invisible hit counter
BERITANasional

Kritik Ajaran Baalawi dalam Pembaretan Komando Sumpah Amukti Palapa

KH Nur Ihyak Hadinegoro Bahas Akidah Ahlussunah dan Kritik Ajaran Baalawi dalam Pembaretan Komando Sumpah Amukti Palapa

WARTA BATAVIA – MOJOKERTO – KH Nur Ihyak Hadinegoro menyampaikan kajian mengenai akidah Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja), ajaran Baalawi, serta sejumlah persoalan keagamaan dalam kegiatan pembaretan Komando Sumpah Amukti Palapa yang berlangsung di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur.

Ceramah tersebut disampaikan pada rangkaian kegiatan yang berlangsung pada 30 Oktober hingga 1 November 2026. Rekaman penjelasan KH Nur Ihyak Hadinegoro kemudian diunggah melalui kanal YouTube KRT Nur Ikhyak Hadinegoro pada 31 Oktober 2026.

Dalam kesempatan itu, KH Nur Ihyak mengangkat tema mengenai kesesuaian ajaran yang dikaitkan dengan kelompok Baalawi dengan kaidah akidah Ahlussunah wal Jamaah.

Ia menjelaskan materi tersebut melalui sejumlah pembahasan, mulai dari kitab Aqidatul Awam, rumusan 50 akidah, sifat-sifat Allah, sifat para nabi dan rasul, hingga sejumlah riwayat mengenai karamah, kewalian, dan ajaran yang dinisbatkan kepada tokoh-tokoh tertentu.

Selain menyampaikan materi utama, KH Nur Ihyak juga menjawab sejumlah pertanyaan peserta mengenai Patih Gajah Mada, kitab Sulam Taufiq, karamah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, serta praktik tawasul kepada orang yang telah meninggal dunia.

KH Nur Ihyak Hadinegoro Hadir dalam Pembaretan Komando Sumpah Amukti Palapa

Kegiatan pembaretan Komando Sumpah Amukti Palapa di Trowulan, Mojokerto, dihadiri peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Dalam pembukaan ceramah, KH Nur Ihyak menyampaikan apresiasi kepada peserta yang telah menempuh perjalanan jauh untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Ia menyebutkan kehadiran peserta dari sejumlah daerah, termasuk Jambi, Pati, serta perwakilan yang berasal dari luar negeri seperti Hong Kong.

KH Nur Ihyak juga menyampaikan penghargaan kepada Syarif Abbas Bilahsyi selaku Ketua Umum PWILS, jajaran pengurus pusat, Bunda Epok, KH Rahmat selaku Panglima LS Jawa Timur, Gus Sukhairi, serta para peserta lainnya.

Dalam sambutannya, ia menghubungkan keberadaan laskar dengan sejarah perjuangan bangsa dan peran masyarakat dalam membela negara serta agama.

Menurut KH Nur Ihyak, istilah laskar memiliki keterkaitan dengan kata dalam bahasa Persia yang kemudian diserap ke dalam bahasa Arab dan bahasa Indonesia.

Ia menjelaskan bahwa istilah tersebut dikenal dalam berbagai nama organisasi perjuangan, seperti Laskar Sabilillah dan Laskar Hizbullah.

Dalam pandangannya, keberadaan laskar tidak hanya berkaitan dengan satu kelompok, tetapi memiliki tujuan bersama dalam menjaga bangsa, negara, dan agama.

KH Nur Ihyak Tekankan Kesetaraan Peran Kiai dan Laskar

Dalam ceramahnya, KH Nur Ihyak menjelaskan bahwa setiap orang yang terlibat dalam perjuangan memiliki peran masing-masing.

Ia menegaskan bahwa tidak seharusnya terdapat anggapan bahwa seseorang yang bertugas mengawal ulama memiliki kedudukan lebih rendah dibandingkan orang yang dikawal.

Menurut dia, perbedaan tugas tidak berarti perbedaan derajat dalam perjuangan.

Ia juga menyebut pentingnya sinergi antara PWILS dan berbagai organisasi lain, termasuk Banser serta kelompok-kelompok pencak silat.

Dalam kesempatan itu, ia menyebut hubungan dengan PSHT dan kelompok pencak silat Winongo sebagai bagian dari persaudaraan yang perlu dijaga.

KH Nur Ihyak mengatakan bahwa perjuangan bersama tidak harus membuat setiap kelompok memiliki peran yang sama. Namun, masing-masing dapat menjalankan tugas sesuai kapasitasnya.

Perjuangan Disebut Tidak Semata-Mata Berorientasi Materi

KH Nur Ihyak juga menyinggung persoalan honorarium atau pemberian uang kepada penceramah.

Ia menyampaikan bahwa menurut pengalamannya, kegiatan ceramah yang dilakukan dalam rangka perjuangan tidak selalu mendapatkan imbalan.

Ia menceritakan pernah mengisi ceramah di luar kota tanpa menerima uang transportasi setelah menolak adanya pengumpulan uang dari jamaah.

Menurutnya, jika mendapatkan pemberian secara sukarela, uang tersebut dapat digunakan untuk kebutuhan perjalanan, sopir, dan bahan bakar.

Ia juga menjelaskan bahwa penjualan buku yang dibawanya dalam kegiatan tersebut bukan dimaksudkan untuk memperjualbelikan ilmu, melainkan mengganti biaya pencetakan.

Salah satu buku yang disebutkan adalah Membongkar Ajaran Khurafat Habaib Baalawi, yang menurut penjelasannya berkaitan dengan materi kajian yang akan disampaikan.

KH Nur Ihyak Menggunakan Kitab Aqidatul Awam sebagai Dasar Pembahasan

KH Nur Ihyak Menggunakan Kitab Aqidatul Awam sebagai Dasar Pembahasan

Salah satu pokok utama ceramah KH Nur Ihyak adalah pembahasan mengenai kitab Aqidatul Awam karya Syekh Ahmad Marzuki Al-Maliki Al-Makki.

Ia menjelaskan bahwa kitab tersebut memuat rumusan 50 akidah yang selama ini dikenal dalam pembelajaran akidah Ahlussunah wal Jamaah.

Rumusan tersebut terdiri atas beberapa bagian, yaitu:

  1. Dua puluh sifat wajib bagi Allah.
  2. Dua puluh sifat mustahil bagi Allah.
  3. Satu sifat jaiz bagi Allah.
  4. Empat sifat wajib bagi nabi dan rasul.
  5. Empat sifat mustahil bagi nabi dan rasul.
  6. Satu sifat jaiz bagi nabi dan rasul.

Menurut KH Nur Ihyak, rumusan tersebut perlu dipahami dan diterapkan dalam keyakinan umat Islam.

Ia juga mengaitkan pembahasan tersebut dengan pendekatan akidah Asy’ariyah dan Maturidiyah.

Dalam ceramahnya, ia mengingatkan peserta agar memahami dasar-dasar akidah sebelum menerima berbagai cerita atau klaim keagamaan yang berkembang di masyarakat.

Kisah Penyusunan Kitab Aqidatul Awam

KH Nur Ihyak turut menceritakan riwayat mengenai penyusunan kitab Aqidatul Awam.

Ia menyebut Syekh Ahmad Marzuki Al-Maliki Al-Makki sebagai pengarang kitab tersebut dan menjelaskan bahwa terdapat kisah mengenai pengalaman bermimpi bertemu Rasulullah SAW.

Menurut penjelasannya, pengalaman mimpi tersebut kemudian dikaitkan dengan penyusunan nazam-nazam dalam kitab Aqidatul Awam.

Ia juga menyebut kitab Nurudham sebagai syarah atau penjelasan atas kitab tersebut yang dikaitkan dengan Syekh Nawawi Al-Bantani.

Dalam konteks ini, KH Nur Ihyak membedakan antara pengalaman bertemu Rasulullah melalui mimpi dan klaim bertemu Rasulullah dalam keadaan terjaga.

Ia menyampaikan bahwa kedua hal tersebut tidak dapat disamakan begitu saja ketika menilai suatu riwayat keagamaan.

Menurutnya, keyakinan terhadap mimpi bertemu Rasulullah merupakan bagian dari pembahasan yang berbeda dengan klaim pertemuan dalam keadaan sadar.

Kepercayaan terhadap Karamah, Maunah, dan Mukjizat

Dalam pembahasan Aswaja, KH Nur Ihyak menyebut bahwa umat Islam mengenal konsep karamah, maunah, dan mukjizat.

Ia menjelaskan bahwa ketiga istilah tersebut perlu dipahami secara tepat agar masyarakat tidak mudah mencampuradukkan berbagai kejadian yang dianggap luar biasa.

Menurut KH Nur Ihyak, diperlukan kehati-hatian ketika menilai sebuah cerita yang dikaitkan dengan kemampuan seseorang atau tokoh agama.

Ia mempertanyakan bagaimana membedakan karamah dengan istidraj maupun kejadian yang tidak memiliki dasar pembuktian yang jelas.

Karena itu, ia mengajak peserta untuk kembali mempelajari dasar-dasar akidah sebagaimana dijelaskan dalam kitab-kitab yang menjadi rujukan pembelajaran Ahlussunah wal Jamaah.

Kritik KH Nur Ihyak terhadap Ajaran yang Dinisbatkan kepada Baalawi

Dalam materi utama, KH Nur Ihyak secara khusus membahas pertanyaan mengenai kesesuaian ajaran Baalawi dengan kaidah akidah Ahlussunah wal Jamaah.

Ia menyampaikan kesimpulan berdasarkan penelitian dan pembacaan yang menurut pengakuannya telah dilakukan dalam waktu cukup panjang.

KH Nur Ihyak berpendapat bahwa terdapat ketidaksesuaian antara teori Aswaja yang disampaikan dengan praktik sejumlah ajaran yang dikaitkannya dengan Baalawi.

Ia juga menyebut bahwa pandangannya tersebut merupakan hasil penelitian yang dituangkan dalam catatan serta buku yang ditulis bersama Gus Aziz Jazuli.

Dalam ceramah itu, KH Nur Ihyak menyampaikan kritik terhadap sejumlah riwayat dan keyakinan yang menurutnya tidak sejalan dengan rumusan akidah yang sedang dibahas.

Pernyataan tersebut merupakan pandangan KH Nur Ihyak dalam ceramahnya dan menjadi bagian dari polemik keagamaan mengenai ajaran serta tradisi yang dikaitkan dengan Baalawi.

Membahas Klaim Mengenai Al-Faqih Al-Muqaddam

Salah satu bagian yang mendapat perhatian dalam ceramah tersebut adalah pembahasan mengenai Al-Faqih Al-Muqaddam.

KH Nur Ihyak mengangkat sejumlah riwayat yang dinisbatkan kepada tokoh tersebut, khususnya mengenai permohonan kepada Allah untuk mendapatkan keistimewaan bagi keturunannya.

Ia menyebut beberapa riwayat yang menurut penelusurannya memuat permintaan agar anak cucu tetap mendapatkan pendampingan ketika menghadapi kematian, aib mereka ditutupi setelah meninggal dunia, serta tobat mereka diterima meskipun sudah berada di alam kubur.

Menurut KH Nur Ihyak, riwayat semacam itu perlu diperiksa berdasarkan sumber dan kaidah akidah yang digunakan.

Ia mempertanyakan kesesuaiannya dengan pemahaman mengenai kematian, pertanggungjawaban manusia, dan penerimaan tobat.

Dalam penjelasannya, ia mengutip ayat Al-Qur’an mengenai kefanaan seluruh makhluk dan kekekalan Allah SWT.

Ia juga menyebut bahwa pembahasan mengenai riwayat tersebut terdapat dalam kitab Tuhfatul Ahbab.

KH Nur Ihyak menghubungkan pembahasan itu dengan buku Membongkar Ajaran Khurafat Habaib Baalawi yang disebutnya memuat ratusan catatan mengenai riwayat dan keyakinan yang dikritiknya.

Ia menyebut angka 455 jenis riwayat atau ajaran yang menurutnya perlu diperiksa dalam pembahasan tersebut.

Membahas Sifat Baqa dan Kefanaan Makhluk

Dalam penjelasan mengenai sifat Allah, KH Nur Ihyak membahas sifat baqa yang berarti kekal.

Ia menjelaskan bahwa kekekalan merupakan sifat Allah, sedangkan seluruh makhluk memiliki sifat fana atau akan mengalami kebinasaan.

Untuk menjelaskan hal tersebut, ia mengutip ayat Al-Qur’an yang menerangkan bahwa segala sesuatu akan binasa kecuali Allah.

Menurut KH Nur Ihyak, pemahaman mengenai sifat baqa dan fana harus menjadi bagian dari dasar keyakinan umat Islam.

Ia kemudian mengkritik sejumlah riwayat yang menurutnya memberikan gambaran seolah-olah seseorang atau keturunannya memiliki keistimewaan yang membuat mereka tidak tunduk pada ketentuan kematian.

