Rhoma Irama Hadirkan Ahli Biologi BRIN Bahas Pendekatan DNA dalam Kajian Nasab di Podcast, Ini Pokok-Pokok Penjelasannya

WARTA BATAVIA – JAKARTA – Musisi Rhoma Irama kembali mengangkat pembahasan mengenai kajian nasab melalui program Bisikan Rhoma di kanal YouTube Rhoma Irama Official. Dalam episode yang tayang pada 14 November 2025, Rhoma menghadirkan Dr. Sugeng Sugiharto, seorang ahli biologi yang diperkenalkan sebagai lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM), untuk membahas pendekatan ilmu biologi dan analisis DNA dalam kajian nasab.
Pada pembukaan podcast, Rhoma Irama menjelaskan bahwa pembahasan mengenai isu nasab dilakukan sebagai bagian dari kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Ia mengatakan tujuan diskusi tersebut adalah menyampaikan pandangan yang menurutnya dapat menjaga marwah Rasulullah SAW serta memberikan penjelasan kepada masyarakat terkait isu yang berkembang di media sosial.
Rhoma juga menyampaikan bahwa selama beberapa episode sebelumnya pembahasan lebih banyak menyoroti klaim mengenai nasab, sedangkan pada kesempatan tersebut ia menghadirkan seorang narasumber yang memiliki latar belakang ilmu biologi untuk menjelaskan persoalan tersebut dari sudut pandang ilmiah.
Pendekatan Biologi Menjadi Fokus Pembahasan
Dalam dialog tersebut, Rhoma Irama memperkenalkan Dr. Sugeng Sugiharto sebagai narasumber yang akan menjelaskan bagaimana ilmu biologi, khususnya analisis DNA, digunakan dalam pembahasan mengenai garis keturunan.
Menurut Rhoma, selama ini masyarakat lebih banyak memperoleh informasi mengenai persoalan nasab dari aspek sejarah maupun ilmu nasab. Oleh karena itu, ia meminta Dr. Sugeng menjelaskan bagaimana pendekatan biologi digunakan dalam melihat persoalan tersebut.
Menanggapi pertanyaan itu, Dr. Sugeng mengatakan bahwa pada pertemuan sebelumnya dirinya telah menjelaskan pendekatan berpikir induktif dalam menganalisis data DNA.
Ia menjelaskan bahwa metode tersebut digunakan untuk menguji apakah suatu klaim dapat diterima atau justru gugur berdasarkan data biologis yang tersedia. Dalam paparannya, ia mengaitkan penjelasan tersebut dengan pembahasan mengenai hasil Muktamar Nahdlatul Ulama yang menurutnya pernah membahas penggunaan tes DNA dalam konteks penolakan suatu klaim nasab.
Dr. Sugeng Menjelaskan Konsep Haplogroup dalam Analisis DNA
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Sugeng banyak menggunakan istilah haplogroup, yaitu kelompok penanda genetik yang digunakan dalam penelitian genetika untuk menelusuri garis keturunan paternal.
Selama pemaparannya, ia menggambarkan sejumlah bagan di papan tulis untuk menjelaskan hubungan berbagai kelompok haplogroup menurut data yang ia paparkan.
Ia membandingkan sejumlah haplogroup yang menurutnya berasal dari kelompok berbeda, kemudian menjelaskan bagaimana usia mutasi genetik diperkirakan melalui analisis biologis.
Menurut penjelasan Dr. Sugeng, pendekatan tersebut dilakukan dengan menghitung mutasi DNA yang dianggap dapat memberikan gambaran mengenai hubungan antarkelompok berdasarkan leluhur bersama (common ancestor).
Ia mengatakan bahwa apabila hasil perhitungan menunjukkan usia leluhur bersama yang menurutnya tidak sesuai dengan catatan sejarah, maka klaim yang sedang diuji dianggap tidak memenuhi kesesuaian berdasarkan pendekatan tersebut.
Penjelasan Mengenai Metode Induktif
Dr. Sugeng menjelaskan bahwa langkah pertama dalam pendekatan yang digunakannya bukan mencari pembenaran terhadap sebuah klaim, melainkan terlebih dahulu menguji kemungkinan apakah klaim tersebut dapat ditolak berdasarkan data yang tersedia.
Menurutnya, apabila suatu klaim tidak sesuai dengan hasil analisis biologis maupun kronologi sejarah, maka klaim tersebut perlu diuji kembali.
Ia kemudian memberikan ilustrasi menggunakan sejumlah contoh haplogroup yang dibandingkan berdasarkan perkiraan usia mutasi DNA.
Dalam penjelasannya, Dr. Sugeng menyebut adanya kelompok yang menurut hasil perhitungannya memiliki leluhur bersama puluhan ribu tahun lalu sehingga, menurut penafsirannya, tidak sesuai dengan kronologi sejarah yang sedang dibahas dalam podcast tersebut.
Pembahasan Berlanjut pada Catatan Sejarah Dinasti-Dinasti Kerajaan
Setelah menjelaskan pendekatan biologis, diskusi kemudian beralih pada pentingnya catatan sejarah.
Dr. Sugeng mengatakan bahwa selain data DNA, menurutnya penelitian mengenai garis keturunan juga memerlukan dokumentasi sejarah yang lengkap.
Dalam podcast tersebut ia menyebut sejumlah keluarga kerajaan dan dinasti yang menurut keterangannya memiliki dokumentasi sejarah yang relatif lengkap karena berasal dari lingkungan kerajaan.
Beberapa contoh yang disebutkan antara lain keluarga kerajaan di Yordania, sejumlah dinasti di Yaman, keluarga penguasa Madinah pada masa lalu, dinasti Idris di Maroko, hingga keluarga kerajaan Brunei yang menurutnya masih memerlukan konfirmasi melalui pengujian DNA.
Menurut penjelasan Dr. Sugeng, keluarga kerajaan dianggap memiliki keunggulan berupa pencatatan silsilah yang dilakukan secara berkesinambungan selama masa pemerintahan.
Karena itu, menurutnya, data sejarah dari lingkungan kerajaan dapat dijadikan salah satu bahan pembanding dalam penelitian mengenai nasab apabila dipadukan dengan analisis DNA.
Contoh yang Dipaparkan Mengenai Pengujian DNA Sejumlah Keluarga Kerajaan
Dalam pemaparannya, Dr. Sugeng kemudian memberikan contoh mengenai hasil pengujian DNA yang menurutnya pernah dipublikasikan oleh anggota keluarga kerajaan di Yordania.
Ia menjelaskan adanya publikasi hasil pengujian DNA pada tahun 2018 dari salah seorang anggota keluarga kerajaan yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Raja Abdullah II dari Yordania.
Selanjutnya, ia menjelaskan bagaimana data tersebut dibandingkan dengan hasil analisis terhadap cabang keluarga kerajaan lainnya yang menurut penjelasannya masih memiliki hubungan leluhur.
Menurut Dr. Sugeng, proses pembandingan tersebut dilakukan untuk melihat kesamaan maupun perbedaan penanda genetik dalam satu garis keturunan yang sama.
Rhoma Irama kemudian beberapa kali meminta penjelasan ulang agar istilah-istilah biologis yang digunakan dapat lebih mudah dipahami oleh penonton.
Dr. Sugeng selanjutnya menjelaskan kembali hubungan antarcabang keluarga kerajaan yang dibahas dalam podcast tersebut beserta penjelasan mengenai haplogroup yang menurutnya menjadi pembanding dalam analisis biologis.
Pembahasan Dilanjutkan dengan Contoh Dinasti Penguasa Madinah dan Cabang Keturunan yang Disebutkan Narasumber
Melanjutkan penjelasannya, Dr. Sugeng Sugiharto menguraikan sejumlah contoh garis keturunan yang menurutnya dapat ditelusuri melalui kombinasi antara dokumen sejarah dan analisis DNA. Dalam pemaparannya, ia menyebut beberapa keluarga penguasa yang pernah memimpin di kawasan Madinah serta menjelaskan hubungan antarcabang keluarga berdasarkan bagan silsilah yang digambarkan selama podcast berlangsung.
Menurut Dr. Sugeng, salah satu contoh yang dipaparkan adalah keluarga yang dikenal sebagai Bani Muhana, yang disebut pernah memimpin Madinah selama beberapa abad.
Dalam penjelasannya, ia menguraikan silsilah mulai dari Imam Husain, Ali Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir hingga sejumlah keturunan berikutnya yang menurutnya menjadi bagian dari garis keluarga tersebut.
Ia juga menjelaskan bahwa setiap cabang yang dibahas memiliki penanda genetik tertentu yang digunakan sebagai bagian dari analisis biologis. Penjelasan itu disampaikan bersamaan dengan ilustrasi bagan hubungan keluarga yang digambar langsung di papan tulis selama podcast berlangsung.
Rhoma Irama beberapa kali meminta penjelasan ulang terhadap istilah-istilah genetika yang digunakan agar lebih mudah dipahami oleh penonton.
Dokumentasi Kerajaan Dinilai Menjadi Salah Satu Acuan dalam Kajian Nasab
Masih dalam sesi yang sama, Dr. Sugeng menjelaskan alasan dirinya menjadikan keluarga kerajaan sebagai salah satu contoh dalam pembahasan.
Menurutnya, keluarga kerajaan pada umumnya memiliki dokumentasi sejarah yang lebih lengkap dibandingkan keluarga biasa karena setiap pergantian kepemimpinan, silsilah, hingga dokumen resmi pemerintahan dicatat secara berkesinambungan.
Ia menyebut bahwa keberadaan arsip kerajaan, surat-menyurat resmi, prasasti, hingga catatan pemerintahan menjadi salah satu alasan mengapa data dari lingkungan kerajaan dipandang memiliki nilai historis dalam penelitian genealogi.
“Kalau raja itu semua punya prasasti, punya catatan,” demikian inti penjelasan yang disampaikan Dr. Sugeng ketika menjawab pertanyaan Rhoma Irama mengenai alasan penggunaan keluarga kerajaan sebagai pembanding dalam kajian tersebut.
Rhoma kemudian menanggapi bahwa penjelasan tersebut memberikan gambaran mengenai pentingnya dokumentasi sejarah dalam penelitian garis keturunan.
Penjelasan Mengenai Perpindahan Dinasti di Makkah
Dalam pembahasan berikutnya, Dr. Sugeng juga mengulas pergantian dinasti yang pernah terjadi di Makkah.
Ia menjelaskan bahwa menurut catatan sejarah yang ia paparkan, pernah terjadi pergantian pemerintahan dari satu dinasti kepada dinasti lain karena faktor pewarisan kekuasaan.
Menurutnya, perubahan tersebut tetap tercatat dalam dokumen sejarah sehingga hubungan antarkeluarga masih dapat ditelusuri melalui silsilah yang tersedia.
Ia juga menyinggung perpindahan pusat pemerintahan sebagian keluarga kerajaan ke wilayah lain setelah perubahan politik yang terjadi di Jazirah Arab pada masa berikutnya.
Penjelasan Mengenai Haplogroup J1 dan Penanda Genetik
Salah satu bagian yang cukup panjang dalam podcast adalah ketika Rhoma Irama meminta penjelasan mengenai istilah J1 yang beberapa kali disebutkan oleh narasumber.
Menjawab pertanyaan tersebut, Dr. Sugeng menjelaskan bahwa istilah J1 merupakan penamaan salah satu kelompok haplogroup yang dalam genetika digunakan untuk mengelompokkan garis keturunan paternal berdasarkan mutasi kromosom Y.
Ia menerangkan bahwa setiap haplogroup memiliki penanda mutasi tertentu yang kemudian bercabang lagi menjadi sejumlah subkelompok.
Dalam penjelasannya, ia menggunakan sejumlah kode genetika seperti M267, M172, maupun beberapa kode lain sebagai contoh bagaimana para peneliti membedakan satu cabang dengan cabang lainnya.
Menurut Dr. Sugeng, semakin banyak mutasi yang tercatat maka semakin rinci pula cabang keturunan yang dapat dipetakan dalam penelitian genetika.
Ia mengatakan bahwa penanda tersebut digunakan sebagai dasar untuk membangun pohon hubungan genetik antarkelompok yang sedang dibandingkan.
Rhoma Irama Meminta Penjelasan Ulang Mengenai Dinasti di Yaman
Pada bagian berikutnya, Rhoma Irama kembali meminta Dr. Sugeng mengulangi penjelasan mengenai salah satu keluarga penguasa di Yaman yang sebelumnya disebutkan.
Dr. Sugeng kemudian menerangkan kembali mengenai marga yang menurut penjelasannya berasal dari kawasan sekitar Madinah dan kemudian berkembang di Yaman.
Selain itu, ia juga menjelaskan hubungan nama keluarga yang menurutnya berkembang di Iran dengan garis keturunan yang sedang dibahas dalam podcast.
Dalam pemaparannya, ia mencontohkan sejumlah tokoh yang menurutnya berasal dari cabang keluarga tersebut serta menjelaskan hubungan antarcabang berdasarkan bagan yang telah dibuat sebelumnya.
Rhoma beberapa kali mengulangi inti penjelasan narasumber agar penonton dapat mengikuti alur pembahasan yang cukup teknis.
Narasumber Menjelaskan Perbedaan Penanda Genetik
Masih dalam sesi yang sama, Dr. Sugeng menjelaskan bahwa menurut analisis yang ia paparkan, terdapat perbedaan penanda genetik antara beberapa cabang keluarga yang sedang dibandingkan.
Ia menunjukkan bagan yang telah dibuat sebelumnya dan menerangkan bagaimana setiap cabang memiliki kode genetika berbeda.
Penjelasan tersebut disampaikan sebagai bagian dari argumentasi ilmiah yang menurutnya digunakan dalam penelitian genetika mengenai garis keturunan.
Rhoma Irama Menyimpulkan Pokok Penjelasan Narasumber
Menjelang pertengahan akhir podcast, Rhoma Irama mencoba merangkum poin-poin yang telah dijelaskan oleh Dr. Sugeng.
Ia menyatakan bahwa berdasarkan paparan narasumber, penelitian mengenai nasab menurut pandangan yang disampaikan dalam podcast tersebut memerlukan dua unsur utama, yakni dokumentasi sejarah dan analisis DNA.
Rhoma juga menyampaikan bahwa pembahasan yang dilakukan dalam podcast bukan dimaksudkan untuk menolak keberadaan keturunan Nabi Muhammad SAW secara umum, melainkan membahas metode yang menurut narasumber dapat digunakan untuk melakukan verifikasi berdasarkan data sejarah dan biologi. Pernyataan tersebut merupakan rangkuman Rhoma atas isi diskusi dan bukan kesimpulan yang dapat diverifikasi di luar podcast.
Pembahasan Berlanjut pada Garis Keturunan Arab Berdasarkan Penjelasan Narasumber
Pada bagian berikutnya, Dr. Sugeng menjelaskan bagan yang menurutnya menggambarkan hubungan sejumlah kelompok masyarakat Arab berdasarkan analisis haplogroup.
Ia menguraikan hubungan antara beberapa kelompok yang menurut penjelasannya memiliki leluhur bersama pada periode sejarah tertentu.
Dalam sesi ini, Rhoma Irama kembali mengajukan sejumlah pertanyaan untuk memperjelas istilah-istilah yang digunakan, termasuk mengenai hubungan antara keturunan Nabi Ismail, kelompok Arab Adnani, serta penggunaan haplogroup sebagai penanda genetika.
Dr. Sugeng menjelaskan bahwa menurut pendekatan yang dipaparkannya, satu haplogroup dapat dimiliki oleh banyak kelompok yang berbeda sehingga, menurut keterangannya, kepemilikan haplogroup tertentu tidak otomatis menunjukkan hubungan dengan satu tokoh sejarah tertentu.
Bagian ini juga memuat penjelasan mengenai konsep cabang genetika dan bagaimana penanda mutasi digunakan dalam penelitian kromosom Y menurut pemaparan narasumber.
Narasumber Menjelaskan Prinsip Pembuktian Ilmiah dalam Kajian DNA
Memasuki bagian akhir podcast, Rhoma Irama meminta Dr. Sugeng Sugiharto menjelaskan dasar ilmiah yang digunakan dalam penelitian genetika untuk menguji suatu klaim mengenai garis keturunan.
Menanggapi hal tersebut, Dr. Sugeng menjelaskan bahwa dalam filsafat ilmu, pihak yang mengajukan suatu klaim memiliki tanggung jawab untuk menyajikan bukti yang dapat diuji. Menurut penjelasannya, proses tersebut memerlukan data primer, dokumentasi sejarah, serta data biologis yang memadai agar dapat dianalisis secara ilmiah.
Ia kemudian menguraikan pentingnya jumlah sampel dalam penelitian DNA. Menurutnya, semakin besar jumlah sampel yang tersedia, semakin tinggi tingkat keyakinan statistik yang dapat diperoleh dalam suatu penelitian genetika.
Sebagai ilustrasi, Dr. Sugeng menyebutkan jumlah sampel yang menurut keterangannya telah digunakan dalam penelitian mengenai kelompok-kelompok tertentu. Ia kemudian membandingkannya dengan contoh lain yang menurutnya memiliki jumlah sampel jauh lebih sedikit.
Untuk memudahkan penonton memahami penjelasan tersebut, ia mengibaratkannya dengan proses pengujian obat. Menurut analogi yang disampaikannya, masyarakat akan lebih percaya terhadap obat yang telah melalui pengujian dalam jumlah sampel besar dibandingkan obat yang hanya diuji kepada sedikit orang. Analogi itu digunakan untuk menggambarkan pentingnya ukuran sampel dalam penelitian ilmiah.
Rhoma Irama Menanyakan Kemungkinan Keturunan Nabi Muhammad SAW di Indonesia
Setelah membahas pendekatan metodologis, Rhoma Irama kemudian mengajukan pertanyaan mengenai kemungkinan adanya keturunan Nabi Muhammad SAW di Indonesia berdasarkan penjelasan yang telah dipaparkan.
Pertanyaan tersebut dijawab Dr. Sugeng dengan menyebut salah satu marga yang menurut penjelasannya memiliki hubungan dengan garis keturunan yang sebelumnya telah dibahas dalam podcast.
Ia mengatakan bahwa menurut pandangannya, pengujian DNA terhadap kelompok tersebut dapat menjadi salah satu cara untuk memperoleh data biologis tambahan yang kemudian dibandingkan dengan hasil penelitian yang telah dipaparkannya.
Dalam penjelasannya, Dr. Sugeng juga menyebut bahwa masih diperlukan kesediaan dari pihak yang bersangkutan untuk menjalani pengujian DNA agar dapat dilakukan pembandingan berdasarkan metode yang dijelaskan sepanjang podcast.
Rhoma Irama kemudian menanggapi bahwa pemaparan tersebut merupakan bagian dari penjelasan ilmiah yang disampaikan narasumber mengenai penggunaan analisis DNA dalam kajian nasab.
Penutup Diskusi dan Harapan kepada Penonton
Menjelang berakhirnya acara, Rhoma Irama merangkum kembali pokok-pokok pembahasan yang telah disampaikan oleh Dr. Sugeng.
Ia menyatakan bahwa diskusi tersebut dimaksudkan sebagai upaya memberikan penjelasan kepada masyarakat melalui sudut pandang ilmu biologi sebagaimana dipaparkan oleh narasumber.
Rhoma berharap penjelasan tersebut dapat menjadi tambahan informasi bagi penonton dalam memahami kajian nasab. Ia juga mengajak masyarakat untuk bersikap terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang dibahas dalam podcast tersebut. Pernyataan ini merupakan ajakan yang disampaikan pembawa acara dalam konteks penutupan program.
Pada bagian penutup, Rhoma Irama menyampaikan apresiasi kepada Dr. Sugeng Sugiharto atas kesediaannya kembali menjadi narasumber. Keduanya juga sempat berbincang ringan mengenai kemungkinan pembahasan topik lain pada kesempatan mendatang sebelum akhirnya acara ditutup dengan salam penutup.
FAQ
Apa yang dibahas dalam podcast Rhoma Irama Official edisi 14 November 2025?
Podcast tersebut membahas penggunaan pendekatan ilmu biologi, khususnya analisis DNA dan haplogroup, dalam kajian nasab. Pembahasan disampaikan melalui dialog antara Rhoma Irama dan Dr. Sugeng Sugiharto.
Siapa Dr. Sugeng Sugiharto?
Dalam podcast, Rhoma Irama memperkenalkan Dr. Sugeng Sugiharto sebagai ahli biologi lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) yang diundang untuk menjelaskan pendekatan genetika dalam pembahasan nasab.
Apa yang dimaksud haplogroup menurut penjelasan narasumber?
Dalam podcast, haplogroup dijelaskan sebagai penanda genetik pada garis keturunan paternal yang digunakan dalam penelitian DNA untuk membandingkan hubungan antarkelompok berdasarkan mutasi kromosom Y.
Mengapa keluarga kerajaan banyak dibahas?
Menurut penjelasan Dr. Sugeng, keluarga kerajaan dijadikan contoh karena dinilai memiliki dokumentasi sejarah dan silsilah yang lebih lengkap sehingga dapat digunakan sebagai bahan pembanding dalam penelitian genealogi.
Apakah podcast tersebut menyampaikan kesimpulan ilmiah yang telah menjadi konsensus?
Podcast ini berisi penjelasan dan pandangan yang disampaikan oleh narasumber dalam diskusi. Artikel ini melaporkan isi pembahasan tersebut dan tidak menyajikan klaim-klaim yang dibahas sebagai fakta yang telah menjadi konsensus ilmiah.
Kesimpulan
Podcast Bisikan Rhoma yang tayang di kanal Rhoma Irama Official pada 14 November 2025 mengangkat pembahasan mengenai kajian nasab melalui pendekatan genetika. Dalam diskusi tersebut, Dr. Sugeng Sugiharto memaparkan pandangannya mengenai penggunaan analisis DNA, haplogroup, dokumentasi sejarah, dan contoh-contoh silsilah keluarga kerajaan sebagai bagian dari metode yang menurutnya dapat digunakan dalam penelitian garis keturunan. Sepanjang dialog, Rhoma Irama berperan mengajukan pertanyaan, meminta penjelasan ulang terhadap istilah-istilah teknis, serta merangkum pokok-pokok pemaparan narasumber sebelum menutup acara. Seluruh uraian dalam artikel ini merupakan laporan atas isi podcast dan pernyataan yang disampaikan oleh para pembicara selama program berlangsung.
Sumber berita:







