
WARTA BATAVIA – MOJOKERTO – Tubagus Mogi Nur Fadhil memaparkan sejarah Majapahit, asal-usul Raden Patah, peran Wali Songo, hingga dugaan kekeliruan narasi Brawijaya V berdasarkan sejumlah sumber sejarah.
Tubagus Mogi Ungkap Sejarah Majapahit dan Raden Patah, Sebut Perang Saudara Jadi Penyebab Runtuhnya Kerajaan
Sejarah Kerajaan Majapahit, khususnya mengenai raja-raja yang memerintah menjelang keruntuhannya, menjadi salah satu materi yang disampaikan Tubagus Mogi Nur Fadhil atau Tubagus Mogi dalam sebuah ceramah di kawasan Trowulan, Mojokerto.
Dalam ceramah yang disiarkan melalui kanal YouTube KRT Nur Ikhyak Hadinegoro, Tubagus Mogi membahas sejumlah persoalan sejarah Nusantara, mulai dari masuknya Islam, peran Syekh Jumadil Kubro dan Wali Songo, hubungan Majapahit dengan Kesultanan Demak, hingga silsilah keluarga kerajaan.
Salah satu pembahasan utama adalah mengenai penyebutan Brawijaya V yang selama ini dikenal dalam sejumlah tradisi dan penulisan sejarah Jawa. Tubagus Mogi menyampaikan bahwa penyebutan tersebut perlu ditinjau kembali dengan membandingkan sumber-sumber sekunder dengan sumber primer berupa prasasti dan manuskrip sezaman.
Ia juga menguraikan pandangannya mengenai hubungan antara Raja Majapahit Bre Kertawijaya, Raden Patah dari Demak, Arya Damar dari Palembang, serta sejumlah tokoh yang disebut memiliki hubungan keluarga dengan kerajaan tersebut.
Menurut Tubagus Mogi, penelitian sejarah tidak cukup hanya mengandalkan satu tradisi penulisan. Berbagai sumber perlu diperiksa dan dibandingkan agar rekonstruksi sejarah tidak mencampuradukkan tokoh, periode pemerintahan, dan hubungan kekerabatan.
Selain membahas sejarah kerajaan, ceramah tersebut juga mengangkat pentingnya persatuan bangsa, penghargaan terhadap perempuan dalam sejarah Nusantara, serta pemahaman silsilah sebagai sarana mempererat hubungan kekeluargaan.
Sejarah Majapahit dan Pentingnya Mengenal Leluhur Bangsa
Dalam mengawali materinya, Tubagus Mogi mengingatkan pentingnya mempelajari sejarah bangsa sebagai bagian dari upaya menjaga identitas nasional.
Ia mengutip ungkapan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan jasa para pahlawannya. Ia juga mengingatkan pesan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, melalui istilah Jas Merah atau jangan sekali-kali melupakan sejarah.
Menurut Tubagus Mogi, sejarah memiliki hubungan erat dengan identitas suatu bangsa. Pemahaman terhadap perjalanan masa lalu diperlukan agar masyarakat mengetahui asal-usul, perjuangan, dan berbagai peristiwa yang membentuk kehidupan bangsa Indonesia.
Ia menyampaikan bahwa masyarakat yang tidak mengenal sejarahnya berisiko lebih mudah diadu domba dan dipengaruhi oleh narasi yang tidak sesuai dengan kenyataan sejarah.
Dalam konteks tersebut, Tubagus Mogi menempatkan sejarah Majapahit sebagai salah satu bagian penting dari perjalanan Nusantara yang perlu dipelajari kembali.
Ia menyebut Trowulan, Mojokerto, sebagai kawasan yang memiliki hubungan dengan leluhur berbagai kelompok masyarakat Indonesia. Menurutnya, sejarah Majapahit tidak hanya berkaitan dengan masyarakat Mojokerto, tetapi juga memiliki hubungan dengan berbagai keluarga dan garis keturunan di daerah lain.
Masuknya Islam ke Nusantara dan Peran Wali Songo
Tubagus Mogi juga membahas sejarah masuknya Islam ke Nusantara. Ia menyampaikan bahwa proses penyebaran Islam di wilayah Indonesia berlangsung jauh sebelum kedatangan kelompok Ba’alawi dari Yaman pada masa-masa kemudian.
Dalam ceramahnya, ia menyebut bahwa perkembangan Islam di wilayah Aceh telah berlangsung sejak abad ketujuh Masehi. Sementara itu, perkembangan dakwah Islam di Pulau Jawa berlangsung melalui sejumlah tokoh dan jaringan ulama yang datang pada periode berikutnya.
Ia secara khusus menyebut Syekh Jumadil Kubro atau Syekh Jamaluddin Akbar Al-Husaini sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah awal perkembangan Islam di lingkungan Majapahit.
Menurut penjelasan Tubagus Mogi, Syekh Jumadil Kubro memiliki hubungan keluarga dengan sejumlah tokoh Wali Songo.
Ia menyebut Sunan Ampel sebagai keturunan Syekh Jumadil Kubro melalui jalur Ibrahim Asmaraqandi. Sementara Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah disebut memiliki garis keturunan melalui Syarif Abdullah dan sejumlah leluhur sebelumnya.
Tubagus Mogi menempatkan Syekh Jumadil Kubro sebagai salah satu tokoh pendahulu yang memiliki peran dalam jaringan dakwah Islam di Nusantara.
Ia juga menyampaikan bahwa perkembangan Islam secara luas di Pulau Jawa tidak dapat dilepaskan dari perjuangan dakwah Wali Songo dan para pendahulunya.
Dalam penjelasannya, ia menekankan bahwa sejarah penyebaran Islam di Indonesia perlu dipahami melalui rangkaian perjalanan para pendakwah dalam berbagai periode, bukan hanya dikaitkan dengan satu kelompok atau satu garis keturunan.
Ilmu Nasab Menurut Tubagus Mogi untuk Menyambung Silaturahim
Selain sejarah kerajaan dan penyebaran Islam, Tubagus Mogi membahas pentingnya ilmu nasab atau silsilah keluarga.
Ia menjelaskan bahwa mempelajari garis keturunan bukan dimaksudkan untuk membangun kesombongan, merasa lebih tinggi, atau merendahkan kelompok lain.
Menurutnya, ilmu nasab semestinya digunakan untuk mengetahui hubungan kekerabatan dan mempererat silaturahim.
Dalam ceramah tersebut, ia mengutip ungkapan mengenai pentingnya mempelajari nasab untuk menyambung hubungan kekeluargaan.
Tubagus Mogi mengatakan bahwa sejarah dan silsilah seharusnya menjadi sarana membangun hubungan antarkeluarga, bukan digunakan sebagai alat untuk menguasai atau merendahkan orang lain.
Ia kemudian menghubungkan pembahasan tersebut dengan Trowulan yang menurut pemaparannya merupakan salah satu kawasan leluhur bersama bagi sejumlah keluarga dan tokoh yang hadir dalam kegiatan tersebut.
Ia menyebut beberapa nama, termasuk Gus Abbas dari Cirebon, Kiai Imad dari Banten, Rhoma Irama, KRT Nur Ikhyak, serta sejumlah tokoh lainnya yang menurut penjelasannya mempunyai hubungan dengan garis keturunan Majapahit.
Ia juga menyebut Bunda Epok dan istrinya sebagai bagian dari keluarga yang memiliki hubungan silsilah dengan lingkungan kerajaan Majapahit.
Tubagus Mogi Soroti Penggunaan Sumber Sejarah Primer dan Sekunder
Salah satu bagian penting dalam ceramah tersebut adalah pembahasan mengenai metode membaca sejarah.
Tubagus Mogi menjelaskan bahwa terdapat perbedaan antara sumber sejarah primer dan sumber sejarah sekunder.
Ia mencontohkan penulisan dalam Babad Tanah Jawi yang menurut pemaparannya memuat kisah mengenai Brawijaya V dan hubungan antara Kerajaan Majapahit dengan Kesultanan Demak.
Menurut Tubagus Mogi, sejumlah kisah dalam sumber sekunder tersebut perlu diperiksa kembali dengan membandingkannya terhadap bukti sejarah yang berasal dari masa lebih dekat dengan peristiwa yang dibahas.
Ia menyebut beberapa sumber yang digunakan dalam pemaparannya, antara lain:
- Prasasti Jiwu.
- Prasasti Petak.
- Manuskrip Pararaton.
- Manuskrip Nagarakretagama.
- Inskripsi nisan Putri Campa.
- Kronik China.
- Sejumlah pustaka dan catatan sejarah lainnya.
Tubagus Mogi mengatakan bahwa sumber-sumber tersebut perlu diperbandingkan untuk mengetahui hubungan antara tokoh, waktu pemerintahan, dan peristiwa politik pada masa Majapahit.
Ia menilai bahwa apabila terdapat perbedaan antara kisah dalam sumber sekunder dan bukti primer, penulisan sejarah perlu ditinjau kembali berdasarkan data yang dapat diperiksa.
Ia juga menghubungkan pendekatan tersebut dengan pembahasan mengenai sejarah nasab. Menurutnya, penelitian sejarah dan penelitian garis keturunan sama-sama memerlukan kehati-hatian dalam memeriksa data.
Kisah Raden Patah dan Brawijaya V Menjadi Perhatian
Tubagus Mogi kemudian menguraikan persoalan mengenai hubungan Raden Patah dengan raja Majapahit.
Dalam sejumlah kisah yang berkembang melalui tradisi Babad Tanah Jawi, Raden Patah digambarkan sebagai anak Raja Majapahit Brawijaya V yang kemudian berhadapan dengan ayahnya sendiri.
Narasi tersebut, menurut Tubagus Mogi, perlu dikaji ulang karena berpotensi mencampuradukkan beberapa tokoh dan peristiwa politik yang berbeda.
Ia menyampaikan bahwa berdasarkan pembacaan terhadap sejumlah sumber yang disebutkannya, konflik antara Demak dan Majapahit tidak sesederhana kisah seorang anak yang menyerang ayah kandungnya.
Menurut pemaparannya, terdapat peristiwa perang saudara dan perebutan kekuasaan di lingkungan bangsawan Majapahit sebelum kekuasaan kerajaan berpindah dari Trowulan ke Kediri.
Ia mengaitkan peristiwa tersebut dengan sejumlah prasasti yang menurutnya memberikan informasi berbeda dari kisah yang berkembang dalam sumber sekunder.
Tubagus Mogi menyebut bahwa Raden Patah tidak berhadapan dengan ayahnya sendiri dalam peristiwa yang selama ini sering dikaitkan dengan keruntuhan Majapahit.
Ia mengemukakan bahwa pihak yang berhadapan dengan Demak merupakan kelompok bangsawan yang terlibat dalam konflik internal kerajaan.
Pembahasan tersebut kemudian diarahkan pada identitas sejumlah raja Majapahit yang menurut Tubagus Mogi perlu dibedakan berdasarkan periode pemerintahannya.
Bre Kertawijaya Disebut sebagai Ayah Raden Patah
Dalam ceramahnya, Tubagus Mogi menyebut Bre Kertawijaya sebagai raja Majapahit yang menjadi ayah Raden Patah.
Ia menghubungkan penjelasan tersebut dengan inskripsi nisan Putri Campa atau Dewarawati yang menurut pemaparannya mencatat tahun wafat 1370 Saka atau 1448 Masehi.
Tubagus Mogi kemudian membandingkan tanggal tersebut dengan masa pemerintahan sejumlah raja Majapahit.
Menurut penjelasannya, Bre Kertawijaya memerintah pada 1447 hingga 1451 Masehi. Rentang pemerintahan tersebut dinilai sesuai dengan periode yang dikaitkan dengan kehidupan Putri Campa.
Atas dasar penelusuran tersebut, ia menyampaikan bahwa Bre Kertawijaya merupakan tokoh yang tepat untuk ditempatkan sebagai ayah Raden Patah.
Dengan demikian, dalam rekonstruksi sejarah yang disampaikannya, penyebutan Brawijaya V sebagai ayah Raden Patah perlu digantikan dengan identifikasi Bre Kertawijaya.
Ia menegaskan bahwa penggunaan nama dan identitas raja harus mengikuti sumber sejarah yang dapat diperiksa, bukan semata-mata mengikuti penyebutan yang telah berkembang dalam tradisi penulisan kemudian.
Hubungan Arya Damar Palembang dengan Keluarga Majapahit
Pembahasan berikutnya berkaitan dengan Arya Damar Palembang atau Arya Dilah.
Tubagus Mogi menguraikan bahwa identitas dan hubungan keluarga Arya Damar perlu dipahami melalui sejumlah sumber yang berbeda.
Ia menyebut kronik China, sumber Cirebon, Pustaka Raja Bumi Nusantara, dan Negara Kertabumi sebagai bahan yang digunakan dalam pemaparannya.
Berdasarkan pembacaan tersebut, Tubagus Mogi menyebut bahwa ayah Arya Damar adalah Wikramawardana Yang Wisesa.
Dengan demikian, menurut silsilah yang disampaikannya, Arya Damar dan Bre Kertawijaya merupakan saudara karena berasal dari ayah yang sama.
Tubagus Mogi kemudian menjelaskan hubungan tersebut dengan kisah pernikahan Arya Damar dan ibu Raden Patah.
Ia menyampaikan bahwa setelah Bre Kertawijaya meninggal pada 1451, ibu Raden Patah yang disebut dengan nama Siu Bansi kemudian menikah dengan Arya Damar Palembang.
Dari pernikahan tersebut, menurut penjelasannya, lahir Raden Kusen atau Adipati Terung.
Raden Patah dan Raden Kusen disebut memiliki ibu yang sama, tetapi ayah berbeda.
Berdasarkan uraian tersebut, Tubagus Mogi menjelaskan bahwa hubungan Raden Patah dengan Arya Damar bukan hubungan saudara tiri sebagaimana yang sering digambarkan dalam sejumlah kisah, melainkan hubungan paman dan keponakan sekaligus hubungan anak tiri.
Ia juga menguraikan bahwa ayah Siu Bansi adalah Syekh Bentong atau Syekh Abdullah Darkom bin Syekh Hasanuddin Kuro Karawang.
Dengan penjelasan tersebut, ia menghubungkan garis keluarga Raden Patah dengan sejumlah tokoh yang memiliki hubungan dengan wilayah Karawang.
Identitas Raja Majapahit Terakhir di Trowulan
Tubagus Mogi selanjutnya membahas identitas raja yang terakhir memerintah di Trowulan.
Dalam penjelasannya, ia menyebut adanya penelitian dan temuan yang dikaitkan dengan Nia Kurnia Irfan serta sejumlah data sejarah mengenai pemerintahan Majapahit menjelang keruntuhannya.
Ia menyampaikan bahwa terdapat perbedaan antara raja terakhir yang memerintah di Trowulan dengan raja yang kemudian memindahkan pusat kekuasaan ke Kediri.
Menurut Tubagus Mogi, raja terakhir yang bertahta di Trowulan adalah Sura Prabawa.
Ia menyebut tahun 1478 sebagai periode penting yang berkaitan dengan berakhirnya pemerintahan Majapahit di Trowulan.
Sementara itu, tokoh yang menurutnya memindahkan kekuasaan ke Kediri adalah Bre Kertabumi atau Dyah Ranawijaya Girindrawardhana.
Ia juga menyebut bahwa identitas raja-raja tersebut perlu dibedakan dengan Bre Kertawijaya yang menurut pemaparannya merupakan ayah Raden Patah.
Dalam ceramahnya, Tubagus Mogi merangkum tiga identitas yang perlu dibedakan:
- Bre Kertawijaya, disebut sebagai ayah Raden Patah.
- Sura Prabawa, disebut sebagai raja terakhir yang bertahta di Trowulan.
- Bre Kertabumi atau Dyah Ranawijaya Girindrawardhana, disebut sebagai tokoh yang terkait dengan perpindahan kekuasaan ke Kediri.
Ia menyatakan bahwa penyebutan Brawijaya V perlu ditinjau kembali karena menurutnya tidak ditemukan dalam sumber primer yang digunakan dalam pemaparannya.
Seluruh identifikasi tersebut merupakan rekonstruksi sejarah yang disampaikan Tubagus Mogi dalam ceramahnya.
Majapahit dan Hubungan Sejarah dengan Negara Lain
Tubagus Mogi juga mengangkat hubungan Majapahit dengan sejumlah wilayah di luar Nusantara.
Ia menceritakan pengalamannya mengunjungi Malaysia dan Sulu, Filipina. Dalam kesempatan tersebut, ia mengaku menemukan sejumlah informasi di museum yang menurutnya menunjukkan adanya pengakuan mengenai hubungan wilayah-wilayah tersebut dengan kekuasaan Majapahit pada masa lalu.
Menurut Tubagus Mogi, keberadaan catatan dari luar Nusantara dapat menjadi bahan pembanding terhadap sumber sejarah internal Indonesia.
Ia kemudian menghubungkan hal tersebut dengan pentingnya melakukan pemeriksaan silang terhadap sumber sejarah.
Dalam pemaparannya, ia membandingkan hubungan sumber sejarah Majapahit dengan persoalan sejarah nasab yang sedang menjadi perdebatan.
Ia menyampaikan bahwa kesesuaian antara sumber internal dan eksternal menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun rekonstruksi sejarah.
Selain itu, Tubagus Mogi menyinggung keberhasilan Raden Wijaya dalam menghadapi pasukan Mongol pada 1293.
Ia menjelaskan bahwa peristiwa tersebut merupakan salah satu bagian penting dari perjalanan awal Kerajaan Majapahit.
Menurut pemaparannya, Raden Wijaya berhasil memanfaatkan situasi politik dan militer untuk mengalahkan pasukan Mongol yang datang ke Jawa pada masa pemerintahan Kubilai Khan.
Ia kemudian menghubungkan peristiwa tersebut dengan kekuatan politik dan persatuan masyarakat Nusantara pada masa itu.
Perang Saudara Disebut sebagai Penyebab Keruntuhan Majapahit
Dalam bagian berikutnya, Tubagus Mogi mengangkat persoalan perang saudara sebagai salah satu faktor penting dalam kemunduran Majapahit.
Ia membandingkan keberhasilan kerajaan menghadapi kekuatan asing dengan konflik internal yang terjadi di lingkungan keluarga kerajaan.
Menurut penjelasannya, Majapahit pernah menghadapi kekuatan besar dari luar, termasuk pasukan Mongol. Namun, konflik internal dan perebutan kekuasaan menjadi persoalan yang mengganggu stabilitas kerajaan.
Ia menghubungkan konflik tersebut dengan peristiwa kudeta terhadap Sura Prabawa oleh kelompok bangsawan yang dipimpin Bre Kertabumi atau Dyah Ranawijaya Girindrawardhana.
Tubagus Mogi menyampaikan bahwa perpecahan internal membuat kekuatan kerajaan melemah.
Ia kemudian mengaitkan pengalaman tersebut dengan strategi politik divide et impera atau politik adu domba yang diterapkan pemerintah kolonial Belanda.
Menurutnya, masyarakat yang terpecah lebih mudah dikendalikan dibandingkan masyarakat yang mampu menjaga persatuan.
Ia mengingatkan peserta kegiatan agar tidak mudah terprovokasi oleh konflik antarkelompok.
Dalam ceramah tersebut, ia juga menyampaikan pesan kepada anggota PWI-LS agar menjaga kekompakan dan tidak mudah terlibat dalam pertentangan yang dapat memecah persaudaraan.
Peran Perempuan dalam Sejarah Kerajaan Majapahit
Selain membahas raja dan tokoh laki-laki, Tubagus Mogi memberikan perhatian terhadap peran perempuan dalam sejarah Majapahit.
Ia menyebut sejumlah tokoh perempuan yang pernah memiliki posisi penting dalam pemerintahan kerajaan.
Nama yang disebut antara lain Ratu Tribhuwana Tunggadewi dan Ratu Suhita.
Ia juga menyebut Gayatri sebagai salah satu tokoh perempuan yang memiliki peran dalam sejarah keluarga kerajaan Majapahit.
Menurut Tubagus Mogi, keberadaan ratu-ratu tersebut menunjukkan bahwa perempuan pernah memegang posisi kepemimpinan dalam sejarah politik Nusantara.
Ia kemudian menghubungkan sejarah tersebut dengan pelantikan para perempuan atau srikandi PWI-LS yang menjadi bagian dari kegiatan di Trowulan.
Tubagus Mogi mengajak para perempuan yang hadir untuk mengambil semangat dari tokoh-tokoh perempuan dalam sejarah Majapahit.
Ia menyampaikan bahwa kemampuan dan kapasitas seseorang dalam kepemimpinan tidak semestinya dinilai hanya berdasarkan jenis kelamin.
Dalam konteks tersebut, sejarah Ratu Tribhuwana Tunggadewi dan Ratu Suhita dijadikan bagian dari materi mengenai kontribusi perempuan dalam perjalanan bangsa.
Tubagus Mogi Uraikan Hubungan Keturunan Majapahit dengan Tokoh Nusantara
Pada bagian akhir ceramah, Tubagus Mogi kembali membahas hubungan silsilah sejumlah tokoh dengan keluarga kerajaan Majapahit.
Ia menguraikan jalur keturunan yang menurut penjelasannya menghubungkan Raden Patah dengan sejumlah keluarga di Cirebon dan Banten.
Raden Patah disebut memiliki putri bernama Ratu Nyawa yang menikah dengan Pangeran Pasarean, putra Sunan Gunung Jati.
Melalui jalur tersebut, ia menghubungkan keluarga Cirebon dengan garis keturunan Majapahit.
Tubagus Mogi kemudian menyebut Gus Abbas Buntet sebagai salah satu tokoh yang menurut penjelasannya memiliki hubungan dengan garis keturunan tersebut.
Ia juga menyebut Ratu Kirana Purnamasidi yang dikisahkan menikah dengan Maulana Hasanuddin Banten.
Dari jalur tersebut, Tubagus Mogi menghubungkan silsilah keluarga Banten dengan sejumlah tokoh yang hadir dalam kegiatan, termasuk dirinya, Kiai Imad, Rhoma Irama melalui garis ibunya, Sayid Ali Hifni, serta beberapa keluarga lainnya.
Selain itu, ia membahas jalur keturunan yang dihubungkan dengan pendiri Nahdlatul Ulama.
Dalam penjelasannya, Bre Kertawijaya disebut memiliki hubungan dengan Putri Campa Dewarawati. Dari garis keturunan tersebut, ia menguraikan rangkaian silsilah yang berlanjut melalui Dewi Kanaras Ratna Pembayun, Handayaningrat, Ki Ageng Pengging atau Kebo Kenanga, hingga Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir.
Tubagus Mogi kemudian menghubungkan jalur tersebut dengan sejarah keluarga para tokoh yang memiliki keterkaitan dengan pendirian Nahdlatul Ulama.
Ia menyampaikan bahwa sejumlah tokoh organisasi keagamaan dan masyarakat memiliki hubungan leluhur yang saling berkaitan melalui sejarah kerajaan Nusantara.
Pesan Persatuan dan Kesetaraan dalam Memahami Nasab
Menutup ceramahnya, Tubagus Mogi kembali menekankan bahwa pembelajaran sejarah dan silsilah seharusnya tidak menjadi sarana untuk membangun kesombongan.
Ia menyampaikan bahwa kemuliaan seseorang di hadapan Allah ditentukan oleh ketakwaan, bukan semata-mata berdasarkan garis keturunan.
Menurutnya, persoalan ketakwaan merupakan urusan Allah, sedangkan manusia hanya dapat berusaha meningkatkan iman dan menjalankan ajaran agama.
Ia mengingatkan agar pengetahuan mengenai nasab tidak digunakan untuk merasa lebih mulia daripada orang lain.
Dalam ceramah tersebut, ia mengajak masyarakat mengambil pelajaran dari sejarah leluhur, menjaga hubungan persaudaraan, dan membangun persatuan.
Ia juga menghubungkan pengalaman sejarah Majapahit dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini, terutama mengenai pentingnya menghindari konflik internal.
Menurut Tubagus Mogi, sejarah kerajaan tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran mengenai pentingnya persatuan dalam menghadapi berbagai tantangan.
Ceramah yang disampaikan di Trowulan tersebut ditutup dengan ajakan untuk menjaga sejarah Nusantara, mempererat silaturahim, serta melanjutkan semangat perjuangan para leluhur.
FAQ: Pertanyaan Seputar Sejarah Majapahit Menurut Tubagus Mogi
1. Siapa Tubagus Mogi Nur Fadhil?
Tubagus Mogi Nur Fadhil atau Tubagus Mogi merupakan narasumber yang menyampaikan ceramah mengenai sejarah Majapahit, Wali Songo, Raden Patah, serta silsilah keturunan sejumlah tokoh Nusantara dalam tayangan kanal YouTube KRT Nur Ikhyak Hadinegoro.
2. Siapa ayah Raden Patah menurut penjelasan Tubagus Mogi?
Dalam rekonstruksi sejarah yang disampaikan Tubagus Mogi, ayah Raden Patah adalah Bre Kertawijaya, bukan tokoh yang dalam sejumlah tradisi disebut Brawijaya V.
3. Siapa raja terakhir Majapahit yang memerintah di Trowulan menurut Tubagus Mogi?
Tubagus Mogi menyebut Sura Prabawa sebagai raja terakhir yang bertahta di Trowulan pada 1478.
4. Siapa Bre Kertabumi atau Dyah Ranawijaya Girindrawardhana?
Dalam pemaparan Tubagus Mogi, Bre Kertabumi atau Dyah Ranawijaya Girindrawardhana merupakan tokoh yang berkaitan dengan konflik internal Majapahit dan perpindahan pusat kekuasaan ke Kediri.
5. Apa hubungan Arya Damar dengan Raden Patah?
Menurut silsilah yang disampaikan Tubagus Mogi, Arya Damar Palembang merupakan saudara dari Bre Kertawijaya. Setelah Bre Kertawijaya meninggal, Arya Damar menikahi ibu Raden Patah. Dengan demikian, Arya Damar merupakan paman sekaligus ayah tiri Raden Patah.
6. Siapa Syekh Jumadil Kubro dalam sejarah Wali Songo?
Syekh Jumadil Kubro atau Syekh Jamaluddin Akbar Al-Husaini disebut Tubagus Mogi sebagai salah satu tokoh pendahulu dalam jaringan dakwah Islam di Nusantara yang memiliki hubungan silsilah dengan sejumlah tokoh Wali Songo.
7. Apa sumber sejarah yang digunakan Tubagus Mogi?
Dalam ceramahnya, Tubagus Mogi menyebut sejumlah sumber, antara lain Prasasti Jiwu, Prasasti Petak, Pararaton, Nagarakretagama, inskripsi nisan Putri Campa, kronik China, dan beberapa pustaka sejarah lainnya.
8. Mengapa sejarah Majapahit perlu diteliti kembali menurut Tubagus Mogi?
Menurut penjelasannya, sejumlah narasi sejarah yang berkembang melalui sumber sekunder perlu dibandingkan dengan sumber primer agar identitas tokoh, hubungan keluarga, dan kronologi peristiwa tidak tercampur.
9. Apa pesan utama Tubagus Mogi mengenai ilmu nasab?
Tubagus Mogi menyampaikan bahwa ilmu nasab seharusnya digunakan untuk mengenali hubungan keluarga dan menyambung silaturahim, bukan untuk menyombongkan garis keturunan atau merendahkan kelompok lain.
10. Apa pelajaran dari keruntuhan Majapahit menurut Tubagus Mogi?
Ia mengangkat konflik internal dan perang saudara sebagai pelajaran mengenai pentingnya menjaga persatuan. Menurutnya, perpecahan dapat melemahkan kekuatan bangsa meskipun sebelumnya memiliki kemampuan menghadapi kekuatan dari luar.
Sumber: Hadinegoro.KAJIAN MATERI SEJARAH KOMANDAN PWI-LS NASIONAL PENDOPO AGUNG MOJOKERTO‼️






