
Kiyai Ubaidillah Tamam Ungkap Sejumlah Faktor yang Disebut Memengaruhi Sepinya Haul Solo
WARTA BATAVIA – JAKARTA — Kiyai Ubaidillah Tamam Munji menyampaikan sejumlah analisis mengenai fenomena berkurangnya antusiasme masyarakat terhadap sejumlah acara haul yang digelar kalangan habaib, termasuk Haul Solo yang berlangsung pada akhir pekan sebelumnya.
Penjelasan tersebut disampaikan Kiyai Ubaidillah Tamam melalui kanal YouTube UBAIDILLAH TAMAM MUNJI, Senin, 5 Oktober 2026.
Dalam penjelasannya, Ubaidillah mengatakan fenomena sepinya acara haul tidak dapat dilepaskan dari perkembangan diskursus mengenai nasab, kajian keagamaan, serta perubahan arah gerakan yang menurut pengamatannya terjadi dalam sekitar 15 tahun terakhir.
Ubaidillah menegaskan bahwa penjelasannya tersebut merupakan pembacaan subjektif terhadap gejala yang terlihat di masyarakat. Ia mengakui belum melakukan penelitian lapangan secara khusus untuk mengetahui faktor utama yang menyebabkan berkurangnya kehadiran masyarakat dalam sejumlah acara haul.
Karena itu, ia meminta agar pendapat yang disampaikannya tidak dianggap sebagai kesimpulan penelitian.
Menurut Ubaidillah, diperlukan riset lapangan untuk memperoleh gambaran yang lebih valid mengenai penyebab menurunnya antusiasme masyarakat terhadap sejumlah acara yang sebelumnya ramai dihadiri.
Ubaidillah Kaitkan Haul dengan Perubahan Diskursus Nasab
Ubaidillah mengawali penjelasannya dengan membahas alasan masyarakat menghadiri acara haul pada masa sebelumnya.
Menurut dia, sebagian masyarakat datang ke acara haul karena adanya keyakinan mengenai hubungan nasab seseorang dengan Nabi Muhammad SAW.
Ia menjelaskan bahwa kehadiran masyarakat pada acara haul tersebut pada awalnya berkaitan dengan sikap takziman wa ikraman, yakni penghormatan terhadap sosok yang diyakini memiliki hubungan keturunan dengan Nabi Muhammad SAW.
“Orang menghadiri haul itu kan tertarik karena dulunya belum pernah ada yang membongkar hal yang menjadi sejatinya kenasaban dari HP di Indonesia ini,” ujar Ubaidillah.
Menurut Ubaidillah, perkembangan diskursus mengenai nasab kemudian membuat sebagian masyarakat memiliki pertimbangan berbeda.
Ia menyebut sejumlah kajian yang menurutnya ikut memengaruhi perkembangan pembahasan tersebut, termasuk tesis Kiai Imad, kajian teologi, dan tes DNA yang disebutnya dalam penjelasan.
Perkembangan kajian tersebut, menurut Ubaidillah, membuat sebagian masyarakat kembali mempertanyakan dasar kehadiran mereka dalam acara haul.
“Terus kemudian ada tesis Kiai Imad, ada kajian teologi, ada tes DNA. Akhirnya kan orang jadi berbeda,” kata Ubaidillah.
Dasar Kehadiran Masyarakat dalam Acara Haul
Ubaidillah mengatakan, masyarakat yang datang ke acara haul sebelumnya memiliki pertimbangan bahwa sosok yang dihauli merupakan cucu Nabi Muhammad SAW.
Karena itu, menurut dia, kehadiran mereka bukan semata-mata untuk menghadiri acara keagamaan, tetapi juga berkaitan dengan penghormatan terhadap garis keturunan yang diyakini.
“Memang titik dasarnya adalah ingin takziman wa ikraman, ingin hormat acara haul yang dianggap sebagai cucu Nabi,” ujarnya.
Namun, menurut Ubaidillah, ketika diskursus mengenai nasab berkembang, sebagian masyarakat mulai memiliki pertimbangan baru.
Ia menyebut kondisi tersebut sebagai salah satu kemungkinan yang dapat menjelaskan berkurangnya kehadiran masyarakat dalam acara haul.
“Terus sekarang enggak datang karena sudah tertungkap,” kata Ubaidillah.
Pernyataan tersebut merupakan analisis Ubaidillah mengenai kemungkinan perubahan sikap masyarakat dan bukan hasil penelitian lapangan yang disampaikan dalam keterangannya.
Ubaidillah Sebut Ada Perubahan Arah Gerakan
Selain persoalan diskursus nasab, Ubaidillah menyampaikan faktor lain yang menurutnya berpotensi memengaruhi antusiasme masyarakat.
Ia menyebut adanya dugaan perubahan arah gerakan yang dikaitkannya dengan Habib Alwi.
Menurut Ubaidillah, ia melihat adanya kecenderungan arah gerakan yang lebih banyak menonjolkan apa yang disebutnya sebagai glorifikasi dibandingkan gerakan yang mengarah pada pembebasan dan pencerahan.
“Ada kecenderungan arah gerakannya itu lebih banyak pada glorifikasi ketimbang upaya-upaya yang mengarah pada pembebasan dan pencerahan,” ujar Ubaidillah.
Ia mengatakan kecenderungan tersebut, menurut pengamatannya, dapat ditemukan dalam sejumlah pidato, ceramah, dan kegiatan keagamaan.
“Dan itu terlihat di pidato-pidato, di mimbar-mimbar ceramah, di acara-acara keagamaan,” katanya.
Kritik terhadap Materi Ceramah
Ubaidillah kemudian menyinggung sejumlah materi ceramah yang menurutnya berkaitan dengan cara memosisikan beberapa hal yang terdapat dalam tradisi keagamaan di Tarim.
Ia memberikan contoh mengenai pembahasan tentang anjing yang menurutnya muncul dalam sejumlah ceramah.
Namun, Ubaidillah secara khusus mengatakan tidak ingin menjelaskan materi tersebut secara rinci karena khawatir penjelasannya justru ikut menyebarluaskan materi yang sedang dikritiknya.
“Saya enggak mau menjelaskan karena kalau saya menjelaskan nanti saya akan menjadi bagian daripada sosok yang mensyiarkan,” ujarnya.
Ia kemudian menyarankan masyarakat mencari sendiri materi yang dimaksud melalui media sosial.
Menurut Ubaidillah, persoalan tersebut merupakan salah satu contoh yang dinilainya berlebihan dalam konteks cara penyampaian materi keagamaan.
Ubaidillah Sebut Istilah Ajaran Khurafat
Dalam penjelasannya, Ubaidillah juga menggunakan istilah ajaran khurafat untuk menyebut sejumlah materi keagamaan yang menurutnya tidak sejalan dengan basis keilmuan Islam yang berkembang dalam tradisi pesantren di Nusantara.
Ia mengatakan ada banyak hal yang menurutnya dapat dimasukkan ke dalam kategori tersebut.
“Tidak hanya itu, banyak hal yang kesemuanya bisa dimasukkan dalam kategori ajaran-ajaran khurafat,” ujar Ubaidillah.
Menurut dia, perbedaan pemahaman tersebut berpotensi memengaruhi perspektif masyarakat Indonesia.
Ubaidillah kemudian menjelaskan bahwa masyarakat Nusantara memiliki tradisi keilmuan Islam yang berkembang melalui kajian terhadap berbagai sumber.
Ia menyebut tradisi tersebut berkaitan dengan kajian teks kewahyuan, teks kenabian, fenomena alam, fikih, tasawuf, ilmu kalam, dan berbagai disiplin keilmuan lainnya.
Tradisi Keilmuan Pesantren Nusantara
Ubaidillah mengatakan masyarakat Nusantara tidak mempelajari agama hanya berdasarkan cerita atau mimpi.
Menurutnya, tradisi keislaman di Nusantara berkembang melalui kajian yang dilakukan para ulama.
“Masyarakat Indonesia ini belajar agamanya tidak dari mimpi. Masyarakat Nusantara ini belajar agamanya tidak dari dongeng,” kata Ubaidillah.
Ia kemudian menjelaskan konsep yang dalam rekaman terdengar sebagai “turats”, yakni khazanah keilmuan Islam yang diwariskan melalui berbagai karya ulama.
Menurut Ubaidillah, turats merupakan hasil kajian serius terhadap berbagai sumber keagamaan dan fenomena kehidupan.
Ia menyebut kajian terhadap teks kewahyuan, teks kenabian, fenomena kosmologis, serta berbagai disiplin ilmu yang berkembang dalam tradisi Islam.
“Turats itu adalah sebuah studi yang sangat serius dari hasil studi yang sangat serius terhadap teks kewahyuan, terhadap teks kenabian, terhadap fenomena kosmologis kealaman ini,” ujarnya.
Menurut dia, kajian tersebut dilakukan oleh para ulama yang memiliki otoritas keilmuan dalam berbagai bidang.
Fikih dan Tasawuf Disebut sebagai Basis Keilmuan
Ubaidillah juga menyinggung perkembangan kajian fikih dan tasawuf di Nusantara.
Ia menyebut masyarakat Nusantara memiliki tradisi fikih yang dibangun melalui kajian terhadap mazhab.
“Dalam kajian fikih masyarakat Nusantara ini tidak asal-asalan. Betul-betul melalui kajian serius para mazhab,” katanya.
Sementara dalam bidang tasawuf, Ubaidillah menyebut adanya kajian terhadap pengalaman para sufi yang kemudian berkembang menjadi berbagai tarekat dan konsep dalam tradisi tasawuf.
“Dalam kajian ulama tasawuf, ilmu tasawuf betul-betul kajian serius dari experience, eksperimen perilaku para sufi-sufi agung abad pertengahan yang kemudian melahirkan tarekat,” ujar dia.
Ia juga menyebut ilmu kalam sebagai salah satu bidang yang menjadi bagian dari khazanah keilmuan Islam.
Menurut Ubaidillah, tradisi tersebut menjadi salah satu basis bagi masyarakat Muslim Nusantara dalam menilai berbagai persoalan keagamaan.
Masyarakat Dinilai Lebih Mudah Menguji Materi Keagamaan
Berdasarkan kerangka tersebut, Ubaidillah menilai masyarakat yang hidup dalam lingkungan pendidikan keagamaan memiliki basis untuk menilai sebuah ajaran.
Ia mengatakan masyarakat dapat membandingkan suatu pernyataan atau praktik keagamaan dengan sumber-sumber dan tradisi keilmuan yang telah dipelajari.
“Sehingga enggak kaget ketika harus melihat sebuah objek studi dan sangat mudah mengkategorisasikan ini khurafat, ini tidak, ini khurafat, ini tidak,” ujarnya.
Ia juga mengatakan masyarakat dapat mempertimbangkan apakah suatu materi memiliki relevansi dengan teks kewahyuan dan teks kenabian.
Menurutnya, proses tersebut menjadi salah satu alasan mengapa materi keagamaan tertentu dapat diterima atau ditolak oleh masyarakat.
Perubahan Ceramah dalam 15 Tahun Terakhir
Ubaidillah kemudian membandingkan perkembangan tersebut dengan kondisi beberapa dekade sebelumnya.
Ia mempertanyakan mengapa pada periode 1960-an, 1970-an, 1980-an, hingga 1990-an tidak terlihat gerakan penyadaran yang sama mengenai materi yang kini disebutnya sebagai khurafat.
Menurut Ubaidillah, kondisi tersebut berkaitan dengan sikap sebagian kalangan Baalawi pada masa lalu yang menurut pengamatannya lebih berhati-hati dalam mengikuti arus keberagamaan yang berkembang di Nusantara.
“Baalawi di tahun 80, 90 mereka itu masih sangat hati-hati mengikuti arus,” katanya.
Ia menilai pada periode tersebut terdapat pengaruh tradisi keberagamaan yang diajarkan oleh ulama-ulama Nusantara.
Namun, menurut Ubaidillah, situasi tersebut mengalami perubahan dalam sekitar 15 tahun terakhir.
Ia mengatakan terdapat materi ceramah yang menurut pengamatannya mulai memperhadapkan tradisi keilmuan pesantren dengan sejumlah ajaran yang berasal dari buku-buku yang dikaitkannya dengan kalangan Alwi.
Materi dari Buku Mulai Dibahas di Mimbar
Ubaidillah menyebut materi tersebut tidak hanya muncul dalam diskusi tertutup, tetapi juga dibicarakan dalam forum dakwah.
“Yang menjadi persoalan ini kan 15 tahun terakhir ini ceramah-ceramah mereka masih berani mengkonfrontirkan antara turats yang sudah matang dalam tradisi pesantren dengan ajaran-ajaran dari buku-buku Alwi yang banyak khurafat itu,” ujarnya.
Ia mengatakan materi tersebut menurut pengamatannya disampaikan dalam sejumlah panggung dakwah.
Ubaidillah juga menyebut adanya sumber rujukan yang kemudian diperiksa oleh sejumlah santri Nusantara.
Dalam keterangannya, ia menyebut beberapa nama, antara lain Bu Sezuri dan Kiai Nur Ihya.
Menurut Ubaidillah, pembahasan mengenai sumber-sumber tersebut juga telah dibukukan.
“Tidak hanya sekadar diceramahkan, sumber rujukannya mereka memang betul-betul bertentangan dengan turats,” kata dia.
Pernyataan mengenai pertentangan tersebut merupakan penilaian Ubaidillah terhadap materi yang dimaksud.
Dikaitkan dengan Antusiasme Jamaah Haul
Ubaidillah kemudian menghubungkan perkembangan diskursus tersebut dengan perubahan kehadiran jamaah dalam sejumlah acara haul.
Menurut dia, ketika masyarakat memperoleh informasi baru dan melakukan perbandingan terhadap sumber keagamaan, sebagian orang dapat mengubah sikapnya terhadap suatu acara.
Ia mengatakan kondisi tersebut berpotensi menyebabkan masyarakat yang sebelumnya hadir kemudian memilih tidak menghadiri acara tertentu.
“Ini tersebar otomatis memengaruhi perspektif jemaah yang tadinya datang menjadi tidak datang,” ujarnya.
Ubaidillah secara khusus menyebut Haul Solo yang berlangsung pada akhir pekan sebelumnya.
Menurut dia, kondisi tersebut terlihat dalam berbagai unggahan media sosial.
“Di acara haul, khusus di acara haul kemarin Solo kemarin itu, Sabtu Minggu kemarin itu sangat-sangat berpengaruh,” katanya.
Namun, sekali lagi, Ubaidillah menegaskan bahwa ia belum melakukan riset untuk memastikan penyebab utama berkurangnya kehadiran masyarakat.
Faktor Gerakan Politik dan Ideologi
Selain diskursus nasab dan materi keagamaan, Ubaidillah juga menyampaikan analisis mengenai arah gerakan yang dikaitkannya dengan kalangan habaib.
Ia menyebut adanya kecenderungan gerakan yang menurut pengamatannya semakin terpusat pada kelompok tertentu.
Dalam rekaman tersebut, Ubaidillah menyebut FPI dan Rizieq Shihab dalam konteks pembahasannya mengenai perkembangan gerakan tersebut.
Ia juga menggunakan istilah “Hadramautisme” atau istilah serupa dalam rekaman untuk menggambarkan ideologi yang menurutnya memengaruhi sebagian gerakan.
Ubaidillah mengatakan perkembangan tersebut dapat memengaruhi persepsi masyarakat terhadap acara-acara yang diselenggarakan kalangan habaib.
Menurut dia, masyarakat dapat mengaitkan figur atau acara tertentu dengan orientasi gerakan yang lebih luas.
Persepsi Masyarakat terhadap Acara Habaib
Ubaidillah menilai perubahan persepsi tersebut dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan ketika membahas menurunnya antusiasme masyarakat.
Ia mengatakan sejumlah acara yang sebelumnya ramai menurut pengamatannya kini mengalami pengurangan jumlah peserta.
Ia menyebut beberapa kota, termasuk Pekalongan, Surabaya, dan Solo.
“Acara-acara yang dulu diadakan habib-habib ramai-ramai sekarang kan banyak yang berkurang di Pekalongan, di Surabaya, termasuk di Solo kemarin itu drastis sekali,” ujarnya.
Namun, ia kembali memberikan catatan bahwa pengamatan tersebut didasarkan pada apa yang dilihatnya melalui media sosial.
Ubaidillah tidak menyampaikan data jumlah peserta sebelum dan sesudah acara yang dapat digunakan sebagai pembanding secara statistik.
Ubaidillah Akui Belum Melakukan Riset Lapangan
Pada bagian akhir penjelasannya, Ubaidillah memberikan penegasan mengenai status analisis yang disampaikannya.
Ia mengatakan belum melakukan penelitian secara khusus mengenai penyebab sepinya sejumlah acara haul.
“Ala kulli hal, penyebab utamanya saya belum melakukan riset,” ujar Ubaidillah.
Ia mengatakan dirinya hanya membaca sejumlah gejala dan fenomena yang terlihat di masyarakat.
“Saya hanya membaca dari aspek gejala dan fenomena saja,” katanya.
Menurut Ubaidillah, kondisi tersebut membuat kesimpulan yang disampaikannya belum dapat dianggap sebagai hasil penelitian.
Ia bahkan menyebut pendapatnya masih lemah karena belum didukung riset lapangan.
Pendapat Disebut Tidak Harus Dipercaya
Ubaidillah secara terbuka mengatakan bahwa pendapat yang disampaikannya tidak harus dipercaya.
“Pendapat saya masih lemah. Ada pendapat yang lebih kuat tentunya,” ujarnya.
Ia mengatakan dirinya akan menghargai hasil penelitian yang lebih kuat apabila terdapat riset lapangan yang dapat memberikan penjelasan mengenai fenomena tersebut.
“Saya akan menghargai yang lebih kuat yang dihasilkan dari riset di lapangan,” kata Ubaidillah.
Pernyataan tersebut menjadi bagian penting dari penjelasan Ubaidillah karena ia membedakan antara pembacaan subjektif terhadap fenomena dan kesimpulan yang diperoleh melalui penelitian.
Fenomena “Perhabaiban” Menurut Ubaidillah
Ubaidillah kemudian menyebut istilah “perhabaiban” ketika menjelaskan perkembangan fenomena sosial-keagamaan yang sedang diamatinya.
Menurut dia, perubahan yang terjadi perlu dilihat secara lebih luas melalui penelitian lapangan.
Ia mengatakan fenomena tersebut tidak cukup hanya dianalisis berdasarkan pengamatan terhadap media sosial atau sejumlah acara.
“Untuk khazanah pembacaan subjektivitas masyarakat melihat fenomena perkembangan istilah saya di depan tadi itu perhabaiban, apa yang terjadi sekarang ini ya mau tidak mau harus di lapangan biar lebih valid,” ujarnya.
Dengan demikian, Ubaidillah menempatkan penjelasannya sebagai salah satu kemungkinan pembacaan terhadap fenomena yang terjadi.
Ia tidak menyatakan bahwa faktor-faktor yang disebutnya merupakan satu-satunya penyebab berkurangnya kehadiran masyarakat dalam acara haul.
Sejumlah Faktor yang Disebut Ubaidillah
Berdasarkan penjelasan Ubaidillah Tamam Munji, terdapat beberapa faktor yang menurutnya perlu diperhatikan dalam melihat fenomena berkurangnya antusiasme masyarakat terhadap sejumlah acara haul.
Pertama, perkembangan diskursus mengenai nasab yang membuat sebagian masyarakat memiliki pertimbangan berbeda terhadap acara yang sebelumnya dihadiri atas dasar penghormatan kepada sosok yang diyakini sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW.
Kedua, berkembangnya berbagai kajian mengenai nasab, termasuk tesis Kiai Imad, kajian teologi, dan pembahasan mengenai tes DNA yang disebut Ubaidillah dalam penjelasannya.
Ketiga, perubahan materi dan arah ceramah yang menurut pengamatan Ubaidillah lebih banyak menampilkan glorifikasi.
Keempat, munculnya perdebatan mengenai sejumlah praktik atau ajaran yang oleh Ubaidillah disebut sebagai khurafat.
Kelima, perubahan persepsi masyarakat terhadap gerakan yang dikaitkan dengan sebagian kalangan habaib.
Keenam, adanya keterkaitan persepsi masyarakat terhadap acara keagamaan dengan perkembangan gerakan sosial dan politik tertentu.
Ketujuh, perubahan cara masyarakat mengakses informasi keagamaan melalui media sosial sehingga berbagai materi ceramah, kitab, dan kajian dapat lebih mudah dibandingkan dengan sumber-sumber keilmuan yang telah berkembang dalam tradisi pesantren.
Meski demikian, seluruh faktor tersebut dalam penjelasan Ubaidillah masih berada pada tingkat analisis atau dugaan yang belum dibuktikan melalui riset lapangan.
Pentingnya Penelitian Lapangan
Fenomena berkurangnya jumlah peserta dalam sebuah acara keagamaan pada dasarnya dapat dipengaruhi banyak faktor.
Selain faktor pemahaman keagamaan, jumlah peserta dapat berkaitan dengan lokasi, waktu pelaksanaan, kondisi sosial, informasi yang beredar, perubahan preferensi masyarakat, serta faktor lain yang memerlukan penelitian tersendiri.
Dalam penjelasannya, Ubaidillah sendiri mengakui perlunya penelitian lapangan.
Menurut dia, riset diperlukan agar penyebab fenomena tersebut dapat diketahui secara lebih valid.
Ia menilai pengamatan melalui media sosial belum cukup untuk memberikan kesimpulan final.
Karena itu, penjelasan Ubaidillah dapat diposisikan sebagai pembacaan awal terhadap fenomena sosial-keagamaan yang sedang berkembang.
Kesimpulan
Kiyai Ubaidillah Tamam Munji menyampaikan analisis mengenai berkurangnya antusiasme masyarakat terhadap sejumlah acara haul, termasuk Haul Solo yang berlangsung pada akhir pekan sebelumnya.
Menurut Ubaidillah, salah satu kemungkinan berkaitan dengan berkembangnya diskursus mengenai nasab yang membuat sebagian masyarakat mengubah pertimbangan ketika menghadiri acara haul.
Ia juga menyebut perkembangan tesis, kajian teologi, dan pembahasan mengenai tes DNA sebagai bagian dari diskursus yang menurutnya memengaruhi perspektif masyarakat.
Selain persoalan nasab, Ubaidillah menyinggung perubahan arah gerakan, materi ceramah, glorifikasi, serta persoalan yang ia kategorikan sebagai ajaran khurafat.
Ia juga mengaitkan perubahan persepsi masyarakat dengan perkembangan gerakan sosial dan politik yang menurutnya semakin terlihat dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, Ubaidillah menegaskan bahwa seluruh penjelasan tersebut merupakan pembacaan subjektif.
Ia belum melakukan penelitian lapangan untuk mengetahui penyebab utama menurunnya kehadiran masyarakat dalam acara-acara haul.
Karena itu, menurut Ubaidillah, pendapat yang disampaikannya masih lemah dan tidak harus dipercaya.
Ia menyatakan akan menghargai hasil penelitian lapangan yang memberikan penjelasan lebih kuat dan valid mengenai fenomena tersebut.
FAQ
Apa yang disampaikan Kiyai Ubaidillah Tamam Munji pada 5 Oktober 2026?
Kiyai Ubaidillah Tamam Munji membahas fenomena berkurangnya antusiasme masyarakat terhadap sejumlah acara haul. Ia menyampaikan beberapa kemungkinan faktor, antara lain perkembangan diskursus nasab, perubahan materi dakwah, perubahan arah gerakan, dan persepsi masyarakat.
Apa yang dikaitkan Ubaidillah dengan sepinya Haul Solo?
Ubaidillah mengaitkan fenomena tersebut dengan sejumlah perkembangan diskursus keagamaan dan sosial. Salah satunya adalah berkembangnya pembahasan mengenai nasab yang menurutnya membuat sebagian masyarakat mengubah pertimbangan untuk menghadiri acara haul.
Apakah Ubaidillah menyatakan penyebab sepinya Haul Solo sudah terbukti?
Tidak. Ubaidillah secara eksplisit mengatakan dirinya belum melakukan riset untuk mengetahui penyebab utama fenomena tersebut. Ia menyebut penjelasannya sebagai pembacaan berdasarkan gejala dan fenomena yang diamatinya.
Apa yang dimaksud Ubaidillah dengan perkembangan diskursus nasab?
Dalam penjelasannya, Ubaidillah merujuk pada berkembangnya kajian mengenai nasab, termasuk tesis Kiai Imad, kajian teologi, dan pembahasan mengenai tes DNA yang disebutnya dalam rekaman.
Mengapa nasab disebut berkaitan dengan acara haul?
Menurut Ubaidillah, sebagian masyarakat menghadiri haul atas dasar penghormatan atau takziman wa ikraman kepada sosok yang diyakini memiliki hubungan keturunan dengan Nabi Muhammad SAW. Ketika diskursus mengenai nasab berkembang, ia menilai sebagian masyarakat dapat memiliki pertimbangan berbeda.
Apa yang dimaksud Ubaidillah dengan glorifikasi?
Dalam konteks penjelasannya, Ubaidillah menggunakan istilah glorifikasi untuk menggambarkan kecenderungan yang menurut pengamatannya lebih menonjolkan pengagungan dibandingkan upaya yang ia sebut sebagai pembebasan dan pencerahan.
Apa yang dikritik Ubaidillah dari sejumlah materi ceramah?
Ubaidillah membahas sejumlah materi yang menurutnya berkaitan dengan cara memosisikan beberapa hal dalam tradisi keagamaan. Ia menyebut salah satu contoh terkait pembahasan mengenai anjing dalam konteks masyarakat Tarim, tetapi ia tidak menjelaskan materi tersebut secara rinci dalam pernyataannya.
Apakah Ubaidillah menyebut adanya ajaran khurafat?
Ya. Dalam penjelasannya, Ubaidillah menyebut terdapat sejumlah hal yang menurutnya dapat dimasukkan dalam kategori ajaran khurafat. Pernyataan tersebut merupakan penilaian atau analisis yang disampaikannya.
Kota apa saja yang disebut Ubaidillah dalam pembahasan mengenai berkurangnya antusiasme?
Ubaidillah menyebut Pekalongan, Surabaya, dan Solo. Ia mengatakan pengamatannya terhadap kondisi tersebut terutama berdasarkan apa yang dilihatnya melalui media sosial.
Apakah ada data jumlah peserta Haul Solo yang disampaikan?
Dalam penjelasan yang menjadi dasar artikel ini, tidak disampaikan data statistik mengenai jumlah peserta Haul Solo pada tahun-tahun sebelumnya dan jumlah peserta pada pelaksanaan terakhir.
Mengapa Ubaidillah mengatakan pendapatnya masih lemah?
Ubaidillah mengatakan pendapatnya masih lemah karena belum melakukan riset lapangan secara khusus mengenai penyebab sepinya sejumlah acara haul.
Apa yang menurut Ubaidillah diperlukan untuk mengetahui penyebab sebenarnya?
Menurut Ubaidillah, diperlukan penelitian lapangan agar pembacaan mengenai fenomena tersebut menjadi lebih valid.
Apa kesimpulan Ubaidillah mengenai fenomena tersebut?
Ubaidillah tidak menyampaikan satu kesimpulan final. Ia menawarkan sejumlah kemungkinan berdasarkan pengamatannya, sekaligus menegaskan bahwa pendapat tersebut masih bersifat subjektif dan terbuka untuk dikaji melalui penelitian yang lebih kuat.
Sumber: HAUL SOLO SEPI, BERBEDA DENGAN SEBELUM TIGA TAHUN TERAKHIR: ADA APAKAH GERANGAN ?!!





