salah satu bagian utama ceramah KH Syaikhu Rijal adalah mengenai makna Maulid Nabi Muhammad.
Ia menekankan bahwa Maulid tidak semestinya hanya dimaknai sebagai kegiatan selawatan, pengajian, atau kegiatan seremonial. Menurutnya, hal yang lebih penting adalah bagaimana umat Islam meniru akhlak Nabi Muhammad.
“Yang lebih penting dari itu adalah bisa meniru akhlaknya Kanjeng Nabi,” demikian inti penjelasannya dalam kajian tersebut.
KH Syaikhu Rijal memberikan contoh seseorang yang rajin menghadiri kegiatan selawatan, tetapi masih memiliki persoalan hubungan dengan tetangga. Ia mempertanyakan bagaimana seseorang dapat mengaku mencintai Nabi jika akhlak dalam kehidupan sehari-hari belum mencerminkan perilaku yang baik.
Menurutnya, kecintaan kepada Nabi tidak hanya ditunjukkan melalui ibadah atau kegiatan keagamaan, tetapi juga melalui perilaku kepada orang lain.
Tiga Hal yang Ditekankan: Diam, Mendengar, dan Melakukan
Dalam kajian tersebut, KH Syaikhu Rijal juga mengajak jamaah untuk serius menerima ilmu.
Ia menyampaikan tiga hal yang perlu dilakukan, yaitu diam, mendengarkan, dan melaksanakan.
Menurutnya, seseorang yang menghadiri majelis ilmu tidak cukup hanya mendengarkan nasihat. Ilmu yang diperoleh juga perlu diterapkan dalam kehidupan.
Pesan tersebut menjadi bagian dari penekanannya mengenai hubungan antara ilmu dan akhlak. Seseorang dapat memiliki pengetahuan yang banyak, tetapi pengetahuan tersebut perlu diwujudkan dalam perilaku.
KH Syaikhu Rijal Ingatkan Bahaya Menjaga Lisan
KH Syaikhu Rijal kemudian membahas persoalan lisan. Ia menyebut lisan sebagai salah satu hal yang dapat menyebabkan seseorang mendapatkan masalah karena perkataan yang disampaikan kepada orang lain.
Dalam ceramahnya, ia menyampaikan bahwa seseorang dapat rajin mengaji, membaca Al Quran, dan mengikuti kegiatan keagamaan, tetapi tetap harus berhati-hati apabila lisannya digunakan untuk mencela atau menyakiti orang lain.
Ia mengutip prinsip bahwa seorang Muslim yang baik adalah orang yang membuat Muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya.
Dengan demikian, menurut penjelasan tersebut, ukuran kebaikan seseorang tidak hanya dilihat dari ibadah yang tampak, tetapi juga dari apakah orang lain merasa aman dari ucapan dan tindakannya.
Mengakui Kesalahan Lebih Baik daripada Membanggakan Amal
KH Syaikhu Rijal juga menyampaikan pentingnya mengakui dosa dan kesalahan.
Menurutnya, seseorang yang mengakui banyak dosa memiliki kesempatan untuk bertobat. Ia mengingatkan agar seseorang tidak justru membanggakan banyaknya pahala atau merasa dirinya sudah paling baik.
Ia juga membedakan dosa yang berkaitan dengan hubungan seseorang kepada Allah dan dosa yang berkaitan dengan sesama manusia.
Menurut penjelasannya, persoalan dengan sesama manusia menjadi hal yang perlu diperhatikan karena menyangkut hak orang lain. Karena itu, menjaga lisan dan perilaku kepada sesama menjadi penting.
Tidak Membalas Celaan dengan Celaan
KH Syaikhu Rijal juga menekankan agar seseorang tidak membalas perkataan buruk dengan perkataan buruk.
Ia memberikan contoh bahwa ketika seseorang dihina, orang tersebut tidak harus membalas dengan hinaan. Menurutnya, membalas keburukan dengan keburukan justru membuat seseorang ikut berada dalam perilaku yang sama.
Ia kemudian mengaitkannya dengan akhlak Nabi Muhammad. Dalam penjelasannya, Nabi dicontohkan sebagai sosok yang tidak membalas perlakuan buruk dengan keburukan.
Pesan tersebut kembali dikaitkan dengan peringatan agar umat Islam meniru akhlak Nabi, terutama ketika menghadapi orang yang menyakiti atau mencela.
Jangan Menilai Orang Hanya dari Keturunan atau Gelar
Dalam bagian lain, KH Syaikhu Rijal menyinggung persoalan seseorang yang dianggap suci karena keturunan tertentu.
Ia menyampaikan bahwa seseorang tidak semestinya mengikuti perkataan yang buruk hanya karena orang tersebut dianggap sebagai keturunan tokoh tertentu, wali, atau Nabi. Sebaliknya, perkataan dan perilaku tetap perlu dilihat.
Menurutnya, status atau keturunan tidak otomatis menjadikan semua perkataan seseorang benar.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terjebak pada penampilan luar. Orang yang tampak baik belum tentu seluruh perilakunya baik, sementara seseorang yang tampak kurang baik belum tentu seluruh perilakunya buruk.
Orang Baik dan Orang Buruk Sama-Sama Bisa Berubah
KH Syaikhu Rijal menyampaikan bahwa kondisi seseorang dapat berubah.
Orang yang sebelumnya dinilai baik dapat berubah menjadi buruk, begitu pula orang yang sebelumnya dianggap buruk dapat berubah menjadi baik.
Karena itu, ia mengingatkan agar masyarakat tidak terlalu cepat memberikan penilaian final terhadap seseorang selama orang tersebut masih hidup.
Ia menekankan bahwa yang dinantikan dalam kehidupan seseorang adalah husnul khatimah atau akhir kehidupan yang baik.
Menurut penjelasannya, seseorang yang awalnya memiliki kekurangan masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri. Sebaliknya, seseorang yang sebelumnya dikenal baik juga tetap perlu menjaga diri sampai akhir kehidupan.
Akhlak dan Ketakwaan Disebut sebagai Ciri Orang yang Masuk Surga
Dalam bagian akhir ceramah, KH Syaikhu Rijal kembali menjelaskan mengenai dua hal yang menurutnya berkaitan dengan orang yang banyak masuk surga, yaitu memiliki budi pekerti yang baik dan bertakwa kepada Allah.
Ia kemudian menjelaskan pentingnya hubungan baik dengan tetangga dan keluarga.
Menurutnya, seseorang tidak cukup hanya memiliki hubungan baik dengan orang yang dianggap dekat. Hubungan dengan tetangga, saudara, dan orang lain juga perlu dijaga.
Ia memberikan gambaran bahwa satu orang yang menjadi musuh dapat memengaruhi hubungan dengan banyak orang. Karena itu, ia mendorong agar seseorang berusaha memperbaiki hubungan dan tidak menjadikan orang lain sebagai musuh.
Jangan Menghakimi Orang dari Penampilan
KH Syaikhu Rijal juga memberikan perumpamaan mengenai tas yang terlihat bagus tetapi hanya berisi sedikit barang, dibandingkan tas yang terlihat biasa tetapi memiliki isi yang lebih lengkap.
Perumpamaan tersebut digunakan untuk menjelaskan bahwa penampilan luar bukan satu-satunya ukuran.
Ia kemudian mengaitkan hal tersebut dengan seseorang yang memiliki kekayaan. Menurutnya, orang kaya tidak semata-mata dinilai dari seberapa sering ia berada di masjid atau seberapa banyak ia mengikuti pengajian. Hal yang perlu dilihat antara lain apakah ia dermawan dan tidak sombong.
Dengan demikian, menurut penjelasannya, isi hati dan perilaku seseorang menjadi bagian penting dalam menilai kualitas dirinya.
Kriteria Memilih Pemimpin
KH Syaikhu Rijal juga menyampaikan pandangannya mengenai kriteria memilih pemimpin.
Ia mengatakan masyarakat tidak semestinya memilih pemimpin hanya berdasarkan penampilan, kekayaan, keturunan, atau latar belakang pendidikan.
Menurutnya, yang perlu diperhatikan adalah apakah calon pemimpin tersebut adil, amanah, dan bertanggung jawab.
Ia bahkan menyebut bahwa seseorang tidak perlu dipilih hanya karena merupakan keturunan tokoh tertentu, alumni pesantren, atau memiliki kemampuan membaca kitab apabila perilakunya tidak mencerminkan keadilan.
Dalam penjelasannya, pemimpin yang baik adalah orang yang memiliki sikap adil, amanah, dan bertanggung jawab kepada masyarakat.
