invisible hit counter
Internasional

Amerika Serikat Dilaporkan Tarik Personel dari Sejumlah Pangkalan di Timur Tengah

AS Tarik Personel dari Sejumlah Pangkalan Timur Tengah? Klaim Iran, Respons Pentagon, dan Situasi Terbaru

WARTA BATAVIA – Amerika Serikat dilaporkan mulai menarik personel dan aset militernya dari sejumlah pangkalan di kawasan Timur Tengah setelah meningkatnya eskalasi konflik dengan Iran. Laporan tersebut menyebut beberapa fasilitas militer mengalami pengurangan aktivitas menyusul serangan yang diklaim dilakukan oleh Iran.

Salah satu lokasi yang menjadi sorotan adalah Pangkalan Udara King Faisal di Yordania. Dalam laporan yang beredar, pangkalan tersebut disebut telah dievakuasi setelah serangan yang diklaim merusak hanggar pesawat tempur F-15. Sejumlah pesawat tempur dan helikopter juga dilaporkan terlihat meninggalkan kawasan pangkalan.

Selain King Faisal, Pangkalan Udara Muwaffaq Salti juga disebut mengalami penurunan aktivitas operasional. Personel serta sejumlah aset militer dilaporkan dipindahkan ke lokasi lain yang dinilai lebih aman.

Hingga berita ini disusun, pemerintah Amerika Serikat belum memberikan konfirmasi resmi maupun verifikasi independen terhadap laporan mengenai penarikan personel dari kedua pangkalan tersebut.

Iran Klaim Serang Sejumlah Pangkalan Militer AS

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim telah melancarkan serangkaian serangan terhadap fasilitas militer Amerika Serikat di beberapa negara kawasan Timur Tengah, termasuk Yordania dan Bahrain.

Menurut kantor berita resmi Iran, IRNA, serangan tersebut merupakan bagian dari operasi balasan terhadap target militer Amerika Serikat.

IRGC juga mengklaim telah menyerang kompleks militer di Al-Rukban, Yordania, dan menyebut terdapat korban di pihak militer Amerika Serikat.

Namun, otoritas Yordania menyatakan telah mencegat lima drone dan tiga rudal Iran pada 21 Juli. Pemerintah Yordania menegaskan tidak terdapat korban jiwa maupun kerusakan material akibat serangan yang berhasil dicegat tersebut.

Iran juga mengklaim telah menyerang Pangkalan Udara Sheikh Isa di Bahrain serta infrastruktur data milik Amazon di negara tersebut. Hingga kini, Amerika Serikat, Bahrain, Kuwait, maupun Amazon belum memberikan tanggapan resmi terkait klaim tersebut.

CENTCOM Konfirmasi Korban dalam Serangan

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) sebelumnya mengonfirmasi adanya korban dalam salah satu serangan terhadap pangkalan militer AS di kawasan.

Dalam laporan yang disampaikan, sedikitnya tiga personel militer Amerika Serikat dilaporkan tewas, sementara hampir 100 lainnya mengalami luka-luka.

Pentagon menyatakan sebagian besar korban mengalami gegar otak akibat ledakan rudal maupun drone. Sekitar 96 persen personel yang mengalami luka disebut telah kembali bertugas setelah menjalani perawatan medis.

Iran Klaim Intelijen AS dan Israel Gagal Lacak Fasilitas Rudal

Juru bicara senior Angkatan Bersenjata Iran, Brigadir Jenderal Abolfazl Shekarchi, menyatakan Amerika Serikat dan Israel gagal menemukan lokasi produksi rudal Iran meskipun telah menggunakan teknologi intelijen modern.

Pernyataan tersebut disampaikan sebagaimana dikutip kantor berita IRNA pada 23 Juli.

Shekarchi mengklaim jaringan intelijen Amerika Serikat dan Israel tidak mampu mendeteksi fasilitas produksi rudal Iran. Ia juga menyebut strategi militer yang dijalankan Teheran berhasil melindungi infrastruktur pertahanan negara tersebut.

Hingga saat ini belum terdapat verifikasi independen terhadap klaim tersebut.

AS Selidiki Dugaan Keterlibatan Rusia

Amerika Serikat juga dilaporkan tengah menyelidiki dugaan keterlibatan Rusia dalam serangan drone Iran terhadap fasilitas rahasia milik CIA di kawasan Teluk.

Menurut laporan Reuters yang mengutip sumber intelijen, penyelidikan dilakukan karena Washington menduga Iran kemungkinan memperoleh bantuan berupa data intelijen, koordinat sasaran, maupun teknologi navigasi.

Namun hingga kini belum terdapat bukti yang memastikan adanya keterlibatan langsung Rusia dalam serangan tersebut.

Laporan tersebut menyebut dua fasilitas CIA menjadi sasaran pada Maret 2026. Salah satu lokasi berada di kompleks Kedutaan Besar Amerika Serikat di Riyadh, Arab Saudi, sementara lokasi lainnya berada di Irak bagian timur.

Reuters juga melaporkan Iran diduga menggunakan drone Shahed yang telah dimodifikasi dengan pola serangan berlapis untuk menembus bangunan sasaran.

Amerika Serikat Dilaporkan Tarik Personel Militer dari Sejumlah Pangkalan di Timur Tengah

Muncul Desakan Penarikan Pasukan AS dari Yordania

Di tengah meningkatnya ketegangan regional, lebih dari 100 tokoh politik, akademisi, mantan pejabat, serta pemimpin suku di Yordania dilaporkan menandatangani pernyataan bersama yang meminta pemerintah mengakhiri keberadaan pasukan asing di negara tersebut.

Mereka juga meminta pemerintah meninjau kembali perjanjian keamanan dan kerja sama militer dengan Amerika Serikat melalui pembahasan di parlemen.

Menurut pernyataan tersebut, keberadaan pasukan asing dinilai dapat meningkatkan risiko keamanan, politik, dan ekonomi bagi Yordania di tengah konflik kawasan.

Aktivitas di Pangkalan Al Udeid Dilaporkan Menurun

Laporan lain menyebut aktivitas di Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar mengalami penurunan setelah serangan rudal Iran.

Berdasarkan citra satelit yang disebut dirilis pada 22 Juli, jumlah pesawat tempur di pangkalan tersebut dilaporkan terus berkurang hingga akhirnya seluruh armada disebut telah dipindahkan.

Meski demikian, hingga berita ini diterbitkan, CENTCOM belum memberikan pernyataan resmi mengenai laporan pengosongan pangkalan tersebut maupun lokasi pemindahan personel dan aset militer.

Amerika Serikat Dilaporkan Tarik Personel dari Sejumlah Pangkalan di Timur Tengah

Ancaman Houthi Berpotensi Tambah Tekanan

Di sisi lain, kelompok Houthi kembali mengancam akan memblokade pelabuhan Arab Saudi di Laut Merah.

Ancaman tersebut dinilai berpotensi mengganggu jalur perdagangan internasional apabila benar direalisasikan.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Washington siap mengambil langkah apabila situasi memburuk. Namun sejumlah analis pertahanan menilai Amerika Serikat berpotensi menghadapi tekanan tambahan apabila harus menangani konflik dengan Iran sekaligus mengamankan jalur pelayaran di Laut Merah.

Hingga berita ini disusun, Pentagon belum memberikan tanggapan resmi terkait ancaman terbaru dari kelompok Houthi.

Kesimpulan

Situasi keamanan di Timur Tengah masih terus berkembang dengan berbagai klaim yang disampaikan oleh Iran, Amerika Serikat, maupun negara-negara di kawasan. Sejumlah laporan mengenai penarikan personel militer AS, serangan terhadap pangkalan militer, serta dugaan keterlibatan pihak lain masih menunggu konfirmasi resmi maupun verifikasi independen.

Amerika Serikat, Iran, Yordania, Qatar, dan Bahrain hingga kini masih menjadi pusat perhatian dalam perkembangan terbaru konflik yang memengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah.

Sumbr berita 1:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button