invisible hit counter
BERITANasional

Perbedaan Habib dan Kiai dalam Tradisi Keberagamaan di Indonesia

WARTA BATAVIA – Dr Ubaidillah Tamam menjelaskan perbedaan Habib dan kiai dalam keberagamaan, mulai dari kisah leluhur, genealogi, tradisi keilmuan, hingga sejarah Wali Songo
Dr. Ubaidillah Tamam Jelaskan Perbedaan Habib dan Kiai dalam Tradisi Keberagamaan di Indonesia

Dr. Ubaidillah Tamam menjelaskan pandangannya mengenai perbedaan Habib dan kiai dalam menjalankan peran sebagai instrumen keberagamaan di tengah masyarakat. Menurut dia, perbedaan tersebut dapat dilihat dari pendekatan penyampaian ajaran agama, penggunaan kisah leluhur, pengembangan tradisi keilmuan, hingga cara memahami konsep kewalian.

Penjelasan tersebut disampaikan Dr. Ubaidillah Tamam melalui kanal YouTube UBAIDILLAH TAMAM MUNJI yang diunggah pada 31 Oktober 2026.

Dalam keterangannya, Ubaidillah mengawali pembahasan dengan menceritakan sebuah percakapan sederhana bersama sejumlah warga di lingkungan pedesaan. Percakapan yang berlangsung di sebuah gubuk sambil menikmati kopi itu membahas pertanyaan mengenai perbedaan Habib dan kiai dalam konteks keberagamaan.

Menurut Ubaidillah, pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk untuk membicarakan dua pendekatan yang menurut pandangannya memiliki karakteristik berbeda dalam menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat.

Ia menjelaskan, dalam pengamatannya, sebagian Habib lebih banyak menggunakan kisah-kisah leluhur dan cerita yang berkembang di tengah masyarakat sebagai bagian dari pendekatan dakwah. Sementara itu, tradisi kiai lebih sering menonjolkan aspek keilmuan, perjuangan sosial, pendidikan, dan peran ulama dalam membangun kehidupan masyarakat.

Ubaidillah juga menyinggung persoalan glorifikasi leluhur, mistifikasi kisah, pengaruh sejarah Dinasti Fatimiyah Ismailiyah, serta perbedaan cara memandang Wali Songo.

Perbedaan Habib dan Kiai dalam Pendekatan Keberagamaan

Perbedaan Habib dan Kiai dalam Pendekatan Keberagamaan

Dalam penjelasannya, Ubaidillah menyebut bahwa perbedaan antara Habib dan kiai tidak hanya berkaitan dengan identitas atau gelar keagamaan. Ia mengarahkan pembahasan pada cara masing-masing kelompok menyampaikan ajaran dan membangun hubungan dengan masyarakat.

Menurut dia, dalam pola keberagamaan yang diamatinya, sebagian Habib menggunakan kisah-kisah leluhur sebagai salah satu instrumen untuk memperkuat ketokohan dan hubungan genealogis.

Kisah-kisah tersebut, menurut Ubaidillah, dapat berasal dari buku, cerita yang berkembang di masyarakat, maupun cerita yang mengalami proses pengembangan dan reproduksi.

Ia menilai, dalam sejumlah cerita yang beredar, tokoh-tokoh tertentu kemudian dikaitkan dengan garis keturunan Baalawi. Bahkan, tokoh yang sebelumnya dikenal melalui sejarah atau tradisi masyarakat dapat ditempatkan dalam narasi genealogis tertentu.

Ubaidillah mencontohkan kisah Si Pitung dan Wali Songo yang menurut penafsirannya pernah digunakan dalam pembentukan narasi mengenai hubungan genealogis Baalawi.

Ia menegaskan bahwa dalam contoh tersebut, fokus pembahasannya bukan semata-mata pada tokoh Si Pitung atau Wali Songo, melainkan pada bagaimana kisah mengenai tokoh-tokoh tersebut dikaitkan dengan narasi keturunan tertentu.

Menurut Ubaidillah, cerita yang dinilai menguntungkan bagi penguatan ketokohan genealogis dapat digunakan kembali dalam berbagai kesempatan, termasuk melalui ceramah keagamaan.

Kisah Leluhur dan Penguatan Genealogi

Ubaidillah menjelaskan bahwa penggunaan kisah leluhur menjadi salah satu aspek yang menurutnya perlu diperiksa secara historis.

