KH Ubaidillah Tamam: Counter Akademik Penting untuk Uji Klaim Sejarah dan Cegah Glorifikasi

KH Ubaidillah Tamam: Counter Akademik Penting untuk Uji Klaim Sejarah dan Cegah Glorifikasi Tanpa Dasar Ilmiah
WARTA BATAVIA – SEMARANG – Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, KH Dr. Ubaidillah Tamam, menegaskan pentingnya membangun counter akademik terhadap berbagai narasi sejarah dan keagamaan yang dinilai berkembang tanpa didukung data ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Menurutnya, kajian akademik diperlukan agar suatu klaim tidak hanya diterima berdasarkan popularitas tokoh atau tradisi lisan, tetapi juga diuji melalui pendekatan ilmiah seperti sejarah, filologi, manuskrip, hingga penelitian DNA.
“Yang harus memverifikasi adalah otoritas keilmuan, bukan sebaliknya. Pendapat tokoh yang tidak memiliki basis data tidak semestinya menjadi alat untuk memverifikasi ilmu pengetahuan,” ujar KH Ubaidillah dalam penjelasannya.
Counter Akademik Dinilai Semakin Penting
KH Ubaidillah menjelaskan, berbagai penelitian yang telah dilakukan sejumlah akademisi menjadi bagian dari upaya menghadirkan keseimbangan dalam diskursus publik.
Ia mencontohkan munculnya tesis dan kajian akademik yang dilakukan sejumlah peneliti, penelitian ilmiah mengenai DNA, kajian filologi terhadap manuskrip kuno, hingga penelitian sejarah yang menurutnya mampu memberikan perspektif berbasis data.
Menurutnya, langkah-langkah tersebut merupakan bentuk counter akademik terhadap narasi yang selama ini berkembang tanpa verifikasi ilmiah.
Manuskrip Kuno Dinilai Masih Banyak Tersimpan
Dalam penjelasannya, KH Ubaidillah juga menyebut masih banyak manuskrip bersejarah yang tersimpan di kalangan keturunan Wali Songo dan tokoh-tokoh agama.
Ia mengatakan sebagian manuskrip telah mulai diperlihatkan kepada publik, namun masih banyak dokumen lain yang hingga kini belum dipublikasikan.
Menurutnya, keberadaan manuskrip tersebut dapat menjadi sumber penting dalam penelitian sejarah Islam di Nusantara.
Media Digital Mendorong Kesadaran Publik
KH Ubaidillah menilai perkembangan media sosial turut mengubah pola penyebaran informasi.
Ia berpendapat berbagai kajian sejarah, filologi, penelitian ilmiah, hingga dokumentasi manuskrip kini lebih mudah diakses masyarakat sehingga mendorong munculnya kesadaran kolektif untuk menelaah berbagai klaim secara lebih kritis.
Menurutnya, ruang digital telah membuka kesempatan bagi masyarakat untuk membandingkan berbagai sumber informasi dengan pendekatan ilmiah.
Kritik terhadap Glorifikasi Tokoh
Dalam kesempatan tersebut, KH Ubaidillah mengkritik adanya kecenderungan glorifikasi terhadap tokoh tertentu yang, menurut pandangannya, tidak selalu didukung bukti sejarah maupun kajian akademik.
Ia menilai pengultusan terhadap figur tertentu berpotensi memengaruhi cara masyarakat memahami sejarah maupun praktik keberagamaan.
Menurutnya, apabila suatu narasi hanya bertumpu pada otoritas tokoh tanpa didukung dokumen, manuskrip, maupun penelitian ilmiah, maka narasi tersebut perlu diuji kembali melalui mekanisme akademik.
Keilmuan Harus Menjadi Dasar Verifikasi
KH Ubaidillah menegaskan bahwa penelitian ilmiah harus menjadi landasan utama dalam memverifikasi berbagai klaim sejarah.
Ia menyampaikan bahwa kajian berbasis data, dokumen, manuskrip, penelitian sejarah, filologi, hingga pendekatan ilmiah lainnya memiliki posisi penting dalam membangun pemahaman yang objektif.
“Harusnya basis keilmuan yang memverifikasi otoritas ketokohan, karena keilmuan memiliki data, dokumen, dan metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan,” katanya.
Harapkan Kehidupan yang Setara dan Tanpa Hegemoni
Di akhir pemaparannya, KH Ubaidillah mengajak seluruh pihak untuk mengedepankan kesetaraan, menghormati fakta ilmiah, serta menghindari sikap merasa lebih tinggi dibanding kelompok lain.
Ia berharap perbedaan pandangan dapat diselesaikan melalui dialog ilmiah yang sehat sehingga kehidupan bermasyarakat berlangsung tanpa hegemoni, arogan, maupun klaim yang tidak memiliki dasar keilmuan.
Menurutnya, apabila seluruh pihak bersedia menerima fakta dan realitas berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan, maka kehidupan sosial dan keberagamaan akan berjalan lebih harmonis.
sumber berita:




