Mengapa Rhoma Irama Kembali Undang KH Imaduddin? Ini Penjelasan soal Polemik Nasab Ba’alawi dalam Podcast Terbaru

WARTA BATAVIA – Rhoma Irama kembali menghadirkan KH Imaduddin Utsman Al-Bantani dalam podcast Bisikan Rhoma untuk menjawab berbagai pertanyaan mengenai penelitian nasab Ba’alawi, termasuk klarifikasi mengenai istilah “tesis” dan metode penelitian yang digunakan.
Penjelasan KH Imaduddin soal Polemik Nasab Ba’alawi dalam Podcast Terbaru
Podcast Bisikan Rhoma di kanal Rhoma Irama Official kembali mengangkat pembahasan mengenai penelitian nasab Ba’alawi dengan menghadirkan KH Imaduddin Utsman Al-Bantani sebagai narasumber pada 9 Agustus 2024.
Dalam pembukaan podcast, Rhoma Irama menjelaskan bahwa pembahasan tersebut merupakan kelanjutan dari episode sebelumnya yang membahas penelitian mengenai silsilah Ba’alawi. Menurut Rhoma, hingga saat itu penelitian masih terus berlangsung dan ia berupaya menghadirkan berbagai pihak agar masyarakat memperoleh informasi dari lebih dari satu sudut pandang.
Rhoma mengatakan telah mengundang sejumlah tokoh yang memiliki pandangan berbeda, termasuk dari kalangan Ba’alawi. Beberapa nama yang disebutkan antara lain Habib Taufiq Assegaf, Habib Luthfi bin Yahya, hingga Habib Rizieq Shihab. Namun, menurutnya, undangan tersebut belum memperoleh tanggapan ataupun ditolak sehingga dialog belum dapat terlaksana.
“Dalam rangka keseimbangan informasi, saya juga mengundang dari pihak Ba’alawi,” ujar Rhoma Irama dalam podcast tersebut.
Ia juga membantah anggapan yang menyebut dirinya berpihak kepada salah satu kelompok. Rhoma menjelaskan bahwa penyematan jaket atau atribut organisasi yang pernah diterimanya merupakan bentuk penghormatan sebagaimana lazim dilakukan dalam berbagai kegiatan.
Menurut Rhoma, hal tersebut tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa dirinya menjadi anggota organisasi tertentu ataupun kehilangan sikap netral sebagai pembawa acara.
Rhoma Irama Sebut Podcast Dibuat untuk Memberikan Ruang Dialog
Dalam kesempatan itu, Rhoma Irama menegaskan bahwa tujuan podcast adalah menghadirkan ruang diskusi mengenai isu yang sedang menjadi perhatian publik.
Ia menyatakan tetap membuka kesempatan kepada pihak-pihak yang memiliki pandangan berbeda untuk hadir dan menyampaikan argumentasi secara langsung di hadapan masyarakat.
Menurut Rhoma, keseimbangan informasi menjadi penting agar publik dapat mendengar penjelasan dari masing-masing pihak yang terlibat dalam polemik tersebut.
Karena beberapa narasumber yang diundang belum hadir, Rhoma kembali mengundang KH Imaduddin Utsman Al-Bantani untuk menjawab sejumlah pertanyaan yang berkembang di media sosial maupun kanal YouTube.
KH Imaduddin Klarifikasi Istilah “Tesis” yang Banyak Diperdebatkan
Pertanyaan pertama yang diajukan Rhoma Irama berkaitan dengan penggunaan istilah “tesis” terhadap tulisan KH Imaduddin mengenai nasab Ba’alawi.
Menurut Rhoma, muncul berbagai tanggapan yang menyebut tulisan tersebut bukan tesis karena tidak melalui sidang akademik di perguruan tinggi.
Menanggapi hal tersebut, KH Imaduddin menjelaskan bahwa terdapat perbedaan makna antara tesis sebagai karya akademik jenjang magister dengan istilah tesis dalam pengertian filsafat.
Ia menjelaskan bahwa tesis akademik merupakan karya ilmiah yang disusun mahasiswa program magister sebagai syarat memperoleh gelar.
KH Imaduddin kemudian mengungkapkan bahwa dirinya memang pernah menyusun tesis magister ketika menempuh pendidikan di Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta pada Program Studi Tafsir dan Hadis.
Menurut penjelasannya, tesis tersebut berjudul “Ahlul Kitab Inda Syekh Nawawi Al-Bantani” dan telah melalui proses sidang akademik sebagaimana ketentuan perguruan tinggi.
Perbedaan Tesis Akademik dan Tesis dalam Pengertian Filsafat
KH Imaduddin mengatakan bahwa tulisan mengenai penelitian nasab Ba’alawi yang banyak diperbincangkan masyarakat bukanlah tesis akademik sebagaimana karya mahasiswa program S-2.
Ia menjelaskan bahwa istilah tesis dalam tulisan tersebut digunakan dalam pengertian filsafat, yakni sebagai sebuah proposisi atau kesimpulan ilmiah yang nantinya dapat diuji melalui antitesis dan menghasilkan sintesis.
Menurutnya, penyebutan istilah “tesis” terhadap tulisan tersebut bukan berasal dari dirinya sendiri.
Ia mengatakan masyarakat yang kemudian menggunakan istilah tersebut untuk menyebut kesimpulan ilmiah yang ia susun mengenai penelitian nasab Ba’alawi.
“Yang menyebut tesis bukan saya yang pertama kali. Masyarakat menyebut kesimpulan ilmiah itu sebagai sebuah tesis,” ujar KH Imaduddin.
Ia menambahkan bahwa dalam tradisi filsafat dikenal konsep tesis, antitesis, dan sintesis, sehingga istilah tersebut digunakan dalam konteks penyusunan argumentasi ilmiah.
Sebut Kajiannya Telah Dibaca Banyak Akademisi
KH Imaduddin juga menjelaskan bahwa tulisan mengenai nasab Ba’alawi telah mendapatkan perhatian dari berbagai kalangan akademisi.
Menurutnya, apabila tesis magister hanya diuji oleh sejumlah dosen penguji dalam sidang akademik, maka tulisan mengenai penelitian tersebut telah dibaca oleh lebih banyak akademisi dari berbagai daerah.
Ia mengatakan sejumlah profesor maupun doktor telah memberikan tanggapan dalam bentuk tulisan yang berisi argumentasi pembanding atau antitesis terhadap kesimpulan yang disusunnya.
Dalam podcast tersebut, KH Imaduddin menyebut salah satu contoh tanggapan berasal dari Dr. Ja’far Assegaf yang kemudian dipelajarinya sebagai bagian dari proses ilmiah.
Menurutnya, berbagai tanggapan tersebut menjadi bagian dari proses pengujian terhadap argumentasi yang ia bangun.
Rhoma Irama Menyoroti Beragam Pertanyaan dari Publik
Rhoma Irama mengatakan alasan utama menghadirkan kembali KH Imaduddin adalah banyaknya pertanyaan yang berkembang di media sosial setelah podcast sebelumnya ditayangkan.
Menurut Rhoma, sejumlah pertanyaan tidak hanya berkaitan dengan substansi penelitian, tetapi juga menyangkut metodologi penelitian, istilah tesis, hingga proses penyusunan argumentasi ilmiah.
Karena itu, ia memandang perlu memberikan kesempatan kepada KH Imaduddin untuk menjelaskan langsung berbagai isu yang diperdebatkan tersebut.
Rhoma berharap penjelasan yang disampaikan dalam podcast dapat menjadi bagian dari upaya menghadirkan informasi yang lebih lengkap kepada masyarakat.
KH Imaduddin Paparkan Dasar Penelitian Nasab Ba’alawi
Memasuki pembahasan utama, KH Imaduddin Utsman Al-Bantani menjelaskan alasan yang melandasi kesimpulan penelitiannya mengenai nasab Ba’alawi. Menurut dia, kajian yang disusunnya berangkat dari penelusuran terhadap berbagai sumber sejarah, kitab nasab, manuskrip, serta literatur yang berasal dari beberapa periode.
Dalam dialog tersebut, KH Imaduddin mengatakan bahwa berbagai tanggapan yang muncul setelah publikasi penelitiannya telah ia pelajari sebagai bagian dari proses akademik. Ia menyebut terdapat sejumlah tulisan yang disusun sebagai antitesis terhadap kesimpulan yang ia buat.
Salah satu yang disebutkan adalah tulisan Dr. Ja’far Assegaf. Menurut KH Imaduddin, ia telah membaca dan mempelajari argumentasi tersebut, namun berpendapat bahwa tulisan tersebut belum menjawab pokok persoalan yang ia kemukakan.
“Ada beberapa doktor yang membuat tulisan pembanding atau antitesis. Kami pelajari, tetapi menurut saya belum menjawab pokok persoalan yang saya angkat,” ujar KH Imaduddin dalam podcast.
Menyebut Ada Rentang Waktu yang Menjadi Fokus Penelitian
Dalam penjelasannya, KH Imaduddin mengatakan fokus penelitiannya berada pada rentang waktu yang menurutnya belum dapat dijelaskan melalui sumber-sumber yang tersedia.
Ia menyebut adanya masa sekitar 550 tahun yang menurut penjelasannya belum didukung data sejarah yang dapat diverifikasi.
Menurut KH Imaduddin, berbagai referensi mengenai silsilah yang ia telusuri baru muncul pada periode yang lebih belakangan dibandingkan masa tokoh-tokoh yang menjadi objek pembahasan.
Ia mengatakan kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa dirinya terus menelusuri berbagai manuskrip dan kitab sejarah dari sejumlah wilayah.
Menurutnya, hingga saat podcast direkam, ia belum menemukan sumber yang menurut penilaiannya mampu menjembatani rentang waktu tersebut.
Penelitian Disebut Menggunakan Pendekatan Sejarah dan Manuskrip
KH Imaduddin menjelaskan bahwa penelitian yang dilakukannya tidak hanya bertumpu pada satu jenis referensi.
Ia mengatakan telah mempelajari kitab-kitab nasab, kitab sejarah, manuskrip klasik, hingga literatur yang berkaitan dengan genealogi Islam.
Dalam podcast, ia menyebut proses penelusuran dilakukan terhadap sumber-sumber dari berbagai abad untuk melihat kesinambungan informasi mengenai tokoh-tokoh yang dibahas.
Menurut KH Imaduddin, pendekatan tersebut dilakukan agar setiap informasi dapat dibandingkan dengan referensi lain yang berasal dari periode berbeda.
Ia juga menyebut penelitian tersebut berkembang seiring ditemukannya sejumlah manuskrip yang sebelumnya belum banyak dikaji.
Menjelaskan Konsep Kebenaran Ilmiah Menurut Pendekatan Filsafat
Selain menjelaskan sumber penelitian, KH Imaduddin juga menerangkan pandangannya mengenai kriteria sebuah kesimpulan ilmiah.
Menurutnya, dalam kajian filsafat terdapat sejumlah unsur yang menjadi ukuran agar suatu kesimpulan dapat disebut sebagai kebenaran ilmiah.
Ia menyebut beberapa unsur tersebut meliputi:
- rasional;
- logis;
- empiris; dan
- pragmatis atau memberikan manfaat.
KH Imaduddin mengatakan empat unsur tersebut menjadi dasar yang ia gunakan ketika menyusun argumentasi dalam penelitiannya.
Menurutnya, sebuah kesimpulan ilmiah tidak cukup hanya berupa pendapat, tetapi harus dapat dipertanggungjawabkan melalui argumentasi yang dapat diuji.
Menjelaskan Perbedaan Persoalan Keimanan dan Kajian Sejarah
Dalam podcast tersebut, Rhoma Irama juga menyampaikan pertanyaan mengenai argumentasi yang menyebut keberadaan seseorang tidak selalu harus tercatat dalam sumber sejarah.
Menanggapi pertanyaan itu, KH Imaduddin membedakan antara persoalan yang termasuk ranah keimanan dengan persoalan yang menurutnya berada dalam wilayah kajian sejarah.
Ia menjelaskan bahwa dalam ajaran Islam terdapat sejumlah perkara yang diterima sebagai bagian dari rukun iman, seperti keberadaan malaikat, hari kiamat, ataupun wahyu.
Menurutnya, perkara-perkara tersebut diyakini berdasarkan ajaran agama.
Sementara itu, menurut penjelasan KH Imaduddin, penelitian sejarah memiliki pendekatan yang berbeda karena memerlukan data dan sumber yang dapat diverifikasi.
Dalam dialog tersebut, ia menggunakan perbandingan tersebut untuk menjelaskan alasan mengapa dirinya membedakan kajian sejarah dengan persoalan akidah.
Menyinggung Pembahasan Mengenai DNA
Pada bagian lain dialog, KH Imaduddin juga menyinggung perkembangan penelitian DNA yang menurutnya mulai banyak dibahas dalam literatur ilmiah Timur Tengah pada awal dekade 2000-an.
Ia mengatakan telah membaca sejumlah referensi mengenai penelitian genetika yang berkaitan dengan garis keturunan.
Dalam podcast tersebut, KH Imaduddin menyebut bahwa pembahasan mengenai DNA menjadi salah satu aspek yang ia pelajari bersama pendekatan sejarah dan filologi.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa penelitian yang ia sampaikan tidak hanya bertumpu pada satu disiplin ilmu, melainkan merupakan gabungan dari berbagai pendekatan yang menurutnya saling melengkapi.
Menjelaskan Pandangannya Mengenai Tokoh-Tokoh dalam Silsilah
Dalam penjelasan berikutnya, KH Imaduddin membahas sejumlah nama yang terdapat dalam silsilah yang menjadi objek penelitiannya.
Ia menyampaikan pandangannya mengenai keberadaan beberapa tokoh berdasarkan hasil pembacaan terhadap kitab-kitab yang ia telusuri.
Menurutnya, terdapat perbedaan antara keberadaan individu sebagai tokoh sejarah dengan narasi kesejarahan yang berkembang mengenai tokoh tersebut.
Ia menjelaskan bahwa dalam beberapa kasus dirinya membedakan antara sosok yang diyakini pernah hidup dengan kisah atau atribusi yang menurut penilaiannya belum dapat diverifikasi melalui sumber sejarah yang ditemukan.
Penjelasan tersebut menjadi bagian dari argumentasi yang ia paparkan mengenai metode membaca sumber-sumber sejarah dalam penelitian genealogi.
Rhoma Irama Kembali Menanyakan Tudingan “Copy Paste”
Setelah pembahasan mengenai metodologi penelitian, Rhoma Irama kemudian mengangkat isu lain yang ramai diperbincangkan di media sosial.
Ia menanyakan tudingan yang menyebut penelitian KH Imaduddin merupakan hasil “copy paste” dari tulisan atau materi yang beredar di internet maupun dari kalangan tertentu.
Menanggapi hal itu, KH Imaduddin mengatakan tudingan tersebut muncul setelah, menurutnya, argumentasi ilmiah yang ia sampaikan mendapat berbagai tanggapan.
Ia menjelaskan bahwa istilah “copy paste” berarti mengambil karya orang lain secara utuh kemudian mengatasnamakannya sebagai karya sendiri.
KH Imaduddin kemudian memperlihatkan salah satu bukunya yang berjudul Kronik Perjalanan Ilmiah dalam Mengungkap Nasab Palsu Ba’alawi, yang menurutnya terdiri dari sekitar 400 halaman.
Ia mengatakan buku tersebut merupakan hasil penulisannya sendiri dan bukan salinan dari materi yang beredar di internet.
Menurut KH Imaduddin, adanya kesamaan pandangan dengan sejumlah penulis lain tidak serta-merta berarti karya tersebut merupakan hasil penyalinan, melainkan dapat terjadi karena membahas tema yang sama dengan menggunakan referensi yang serupa.
KH Imaduddin Jelaskan Referensi yang Digunakan dalam Penelitiannya
Menanggapi tudingan bahwa penelitiannya merupakan hasil menyalin dari sumber tertentu, KH Imaduddin menjelaskan bahwa kajiannya disusun berdasarkan penelusuran terhadap berbagai kitab nasab dan literatur klasik yang berasal dari beragam ulama serta periode sejarah.
Dalam podcast tersebut, ia menyebut sejumlah nama ulama yang menurutnya pernah membahas persoalan nasab, di antaranya Syekh Ali Al-Tantawi, Syekh Murad Sukri Suwaidan, Ibnu Inabah, hingga Imam Fakhruddin Ar-Razi. Menurut KH Imaduddin, rujukan yang digunakan tidak hanya berasal dari satu mazhab ataupun satu wilayah.
Ia juga mengungkapkan bahwa sebagian besar referensi diperoleh melalui penelusuran manuskrip kuno yang tersimpan di berbagai perpustakaan, termasuk naskah yang disebutnya berasal dari Turki.
Menurut KH Imaduddin, penelitian tersebut berkembang seiring ditemukannya sejumlah manuskrip yang sebelumnya belum banyak dijadikan bahan kajian.
Menjelaskan Pentingnya Verifikasi Sumber
KH Imaduddin mengatakan setiap referensi yang digunakan dalam penelitiannya berusaha dibandingkan dengan sumber-sumber lain agar memperoleh gambaran yang lebih utuh.
Ia menjelaskan bahwa proses tersebut dilakukan dengan membaca kitab-kitab sejarah, kitab nasab, hingga manuskrip yang berasal dari periode berbeda.
Menurutnya, pendekatan itu bertujuan untuk melihat kesinambungan informasi antarsumber sehingga dapat menjadi dasar dalam menyusun argumentasi ilmiah.
Klarifikasi Mengenai Peristiwa di Gresik
Selain membahas penelitian, Rhoma Irama juga meminta penjelasan mengenai pemberitaan yang sempat ramai di media sosial terkait kegiatan ceramah KH Imaduddin dan Gus Abbas di Gresik, Jawa Timur.
Menjawab pertanyaan tersebut, KH Imaduddin mengatakan dirinya tidak mengalami persekusi sebagaimana diberitakan di sejumlah media sosial.
Menurut dia, selama berada di lokasi kegiatan, acara berlangsung sebagaimana mestinya dan ia mendapat pengawalan hingga kembali ke tempat singgah.
KH Imaduddin mengaku baru mengetahui adanya informasi mengenai sekelompok massa yang disebut hendak melakukan aksi setelah melihat pemberitaan di media sosial.
Dalam podcast itu, ia menjelaskan bahwa informasi yang diterimanya menyebut situasi di luar lokasi telah ditangani aparat keamanan bersama panitia sehingga kegiatan tetap berlangsung.
Rhoma Irama kemudian menanggapi bahwa berdasarkan video yang beredar, acara tersebut dihadiri ribuan peserta.
Ia juga menyampaikan bahwa dirinya belum melihat adanya bukti yang menunjukkan KH Imaduddin mengalami tindakan persekusi sebagaimana isu yang berkembang.
Tanggapan terhadap Buku Risalah tentang Ahlul Bait dan Nasab Alawiyyin
Rhoma Irama kemudian menanyakan pandangan KH Imaduddin mengenai buku Risalah tentang Ahlul Bait dan Nasab Alawiyyin yang diterbitkan Rabithah Alawiyah.
KH Imaduddin mengatakan dirinya telah membaca buku tersebut.
Menurut dia, isi buku tersebut belum menjawab pokok argumentasi yang ia bangun dalam penelitiannya.
Ia menyebut telah menuliskan tanggapan terhadap buku tersebut melalui tulisan yang dipublikasikan di media daring.
Dalam podcast, KH Imaduddin juga mengatakan bahwa menurut pandangannya terdapat sejumlah bagian dalam buku tersebut yang lebih banyak berisi penjelasan normatif dibandingkan pembahasan terhadap aspek yang menjadi fokus penelitiannya.
Pembahasan Mengenai Sikap terhadap Perbedaan Pandangan
Pada bagian akhir dialog, Rhoma Irama dan KH Imaduddin membahas sikap yang perlu dikedepankan dalam menyikapi perbedaan pandangan.
KH Imaduddin mengatakan bahwa kritik terhadap suatu pendapat tidak boleh diikuti tindakan persekusi ataupun kekerasan.
Menurut dia, perbedaan pendapat sebaiknya diselesaikan melalui dialog, argumentasi, dan penyampaian bukti.
Rhoma Irama juga menyampaikan pesan serupa dengan mengajak seluruh pihak menjaga ukhuwah Islamiyah meskipun memiliki pandangan yang berbeda mengenai suatu persoalan.
Ia kembali menegaskan bahwa kanal podcast yang dikelolanya terbuka bagi narasumber dari berbagai pihak agar masyarakat memperoleh informasi secara berimbang.
Rhoma Irama Kembali Membuka Ruang Dialog
Menjelang penutupan podcast, Rhoma Irama kembali menyampaikan bahwa dirinya masih membuka kesempatan kepada tokoh-tokoh yang memiliki pandangan berbeda untuk hadir dalam podcast.
Ia menyebut undangan tersebut ditujukan agar masyarakat dapat mendengarkan penjelasan langsung dari seluruh pihak yang terlibat dalam polemik.
Menurut Rhoma, podcast tersebut bukan dimaksudkan untuk memutuskan benar atau salah suatu pendapat, melainkan menghadirkan ruang diskusi yang dapat diikuti publik.
KH Imaduddin kemudian menutup pernyataannya dengan mengatakan bahwa tujuan penelitiannya adalah memberikan penjelasan berdasarkan kajian yang telah dilakukan.
Ia juga menyampaikan bahwa kemuliaan seseorang, menurut ajaran Islam, ditentukan oleh ketakwaannya kepada Allah SWT.
Rhoma Irama menutup podcast dengan mengajak masyarakat tetap menjaga persaudaraan sesama umat Islam dan menghormati perbedaan pandangan.
FAQ
Apa topik utama podcast Rhoma Irama bersama KH Imaduddin?
Podcast membahas penelitian mengenai nasab Ba’alawi, klarifikasi terhadap berbagai kritik atas penelitian tersebut, serta tanggapan terhadap isu-isu yang berkembang di ruang publik.
Mengapa Rhoma Irama kembali mengundang KH Imaduddin?
Rhoma Irama menyebut banyak pertanyaan dari masyarakat setelah episode sebelumnya sehingga ia kembali menghadirkan KH Imaduddin untuk memberikan klarifikasi.
Apa yang dijelaskan KH Imaduddin mengenai istilah “tesis”?
Ia menjelaskan bahwa istilah “tesis” yang dimaksud merupakan tesis dalam pengertian filsafat sebagai sebuah kesimpulan ilmiah, bukan tesis akademik program magister.
Apakah Rhoma Irama mengundang narasumber lain?
Ya. Dalam podcast tersebut Rhoma Irama mengatakan telah mengundang sejumlah tokoh dari pihak yang memiliki pandangan berbeda, namun sebagian belum hadir atau belum memberikan tanggapan.
Bagaimana sikap yang disampaikan pada akhir podcast?
Rhoma Irama dan KH Imaduddin sama-sama mengajak masyarakat menjaga ukhuwah, menghindari persekusi, serta menyelesaikan perbedaan melalui dialog dan argumentasi.
Catatan redaksi: Artikel ini merupakan rangkuman isi dialog dalam podcast Rhoma Irama Official yang tayang pada 9 Agustus 2024. Seluruh uraian mengenai penelitian, penafsiran, maupun kesimpulan yang dikutip dalam artikel ini merupakan pernyataan narasumber sebagaimana disampaikan dalam podcast dan bukan merupakan pendapat atau kesimpulan redaksi.
Sumber berita:








One Comment