invisible hit counter
BERITANasional

Kisah Mesir, Afrika, dan Bahaya Klaim Nasab dalam Sejarah

WARTA BATAVIA – PWILS dan Ceramah Kebangsaan Gus Abbas Buntet: Kisah Mesir, Afrika, dan Bahaya Klaim Nasab dalam Sejarah. Gus Abbas Buntet dalam ceramah kebangsaan yang diupload di kanal Ummatina pada 2 Oktober 2026 membahas PWILS, sejarah Mesir dan Afrika, Bani Fatimiyah, serta kisah tentang klaim keturunan Rasulullah yan membawa dampak buruk bagi rakyat Mesir.

Gus Abbas Buntet Sampaikan Ceramah Kebangsaan tentang PWILS

Gus Abbas Buntet menyampaikan ceramah kebangsaan dalam sebuah kegiatan yang digelar pada 2 Oktober 2026. Ceramah tersebut mengangkat tema “PWILS Membentengi Umat dari Bahaya Laten Komunisme yang Melenakan.”

Dalam kesempatan tersebut, Gus Abbas Buntet membahas sejumlah persoalan sejarah yang menurut dia perlu menjadi bahan pembelajaran bagi masyarakat Indonesia.

Salah satu bagian utama ceramahnya adalah kisah mengenai Mesir dan Afrika yang dikaitkan dengan periode sekitar abad ke-10. Gus Abbas menyampaikan narasi mengenai kelompok yang disebutnya berkaitan dengan Ubaidillah bin Ahmad Alhabib.

Ia kemudian menghubungkan kisah tersebut dengan berdirinya pemerintahan Bani Fatimiyah serta berbagai persoalan sosial dan politik yang menurut narasinya berlangsung di Mesir dan Afrika.

Dalam ceramah itu, Gus Abbas juga menyebut nama sejumlah tokoh sejarah dan ulama, di antaranya Imam Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuti, Salahuddin Al-Ayyubi, dan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.

Gus Abbas mengatakan kisah tersebut disampaikan sebagai bahan mengambil pelajaran atau ibrah bagi masyarakat.

“Cuma cerita supaya kalian bisa mengambil ibrah, yaitu bisa mengambil satu pelajaran kita semua,” ujar Gus Abbas dalam ceramahnya.

Kehadiran Sejumlah Tokoh dalam Acara

Sebelum masuk ke materi utama, Gus Abbas menyapa sejumlah ulama, kiai, pengurus Nahdlatul Ulama, serta tokoh yang hadir dalam kegiatan tersebut.

Ia secara khusus menyebut Rhoma Irama yang menurutnya tetap hadir dalam acara meskipun sedang mengalami sakit.

Gus Abbas juga menyampaikan penghormatan kepada KH Imaduddin Utsman Al-Bantani. Selain itu, disebut pula sejumlah tokoh yang hadir, antara lain Kiai Miftah, Sekretaris Jenderal PWI-LS Pusat Ken Pramern, Kiai Ambari, serta Sayid Ali Alkhifni Al-Bantani.

Dalam ceramah tersebut, Gus Abbas menyebut PWI-LS sebagai bagian dari konteks perjuangan yang berkaitan dengan pembentengan masyarakat.

Ia juga mengajak peserta mengikuti materi dengan membuka pikiran dan hati untuk menerima ilmu.

Gus Abbas Mengawali Kisah dari Mesir dan Afrika

Gus Abbas Mengawali Kisah dari Mesir dan Afrika

Memasuki materi ceramah, Gus Abbas mengajak peserta melihat sebuah kisah sejarah yang menurutnya terjadi pada abad ke-10.

Ia menyebut Mesir dan Afrika sebagai wilayah yang menjadi latar kisah tersebut.

Menurut Gus Abbas, periode yang diceritakannya merupakan masa panjang yang berlangsung hampir 200 tahun dan digambarkan sebagai masa penuh penderitaan.

“Abad ke-10 itu pernah terjadi di daerah Mesir dan di daerah Afrika,” kata Gus Abbas.

Dalam penuturannya, ia menyebut adanya penjarahan, kekerasan, pembunuhan, serta penderitaan masyarakat.

Gus Abbas kemudian mengatakan bahwa cerita tersebut bukan dimaksudkan sebagai pembahasan mengenai masyarakat Tegal atau daerah tempat acara berlangsung, melainkan sebagai peristiwa yang menurutnya dapat dijadikan pelajaran.

Ia meminta masyarakat yang hadir mengambil ibrah dari kisah tersebut.

Gus Abbas Menjelaskan Ubaidillah bin Ahmad Alhabib

Salah satu tokoh yang menjadi bagian penting dalam ceramah adalah Ubaidillah bin Ahmad Alhabib.

Gus Abbas menyebut nama tersebut ketika mulai menceritakan kelompok yang menurutnya muncul di Mesir pada masa yang disebutnya abad ke-10.

Ia menegaskan bahwa cerita yang disampaikan adalah cerita mengenai Mesir dan bukan Indonesia.

“Ini saya cerita di Mesir bukan di Indonesia,” ujar Gus Abbas ketika menyebut Ubaidillah bin Ahmad Alhabib.

Dalam narasinya, Gus Abbas mengaitkan tokoh tersebut dengan sebuah kelompok pergerakan yang disebut bertujuan menundukkan Mesir dan Afrika.

Ia kemudian menyampaikan klaim mengenai asal-usul kelompok tersebut dan mengaitkannya dengan identitas Yahudi.

Namun, sumber ceramah yang tersedia tidak menyertakan kutipan lengkap dari kitab yang disebut sebagai dasar klaim tersebut, selain penyebutan nama kitab Tarikhul Khulafa karya Imam Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuti.

Karena itu, dalam artikel ini klaim tersebut ditempatkan sebagai bagian dari isi ceramah Gus Abbas.

Rujukan Imam As-Suyuti yang Disebut dalam Ceramah

Gus Abbas beberapa kali menyebut Imam Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuti.

Ia mengatakan bahwa informasi mengenai Ubaidillah bin Ahmad Alhabib yang disampaikannya terdapat dalam Tarikhul Khulafa.

Dalam ceramah tersebut, Gus Abbas menyatakan bahwa menurut Imam As-Suyuti, tokoh yang ia sebut memiliki latar belakang tertentu.

“Ternyata kata Imam Suyuti, Imam Abdurrahman Jalaluddin As-Suyuti di dalam kitab Tarikhul Khulafa itu ternyata mereka adalah genetikanya Yahudi,” ujar Gus Abbas.

Gus Abbas kemudian mengembangkan narasinya mengenai identitas kelompok tersebut dan menghubungkannya dengan klaim sebagai keturunan Rasulullah.

Perlu dicatat, materi sumber yang diberikan hanya berupa transkrip ceramah. Tidak terdapat salinan halaman Tarikhul Khulafa, edisi kitab, nomor halaman, ataupun kutipan bahasa Arab yang memungkinkan pernyataan tersebut diperiksa langsung dari sumber primer dalam artikel ini.

Klaim tentang Pengakuan sebagai Keturunan Rasulullah

Bagian berikutnya dari ceramah membahas klaim nasab.

Menurut Gus Abbas, kelompok yang ia ceritakan kemudian mengaku sebagai keturunan Rasulullah.

Ia menyampaikan bahwa klaim tersebut digunakan untuk mendapatkan pengaruh di tengah masyarakat.

“Tiba-tiba mereka mengaku dirinya cucunya Rasulullah,” kata Gus Abbas dalam ceramahnya.

Gus Abbas kemudian menggambarkan dampak sosial dari klaim tersebut. Dalam narasinya, masyarakat disebut memberikan kedudukan khusus kepada kelompok yang mengaku sebagai keturunan Rasulullah.

Ia mengatakan kelompok tersebut kemudian dipandang sebagai kelompok yang memiliki kedudukan lebih tinggi dibandingkan ulama-ulama setempat.

Gus Abbas Buntet, Kisah Mesir, Afrika, dan Bahaya Klaim Nasab dalam Sejarah

Klaim tentang Kedudukan Kelompok di Tengah Masyarakat

Gus Abbas melanjutkan ceritanya dengan menggambarkan bagaimana masyarakat Mesir dan Afrika menurut penjelasannya menerima kelompok tersebut.

Ia menyebut kelompok tersebut dianggap sebagai kelompok yang suci dan seolah tidak tersentuh hukum.

Dalam ceramahnya, Gus Abbas juga menyebut adanya penggambaran bahwa kelompok tersebut ditempatkan lebih tinggi daripada ulama dan sejumlah tokoh keagamaan.

Nama Imam Syafi’i, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, Imam Syadzili, dan Imam Naqsabandiy disebut dalam bagian tersebut.

“Mereka dibranding seolah-olah mereka lebih hebat dari para ulama-ulama yang ada di Mesir,” kata Gus Abbas.

Ia kemudian mengaitkan narasi tersebut dengan persoalan eksklusivitas dalam kehidupan beragama.

Tuduhan Kekerasan dan Penjarahan

Ceramah kemudian berlanjut pada tuduhan mengenai berbagai tindakan kekerasan.

Gus Abbas menyebut adanya pembunuhan, perampasan harta, serta kekerasan terhadap perempuan.

Ia menghubungkan berbagai tindakan tersebut dengan kelompok yang sebelumnya diceritakan.

“Penjarahan terhadap harta-harta masyarakat yang tidak berdosa atas nama cucunya Rasulullah,” ujar Gus Abbas.

Dalam narasinya, kondisi tersebut disebut berlangsung dalam waktu panjang.

Gus Abbas menggunakan kisah tersebut untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat Indonesia agar tidak mudah menerima klaim tertentu tanpa mempertimbangkan sejarah dan bukti.

Namun, transkrip ceramah tidak menyertakan dokumen sejarah atau sumber primer yang menjadi dasar setiap tuduhan mengenai kekerasan, penjarahan, maupun tindakan lainnya.

Bani Fatimiyah dalam Narasi Ceramah

Gus Abbas kemudian mengaitkan kisah tersebut dengan pemerintahan Bani Fatimiyah.

Ia menyebut bahwa kelompok tersebut akhirnya menguasai Mesir dan mendirikan kerajaan yang disebutnya sebagai kerajaan Islam.

Dalam ceramah, Gus Abbas menyebut kerajaan tersebut sebagai Bani Fatimiyah.

“Mereka menguasai Mesir bahkan mendirikan satu kerajaan atas nama kerajaan Islam yang disebut kerajaan Banu Fatimiyah,” kata Gus Abbas.

Gus Abbas kemudian kembali menyebut Tarikhul Khulafa karya Imam Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuti sebagai rujukan.

Akan tetapi, transkrip yang tersedia tidak mencantumkan halaman atau kutipan langsung dari kitab tersebut.

Cerita tentang Kondisi Masyarakat Selama Masa Kekuasaan

Dalam bagian selanjutnya, Gus Abbas menggambarkan kondisi masyarakat Mesir dan Afrika dalam keadaan menderita.

Ia menyebut adanya penjarahan terhadap harta masyarakat dan kekerasan terhadap perempuan.

Gus Abbas juga menyampaikan bahwa kelompok tersebut menurut narasinya menggunakan identitas keturunan Rasulullah untuk memperoleh legitimasi.

Ia mengatakan masyarakat kemudian menghadapi kesulitan karena sejarah dan makam disebut mengalami pemalsuan.

“Sejarah dipalsukan, makam-makamnya dipalsukan,” kata Gus Abbas dalam ceramah tersebut.

Pernyataan tersebut merupakan bagian dari narasi ceramah dan tidak disertai dokumentasi tambahan dalam materi yang diberikan.

Masyarakat Mesir dan Afrika Disebut Mengadu ke Rasulullah

Gus Abbas selanjutnya menceritakan bahwa masyarakat Mesir dan Afrika yang mengalami penderitaan kemudian bersama-sama pergi ke Baitullah.

Dalam ceritanya, mereka mengadu kepada Allah dan menyampaikan keluhan kepada Rasulullah.

Ia menggambarkan masyarakat tersebut sebagai orang-orang yang mempertanyakan tindakan kelompok yang mengaku sebagai keturunan Rasulullah.

Cerita itu kemudian diarahkan menuju kemunculan Salahuddin Al-Ayyubi.

Salahuddin Al-Ayyubi dalam Cerita Gus Abbas

Menurut Gus Abbas, masyarakat Mesir dan Afrika akhirnya bertemu dengan Salahuddin Al-Ayyubi.

Dalam cerita yang disampaikan, Salahuddin bertanya mengenai alasan masyarakat tersebut menangis.

Setelah mendengar cerita mereka, Salahuddin disebut melakukan verifikasi atau penelitian terhadap klaim keturunan Rasulullah yang dikaitkan dengan kelompok tersebut.

“Salahuddin al-Ayyubi kemudian memverifikasi. Salahuddin al-Ayyubi kemudian meneliti,” ujar Gus Abbas.

Gus Abbas kemudian menyampaikan kesimpulan dalam narasi ceramahnya bahwa kelompok tersebut bukan keturunan Rasulullah.

Ia menggambarkan mereka sebagai pihak yang menggunakan nama Rasulullah untuk kepentingan duniawi dan kekuasaan.

Pertemuan dengan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Dalam kelanjutan ceramah, Gus Abbas menyebut pertemuan Salahuddin Al-Ayyubi dengan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.

Menurut cerita yang disampaikan, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani memberikan doa dan restu kepada Salahuddin.

Setelah itu, menurut Gus Abbas, Salahuddin melakukan tindakan terhadap pemerintahan Bani Fatimiyah.

“Salahuddin al-Ayyubi bertemu dengan Syekh Abdul Qadir,” kata Gus Abbas.

Gus Abbas kemudian mengatakan kelompok Bani Fatimiyah dikalahkan oleh Salahuddin Al-Ayyubi.

Ia menggambarkan kemenangan tersebut sebagai bagian dari proses pengembalian Mesir dan Afrika kepada masyarakat.

Pesan Gus Abbas tentang Pembelajaran Sejarah

Pesan Gus Abbas tentang Pembelajaran Sejarah

Menjelang akhir ceramah, Gus Abbas kembali menekankan bahwa kisah tersebut disampaikan untuk menjadi bahan renungan.

Ia meminta masyarakat membuka mata hati dan mengambil pelajaran dari cerita yang disampaikannya.

“Mudah-mudahan dengan cerita ini bisa menjadikan bahan renungan panjenengan supaya mata hatinya terbuka,” ujar Gus Abbas.

Ceramah kemudian ditutup dengan salam.

Acara selanjutnya menyampaikan ucapan terima kasih atas ceramah kebangsaan yang telah diberikan.

PWILS dan Pesan tentang Kesaktian Pancasila

Selain kisah mengenai Mesir dan Afrika, bagian awal acara juga memperlihatkan ajakan kepada peserta untuk mengaitkan kegiatan dengan Hari Kesaktian Pancasila.

Gus Abbas mengajak mereka yang mengaku sebagai bagian dari PWI, baik struktur maupun kultur, menjawab dengan semangat ketika disebut sebagai bagian dari momentum kebangkitan Kesaktian Pancasila.

Dalam transkrip, seruan tersebut disampaikan sebelum Gus Abbas masuk ke materi sejarah.

“Ini adalah hari kebangkitan Kesaktian Pancasila,” demikian bagian pembukaan yang disampaikan Gus Abbas.

Tema kegiatan sendiri menghubungkan keberadaan PWILS dengan isu pembentengan umat dari apa yang disebut sebagai bahaya laten komunisme.

Tokoh yang Disebut dalam Acara

Sejumlah tokoh disebut dalam sambutan dan pembukaan ceramah.

Di antaranya:

  • KH Dr. Muhammad Abbas Billy Yachsi, MA atau Gus Abbas Buntet sebagai penceramah;
  • Rhoma Irama;
  • KH Imaduddin Utsman Al-Bantani;
  • Ustaz Bagus Nurfadil;
  • Kiai Miftah;
  • Ken Pramern selaku Sekretaris Jenderal PWI-LS Pusat;
  • Kiai Ambari;
  • Sayid Ali Alkhifni Al-Bantani;
  • unsur pemerintahan Kecamatan Bojong dan perangkat setempat.

Penyebutan nama-nama tersebut berasal dari transkrip ceramah dan sambutan yang menjadi sumber artikel ini.

Hubungan Ceramah dengan Isu Nasab

Salah satu isu utama yang muncul dalam ceramah adalah persoalan klaim keturunan Rasulullah.

Gus Abbas menggunakan cerita sejarah yang disampaikannya untuk membahas bagaimana identitas keturunan Rasulullah, menurut narasinya, dapat digunakan untuk memperoleh pengaruh sosial dan politik.

Ia juga menekankan pentingnya masyarakat mengambil pelajaran dari sejarah.

