
Gus Muhammad Ceritakan Pengalaman 5 Tahun Menjadi Muhibin hingga Memilih Berpisah
WARTA BATAVIA – SURABAYA – Gus Muhammad, seorang narasumber yang memperkenalkan dirinya sebagai warga Surabaya berdarah Madura, menceritakan pengalaman selama sekitar lima tahun menjadi muhibin atau pengikut yang memberikan penghormatan kepada kalangan habaib. Pengalaman tersebut disampaikan dalam perbincangan bersama KH Nur Ihyak Hadinegoro di kanal KRT Nur Ikhyak Hadinegoro pada 9 Oktober 2026.
Dalam perbincangan itu, Gus Muhammad mengatakan bahwa pada awal menjadi muhibin, dirinya meyakini habib sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW. Keyakinan tersebut, menurut dia, terbentuk dari latar belakang pendidikan pesantren dan pemahaman yang diterimanya sejak awal.
Namun, setelah bergaul secara langsung selama bertahun-tahun, Gus Muhammad mengaku menemukan sejumlah pengalaman yang membuatnya mempertanyakan keyakinan tersebut. Ia menyebut pengalaman terkait perilaku, hubungan sosial, pekerjaan, hingga sejumlah peristiwa yang menurutnya terjadi terhadap dirinya dan keluarganya.
Gus Muhammad juga menceritakan bahwa setelah meninggalkan lingkungan tersebut, dirinya kemudian mempelajari polemik mengenai nasab yang berkembang di media sosial. Ia menyebut nama sejumlah tokoh yang menurutnya menjadi salah satu perantara yang membuat dirinya semakin tertarik mempelajari sejarah dan persoalan nasab.
Dalam wawancara tersebut, Gus Muhammad menekankan bahwa cerita yang disampaikannya merupakan pengalaman yang dia alami sendiri selama bergaul dengan kalangan yang disebutnya habaib.
Pengalaman Lima Tahun Menjadi Muhibin
Gus Muhammad mengawali ceritanya dengan menjelaskan bahwa dirinya pernah menjadi muhibin selama sekitar lima tahun di kawasan Sunan Ampel.
Ia mengatakan, ketika mulai menjadi muhibin, dirinya belum mengetahui perkembangan polemik mengenai nasab yang kemudian ramai diperbincangkan di berbagai media. Pada masa tersebut, menurut Gus Muhammad, keyakinannya terhadap status keturunan Nabi Muhammad SAW pada kalangan habib masih kuat.
“Saya ingin bercerita pengalaman saya ketika saya menjadi muhibin,” kata Gus Muhammad dalam perbincangan tersebut.
Ia mengatakan, dirinya berasal dari lingkungan pesantren di Jawa Timur. Pendidikan pesantren yang diterimanya, menurut dia, lebih dahulu menekankan persoalan akhlak dan adab.
Menurut Gus Muhammad, latar belakang tersebut membuat dirinya memberikan penghormatan tinggi kepada orang yang diyakininya sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW.
Ia mengaku pernah memberikan penghormatan dengan cara sungkem kepada habib, termasuk ketika bertemu dengan habib yang masih muda.
“Ketika saya jadi muhibin pertama kali, yang saya pakai itu adalah akhlak,” ujar Gus Muhammad.
Menurut dia, penghormatan tersebut dilakukan karena pada saat itu dirinya meyakini bahwa orang yang dihormatinya merupakan bagian dari keturunan Nabi Muhammad SAW.
Keyakinan Mulai Berubah Setelah Bergaul Langsung
Gus Muhammad mengatakan perubahan pandangan mulai muncul setelah dirinya berinteraksi secara intensif dengan lingkungan tersebut.
Menurut dia, selama bergaul setiap hari, dirinya mulai mengetahui kebiasaan dan perilaku orang-orang yang ditemuinya. Sejumlah pengalaman tersebut kemudian membuatnya mempertanyakan hubungan antara status yang diyakini sebagai keturunan Nabi dengan perilaku seseorang.
Gus Muhammad mengatakan, pada awalnya ia tidak langsung mempercayai informasi atau dugaan yang diterimanya.
Ia mengaku memilih untuk menyimpan informasi tersebut dan mengamati sendiri keadaan yang terjadi.
“Saya kalau sebelum ada bukti kan saya enggak langsung percaya,” kata Gus Muhammad.
Ia menyebut sikap tersebut sebagai bentuk kewaspadaan. Menurutnya, informasi dari orang lain tidak langsung dijadikan dasar untuk mengambil keputusan.
Tentang Pengalaman yang Disebut Sebagai Upaya Menjebak
Dalam perbincangan tersebut, Gus Muhammad juga menceritakan sebuah pengalaman pribadi yang menurut pengakuannya berkaitan dengan seorang perempuan dari lingkungan yang disebutnya sebagai keluarga habib.
Karena menyangkut tuduhan serius terhadap individu tertentu, cerita tersebut dalam wawancara disampaikan sebagai pengalaman dan persepsi pribadi Gus Muhammad. Tidak terdapat verifikasi independen terhadap peristiwa tersebut dalam materi perbincangan yang menjadi dasar tulisan ini.
Gus Muhammad mengaku pernah dipanggil ke sebuah rumah dalam keadaan sepi. Ia mengatakan bahwa pada waktu itu dirinya belum menikah.
Menurut ceritanya, ia kemudian merasa situasi tersebut merupakan sebuah upaya untuk memancingnya melakukan tindakan yang tidak semestinya.
Gus Muhammad mengatakan dirinya memilih berhati-hati karena menduga ada kemungkinan dirinya sedang dijebak.
Ia kemudian menceritakan bahwa setelah peristiwa tersebut terjadi, muncul persoalan antara pihak-pihak yang terlibat. Menurut Gus Muhammad, pengalaman itu menjadi salah satu faktor yang membuat dirinya semakin mempertanyakan lingkungan yang selama ini diikutinya.
Pengalaman Itu Menjadi Titik Pertanyaan
Gus Muhammad mengatakan pengalaman tersebut membuatnya bertanya mengenai perilaku seseorang yang menurut keyakinannya memiliki hubungan dengan Nabi Muhammad SAW.
Ia kemudian mengaitkan perilaku seseorang dengan konsep sifat-sifat Nabi yang dikenal dalam tradisi Islam, yakni siddiq, amanah, tabligh, dan fathanah.
Menurut Gus Muhammad, pertanyaan tersebut semakin memperkuat keraguannya.
“Jadi saya curiga, masa ini keturunan Nabi,” ujarnya.
Ia mengatakan, setelah itu tingkat kepercayaannya terhadap lingkungan habib mulai berkurang.
Persoalan Ucapan Kasar Setelah Pekerjaan
Selain pengalaman tersebut, Gus Muhammad menceritakan peristiwa lain yang menurut dia menjadi salah satu alasan dirinya semakin menjauh.
Ia mengatakan pernah membantu pekerjaan seorang habib di rumah. Menurut Gus Muhammad, terdapat kesepakatan bahwa pekerjaan tersebut dilakukan sampai setelah salat Magrib.
Ketika waktu Magrib tiba dan pekerjaan dianggap telah selesai sesuai kesepakatan, Gus Muhammad mengatakan dirinya menyampaikan izin untuk mengakhiri pekerjaan.
Menurut ceritanya, pihak yang bersangkutan justru marah dan mengeluarkan kata-kata kasar.
Gus Muhammad mengatakan ucapan tersebut membuat dirinya semakin mempertanyakan perilaku orang yang saat itu masih diyakininya sebagai keturunan Nabi.
Ia mengatakan tidak pernah mendengar orang tuanya menggunakan kata-kata kasar serupa kepadanya.
“Orang tua saya enggak pernah selama hidup saya kok. Ini kok katanya turunan Nabi kok bilangnya begitu,” kata Gus Muhammad.
Permintaan Maaf Melalui Pesan WhatsApp
Menurut Gus Muhammad, orang yang disebutnya sebagai habib kemudian menyadari kesalahan dan meminta maaf melalui WhatsApp.
Ia mengatakan telah memaafkan orang tersebut, tetapi pengalaman tersebut tetap menjadi bagian dari alasan dirinya mengambil jarak.
“Kalau urusan maaf ya saya maafin,” ujarnya.
Setelah kejadian itu, Gus Muhammad mengatakan hubungannya dengan lingkungan tersebut semakin renggang.
Memilih Berpisah dari Lingkungan Muhibin
Gus Muhammad mengatakan bahwa setelah kepercayaan dirinya berubah, ia tidak lagi ingin kembali menjadi bagian dari lingkungan tersebut.
Ia mengaku pernah mendapat upaya pendekatan melalui orang lain agar kembali.
Namun, menurut dia, keputusan tersebut sudah menjadi prinsip pribadi.
“Kalau saya sudah enggak mau ya enggak mau. Walaupun dikasih uang berapa pun tetap enggak mau,” ujar Gus Muhammad.
Ia menyebut keputusan tersebut bukan didasarkan pada persoalan materi, melainkan karena pengalaman yang membuatnya merasa tidak lagi nyaman.
Menurut Gus Muhammad, dirinya kemudian mulai melihat sejumlah pembahasan mengenai polemik nasab di YouTube.
Ia menyebut nama Kiai Imad sebagai salah satu tokoh yang menurutnya membuat pembahasan mengenai nasab semakin menarik perhatiannya. Ia juga menyebut KH Nur Ihyak Hadinegoro dan Gus Aziz dalam konteks proses yang kemudian membuatnya mempelajari sejarah.
Mempelajari Polemik Nasab Melalui Media Sosial
Gus Muhammad mengatakan bahwa setelah keluar dari lingkungan tersebut, dirinya menemukan berbagai pembahasan mengenai sejarah dan nasab di YouTube.
Ia mengaku kemudian mempelajari materi-materi tersebut secara lebih serius.
Menurut Gus Muhammad, proses tersebut akhirnya memperkuat keyakinannya terhadap keputusan yang telah diambil.
Dalam perbincangan, ia menyebut proses tersebut sebagai bagian dari hidayah yang menurutnya datang dari Allah SWT.
Ia juga mengatakan tokoh-tokoh yang disebutnya dalam pembicaraan hanya menjadi perantara, sementara hidayah tetap diyakininya berasal dari Allah.
Tidak Mengaitkan Keputusan dengan Imbalan
Gus Muhammad mengatakan dirinya tidak ingin kembali meskipun mendapatkan tawaran materi.
Menurutnya, pendirian merupakan sesuatu yang tidak dapat ditukar dengan uang.
Ia menyatakan akan tetap mempertahankan keputusan yang sudah diambil.
Cerita tentang Pengalaman Keluarga pada Era 1980-an
Dalam wawancara tersebut, Gus Muhammad juga menceritakan pengalaman yang dialami neneknya ketika dirinya masih kecil.
Menurut Gus Muhammad, neneknya merupakan orang yang cukup berada pada masa itu. Ia mengatakan pernah ada seseorang yang mengaku sebagai keturunan Rasulullah dan kemudian meminta sejumlah uang kepada neneknya.
Gus Muhammad memperkirakan jumlah yang dikeluarkan neneknya sekitar Rp75 juta dalam nilai uang pada masa tersebut.
Ia mengatakan peristiwa itu terjadi sekitar era 1980-an.
Menurut cerita Gus Muhammad, pemberian uang tersebut bukan dalam bentuk pinjaman yang memiliki akad pengembalian, melainkan diberikan berdasarkan alasan tertentu yang disampaikan oleh pihak yang meminta.
Gus Muhammad mengatakan pada masa tersebut keluarganya masih memiliki rasa takut dan penghormatan yang tinggi terhadap orang yang mengaku sebagai keturunan Nabi.
Ia menyebut pengalaman tersebut baru terasa sebagai persoalan setelah orang yang meminta uang itu pergi.
Ketakutan terhadap Doktrin Kualat
Gus Muhammad juga mengaitkan pengalaman keluarganya dengan pemahaman masyarakat pada masa tersebut mengenai konsep kualat.
Menurut dia, sebagian masyarakat ketika itu memiliki ketakutan bahwa tindakan terhadap orang yang diyakini sebagai keturunan Nabi dapat membawa akibat buruk.