Dalam ceramahnya, ia meminta peserta untuk memeriksa kembali sumber primer dari setiap riwayat yang disampaikan atas nama tokoh agama.

KH Nur Ihyak Soroti Klaim Wewenang Wali Kutub dan Peristiwa Alam

Materi lainnya membahas sifat jaiz bagi Allah SWT.

KH Nur Ihyak menjelaskan bahwa sifat jaiz Allah berkaitan dengan kehendak-Nya untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang mungkin terjadi.

Ia menekankan bahwa segala sesuatu tetap berada dalam kekuasaan Allah.

Dalam konteks tersebut, ia mengkritik riwayat yang menurutnya memberikan gambaran bahwa terjadinya musibah atau bencana harus mendapatkan persetujuan dari seorang wali kutub atau tokoh tertentu.

Ia menyebut contoh gempa bumi, tsunami, kecelakaan, dan berbagai peristiwa alam lainnya.

Menurut KH Nur Ihyak, pemahaman yang menempatkan kewenangan tersebut pada manusia tidak sesuai dengan konsep kekuasaan Allah yang dijelaskan dalam materi akidahnya.

Ia juga mempertanyakan klaim mengenai pengangkatan dan pemberhentian wali kutub, wali abdal, wali nujaba, serta wali nuqaba oleh kelompok tertentu.

Pembahasan tersebut disampaikan sebagai bagian dari kritiknya terhadap riwayat dan keyakinan yang menurutnya perlu diperiksa berdasarkan sumber keagamaan.

Sifat Wajib, Mustahil, dan Jaiz bagi Nabi dan Rasul

Selain membahas sifat Allah, KH Nur Ihyak melanjutkan kajian dengan menjelaskan sifat-sifat yang berkaitan dengan para nabi dan rasul.

Ia menyebut empat sifat wajib nabi dan rasul, yaitu:

  • Siddiq, berarti benar.
  • Amanah, berarti dapat dipercaya.
  • Tabligh, berarti menyampaikan wahyu.
  • Fathanah, berarti cerdas.

Adapun sifat mustahil yang menjadi kebalikan dari sifat wajib tersebut adalah:

  • Kizib, yaitu dusta.
  • Khianat, yaitu tidak dapat dipercaya.
  • Kitman, yaitu menyembunyikan wahyu.
  • Baladah, yaitu bodoh.

KH Nur Ihyak kemudian menjelaskan sifat jaiz bagi nabi dan rasul, yakni a’radhul basyariyah atau sifat-sifat kemanusiaan.

Menurut penjelasannya, Rasulullah SAW merupakan manusia yang memiliki keistimewaan dan menjadi teladan bagi umat Islam.

Namun, ia mengingatkan agar umat tidak menempatkan Rasulullah secara berlebihan hingga melampaui batas ketentuan syariat.

Ia mengutip Surah Al-Kahfi ayat 110 yang memuat perintah kepada Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan bahwa dirinya adalah manusia seperti manusia lainnya yang menerima wahyu dari Allah.

KH Nur Ihyak menjelaskan bahwa ayat tersebut menjadi pengingat mengenai kedudukan Rasulullah sebagai manusia pilihan dan utusan Allah, bukan Tuhan yang disembah.

Ia juga mengingatkan agar kecintaan kepada Rasulullah tetap berada dalam koridor akidah dan syariat Islam.

KH Nur Ihyak Menjawab Pertanyaan Peserta tentang Patih Gajah Mada

Setelah menyampaikan materi utama, KH Nur Ihyak membuka sesi tanya jawab kepada peserta.

Salah satu peserta bernama Sucipto dari Pati mengajukan pertanyaan mengenai doa untuk Patih Gajah Mada.

Pertanyaan tersebut berkaitan dengan tema Sumpah Amukti Palapa yang menjadi bagian dari kegiatan pembaretan di Trowulan.

Peserta tersebut mengusulkan agar dilakukan doa bersama untuk tokoh yang dikenal dalam sejarah Kerajaan Majapahit itu.

Menanggapi pertanyaan tersebut, KH Nur Ihyak menyampaikan pandangannya mengenai keyakinan masyarakat Nusantara pada masa lampau.

Ia berpendapat bahwa masyarakat Nusantara kuno telah mengenal kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa atau monoteisme.

Ia kemudian menghubungkan pandangan tersebut dengan ajaran Dharma dalam tradisi Jawa kuno.

Pandangan KH Nur Ihyak tentang Kepercayaan Gajah Mada

Dalam penjelasannya, KH Nur Ihyak menyebut bahwa Gajah Mada merupakan penganut ajaran Dharma ala Nusantara.

Ia membedakan antara istilah agama yang dikenal masyarakat modern dengan sistem keyakinan masyarakat Nusantara pada masa lampau.

Ketika ditanya mengenai apakah Gajah Mada dapat disebut sebagai seorang Muslim, KH Nur Ihyak menyampaikan pandangan bahwa tokoh tersebut merupakan seorang mukmin, tetapi tidak disebut sebagai Muslim dalam pengertian identitas agama yang digunakan sekarang.

Ia juga mengaitkan pandangan tersebut dengan ayat Al-Qur’an mengenai orang-orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, dan mengerjakan kebajikan.

Selain itu, KH Nur Ihyak menyampaikan sejumlah pandangan mengenai sejarah Borobudur, Hindu, Buddha, dan perkembangan kepercayaan di Nusantara.

Ia menyatakan bahwa sejarah peradaban Nusantara perlu diteliti kembali melalui data dan bukti yang menurutnya belum banyak dibahas.

Dalam ceramah tersebut, ia bahkan menyatakan siap berdiskusi mengenai data sejarah dengan Menteri Kebudayaan.

Pernyataan mengenai usia Borobudur, asal-usul ajaran Hindu, dan sejarah agama-agama kuno yang disampaikan KH Nur Ihyak merupakan klaim pembicara yang memerlukan pemeriksaan tersendiri melalui penelitian arkeologi dan sejarah.

Pertanyaan tentang Kitab Sulam Taufiq dan Pengarangnya

Pertanyaan berikutnya disampaikan peserta bernama Ahmad Saiful dari BBES.

Ia menanyakan pernyataan seorang tokoh agama yang menyebut kitab Sulam Taufiq sebagai karya seorang habib.

Menurut penanya, terdapat pernyataan bahwa apabila santri tidak mempercayai klaim tersebut, sanad keilmuannya dapat dianggap terputus.

Pertanyaan itu kemudian dijawab KH Nur Ihyak dengan menyampaikan hasil penelusuran yang menurut pengakuannya telah dilakukan terhadap kitab tersebut.

Ia menyebut bahwa setelah membandingkan sejumlah kitab, dirinya berpendapat bahwa Sulam Taufiq tidak sepenuhnya merupakan karya asli Habib Abdullah bin Husein bin Thahir.

KH Nur Ihyak mengaitkan pendapat tersebut dengan penelusurannya terhadap kitab Tazkirun Nas.

Menurut penjelasannya, terdapat bagian yang menunjukkan adanya kemungkinan sumber atau sisipan pemikiran dari tokoh lain.

Ia menyampaikan bahwa kitab tersebut memiliki hubungan dengan karya seorang ulama keturunan Al-Hani dari Hadrami.

Dalam kesempatan itu, KH Nur Ihyak juga menyinggung Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad.

Ia menyebut riwayat mengenai kondisi penglihatan tokoh tersebut sejak kecil dan mempertanyakan sejumlah klaim mengenai proses penulisan karya-karya yang dinisbatkan kepadanya.

KH Nur Ihyak mengatakan bahwa persoalan atribusi kitab perlu ditelusuri melalui naskah, catatan sejarah, dan sumber yang dapat diperiksa.

Ia juga mengkritik penggunaan cerita-cerita luar biasa yang menurutnya tidak disertai bukti tertulis yang memadai.

Penjelasan tentang Karamah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Pertanyaan lainnya berkaitan dengan karamah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.

Seorang peserta menanyakan cerita mengenai kemampuan wali tersebut menghidupkan orang mati dengan izin Allah.

Penanya juga menghubungkan pertanyaan itu dengan klaim karamah yang dinisbatkan kepada kelompok Baalawi.

Menjawab pertanyaan tersebut, KH Nur Ihyak menyarankan agar masyarakat mempelajari karya-karya tokoh yang sedang dibahas sebelum menerima berbagai cerita mengenai karamahnya.

Ia menyebut kitab Khilyatul Auliya wa Tabaqatul Asfiya sebagai salah satu rujukan yang dapat dipelajari.

Selain itu, ia menyebut karya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, Fathur Rabbani, sebagai sumber yang menurutnya perlu ditelusuri untuk memahami pemikiran tokoh tersebut.

