invisible hit counter
BERITANasional

Rhoma Irama Soroti Kedatangan Umar bin Hafiz

Rhoma Irama Soroti Kedatangan Umar bin Hafiz dan Minta PWLS Tetap Konsisten Kawal Isu Nasab

WARTA ATAVIA – JAKARTA — Rhoma Irama menanggapi kedatangan Umar bin Hafiz ke Indonesia yang diikuti sejumlah agenda pertemuan dengan institusi pemerintah dan organisasi kemasyarakatan Islam. Pernyataan tersebut disampaikan Rhoma Irama melalui kanal Rhoma Irama Official pada 22 Oktober 2026.

Dalam penjelasannya, Rhoma Irama menyebut kedatangan Umar bin Hafiz berkaitan dengan sejumlah agenda, termasuk kunjungan kepada organisasi Islam seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

Rhoma juga mengaitkan kunjungan tersebut dengan dinamika mengenai kelompok Baalawi di Indonesia serta aktivitas Perjuangan Wali Songo Indonesia-Laskar Sabilillah (PWLS) yang menurutnya terus berkembang.

Ia menyampaikan pandangannya mengenai perubahan sikap dalam hubungan antara habaib dan kiai, pertemuan Umar bin Hafiz dengan tokoh Muhammadiyah, hingga persoalan nasab yang selama ini menjadi bagian dari perdebatan di tengah masyarakat.

Menurut Rhoma, PWLS perlu tetap menjalankan aktivitasnya sampai terdapat klarifikasi yang konkret mengenai status nasab Baalawi berdasarkan kajian sejarah dan filologi.

Rhoma Irama Soroti Kedatangan Umar bin Hafiz dan Minta PWLS Tetap Konsisten Kawal Isu Nasab

Rhoma Irama Tanggapi Kedatangan Umar bin Hafiz ke Indonesia

Dalam pernyataannya, Rhoma Irama terlebih dahulu menyapa sejumlah organisasi dan komunitas yang disebutnya sebagai bagian dari jaringan pendukung maupun kelompok yang selama ini berinteraksi dengannya.

Ia kemudian masuk pada pembahasan mengenai kedatangan Umar bin Hafiz ke Indonesia.

Rhoma menyebut Umar bin Hafiz sebagai salah satu tokoh dari kalangan Baalawi yang datang ke Indonesia dengan berbagai agenda.

“Saya ingin katakanlah menanggapi kedatangan Umar bin Hafiz ke Indonesia dengan berbagai macam agenda.”

Menurut Rhoma, sejumlah agenda tersebut antara lain kunjungan kepada institusi pemerintah dan organisasi kemasyarakatan Islam.

Ia secara khusus menyebut NU dan Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang menjadi bagian dari agenda kunjungan tersebut.

Rhoma kemudian menghubungkan kunjungan tersebut dengan apa yang disebutnya sebagai upaya mengembalikan citra dan kedudukan kelompok habaib di Indonesia.

Kunjungan ke NU dan Muhammadiyah

Rhoma menyoroti perbedaan sikap yang ditunjukkan dalam beberapa pertemuan Umar bin Hafiz dengan tokoh organisasi Islam di Indonesia.

Ia menyebut pertemuan dengan pimpinan NU sebagai salah satu peristiwa yang menjadi perhatiannya.

Rhoma juga membahas pertemuan Umar bin Hafiz dengan tokoh Muhammadiyah yang disebutnya sebagai Anwar Abbas.

Menurut Rhoma, pertemuan tersebut menjadi viral karena adanya perbedaan cara penerimaan dibandingkan dengan pertemuan Umar bin Hafiz dengan pimpinan NU.

Ia menggambarkan dalam pertemuan dengan pimpinan NU terdapat sikap penghormatan dengan mencium tangan, sedangkan dalam pertemuan dengan pimpinan Muhammadiyah terjadi jabat tangan.

Rhoma menafsirkan perbedaan gestur tersebut sebagai gambaran hubungan yang sederajat.

“Menunjukkan bahwa kita sederajat. Bukan kita di bawah Anda.”

Rhoma menyatakan bahwa peristiwa tersebut menurutnya menjadi perhatian di tengah masyarakat.

Rhoma Kaitkan Perkembangan PWLS dengan Perubahan Sikap

Rhoma Kaitkan Perkembangan PWLS dengan Perubahan Sikap

Dalam penjelasannya, Rhoma juga menyinggung perkembangan PWLS.

Ia menyebut adanya perubahan dalam hubungan antara sebagian habaib dan kiai sebagai salah satu hal yang menjadi perhatian.

Rhoma mengatakan bahwa sebelumnya terdapat apa yang disebutnya sebagai “dawir-mendawir” dan doktrin-doktrin yang dianggapnya bermasalah.

Ia kemudian menyinggung pernyataan Rizieq Shihab yang menurut Rhoma mengimbau para habaib untuk mencium tangan kiai.

Rhoma menyebut perubahan tersebut sebagai salah satu faktor yang dikaitkannya dengan keberhasilan PWLS.

Namun, ia menegaskan bahwa perkembangan tersebut menurut pandangannya tidak membuat perjuangan PWLS berhenti.

PWLS Diminta Tetap Konsisten sampai Ada Klarifikasi Nasab

Bagian utama pernyataan Rhoma Irama berkaitan dengan persoalan nasab Baalawi.

Ia menyatakan bahwa perjuangan PWLS menurutnya tidak boleh berhenti sebelum terdapat klarifikasi konkret mengenai status nasab yang selama ini diperdebatkan.

Rhoma menyebut salah satu bentuk klarifikasi yang dimaksud adalah adanya hasil bahsul masail yang menetapkan persoalan tersebut secara nasional.

Ia juga menyebut kajian sejarah dan filologi sebagai bagian yang menurutnya dapat digunakan dalam pembahasan tersebut.

Menurut Rhoma, apabila terdapat hasil kajian yang menyatakan status tertentu mengenai nasab Baalawi dan hasil tersebut diumumkan secara nasional, maka hal itu dapat menjadi bentuk klarifikasi.

Selain itu, ia menyebut kemungkinan lain berupa pembubaran atau perubahan status lembaga pencatat nasab.

Rhoma menyatakan bahwa sebelum hal tersebut terjadi, PWLS menurutnya perlu tetap menjalankan aktivitasnya.

Rhoma Singgung Peran Rabithah Alawiyah

Dalam penjelasannya, Rhoma juga menyebut Rabitah Alawiyah ketika membicarakan lembaga pencatatan keturunan yang berkaitan dengan habaib.

Ia mengatakan bahwa salah satu bentuk perubahan yang menurutnya dapat menjadi penanda klarifikasi adalah apabila lembaga tersebut membubarkan diri atau menyatakan tidak lagi berfungsi sebagai lembaga pencatat keturunan Nabi.

Pernyataan tersebut disampaikan Rhoma dalam konteks pembahasannya mengenai kebutuhan terhadap klarifikasi status nasab Baalawi.

Ia menempatkan persoalan sejarah, filologi, dan lembaga pencatatan nasab sebagai bagian dari isu yang menurutnya masih membutuhkan penjelasan lebih lanjut.

Rhoma Minta Umat Islam Tetap Waspada

Rhoma kemudian menyerukan agar masyarakat tetap waspada terhadap perkembangan yang berkaitan dengan kelompok Baalawi.

Ia menggunakan istilah “agenda terselubung” ketika menjelaskan apa yang menurutnya menjadi kekhawatiran mengenai pengaruh spiritual dan politik.

“Umat Islam Indonesia, bangsa Indonesia harus tetap mewaspadai gerakan para kaum Baalawi ini.”

Rhoma menyebut persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan agama, tetapi juga dengan politik.

Ia mengatakan bahwa menurut pandangannya, kewaspadaan perlu tetap dijaga selama belum ada klarifikasi yang dianggap konkret mengenai persoalan yang sedang dibahas.

Rhoma Singgung Sejarah PKI

Dalam bagian berikutnya, Rhoma menghubungkan pembicaraan mengenai kewaspadaan tersebut dengan sejarah Partai Komunis Indonesia (PKI).

Ia menyebut peristiwa tahun 1948 dan tokoh Musso dalam penjelasannya.

Rhoma mengatakan bahwa gerakan tersebut kemudian dapat ditumpas oleh tentara bersama umat Islam.

Ia selanjutnya menyinggung kemunculan PKI pada periode berikutnya dengan menyebut DN Aidit.

Rhoma menggunakan istilah “bahaya laten” ketika menggambarkan pembahasan mengenai komunisme dalam sejarah Indonesia.

Penyebutan tersebut disampaikan sebagai bagian dari argumentasi Rhoma mengenai pentingnya kewaspadaan terhadap berbagai gerakan yang dinilainya dapat memengaruhi kehidupan keagamaan dan politik.

PWILS Diminta Melindungi Akidah Umat

Rhoma kemudian meminta PWILS untuk terus meningkatkan kegiatan yang berkaitan dengan perlindungan akidah umat Islam.

Ia menyebut persoalan penyimpangan agama dan akidah sebagai salah satu bidang yang perlu diperhatikan.

Selain itu, Rhoma juga menyebut pentingnya menjaga Indonesia dari apa yang menurutnya merupakan kemungkinan penguasaan secara politik.

“Kita pada umumnya terutama PWLS untuk terus meningkatkan kegiatan melindungi akidah umat Islam.”

Menurut Rhoma, aktivitas tersebut harus dilakukan dengan tetap berpedoman pada ajaran Islam.

Rhoma Kutip Perintah Amar Makruf Nahi Mungkar

Dalam penjelasannya, Rhoma mengutip ajaran Al-Qur’an mengenai amar makruf nahi mungkar.

Ia menyebut bahwa umat Islam diperintahkan untuk menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Rhoma juga mengingatkan agar aktivitas tersebut dilakukan dengan cara yang sesuai dengan tuntunan agama.

Ia kemudian mengutip prinsip bil hikmah wal mau’izhah al-hasanah.

Menurut Rhoma, penyampaian dakwah harus dilakukan dengan hikmah, menggunakan dalil dan argumen, dilakukan secara bijaksana, serta melalui nasihat yang baik.

Ia juga menyebut prinsip berdebat dengan cara yang lebih baik.

Rhoma Soroti Perubahan Cara Penyampaian

Dalam konteks pernyataan Rizieq Shihab mengenai penghormatan kepada kiai, Rhoma menilai adanya perubahan dalam cara penyampaian.

Ia mengatakan bahwa sikap tidak menggunakan makian dan mengedepankan penghormatan dapat dilihat sebagai perubahan citra.

Namun, menurut Rhoma, perubahan cara tersebut tidak otomatis berarti perubahan tujuan.

“Itu dalam rangka merubah citra, ya, bukan merubah tujuan. Tujuannya sama tapi caranya yang dirubah.”

Pernyataan tersebut merupakan pandangan Rhoma dalam menjelaskan perubahan pola komunikasi yang ia lihat dalam perkembangan terakhir.

Rhoma Sebut Nasab Tidak Berubah Hanya karena Kedatangan Tokoh

Rhoma Sebut Nasab Tidak Berubah Hanya karena Kedatangan Tokoh

Rhoma juga secara khusus membahas kedatangan Umar bin Hafiz dan kaitannya dengan persoalan nasab.

Ia menyatakan bahwa kehadiran seorang tokoh, termasuk Umar bin Hafiz, menurutnya tidak dengan sendirinya dapat mengubah status nasab.

Rhoma bahkan menggunakan perumpamaan bahwa kedatangan dalam jumlah besar sekalipun tidak akan mengubah kesimpulan mengenai nasab apabila tidak disertai data yang menurutnya dapat diuji.

“Sejuta Umar bin Hafiz tidak akan mampu merubah bahwa Alawi menjadi keturunan Nabi.”

Rhoma kemudian menyebut pentingnya bukti berupa data sejarah yang berasal dari masa yang relevan dengan peristiwa atau tokoh yang dibahas.

Rhoma Singgung Kitab Sezaman

Dalam pembahasan mengenai pembuktian nasab, Rhoma menyebut pentingnya kitab atau sumber sejarah yang sezaman.

Ia mengatakan bahwa apabila terdapat kitab sezaman yang dapat digunakan untuk memberikan bukti, hal tersebut menurutnya dapat menjadi bagian penting dalam pembahasan.

Rhoma menyebut beberapa periode abad dalam penjelasannya dan kemudian menyinggung nama Abdullah Ubaidillah, yang ia kaitkan dengan Muhammad bin Isa.

Ia juga menyebut hasil tes DNA dengan haplogroup J1 dalam pembahasan tersebut.

Pernyataan tersebut disampaikan Rhoma sebagai bagian dari argumen mengenai pentingnya data sejarah dan data genetika dalam membahas klaim nasab.

DNA Disebut dalam Pembahasan Nasab

Rhoma mengatakan bahwa data DNA dapat menjadi bagian dari bukti yang dibawa dalam pembahasan mengenai nasab.

Ia menyebut hasil DNA yang dikaitkannya dengan salah satu tokoh atau garis keturunan dalam materi yang dibicarakan.

Menurut Rhoma, apabila data sejarah sezaman dan data pendukung lainnya tersedia, maka hal tersebut dapat menjadi bahan untuk menguji klaim mengenai garis keturunan.

Sebaliknya, ia menyatakan bahwa tanpa data tersebut, kedatangan tokoh tertentu tidak akan mengubah keyakinan yang selama ini dipegangnya mengenai persoalan nasab Baalawi.

Rhoma Minta PWLS Memperluas Organisasi

Selain membahas persoalan nasab dan kedatangan Umar bin Hafiz, Rhoma juga menyampaikan perkembangan PWLS di luar Indonesia.

Ia mengatakan bahwa PWLS terus memperluas kegiatan hingga ke sejumlah wilayah.

Rhoma menyebut dirinya pernah diundang untuk menghadiri pelantikan PWLS di Taiwan.

Namun, karena kesibukan pada Desember, ia mengatakan bahwa agenda tersebut diminta untuk dijadwalkan ulang.

Rhoma juga menyebut bahwa pelantikan PWLS telah berlangsung di Hong Kong.

Selain Taiwan, ia mengatakan terdapat rencana kegiatan di Jepang.

Menurut Rhoma, sambutan terhadap kegiatan PWLS di luar negeri disebutnya cukup besar.

PWLS Disebut Telah Berkembang di Luar Negeri

Pernyataan mengenai Hong Kong, Taiwan, dan Jepang menunjukkan bahwa pembahasan Rhoma mengenai PWLS tidak hanya diarahkan pada aktivitas di Indonesia.

Ia menyebut adanya struktur atau kegiatan PWLS di sejumlah wilayah luar negeri.

Rhoma menyampaikan hal tersebut sebagai bagian dari penjelasannya mengenai perkembangan organisasi dan perluasan kegiatan yang menurutnya perlu terus dilakukan.

Ia juga mengaitkan perluasan tersebut dengan upaya mempertahankan konsistensi perjuangan PWLS dalam isu akidah, nasab, dan kehidupan kebangsaan.

Rhoma Minta PWILS Tidak Mengendur setelah Kedatangan Umar bin Hafiz

Rhoma Minta PWILS Tidak Mengendur setelah Kedatangan Umar bin Hafiz

Pada bagian akhir, Rhoma kembali menegaskan agar kedatangan Umar bin Hafiz ke Indonesia tidak membuat PWILS mengurangi aktivitasnya.

Ia meminta agar PWILS tetap waspada terhadap agenda yang menurutnya perlu diperhatikan.

Rhoma menyebut dua hal utama yang menjadi perhatian.

Pertama, ia menyebut perlindungan akidah umat Islam dan persoalan yang disebutnya sebagai khurafat.

Kedua, ia menyebut pentingnya menjaga eksistensi bangsa Indonesia agar tidak berada di bawah penguasaan pihak tertentu.

“Jangan kehadiran Umar bin Hafiz ini mengendurkan perjuangan PWILS.”

Menurut Rhoma, kedua persoalan tersebut perlu menjadi perhatian PWLS dalam menjalankan aktivitasnya.

Seruan Dakwah dengan Hikmah

Meskipun menyampaikan seruan kewaspadaan, Rhoma tetap menekankan metode dakwah yang menurutnya harus dilakukan berdasarkan ajaran Islam.

Ia mengulangi prinsip bil hikmah, menggunakan dalil dan argumentasi, memberikan nasihat yang baik, serta menghadapi perbedaan dengan cara yang lebih baik.

Hal tersebut menjadi bagian penting dari penutup penjelasannya mengenai kedatangan Umar bin Hafiz dan aktivitas PWLS.

Rhoma kemudian menutup pernyataannya dengan doa dan salam.


Kesimpulan

Rhoma Irama melalui kanal Rhoma Irama Official pada 22 Oktober 2026 menyampaikan tanggapannya mengenai kedatangan Umar bin Hafiz ke Indonesia.

Dalam penjelasannya, Rhoma membahas agenda kunjungan Umar bin Hafiz kepada sejumlah institusi dan organisasi Islam, termasuk NU dan Muhammadiyah. Ia juga menyoroti perbedaan sikap dalam sejumlah pertemuan serta mengaitkannya dengan dinamika hubungan antara habaib dan kiai.

Rhoma kemudian mengarahkan pembahasan pada persoalan nasab Baalawi. Ia menyatakan bahwa PWLS menurutnya perlu tetap konsisten menjalankan aktivitas sampai terdapat klarifikasi konkret mengenai persoalan nasab berdasarkan kajian sejarah dan filologi.

Ia juga menyebut data sezaman dan DNA sebagai bagian dari data yang menurutnya dapat digunakan dalam pembahasan mengenai garis keturunan.

Selain persoalan nasab, Rhoma menyerukan agar PWLS terus melakukan kegiatan yang berkaitan dengan akidah umat Islam dan kehidupan kebangsaan.

Rhoma juga menyebut perkembangan PWLS di luar negeri, termasuk kegiatan di Hong Kong serta rencana pelantikan di Taiwan dan Jepang.

Pada bagian akhir, Rhoma menekankan agar kedatangan Umar bin Hafiz tidak membuat aktivitas PWLS mengendur. Ia juga mengingatkan pentingnya menjalankan amar makruf nahi mungkar dengan hikmah, dalil, nasihat yang baik, serta cara yang lebih baik dalam menghadapi perbedaan.

Siapa yang disoroti Rhoma Irama dalam pernyataannya pada 22 Oktober 2026?

FAQ

Siapa yang disoroti Rhoma Irama dalam pernyataannya pada 22 Oktober 2026?

Rhoma Irama menyoroti kedatangan Umar bin Hafiz ke Indonesia beserta sejumlah agenda kunjungannya kepada institusi pemerintah dan organisasi Islam.

Apa yang dibahas Rhoma Irama terkait Umar bin Hafiz?

Rhoma membahas kunjungan Umar bin Hafiz kepada sejumlah organisasi Islam, termasuk NU dan Muhammadiyah, serta mengaitkannya dengan dinamika hubungan antara habaib dan kiai di Indonesia.

Apa sikap Rhoma Irama terhadap perjuangan PWLS?

Rhoma meminta PWLS tetap konsisten menjalankan kegiatannya dan tidak mengendur setelah kedatangan Umar bin Hafiz ke Indonesia.

Apa yang dimaksud Rhoma dengan klarifikasi nasab?

Dalam penjelasannya, Rhoma menyebut klarifikasi yang konkret dapat berupa hasil bahsul masail secara nasional mengenai persoalan nasab, disertai kajian sejarah dan filologi yang diumumkan secara terbuka.

Apakah Rhoma membahas DNA?

Ya. Rhoma menyebut data DNA dalam pembahasannya mengenai bukti yang berkaitan dengan klaim nasab, termasuk penyebutan haplogroup J1.

Di mana saja Rhoma menyebut kegiatan PWLS di luar negeri?

Rhoma menyebut pelantikan PWLS telah berlangsung di Hong Kong, sementara Taiwan dan Jepang disebut dalam konteks agenda atau rencana kegiatan berikutnya.

Apa pesan Rhoma terkait metode dakwah?

Rhoma mengutip prinsip berdakwah dengan hikmah, dalil, argumentasi, nasihat yang baik, serta menghadapi perbedaan dengan cara yang lebih baik.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button