Ia menilai, cerita mengenai tokoh tertentu dapat mengalami perubahan ketika disampaikan berulang kali dalam lingkungan masyarakat. Cerita yang pada awalnya berkembang sebagai kisah tradisional kemudian dapat memperoleh tambahan penokohan, gelar, dan hubungan genealogis.

Dalam konteks tersebut, Ubaidillah menyoroti penggunaan gelar-gelar kewalian yang disematkan kepada tokoh dalam sejumlah cerita.

Menurut dia, pemberian berbagai gelar dan penyebutan tokoh dengan kedudukan tertentu dapat memperkuat kesan mengenai hubungan genealogis yang sedang dibangun.

Ia juga menyampaikan bahwa cerita dari lingkungan komunitas Baalawi sendiri dapat memperoleh perhatian lebih besar apabila dianggap mendukung narasi mengenai leluhur mereka.

Sementara itu, cerita mengenai tokoh dari luar komunitas tersebut, menurut penilaiannya, juga dapat dihubungkan dengan narasi genealogis melalui proses pengembangan cerita.

Pandangan tersebut menjadi bagian dari kritik Ubaidillah terhadap penggunaan kisah-kisah leluhur dalam penyampaian ajaran keagamaan.

Glorifikasi dan Mistifikasi Kisah dalam Ceramah Keagamaan

Glorifikasi dan Mistifikasi Kisah dalam Ceramah Keagamaan

Selain membahas genealogi, Ubaidillah menyoroti fenomena yang disebutnya sebagai glorifikasi dan mistifikasi kisah.

Ia menghubungkan munculnya sikap kritis terhadap sejumlah cerita keagamaan dengan berkembangnya pembahasan yang dikaitkan dengan tesis KH Imaduddin Utsman Al-Bantani.

Menurut Ubaidillah, kritik terhadap cerita-cerita tersebut muncul karena adanya pertanyaan mengenai dasar sejarah, rasionalitas, dan bukti empiris yang mendukung kisah yang disampaikan.

Ia berpendapat bahwa cerita yang tidak memiliki dasar historis memadai dapat mengalami proses mistifikasi ketika disampaikan dalam ruang keagamaan.

Dari Cerita Menjadi Sesuatu yang Disakralkan

Ubaidillah menjelaskan bahwa mistifikasi merupakan proses ketika suatu cerita ditempatkan dalam ruang kesakralan sehingga masyarakat memandangnya sebagai sesuatu yang tidak boleh dipertanyakan.

Dalam pandangannya, cerita yang semula bersifat fiktif atau tidak memiliki dasar sejarah yang dapat diverifikasi dapat berubah menjadi narasi yang dianggap memiliki nilai teologis.

Ia mencontohkan sejumlah cerita mengenai kemampuan tokoh tertentu untuk keluar masuk neraka, menghentikan siksa neraka, maupun menghentikan siksa kubur.

Ubaidillah juga menyinggung narasi mengenai ancaman kualat dan tidak memperoleh syafaat apabila seseorang menentang tokoh tertentu.

Menurut dia, apabila cerita semacam itu disampaikan tanpa penjelasan mengenai dasar sumber dan kedudukannya, masyarakat dapat memahaminya sebagai bagian dari ajaran agama.

Ia menilai, kondisi tersebut dapat membuat cerita yang semestinya diperiksa secara kritis berubah menjadi sesuatu yang dianggap sakral.

Ubaidillah menyebut proses tersebut sebagai bentuk mistifikasi yang dapat digunakan sebagai instrumen doktrinasi terhadap masyarakat.

Namun, seluruh contoh dan penilaian tersebut merupakan pandangan yang disampaikan Ubaidillah dalam penjelasannya.

Ubaidillah Tamam Singgung Pengaruh Dinasti Fatimiyah Ismailiyah

Ubaidillah Tamam Singgung Pengaruh Dinasti Fatimiyah Ismailiyah

Dalam pembahasan berikutnya, Ubaidillah menghubungkan pola keberagamaan yang dikritiknya dengan sejarah perkembangan Dinasti Fatimiyah Ismailiyah di Mesir.

Ia menjelaskan bahwa pengaruh Dinasti Fatimiyah Ismailiyah tidak serta-merta hilang setelah dinasti tersebut mengalami keruntuhan.