Gus Muhammad mengatakan ketakutan semacam itu membuat sebagian orang sulit mempertanyakan tindakan orang yang dihormati.
Ia kemudian menyampaikan bahwa kondisi sosial tersebut berbeda dengan situasi ketika polemik mengenai nasab mulai banyak dibicarakan secara terbuka.
Cerita tentang Sepeda Motor Milik Keluarga
Gus Muhammad juga mengisahkan pengalaman ayahnya yang menurut dia pernah meminjamkan sepeda motor kepada seseorang dari lingkungan tersebut.
Menurut cerita Gus Muhammad, sepeda motor itu dipinjam selama sekitar satu minggu. Karena tidak dikembalikan, ayahnya kemudian mencari kendaraan tersebut.
Menurut Gus Muhammad, sepeda motor akhirnya ditemukan di kawasan lokalisasi di Surabaya.
Ia mengatakan pengalaman tersebut menjadi salah satu peristiwa yang membuat keluarganya mempertanyakan hubungan sosial yang selama ini mereka jalani.
Gus Muhammad juga mengatakan bahwa ayahnya kemudian mengetahui berbagai pembahasan mengenai polemik nasab dan akhirnya menerima pandangan yang berbeda dari keyakinan sebelumnya.
Ia menyebut ayahnya juga pernah merasa dirugikan dalam sejumlah pengalaman dengan orang yang disebutnya sebagai habib.
Kisah Tetangga yang Kehilangan Sepeda Motor
Gus Muhammad kemudian menceritakan pengalaman lain yang menurutnya dialami seorang tetangga.
Menurut cerita tersebut, seorang tetangga pernah meminjamkan sepeda motor kepada seorang habib yang sering berada di lingkungan sekitar.
Sepeda motor tersebut, menurut Gus Muhammad, masih dalam masa kredit dan tinggal menyelesaikan beberapa bulan pembayaran.
Namun, sepeda motor disebut tidak dikembalikan.
Menurut cerita Gus Muhammad, pihak keluarga kemudian mencari kendaraan tersebut. Orang yang meminjam kendaraan akhirnya disebut kembali ke kampung dengan menggunakan becak.
Dalam cerita itu, Gus Muhammad juga menyebut adanya keyakinan masyarakat mengenai ilmu tertentu yang dianggap dapat membuat seseorang kehilangan kemarahan ketika bertemu dengan pihak yang sebelumnya membuatnya dirugikan.
Namun, pernyataan tersebut merupakan bagian dari cerita dan keyakinan yang disampaikan dalam perbincangan dan tidak disertai pembuktian independen.
Doktrin yang Disebut Membuat Masyarakat Takut
Salah satu tema yang muncul dalam perbincangan adalah rasa takut sebagian masyarakat terhadap sosok yang diyakini sebagai keturunan Nabi.
Gus Muhammad mengatakan pada masa lalu terdapat pemahaman tertentu mengenai kualat yang membuat masyarakat enggan melawan atau mempertanyakan perilaku orang yang dihormati.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat seseorang yang merasa dirugikan tetap memilih diam.
KH Nur Ihyak Hadinegoro dalam perbincangan kemudian mengaitkan persoalan tersebut dengan pentingnya masyarakat memiliki keberanian untuk berpikir kritis.
Namun, keseluruhan pembahasan tersebut merupakan pandangan dan pengalaman narasumber yang disampaikan dalam forum tersebut.
Pengalaman Mengenai Amalan dan Sanad Keilmuan
Selain persoalan perilaku dan hubungan sosial, Gus Muhammad juga menceritakan pengalamannya terkait amalan keagamaan.
Ia mengatakan pernah mendapatkan suatu amalan selawat dari seseorang.
Menurut Gus Muhammad, bacaan selawat tersebut pada dasarnya merupakan selawat yang umum dikenal, tetapi dirinya mempertanyakan sanad keilmuan orang yang memberikan amalan tersebut.
Ia mengaku kemudian kembali menggunakan amalan yang berasal dari guru-guru yang selama ini menjadi rujukannya.
Gus Muhammad juga menyebut pentingnya keberadaan guru dalam proses belajar agama.
Dalam pembahasan tersebut, ia mengutip konsep bahwa ilmu keagamaan memiliki keterkaitan dengan guru dan sanad.
Kembali kepada Amalan Guru
Gus Muhammad mengatakan setelah merasa tidak yakin dengan amalan yang diperolehnya, ia memilih meninggalkannya.
Ia kemudian kembali kepada amalan dari guru-gurunya.
Menurut dia, keputusan tersebut dilakukan karena dirinya ingin memastikan bahwa amalan yang dijalankan memiliki dasar keilmuan yang jelas menurut pemahamannya.
Mengaku Mendapat Fitnah Setelah Berpisah
Setelah memutus hubungan dengan lingkungan sebelumnya, Gus Muhammad mengatakan dirinya menghadapi sejumlah reaksi sosial.
Ia mengaku pernah disebut sesat dan mendapatkan berbagai tuduhan dari orang-orang di sekitarnya.
Menurut Gus Muhammad, sebagian orang yang sebelumnya dekat dengannya kemudian berubah sikap.
Ia juga menyebut adanya upaya yang menurutnya dilakukan melalui teman atau tetangga untuk memengaruhi citranya di lingkungan sekitar.
“Banyak yang membenci saya. Nama baik saya tercemar,” ujar Gus Muhammad.
Meski demikian, ia mengatakan tidak ingin memusatkan perhatian pada orang-orang yang tidak menyukainya.
Menurutnya, ia memilih fokus terhadap dirinya sendiri dan tujuan yang diyakininya.
Perdebatan Mengenai Framing dan Informasi di Media
Dalam perbincangan, KH Nur Ihyak Hadinegoro dan Gus Muhammad juga membahas persoalan informasi yang beredar melalui media sosial.
Mereka menyinggung istilah framing, yakni cara suatu informasi disajikan sehingga dapat membentuk persepsi tertentu terhadap seseorang atau kelompok.
Gus Muhammad mengatakan dirinya merasa pernah menjadi sasaran informasi yang menurutnya tidak sesuai dengan pengalaman pribadi yang ia alami.
Pembahasan kemudian berkembang mengenai klaim jumlah jamaah dalam sebuah acara haul yang disebut sangat besar.
Dalam perbincangan itu, angka yang disebut mencapai ratusan juta orang dipertanyakan oleh narasumber.
Namun, angka tersebut tidak disertai dokumen atau sumber statistik yang diverifikasi dalam materi wawancara tersebut.
Karena itu, informasi mengenai jumlah peserta tersebut dalam konteks artikel ini diposisikan sebagai bagian dari pembahasan narasumber, bukan data yang telah diverifikasi secara independen.
Gus Muhammad Mengakui Ada Habib yang Menurutnya Baik
Di tengah kritik yang disampaikan, Gus Muhammad juga mengatakan bahwa dirinya mengenal orang dari kalangan habib yang menurutnya berperilaku baik.
Ia menyebut ada orang yang tidak menggunakan status keturunan sebagai alasan untuk menempatkan dirinya lebih tinggi dibandingkan orang lain.
Menurut Gus Muhammad, orang tersebut menjalankan syariat agama dan menghargai orang lain.
“Ya sama-sama,” kata Gus Muhammad ketika menggambarkan hubungan sosial yang menurutnya egaliter.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa dalam wawancara itu Gus Muhammad juga menyebut adanya pengalaman berbeda terhadap individu yang ia nilai baik.
Ia menegaskan bahwa pengalaman yang disampaikannya terutama berkaitan dengan orang-orang yang pernah berinteraksi langsung dengannya.
Pesan Gus Muhammad kepada Muhibin
Pada bagian akhir wawancara, Gus Muhammad menyampaikan pesan kepada orang-orang yang masih menjadi muhibin.
Ia mengajak mereka untuk kembali memperhatikan peran ulama dan kiai pribumi dalam pendidikan keislaman.
Menurut Gus Muhammad, kiai-kiai pribumi memiliki peran dalam mengajarkan Al Quran dan ilmu agama kepada masyarakat.
Ia juga menyampaikan imbauan agar masyarakat mempertimbangkan kembali lingkungan pengajian yang mereka ikuti.
Dalam perbincangan tersebut, Gus Muhammad bahkan menyarankan agar orang yang masih menjadi muhibin menjauhi majelis yang menurutnya tidak sesuai dengan keyakinannya.
Ia juga menyampaikan pandangannya mengenai acara haul, maulid dan selawatan yang diselenggarakan oleh pihak yang menjadi objek kritiknya.
Namun, pandangan tersebut merupakan pendapat pribadi Gus Muhammad dalam wawancara, bukan ketetapan hukum agama yang ditetapkan melalui lembaga keagamaan tertentu.
KH Nur Ihyak Hadinegoro: Pengalaman Pribadi Dinilai Penting Didengar
KH Nur Ihyak Hadinegoro mengatakan bahwa pengalaman Gus Muhammad dianggap penting karena berasal dari orang yang mengaku pernah berada langsung dalam lingkungan tersebut.
Menurut KH Nur Ihyak, pengalaman seseorang yang pernah mengikuti sebuah lingkungan dapat memberikan perspektif berbeda ketika orang tersebut kemudian memutuskan keluar.
Ia menyampaikan bahwa masyarakat dapat mengambil pelajaran dari pengalaman yang disampaikan dalam acara tersebut.
Namun, pengalaman pribadi tetap perlu dibedakan dari fakta yang telah terverifikasi secara independen.
Seruan untuk Berpikir dan Memeriksa Informasi
Dalam pembahasan tersebut, KH Nur Ihyak juga mengajak masyarakat untuk berpikir sebelum menerima suatu informasi.
Ia menyatakan bahwa perjuangan yang dilakukan oleh pihaknya tidak dimaksudkan untuk meminta imbalan dari masyarakat.
Menurutnya, masyarakat perlu menilai sendiri informasi yang diterima.
Tema yang berulang dalam pembicaraan tersebut adalah ajakan agar masyarakat tidak menerima klaim secara langsung tanpa proses berpikir dan pemeriksaan.
Perjalanan Gus Muhammad dari Muhibin hingga Menjauh
Secara keseluruhan, cerita Gus Muhammad menggambarkan perjalanan pribadi yang dimulai dari keyakinan kuat terhadap sosok yang diyakininya sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW.
Ia mengatakan keyakinan tersebut diperoleh dari latar belakang pendidikan pesantren dan penghormatan terhadap keturunan Nabi.
Selama sekitar lima tahun menjadi muhibin, ia mengaku mengalami sejumlah peristiwa yang kemudian menimbulkan pertanyaan.
Pengalaman tersebut, menurutnya, meliputi hubungan sosial, persoalan pekerjaan, ucapan kasar, dugaan jebakan, pengalaman keluarga, peminjaman kendaraan, amalan keagamaan, hingga reaksi sosial setelah dirinya meninggalkan lingkungan tersebut.
Setelah itu, Gus Muhammad mulai mempelajari polemik nasab dan sejarah melalui berbagai sumber di internet.
Ia mengatakan proses tersebut memperkuat keputusan yang sudah dibuat.
FAQ
1. Siapa Gus Muhammad yang diwawancarai KH Nur Ihyak Hadinegoro?
Gus Muhammad memperkenalkan dirinya sebagai warga Surabaya berdarah Madura. Dalam wawancara tersebut, ia menceritakan bahwa dirinya pernah menjadi muhibin selama sekitar lima tahun di kawasan Sunan Ampel.
2. Mengapa Gus Muhammad mengaku berhenti menjadi muhibin?
Menurut pengakuannya, keputusan tersebut dipengaruhi oleh sejumlah pengalaman pribadi selama berinteraksi dengan lingkungan yang diikutinya. Ia menyebut persoalan perilaku, ucapan kasar, hubungan sosial, pengalaman keluarga, dan hal lain sebagai faktor yang membuatnya semakin menjauh.
3. Apa yang membuat Gus Muhammad mulai mempertanyakan keyakinannya?
Gus Muhammad mengatakan sejumlah pengalaman pribadi membuat dirinya mempertanyakan kesesuaian antara perilaku orang yang dihormatinya dengan gambaran akhlak yang selama ini dipahaminya dari pendidikan pesantren.
4. Berapa lama Gus Muhammad menjadi muhibin?
Menurut keterangannya dalam wawancara, Gus Muhammad menjadi muhibin selama sekitar lima tahun.
5. Apakah Gus Muhammad langsung mempercayai informasi tentang polemik nasab?
Tidak. Ia mengatakan bahwa pada awalnya dirinya tidak langsung percaya terhadap informasi yang diterimanya. Ia memilih mengamati dan mencari pengalaman sendiri sebelum mengambil keputusan.
6. Apa yang dilakukan Gus Muhammad setelah meninggalkan lingkungan tersebut?
Ia mengatakan mulai mempelajari polemik nasab dan sejarah melalui berbagai pembahasan di YouTube dan media sosial. Ia juga menyebut beberapa tokoh yang menurutnya menjadi perantara dalam proses tersebut.
7. Apakah Gus Muhammad mengatakan semua habib memiliki perilaku yang sama?
Dalam wawancara tersebut, Gus Muhammad menyebut dirinya mengenal setidaknya ada orang dari kalangan habib yang menurutnya berperilaku baik, tidak sombong, tidak menganggap dirinya memiliki kedudukan lebih tinggi, dan tetap menjalankan syariat agama.
8. Apa pesan Gus Muhammad kepada para muhibin?
Gus Muhammad mengajak para muhibin untuk memperhatikan kembali peran ulama dan kiai pribumi serta mempertimbangkan lingkungan keagamaan yang mereka ikuti.
9. Apakah seluruh cerita dalam wawancara tersebut sudah terverifikasi?
Tidak ada verifikasi independen dalam materi wawancara yang menjadi dasar artikel ini. Karena itu, cerita mengenai dugaan tindakan tertentu diposisikan sebagai kesaksian atau klaim pribadi Gus Muhammad.
10. Apa tema utama perbincangan KH Nur Ihyak Hadinegoro dan Gus Muhammad?
Tema utama perbincangan adalah pengalaman Gus Muhammad selama menjadi muhibin, alasan dirinya meninggalkan lingkungan tersebut, pengalaman sosial dan keluarga yang ia ceritakan, pembelajaran mengenai polemik nasab, serta pesannya kepada orang-orang yang masih menjadi muhibin.
Kesimpulan
Bincang-bincang KH Nur Ihyak Hadinegoro bersama Gus Muhammad pada 9 Oktober 2026 membahas perjalanan pribadi seorang mantan muhibin yang mengaku pernah berada selama sekitar lima tahun dalam lingkungan yang ia ikuti.
Gus Muhammad mengatakan pada awalnya dirinya meyakini habib sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW. Keyakinan tersebut, menurut dia, berkaitan dengan pendidikan pesantren dan penghormatan terhadap keturunan Nabi.
Namun, sejumlah pengalaman yang diklaimnya terjadi selama berinteraksi secara langsung kemudian membuat dirinya mempertanyakan keyakinan tersebut. Ia menyebut pengalaman terkait dugaan jebakan, ucapan kasar, hubungan pekerjaan, pengalaman keluarga, peminjaman kendaraan, amalan keagamaan, hingga reaksi sosial setelah meninggalkan lingkungan tersebut.
Setelah berpisah, Gus Muhammad mengaku mempelajari polemik nasab dan sejarah melalui berbagai sumber di media sosial. Ia kemudian menyatakan semakin mantap dengan keputusan untuk tidak kembali menjadi muhibin.
Dalam perbincangan itu, Gus Muhammad juga mengakui bahwa terdapat orang dari kalangan habib yang menurutnya berperilaku baik dan menghargai orang lain.
Kesaksian tersebut menjadi bagian dari perbincangan yang lebih luas mengenai hubungan antara penghormatan terhadap tokoh agama, perilaku individu, pendidikan keislaman, dan perdebatan mengenai nasab.
Karena materi yang dibahas merupakan pengalaman dan kesaksian pribadi, setiap tuduhan atau klaim mengenai individu tertentu tetap memerlukan verifikasi dan keterangan dari pihak terkait sebelum dapat dinyatakan sebagai fakta.