Dalam konteks ceramah, persoalan nasab tidak dibahas hanya sebagai persoalan silsilah keluarga, tetapi dikaitkan dengan legitimasi sosial, kekuasaan, dan kehidupan keagamaan.

Namun, penting dicatat bahwa transkrip ini tidak berisi pembahasan akademik lengkap mengenai metode verifikasi nasab. Tidak terdapat uraian mengenai manuskrip, kritik sanad, penelitian genealogi, ataupun hasil penelitian ilmiah yang dapat digunakan untuk menguji seluruh klaim sejarah yang disampaikan.

Pesan tentang Kehidupan Beragama di Indonesia

Pada bagian lain, Gus Abbas menghubungkan cerita sejarah tersebut dengan kehidupan masyarakat Indonesia.

Ia menyebut bahwa kisah mengenai Mesir dan Afrika hendaknya menjadi bahan pembelajaran bagi umat Islam di Indonesia.

Dalam pandangannya yang disampaikan di atas panggung, sejarah dapat digunakan untuk memahami risiko ketika masyarakat menerima sebuah klaim tanpa melakukan pemeriksaan.

Ia juga menghubungkan pembahasan tersebut dengan keberadaan PWILS.

Menurut narasi ceramah, PWILS disebut memiliki tujuan membentengi masyarakat dari berbagai hal yang dianggap membahayakan kehidupan umat.

Ceramah Ditutup dengan Ajakan Mengambil Hikmah

Ceramah Ditutup dengan Ajakan Mengambil Hikmah

Setelah menyampaikan kisah mengenai Mesir, Afrika, Bani Fatimiyah, Ubaidillah bin Ahmad Alhabib, Salahuddin Al-Ayyubi, dan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, Gus Abbas menutup ceramahnya.

Ia kembali menyampaikan harapan agar masyarakat dapat memperoleh pencerahan dari cerita tersebut.

Ceramah kemudian diakhiri dengan salam dan dilanjutkan ucapan terima kasih dari pembawa acara.

“Terima kasih ceramah kebangsaan yang telah disampaikan oleh beliau. Semoga kita dapat mengambil hikmah dan ilmunya,” demikian penutup acara.


FAQ

Apa tema ceramah Gus Abbas Buntet pada 2 Oktober 2026?

Tema yang disebut dalam pembukaan acara adalah “PWILS Membentengi Umat dari Bahaya Laten Komunisme yang Melenakan.”

Siapa yang menyampaikan ceramah?

Ceramah disampaikan oleh KH Dr. Muhammad Abbas Basi, MA atau Gus Abbas Buntet, sebagaimana diperkenalkan dalam pembukaan acara.

Apa yang menjadi salah satu pokok pembahasan Gus Abbas?

Salah satu pokok pembahasannya adalah kisah sejarah mengenai Mesir dan Afrika yang ia kaitkan dengan abad ke-10, Ubaidillah bin Ahmad Alhabib, Bani Fatimiyah, serta klaim keturunan Rasulullah.

Kitab apa yang disebut sebagai rujukan?

Gus Abbas menyebut Tarikhul Khulafa karya Imam Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuti sebagai rujukan dalam narasinya.

Siapa Salahuddin Al-Ayyubi dalam cerita yang disampaikan?

Dalam narasi Gus Abbas, Salahuddin Al-Ayyubi disebut sebagai tokoh yang melakukan verifikasi terhadap klaim kelompok yang disebut dalam ceramah dan kemudian berperan dalam perubahan kekuasaan di Mesir.

Mengapa Gus Abbas menceritakan sejarah Mesir dan Afrika?

Menurut penjelasannya, kisah tersebut disampaikan sebagai ibrah atau pelajaran bagi masyarakat yang hadir.

Apa kaitannya dengan PWILS?

Dalam konteks kegiatan tersebut, ceramah ditempatkan dalam tema pembentengan umat dan kebangsaan. Gus Abbas juga menyebut bahwa PWILS hadir dalam konteks yang berkaitan dengan upaya membentengi masyarakat sebagaimana narasi yang disampaikan dalam ceramah.

Apa kesimpulan utama dari ceramah tersebut?

Pada bagian akhir, Gus Abbas meminta masyarakat menjadikan kisah yang disampaikannya sebagai bahan renungan dan pembelajaran.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button