invisible hit counter
Nasional

KH Imaduddin Utsman Al-Bantani Tantang Diskusi Terbuka Soal Polemik Nasab Ba’alawi di Forum Akademik

KH Imaduddin Bahas Polemik Nasab dalam Podcast TV AlWaha

WARTA BATAVIA – KH Imaduddin Utsman Al-Bantani kembali menyampaikan pandangannya mengenai polemik nasab Ba’alawi dalam sebuah podcast yang tayang di kanal TV AlWaha. Dalam perbincangan bersama Ustadz Bahril Ulum di Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum, Cempaka, Kresek, Tangerang, Banten, ia mengulas sejumlah isu yang menurutnya masih menjadi perdebatan di tengah masyarakat.

Pada kesempatan tersebut, KH Imaduddin menegaskan bahwa dirinya tetap membuka ruang dialog ilmiah dengan pihak-pihak yang memiliki pandangan berbeda mengenai persoalan nasab.

Menanggapi Tantangan dari Sosok Bernama Linawati

Dalam podcast tersebut, Ustadz Bahril Ulum menanyakan tanggapan KH Imaduddin mengenai adanya sosok bernama Linawati yang disebut menantangnya untuk berdiskusi.

Menanggapi hal itu, KH Imaduddin menyatakan bahwa dirinya tidak mengenal orang yang dimaksud dan mengaku belum pernah bertemu secara langsung dengannya.

Menurut KH Imaduddin, pembahasan mengenai nasab memerlukan penguasaan terhadap kitab-kitab nasab berbahasa Arab, metodologi sejarah, serta metodologi ilmu nasab. Ia berpendapat bahwa diskusi mengenai tema tersebut seharusnya dilakukan dengan dasar kajian ilmiah.

Mengusulkan Debat Terbuka di Universitas

Dalam wawancara itu, KH Imaduddin mengatakan dirinya bersedia mengikuti diskusi terbuka apabila diselenggarakan di lingkungan universitas.

Menurutnya, forum akademik akan memberikan ruang bagi penilaian ilmiah terhadap argumentasi masing-masing pihak. Ia mengatakan bahwa diskusi tersebut dapat disaksikan publik sehingga masyarakat dapat menilai sendiri kualitas argumen yang disampaikan.

KH Imaduddin juga menyatakan bahwa dirinya terbuka apabila sejumlah tokoh lain yang selama ini berbeda pandangan ikut hadir dalam forum tersebut.

Mengungkap Surat kepada Rabithah Alawiyah

Dalam podcast itu, KH Imaduddin memperlihatkan sebuah surat yang menurut keterangannya pernah dikirim kepada Ketua Rabithah Alawiyah pada tahun 2023.

Ia menjelaskan bahwa surat tersebut berisi undangan untuk melakukan diskusi ilmiah mengenai kajiannya tentang nasab Ba’alawi.

Menurut penjelasannya, diskusi yang diusulkan ketika itu dirancang berlangsung secara tertutup agar pembahasan sumber-sumber sejarah, kitab, manuskrip, dan referensi dapat dilakukan secara lebih mendalam tanpa dibatasi durasi siaran.

KH Imaduddin juga menyebut bahwa hingga podcast tersebut direkam, dirinya belum menerima tanggapan sebagaimana yang diharapkannya terhadap surat tersebut.

Menyampaikan Pokok Kajian yang Pernah Dipublikasikan

Dalam kesempatan yang sama, KH Imaduddin kembali menguraikan sejumlah poin yang menurutnya menjadi dasar kajiannya mengenai nasab Ba’alawi.

Ia menyatakan bahwa kajiannya didasarkan pada penelitian terhadap kitab-kitab nasab, kitab sejarah, manuskrip, serta pembacaan terhadap sejumlah hasil penelitian genetika yang menurutnya relevan.

KH Imaduddin berpendapat bahwa sejumlah tokoh dalam silsilah yang dipersoalkannya tidak ditemukan dalam kitab-kitab tertentu yang ia jadikan rujukan. Selain itu, ia juga menyebut hasil kajian DNA sebagai salah satu bagian dari argumentasi yang digunakannya.

Seluruh pandangan tersebut disampaikan sebagai hasil penelitian yang menurutnya telah dilakukan selama beberapa tahun.

KH Imaduddin Utsman Al Bantani Tantang Diskusi Terbuka Soal Polemik Nasab Ba'alawi

Mengajak Penyelesaian Melalui Pendekatan Ilmiah

Sepanjang wawancara, KH Imaduddin berulang kali menegaskan bahwa perbedaan pandangan mengenai nasab sebaiknya diselesaikan melalui pendekatan ilmiah.

Ia mengatakan pembahasan dapat dilakukan dengan mengacu pada kitab-kitab nasab, manuskrip sejarah, metodologi penelitian sejarah, serta kajian ilmiah lainnya.

Menurutnya, diskusi akademik akan lebih bermanfaat dibandingkan perdebatan melalui media sosial.

Pandangan Mengenai Istikharah

Selain pendekatan ilmiah, KH Imaduddin juga menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya istikharah bagi pihak-pihak yang masih memiliki keraguan terhadap persoalan tersebut.

Ia mengatakan bahwa setiap orang dapat memohon petunjuk kepada Allah SWT melalui istikharah sebelum mengambil kesimpulan atas persoalan yang dipandang penting.

Pernyataan tersebut disampaikan sebagai bagian dari pandangan keagamaan yang ia yakini.

Seruan kepada Akademisi dan Tokoh Agama

Dalam podcast itu, KH Imaduddin juga mengajak para akademisi, peneliti, dosen, profesor, serta tokoh agama untuk berani menyampaikan pandangan ilmiah apabila memiliki hasil penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan.

Menurutnya, kalangan akademik memiliki tanggung jawab untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat melalui penelitian dan kajian ilmiah.

Penutup Podcast

Menjelang akhir podcast, Ustadz Bahril Ulum menyampaikan apresiasi kepada KH Imaduddin atas kesediaannya menjelaskan pandangannya mengenai polemik nasab.

Sementara itu, KH Imaduddin kembali menegaskan bahwa dirinya tetap membuka ruang dialog bagi siapa pun yang memiliki argumentasi ilmiah berbeda mengenai persoalan tersebut.

Podcast kemudian ditutup dengan doa dan salam penutup.

sumber berita:

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button