Menurut Ubaidillah, pengalaman sejarah yang berlangsung dalam waktu panjang dapat meninggalkan jejak sosial dan budaya dalam kehidupan masyarakat.

Ia mencontohkan masyarakat Mesir yang pernah berada dalam lingkungan sosial dan keagamaan Dinasti Fatimiyah Ismailiyah.

Setelah pengaruh politik dinasti tersebut berakhir, sistem pendidikan dan kelembagaan keagamaan di Mesir, menurut penjelasannya, kemudian banyak dipengaruhi tradisi Sunni yang berkembang melalui Dinasti Abbasiyah dan Saljuk.

Meski demikian, Ubaidillah berpendapat bahwa pengaruh budaya dan romantisme sejarah dari masa sebelumnya masih dapat bertahan dalam sebagian masyarakat.

Ia menyebut bahwa seseorang yang hidup dalam lingkungan pendidikan Sunni sekalipun dapat tetap memiliki kedekatan emosional dengan warisan sejarah keagamaan yang pernah berkembang sebelumnya.

Hubungan Sejarah Ismailiyah dengan Yaman

Ubaidillah selanjutnya menyinggung perkembangan pengaruh Ismailiyah di Yaman.

Menurut dia, sebagian pengaruh Ismailiyah yang berkembang di Mesir juga memiliki hubungan dengan perkembangan sejarah keagamaan di Yaman.

Ia kemudian menghubungkan pembahasan tersebut dengan pendekatan dan metodologi yang menurut pengamatannya dapat ditemukan dalam ceramah sejumlah Habib Baalawi di Nusantara.

Ubaidillah menyatakan bahwa hubungan sejarah tersebut belum banyak dipahami oleh sebagian kalangan kiai dan santri.

Dalam penjelasannya, ia mengajak masyarakat untuk melihat tradisi keberagamaan tidak hanya dari aspek identitas kelompok, tetapi juga melalui latar belakang sejarah, pendidikan, dan metodologi keilmuan.

Pembahasan mengenai Dinasti Fatimiyah Ismailiyah, Abbasiyah, dan Saljuk menjadi bagian dari kerangka sejarah yang digunakan Ubaidillah untuk menjelaskan perbedaan pendekatan keberagamaan yang sedang dibicarakan.

Tradisi Keilmuan Sunni Abbasiyah dan Saljuk dalam Lingkungan Kiai

Tradisi Keilmuan Sunni Abbasiyah dan Saljuk dalam Lingkungan Kiai

Ubaidillah kemudian membandingkan pendekatan yang menurutnya berkembang dalam tradisi kiai dengan pola glorifikasi leluhur yang sebelumnya ia kritik.

Menurut dia, tradisi keilmuan yang berkembang melalui pengaruh Sunni Abbasiyah dan Saljuk lebih menekankan reproduksi ilmu pengetahuan Islam.

Ia menyebut bahwa pengaruh tradisi tersebut dapat ditemukan dalam perkembangan keilmuan ulama di Nusantara hingga kawasan Hijaz.

Dalam pandangannya, pendekatan yang berkembang di kalangan kiai lebih menonjolkan karya keilmuan, pemikiran ulama, pendidikan, dan kontribusi sosial.

Ia juga menghubungkan tradisi tersebut dengan perkembangan Islam di Indonesia, termasuk proses pribumisasi Islam yang dilakukan oleh para ulama Nusantara.

Wali Songo dalam Perspektif Keilmuan dan Perjuangan Sosial

Salah satu bagian yang menjadi perhatian Ubaidillah adalah perbedaan cara menceritakan Wali Songo.

Ia menjelaskan bahwa dalam perspektif kiai, Wali Songo lebih banyak digambarkan melalui perjuangan mereka dalam membebaskan, mendampingi, dan mencerahkan masyarakat.

Menurut Ubaidillah, ketokohan Wali Songo dalam tradisi kiai tidak hanya ditekankan pada aspek kewalian atau kemampuan spiritual, tetapi juga pada tindakan nyata mereka dalam kehidupan sosial.

Ia menyebut pendekatan tersebut sebagai perspektif anfa’ linnas, yakni orientasi yang menekankan kemanfaatan bagi manusia.

Dalam konteks itu, cerita mengenai Wali Songo lebih diarahkan pada aktivitas dakwah, pendidikan, perjuangan sosial, dan pembentukan kehidupan masyarakat.

Ubaidillah juga menyinggung peran para ulama dalam proses pribumisasi Islam hingga terbentuknya organisasi Nahdlatul Ulama.

Menurut dia, sejarah Nahdlatul Ulama dapat diceritakan melalui hubungan organisasi tersebut dengan kolonialisme, pembentukan negara bangsa, serta kehidupan para santri dan masyarakat.

Ia menilai, cerita mengenai perjuangan ulama dan hubungan mereka dengan masyarakat menjadi bagian penting dalam tradisi penyampaian sejarah di kalangan kiai.

Perbedaan Cara Kiai dan Habib Menceritakan Leluhur

Perbedaan Cara Kiai dan Habib Menceritakan Leluhur

Ubaidillah juga membandingkan cara kiai dan Habib menceritakan hubungan keluarga atau leluhur mereka.

Menurut dia, para kiai pada umumnya dapat menceritakan silsilah keluarga secara sederhana sebagai bagian dari informasi sejarah.

Penyebutan mengenai orang tua, kakek, atau leluhur biasanya disampaikan secara singkat tanpa harus ditempatkan dalam narasi yang berlebihan.

Ia mengatakan bahwa seorang kiai dapat mengutip pendapat orang tuanya atau menceritakan latar belakang keluarganya dalam konteks sejarah biasa.

Namun, menurut pengamatannya, terdapat perbedaan ketika kisah leluhur digunakan sebagai instrumen untuk membangun pengaruh keagamaan.

Dalam konteks yang ia kritik, cerita genealogis dapat memperoleh porsi besar dan digunakan untuk memperkuat ketokohan seseorang.

Ilmu dan Hubungan Guru dengan Santri

Persoalan lain yang disampaikan Ubaidillah berkaitan dengan hubungan keilmuan antara guru dan murid.

Ia berpendapat bahwa ilmu yang diajarkan seorang kiai semestinya menjadi sarana bagi santri untuk mengembangkan pengetahuan, bukan membuat mereka merasa terikat secara eksklusif kepada seorang tokoh.

Menurut dia, tradisi keilmuan Islam memiliki banyak sumber dan tokoh yang dapat dipelajari.

Ia mencontohkan bahwa seseorang dapat mengambil manfaat dari pemikiran tokoh di luar tradisi keilmuan yang sedang dipelajarinya.

Dalam penjelasannya, Ubaidillah menggunakan istilah istifadah untuk menggambarkan proses mengambil manfaat atau pengetahuan dari seseorang.

Ia mengatakan bahwa dirinya yang belajar dalam lingkungan tradisi Islam juga dapat mengambil manfaat dari kajian filsafat Aristoteles, Plato, dan Sokrates.

Namun, proses mengambil manfaat dari pemikiran tokoh-tokoh tersebut tidak berarti seseorang harus terikat secara ideologis kepada mereka.

Menurut Ubaidillah, proses istifadah merupakan bagian dari perkembangan pengetahuan dan tidak seharusnya digunakan untuk membangun ikatan yang membatasi ruang belajar.

Ia juga menceritakan nasihat ayahnya agar tidak merepotkan santri ketika berkunjung ke lingkungan pesantren.

Cerita tersebut disampaikan untuk menggambarkan sikap sederhana dalam hubungan antara kiai, santri, dan masyarakat.

Mazahibul Arbaah dan Tokoh-Tokoh Keilmuan Islam

Dalam ceramahnya, Ubaidillah menyebut bahwa tradisi kiai banyak memperkenalkan tokoh-tokoh besar dalam sejarah keilmuan Islam.

Tokoh-tokoh tersebut mencakup ulama fikih, ulama kalam, ulama tasawuf, serta para imam dari Mazahibul Arbaah.

Menurut dia, pembahasan mengenai para ulama lebih diarahkan pada karya, pemikiran, dan kontribusi mereka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan Islam.

Ia kemudian memberikan contoh Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.

Karya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dan Tradisi Manaqib

Ubaidillah menjelaskan bahwa Syekh Abdul Qadir Al-Jailani merupakan tokoh yang memiliki banyak karya dalam tradisi keilmuan Islam.

Ia membedakan antara karya-karya asli Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dengan kitab manaqib yang menceritakan perjalanan hidup dan ketokohan beliau.

Menurut Ubaidillah, kitab manaqib bukan merupakan karya langsung Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, melainkan karya yang berisi kisah mengenai tokoh tersebut.

Ia menilai bahwa karya-karya asli Syekh Abdul Qadir Al-Jailani memiliki pembahasan keilmuan yang dapat dikaji dari berbagai perspektif, termasuk teologi, fikih, ilmu kalam, dan sosiologi keberagamaan.

Ubaidillah juga menyinggung perkembangan Tarekat Qadiriyah sebagai bagian dari warisan keilmuan dan spiritual Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.

Menurut dia, tradisi tarekat tersebut memperlihatkan hubungan antara pembinaan spiritual, hubungan manusia dengan Allah, dan upaya membangun harmoni antarmanusia.

Dalam konteks ini, Ubaidillah menempatkan karya dan pemikiran ulama sebagai salah satu aspek penting dalam memahami ketokohan seorang tokoh agama.

Wali Songo dan Pribumisasi Islam di Nusantara

Pembahasan mengenai Wali Songo kemudian kembali dikaitkan dengan perkembangan Islam di Indonesia.

Ubaidillah menjelaskan bahwa para kiai memiliki kecenderungan menceritakan perjuangan Wali Songo dalam membangun kehidupan keagamaan masyarakat Nusantara.

Menurut dia, pendekatan tersebut berkaitan dengan proses pribumisasi Islam, yaitu perkembangan ajaran Islam yang berinteraksi dengan kondisi sosial dan budaya masyarakat setempat.

Ia juga menyinggung peran Nahdlatul Ulama dalam proses tersebut.

Dalam penjelasannya, cerita mengenai ulama Nusantara tidak hanya berisi hubungan keluarga atau garis keturunan, tetapi juga mencakup perjuangan menghadapi kolonialisme, pendidikan masyarakat, dan pembentukan kehidupan berbangsa.

Ubaidillah menilai bahwa pendekatan keilmuan dan perjuangan sosial merupakan bagian yang menonjol dalam tradisi kiai.

Ia juga mengakui bahwa para kiai memiliki tradisi zikir dan mengikuti tarekat. Namun, menurutnya, hal tersebut tidak menghilangkan perhatian mereka terhadap kehidupan sosial masyarakat.

Dengan demikian, pembahasan mengenai kewalian dalam perspektif yang disampaikan Ubaidillah tidak hanya berkaitan dengan aspek spiritual, tetapi juga tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ubaidillah Akui Ada Habib yang Mengutamakan Keilmuan

Menjelang akhir penjelasannya, Ubaidillah memberikan penegasan bahwa tidak semua Habib memiliki pendekatan yang sama.

Ia mengakui terdapat Habib yang memiliki pola seperti kiai dalam mengembangkan tradisi keilmuan dan melakukan aktivitas sosial.

Menurut dia, terdapat pula Habib yang serius dalam bidang keilmuan dan memiliki perhatian terhadap kajian Islam.

Namun, Ubaidillah berpendapat bahwa kelompok tersebut kurang terlihat dibandingkan pola keberagamaan yang menurut pengamatannya lebih dominan dalam komunitas Habib Baalawi di Indonesia.

Ia juga menyebut adanya Habib yang memiliki kecenderungan Sunni maupun yang memperlihatkan pendekatan Wahabi.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa Ubaidillah tidak menyamakan seluruh individu dalam kelompok Habib.

Ia menempatkan perbedaan pendekatan sebagai bagian dari keragaman yang ada di dalam lingkungan keagamaan itu sendiri.

Dr. Ubaidillah Tamam Jelaskan Perbedaan Habib dan Kiai dalam Tradisi Keberagamaan di Indonesia

Pembahasan Perbedaan Habib dan Kiai dalam Konteks Keberagamaan

Penjelasan Dr. Ubaidillah Tamam pada 31 Oktober 2026 mencakup sejumlah persoalan yang saling berkaitan, mulai dari penggunaan kisah leluhur, penguatan genealogi, glorifikasi, mistifikasi, hingga tradisi keilmuan Islam.

Dalam pemaparannya, ia membandingkan pendekatan yang menurutnya berkembang pada sebagian Habib Baalawi dengan tradisi keilmuan yang berkembang di lingkungan kiai.

Ia juga menggunakan sejarah Dinasti Fatimiyah Ismailiyah, Abbasiyah, dan Saljuk sebagai kerangka untuk menjelaskan latar belakang perbedaan pendekatan tersebut.

Sementara itu, tradisi kiai digambarkan melalui perhatian terhadap karya ulama, Mazahibul Arbaah, tasawuf, tarekat, perjuangan Wali Songo, serta perkembangan Nahdlatul Ulama.

Ubaidillah juga menekankan pentingnya membedakan antara cerita sejarah, karya keilmuan, dan narasi yang telah mengalami proses mistifikasi.

Melalui penjelasan tersebut, ia mengajak masyarakat memahami praktik keberagamaan dengan memperhatikan aspek sejarah, metodologi, dan tradisi keilmuan.

Pembahasan itu disampaikan dalam bentuk penjelasan pribadi berdasarkan pengamatan dan kerangka pemikiran Ubaidillah mengenai perbedaan pendekatan keberagamaan di Indonesia.


FAQ: Pertanyaan Seputar Perbedaan Habib dan Kiai Menurut Dr. Ubaidillah Tamam

1. Apa perbedaan Habib dan kiai menurut Dr. Ubaidillah Tamam?

Menurut Ubaidillah, perbedaan yang dibahas berkaitan dengan pendekatan keberagamaan. Ia menilai sebagian Habib lebih menonjolkan kisah leluhur dan genealogi, sedangkan tradisi kiai lebih menekankan keilmuan, karya ulama, perjuangan sosial, dan pendidikan masyarakat.

2. Apa yang dimaksud glorifikasi leluhur dalam penjelasan Ubaidillah Tamam?

Glorifikasi leluhur merupakan penguatan atau pengagungan kisah mengenai leluhur dan tokoh tertentu. Ubaidillah mengkritik penggunaan cerita genealogis secara berlebihan untuk memperkuat ketokohan atau pengaruh keagamaan.

3. Apa yang dimaksud mistifikasi dalam ceramah tersebut?

Mistifikasi adalah proses ketika cerita yang belum memiliki dasar historis atau empiris yang memadai ditempatkan dalam ruang kesakralan sehingga dianggap tidak boleh dipertanyakan.

4. Mengapa Ubaidillah Tamam membahas Dinasti Fatimiyah Ismailiyah?

Ia menggunakan sejarah Dinasti Fatimiyah Ismailiyah di Mesir dan perkembangannya di Yaman untuk menjelaskan latar belakang sejarah dan pendekatan keberagamaan yang menurutnya masih memiliki pengaruh dalam sebagian tradisi keagamaan.

5. Bagaimana kiai memandang Wali Songo menurut penjelasan Ubaidillah?

Menurut Ubaidillah, Wali Songo dalam perspektif kiai lebih banyak diceritakan melalui perjuangan dakwah, pendidikan, pendampingan masyarakat, dan upaya membebaskan masyarakat dari keterbelakangan.

6. Apa hubungan tradisi kiai dengan Sunni Abbasiyah dan Saljuk?

Ubaidillah mengaitkan tradisi keilmuan kiai dengan pengaruh pendidikan Sunni Abbasiyah dan Saljuk yang menekankan pengembangan ilmu-ilmu keislaman.

7. Apakah Ubaidillah Tamam menganggap semua Habib memiliki pola yang sama?

Tidak. Dalam penjelasannya, ia mengakui terdapat Habib yang memiliki pendekatan seperti kiai, serius dalam bidang keilmuan, serta memiliki kecenderungan Sunni maupun Wahabi.

8. Apa yang dimaksud istifadah dalam penjelasan Ubaidillah?

Istifadah merupakan proses mengambil manfaat atau pengetahuan dari seseorang. Ubaidillah menjelaskan bahwa belajar dari seorang tokoh tidak berarti harus terikat secara ideologis kepada tokoh tersebut.

9. Apa contoh tokoh keilmuan Islam yang disebut Ubaidillah?

Ia menyebut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani sebagai salah satu tokoh yang memiliki karya dalam bidang teologi, fikih, ilmu kalam, dan tasawuf.

10. Di mana penjelasan Dr. Ubaidillah Tamam dapat disaksikan?

Penjelasan tersebut diunggah melalui kanal YouTube UBAIDILLAH TAMAM MUNJI pada 31 Oktober 2026.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button