Menurut KH Nur Ihyak, cerita mengenai karamah seorang wali harus memiliki dasar sumber yang dapat diperiksa.

Ia juga mengingatkan bahwa cerita yang berkembang setelah seorang tokoh meninggal dunia perlu diteliti karena tokoh tersebut tidak lagi dapat dimintai klarifikasi secara langsung.

Dalam penjelasannya, ia membedakan antara mukjizat yang diberikan kepada nabi dan karamah yang dikaitkan dengan wali.

Ia mengutip penjelasan yang dinisbatkan kepada Imam Abu Bakar bin Furaq mengenai perbedaan antara penampakan mukjizat dan penyembunyian karamah.

KH Nur Ihyak kemudian mengingatkan peserta agar tidak mudah menerima cerita luar biasa tanpa menelusuri sumber aslinya.

Kritik terhadap Riwayat tentang Makam dan Tawasul

Pada bagian akhir ceramah, KH Nur Ihyak juga menyinggung persoalan makam dan praktik tawasul.

Ia membahas kondisi makam Sunan Ampel di Surabaya yang menurut penjelasannya mengalami perubahan bentuk.

KH Nur Ihyak menyatakan bahwa berdasarkan penelusuran manuskrip yang dilakukannya, terdapat catatan mengenai larangan menutup atau memberikan atap tertentu pada makam tersebut.

Ia kemudian mempertanyakan perubahan bentuk makam yang menurutnya tidak sesuai dengan catatan yang telah ditelusurinya.

Dalam pembahasan yang sama, ia juga menyinggung cerita mengenai sembilan orang yang dikaitkan dengan makam Mbah Saleh di kawasan Masjid Agung Ampel.

Menurut penjelasannya, makam tersebut berkaitan dengan orang-orang yang secara turun-temurun bertugas membersihkan masjid, bukan cerita mengenai satu orang yang mengalami kematian berulang kali akibat karamah seorang wali.

KH Nur Ihyak Bahas Hadis tentang Meminta Pertolongan kepada Ahli Kubur

KH Nur Ihyak turut membahas ungkapan:

Idza tahayyartum fil umur fasta’inu min ahlil qubur.

Ia menjelaskan bahwa ungkapan tersebut sering dipahami sebagai anjuran meminta pertolongan kepada ahli kubur ketika seseorang menghadapi kesulitan.

Namun, berdasarkan penelusurannya terhadap kitab Nurul Burhani, ia mempertanyakan status ungkapan tersebut sebagai hadis Rasulullah SAW.

Ia menyampaikan bahwa dirinya tidak sepakat apabila ungkapan tersebut digunakan untuk membenarkan praktik meminta pertolongan kepada orang yang telah meninggal dunia.

Menurut KH Nur Ihyak, ziarah kubur seharusnya mengingatkan manusia terhadap kematian dan kehidupan akhirat.

Ia juga menjelaskan bahwa tawasul dan tabaruk di makam perlu memperhatikan aturan syariat.

Dalam penjelasannya, ia membedakan antara ziarah kubur untuk mengingat kematian dengan praktik meminta pertolongan kepada penghuni kubur.

KH Nur Ihyak Minta Peserta Menelusuri Sumber Primer

Salah satu pesan yang berulang kali disampaikan KH Nur Ihyak dalam ceramahnya adalah pentingnya memeriksa sumber primer.

Ia menekankan bahwa cerita mengenai karamah, riwayat tokoh agama, atribusi kitab, maupun silsilah harus ditelusuri melalui sumber yang dapat diperiksa.

Menurutnya, masyarakat tidak cukup hanya menerima suatu cerita karena disampaikan oleh seseorang yang memiliki gelar atau kedudukan tertentu.

Ia mencontohkan penelusuran terhadap karya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, riwayat mengenai Al-Faqih Al-Muqaddam, serta atribusi kitab Sulam Taufiq.

Dalam pandangannya, pembahasan keagamaan membutuhkan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Ia juga menyebut bahwa catatan kaki dalam materi yang dibagikan kepada peserta telah dilengkapi dengan rujukan yang dapat dibuka untuk melihat sumber pembahasan.

Materi tersebut terdiri atas enam halaman dan menurut penjelasannya dapat dikembangkan menjadi pembahasan yang lebih panjang.