Ilmu Perlu Diiringi Adab dan Akhlak
KH Syaikhu Rijal juga menyoroti kondisi pendidikan dan pembelajaran agama.
Ia mengatakan bahwa perkembangan metode pembelajaran membuat masyarakat saat ini memiliki banyak fasilitas untuk belajar membaca Al Quran dan ilmu agama. Namun, menurutnya, kemampuan membaca kitab atau menghafal Al Quran perlu disertai dengan akhlak dan rasa takut kepada Allah.
Ia mencontohkan adanya orang-orang yang memiliki pengetahuan agama tetapi masih melakukan korupsi atau perilaku yang bertentangan dengan nilai tanggung jawab.
Menurutnya, persoalan tersebut menunjukkan pentingnya keseimbangan antara ilmu, adab, dan ketakwaan.
Pesan Penutup: Meniru Nabi, Bukan Sekadar Simbol
Menjelang akhir kajian, KH Syaikhu Rijal kembali mengajak jamaah untuk meniru Nabi Muhammad dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mengingatkan agar masyarakat tidak hanya memperhatikan simbol-simbol lahiriah seperti pakaian, jubah, sorban, atau jenggot ketika menilai seseorang.
Menurutnya, ilmu dan perilaku menjadi hal yang penting untuk diperhatikan.
Ia menyampaikan agar umat Islam meneladani Nabi Muhammad karena keteladanan tersebut mencakup berbagai aspek kehidupan.
Pesan tersebut sekaligus menjadi penutup kajiannya mengenai hubungan antara ilmu, akhlak, ketakwaan, dan perilaku sosial.
FAQ
Siapa KH Syaikhu Rijal?
KH Syaikhu Rijal merupakan tokoh agama yang dalam materi ini menyampaikan kajian mengenai akhlak, menjaga lisan, ketakwaan, kehidupan sosial, serta pentingnya meneladani Nabi Muhammad.
Kapan penjelasan KH Syaikhu Rijal disampaikan?
Penjelasan yang menjadi dasar artikel ini disampaikan melalui kanal KRT Warta Batavia pada 19 Oktober 2026.
Apa pesan utama KH Syaikhu Rijal tentang Maulid?
Menurut penjelasannya, Maulid tidak hanya berkaitan dengan selawatan atau kegiatan pengajian. Hal yang lebih penting adalah meniru akhlak Nabi Muhammad dalam kehidupan sehari-hari.
Mengapa KH Syaikhu Rijal menekankan menjaga lisan?
Ia menjelaskan bahwa perkataan dapat menyakiti orang lain dan menjadi sumber dosa. Karena itu, seorang Muslim perlu menjaga ucapan agar orang lain aman dari lisannya.
Apakah seseorang harus dinilai berdasarkan keturunannya?
Dalam penjelasannya, KH Syaikhu Rijal mengingatkan agar seseorang tidak hanya dinilai berdasarkan keturunan, gelar, atau simbol keagamaan. Ia menekankan pentingnya melihat ilmu dan perilaku orang tersebut.
Apa yang dimaksud dengan husnul khatimah dalam penjelasan tersebut?
Husnul khatimah merujuk pada akhir kehidupan yang baik. KH Syaikhu Rijal menekankan bahwa seseorang masih dapat berubah selama masih hidup sehingga masyarakat tidak semestinya terlalu cepat menghakimi seseorang.
Apa kriteria pemimpin yang ditekankan KH Syaikhu Rijal?
Ia menekankan keadilan, amanah, dan tanggung jawab sebagai hal yang perlu diperhatikan dalam memilih pemimpin. Menurut penjelasannya, penampilan, kekayaan, keturunan, atau latar belakang tertentu tidak semestinya menjadi satu-satunya ukuran.
Apa pesan KH Syaikhu Rijal mengenai ilmu agama?
Ia menekankan bahwa ilmu perlu disertai adab, akhlak, dan ketakwaan. Kemampuan membaca kitab atau menghafal Al Quran, menurut penjelasannya, perlu diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.
Apa pesan terakhir KH Syaikhu Rijal?
Pesan terakhir yang disampaikan adalah agar umat Islam meniru Nabi Muhammad, terutama dalam ilmu, akhlak, adab, dan perilaku, bukan hanya memperhatikan simbol atau penampilan lahiriah.
Sumber: Fitnah Makam Palsu di Jawa Timur – Gus Rizal Ketua Pengurus Wilayah PWI-LS Jawa Timur