Penutup Ceramah dan Pesan kepada Peserta Pembaretan

Menjelang akhir kegiatan, KH Nur Ihyak menyampaikan bahwa materi yang disampaikan dalam pertemuan tersebut belum mencakup seluruh pembahasan yang ingin dijelaskan.

Ia mengakui bahwa sejumlah persoalan membutuhkan waktu lebih panjang untuk dikaji secara mendalam.

Dalam sesi tanya jawab, ia telah membahas berbagai persoalan yang diajukan peserta, mulai dari sejarah Nusantara hingga kitab-kitab keagamaan dan praktik kepercayaan yang berkembang di masyarakat.

Sebelum menutup ceramah, KH Nur Ihyak menyampaikan bahwa kebenaran yang terdapat dalam penjelasannya berasal dari Allah SWT melalui proses ijtihad dan pembelajaran yang telah dilakukannya.

Sementara itu, apabila terdapat kesalahan dalam penyampaian materi, ia meminta peserta untuk meninggalkan bagian yang dianggap keliru.

Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh peserta sebelum mengakhiri ceramah dengan salam.

Kajian KH Nur Ihyak Hadinegoro dalam pembaretan Komando Sumpah Amukti Palapa tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang berlangsung di Trowulan, Mojokerto, pada 30 Oktober hingga 1 November 2026.

Melalui ceramah tersebut, ia mengangkat pembahasan akidah Ahlussunah wal Jamaah, kritik terhadap sejumlah ajaran yang dinisbatkan kepada Baalawi, serta pentingnya penelusuran sumber primer dalam memahami riwayat keagamaan.

FAQ: Pertanyaan Seputar Ceramah KH Nur Ihyak Hadinegoro

1. Kapan KH Nur Ihyak Hadinegoro menyampaikan ceramah tentang akidah Aswaja?

Ceramah tersebut disampaikan dalam kegiatan pembaretan Komando Sumpah Amukti Palapa di Trowulan, Mojokerto, pada rangkaian kegiatan 30 Oktober hingga 1 November 2026. Rekamannya diunggah melalui kanal YouTube KRT Nur Ikhyak Hadinegoro pada 31 Oktober 2026.

2. Apa tema utama ceramah KH Nur Ihyak Hadinegoro?

Tema utamanya adalah pembahasan mengenai kesesuaian ajaran yang dinisbatkan kepada Baalawi dengan kaidah akidah Ahlussunah wal Jamaah.

3. Apa isi rumusan 50 akidah dalam kitab Aqidatul Awam?

Rumusan tersebut meliputi 20 sifat wajib Allah, 20 sifat mustahil Allah, satu sifat jaiz Allah, empat sifat wajib nabi dan rasul, empat sifat mustahil nabi dan rasul, serta satu sifat jaiz nabi dan rasul.

4. Apa yang disampaikan KH Nur Ihyak mengenai Al-Faqih Al-Muqaddam?

Ia membahas sejumlah riwayat yang dinisbatkan kepada Al-Faqih Al-Muqaddam, terutama mengenai permohonan yang berkaitan dengan anak cucu setelah kematian. Ia mempertanyakan kesesuaian riwayat tersebut dengan kaidah akidah yang dijelaskannya.

5. Apa tanggapan KH Nur Ihyak mengenai karamah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani?

Ia menyarankan agar riwayat karamah ditelusuri melalui karya-karya asli tokoh yang bersangkutan, termasuk kitab Fathur Rabbani, serta dibandingkan dengan sumber-sumber lain.

6. Apa pertanyaan peserta mengenai kitab Sulam Taufiq?

Peserta mempertanyakan klaim bahwa kitab Sulam Taufiq merupakan karya seorang habib dan anggapan bahwa ketidakpercayaan terhadap klaim tersebut dapat menyebabkan sanad keilmuan santri terputus.

7. Apa pesan KH Nur Ihyak dalam ceramah tersebut?

Ia menekankan pentingnya mempelajari dasar akidah, memeriksa sumber primer, dan menelusuri riwayat keagamaan sebelum menerima suatu klaim sebagai kebenaran.

8. Di mana masyarakat dapat menyaksikan ceramah KH Nur Ihyak Hadinegoro?

Rekaman ceramah tersebut dapat disaksikan melalui kanal YouTube KRT Nur Ikhyak Hadinegoro yang mengunggah dokumentasi kegiatan pada 31 Oktober 2026.

Sumber: PEMBEKALAN MATERI ASWAJA KOMANDAN PWI-LS NASIONAL‼️

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button